h1

Syarat Kewajiban Dan Cara Mengeluarkan Zakat

Juli 8, 2008

Pengantar

Salah satu rukun islam yang harus diamalkan seorang muslim adalah menunaikan zakat. Keyakinan ini didasari perintah Allah l dalam Al Quran dan Sunnah. Bahkan hal ini sudah menjadi consensus (Ijma’) yang tidak boleh dilanggar.

Adapun dalil AlQur’an, diantaranya firman Allah l :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (At-Taubah:103) dan firmanNya:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ

“Dan tegakkanlah solat dan tunaikanlah zakat.” (Al-Baqarah:110).

Kemudian dalil dari Sunnah adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَعَثَ ِمُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Sesungguhnya Rasulullah n ketika mengutus Muadz ke Yaman berkata, ‘Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari Ahli Kitab. Karena itu, jika kamu menjumpai mereka, serulah mereka kepada syahadat tiada yang berhak disembah dengan haq kecuali الله dan Muhammad adalah utusan الله. Jika mereka mentaati engkau dalam hal itu, maka ajarilah mereka bahwa الله telah mewajibkan atas mereka solat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka ajarilah mereka bahwa الله telah mewajibkan atas mereka sedakah atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dibagi-bagikan kepada para faqir miskin dari mereka. Jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka berhati-hatilah terhadap harta-harta kesayangan mereka dan bertakwalah dari doa-doa orang yang dizalimi karena tidak ada penghalang darinya dengan الله .”[1]

Sedangkan dari Ijma’, telah bersepakat kaum muslimin atas kewajibannya sebagaimana telah dinukilkan hal tersebut oleh Ibnu Qudamah[2] dan Ibnu Rusyd[3].

Kewajiban ini tentunya memiliki syarat dan cara yang harus diperhatikan penunainya, sehingga dapat menunaikan kewajibannya dengan benar dan tepat.

Syarat Kewajiban Mengeluarkan Zakat.

Syarat-syarat kewajiban mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

1. Islam.

Islam menjadi syarat kewajiban zakat dengan dalil hadits Ibnu Abbas diatas, Hadits ini mengemukakan kewajiban zakat setelah mereka menerima dua kalimat syahadat dan kewajiban sholat. Hal ini tentunya menunjukkan orang yang belum menerima aslam tidak berkewajiban mengeluarkan zakat. [4]

2. Merdeka.

Tidak diwajibkan zakat pada budak sahaya (orang yang tidak merdeka) pada harta yang dimilikinya, karena kepemilikannya tidak sempurna. Demikian juga budak yang sedang dalam perjanjian pembebasan ( Al Mukaatib) tidak diwajibkan menunaikan zakat dari hartanya, karena berhubungan dengan kebutuhan membebaskan dirinya dari perbudakan. Kebutuhannya ini lebih mendesak dari orang merdeka yang bangkrut (ghorim), sehingga sangat pantas sekali tidak diwajibkan.[5]

3 Berakal dan baligh.

Dalam hal ini masih diperselisihkan, dan itu ada dalam permasalahan zakat harta anak kecil dan orang gila. Yang rojih anak kecil dan orang gila tidak diwajibkan mengeluarkan zakat, namun diwajibkan kepada wali yang mengelola hartanya untuk mengeluarkan zakatnya, karena kewajiban zakat berhubungan dengan hartanya.[6]

4. Memiliki nishab.

Makna nishab disini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh Syari (agama) untuk dijadikan sebagai batas kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memiliknya kalau telah sampai pada ukuran tersebut.[7]

Orang yang telah memiliki nishab atau lebih diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah Ta’ala:

وَيَسْئَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلأَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah:”Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. 2:219). Makna Al Afwu adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itulah Islam menetapkan nishob sebagai ukuran kekayaan seseorang.[8]

4.1. Syarat-syarat Nishob.

Adapun syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:

a. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seseorang seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.

b. Telah berlalu harta tersebut satu tahun (haul) dihitung dari hari pemilikan nishab[9] dengan dalil hadits Rasulullah n:

لاَ زَكَاةَ فِيْ مَالٍ حَتَّى يَحُوْلَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).”[10] Dikecualikan dari hal ini zakat pertanian dan buah-buahan yang diambil ketika panen dan zakat harta karun yang diambil ketika menemukannya.

Misalnya: jika seorang muslim memiliki 35 ekor kambing, maka dia tidak diwajibkan berzakat karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut. [11]

4.2. Nishab, Ukuran Dan Cara Mengeluarkan zakatnya.

4.2.1. Nishob emas dan ukuran zakatnya.

Adapun nishab emas adalah 20 dinar. Dinar yang dimaksud disini adalah dinar islami. Ukuran satu dinar setara dengan 4,25 gram emas, sehingga 20 dinar itu setara dengan 85 gram emas murni. Inilah yang telah ditetapkan oleh Syekh Muhammad Al Utsaimin[12] dan Yusuf qordhowi[13].

Dalil nishab ini adalah hadits Ali bin Abi tholib ,beliau berkata: Sesungguhnya Rasululloh n bersabda:

وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ Sesungguhnya Nabi n bersabda : Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatupun – yaitu dalam emas- sampai memilki 20 dinar, jika telah memiliki 20 dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya (zakat) 1/2 dinar, selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada diharta zakat kecuali setelah satu haul.[14]

Kemudian diambil dari nishab tersebut 2,5 % atau 1/40. Dan kalau lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya maka diambil dan diikutkan dengan nishab yang awal menurut pendapat yang rojih.

Misalnya : seseorang memiliki 87 gram emas yang disimpan maka jika telah sampai haulnya maka wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya 87/40 = 2,175 gram atau uang seharga tersebut.

4.2.2. Nishab perak dan ukuran zakatnya.

Adapun nishob perak adalah 200 dirham yang setara dengan 595 gram,sebagaimana hitungan Syiekh Muhammad Sholeh Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’(6/104) dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

4.2.3. Nishob zakat binatang ternak dan ukuran zakatnya.

Adapun syarat wajib zakat pada binatang ternak sama dengan diatas dan ditambah satu syarat yaitu binatangnya digembalakan dipadang rumput yang mubah pada kebanyakan waktunya.

وَفِي صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِي سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ شَاةٌ…..

Dan dalam zakat kambing yang digembalakan diluar: kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor …[15]

Sedangkan ukuran nishob dan yang dikeluarkan adalah sebagai berikut:

1. Onta.

Adapun nishob onta adalah 5 ekor,dan perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah Onta

Jumlah yang dikeluarkan.

5-9 ekor

seekor kambing

10-14 ekor

dua ekor kambing

15-19 ekor

3 ekor kambing

20-24 ekor

4 ekor kambing

25 ekor – 35 ekor

seekor bintu makhod

36 ekor – 45 ekor

Seekor Bintu labun

46 ekor – 60 ekor

seekor hiqqah

61 ekor – 75 ekor

seekor jaz’Allah

76 ekor – 90 ekor

2 ekor bintu labun

91 ekor – 120 ekor

2 ekor hiqqah

121 ekor

3ekor bintu labun

130 ekor

seekor hiqqah dan 2 ekor binta labun

140 ekor

2ekor hiqqah dan 2 ekor bintu labun

150 ekor

3 ekor hiqqah

160 ekor

4 ekor bintu labun

170 ekor

seekor hiqqah dan 3 ekor bintu labun

180 ekor

2 ekor hiqqah dan 2 ekor bintu labun

Keterangan Tabel:

1. Bintu Makhod adalah onta yang telah berusia satu tahun.

2. Bintu Labun adalah onta yang berusia dua tahun.

3. Hiqqah adalah onta yang telah berusia tiga tahun

4. Jad’ah adalah onta yang berusia empat tahun.

2. Sapi.

Nishob sapi adalah 30 ekor, apabila kurang dari 30 ekor tidak ada zakatnya.

Cara penghitungan :

Jumlah Sapi

Jumlah yang di keluarkan

30-39 ekor

seekor tabi’ atau tabi’ah

40-59 ekor

seekor Musinah

60 ekor

2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah

70 ekor

seekor tabi’ dan seekor musinah

80 ekor

2 ekor Musinnah

90 ekor

3 ekor tabi’

100 ekor

2 ekor tabi’ dan seekor musinnah.

Keterangan tabel:

#. Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.

#. Musinnah adalah sapi betina yang berusia dua tahun.

#. Setiap 30 ekor sapi zakatnya seekor Tabi’ dan setiap a40 ekor sapi zakatnya seekor musinnah.

3. Kambing.

Nishob kambing adalah 40 ekor,dan perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah kambing

Jumlah yang dikeluarkan

40 ekor

seekor kambing

120 ekor

2 ekor kambing.

201 – 300 ekor

3 ekor kambing.

Lebih dari 300 ekor

Setiap seratus satu ekor kambing.

Dalil perhitungan nishob zakat binatang ternak adalah :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

هَذِهِ فَرِيضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ وَالَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِهَا رَسُولَهُ فَمَنْ سُئِلَهَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ عَلَى وَجْهِهَا فَلْيُعْطِهَا وَمَنْ سُئِلَ فَوْقَهَا فَلَا يُعْطِ فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ الْإِبِلِ فَمَا دُونَهَا مِنْ الْغَنَمِ مِنْ كُلِّ خَمْسٍ شَاةٌ إِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ إِلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ فَفِيهَا بِنْتُ مَخَاضٍ أُنْثَى فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ إِلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ فَفِيهَا بِنْتُ لَبُونٍ أُنْثَى فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَأَرْبَعِينَ إِلَى سِتِّينَ فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةُ الْجَمَلِ فَإِذَا بَلَغَتْ وَاحِدَةً وَسِتِّينَ إِلَى خَمْسٍ وَسَبْعِينَ فَفِيهَا جَذَعَةٌ فَإِذَا بَلَغَتْ يَعْنِي سِتًّا وَسَبْعِينَ إِلَى تِسْعِينَ فَفِيهَا بِنْتَا لَبُونٍ فَإِذَا بَلَغَتْ إِحْدَى وَتِسْعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا الْجَمَلِ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ وَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةٌ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ إِلَّا أَرْبَعٌ مِنْ الْإِبِلِ فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا فَإِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا مِنْ الْإِبِلِ فَفِيهَا شَاةٌ وَفِي صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِي سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ شَاةٌ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ إِلَى مِائَتَيْنِ شَاتَانِ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى مِائَتَيْنِ إِلَى ثَلَاثِ مِائَةٍ فَفِيهَا ثَلَاثُ شِيَاهٍ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى ثَلَاثِ مِائَةٍ فَفِي كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ فَإِذَا كَانَتْ سَائِمَةُ الرَّجُلِ نَاقِصَةً مِنْ أَرْبَعِينَ شَاةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا وَفِي الرِّقَّةِ رُبْعُ الْعُشْرِ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ إِلَّا تِسْعِينَ وَمِائَةً فَلَيْسَ فِيهَا شَيْءٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا

Ini adalah kewajiban zakat yang diperintahkan Rasululloh n atas kaum muslimin dan yang diperintahkan Allah I dengannya Rasul-Nya: Dalam setiap 24 ekor onta dan yang kurang dari itu (zakatnya) kambing: pada setiap 5 ekor satu kambing. Kalau telah sampai 25 ekor sampai 35 ekor maka ada (zakat) Binti makhod (onta perempuan yang berusia setahun), jika tidak ada boleh dengan ibnu Labun (onta laki-laki yang berusia dua tahun).Jika sampai 36 sampai 45 ekor,terdapat terdapat padanya Binti Labun (onta perempuan berusia dua tahun),kalau sampai 46 sampai 60 ekor terdapat Hiqqah (onta perempauan yang telah sempurna berusia 3 tahun) yang siap dihamili oleh onta laki-laki.kalau sampai 61 sampai 75 terdapat jidz’ah(onta yang telah berusia 4 tahun) ,kalau sampai 76 sampai 90 ekor terdapat 2 Bintu Labun. Kalau sampai 91 sampai 120 ekor terdapat 2 Hiqqah.kalau sampai lebih dar 120,maka setiap 40 ekor ada Bntu Labin dan setiap 50 hiqqah.dan barang siapa yang memiliki kurang dari 4 ekor onta mak tidak ada zakatnya kecuali kalau pemiliknya menghendaki. Dan dalam zakat kambing yang digembalakan diluar: kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor ada seekor kambing dan jika lebih dari 120 sampai 200 ekor ,ada 2 ekor,jika lebih dari 200 sampai 300 ekor,ada 3 ekor dan kalau lebih dari 300 ekor,maka setiap 100 ekor ada seekor kambing, jika gembalaan seseorang kurang dari 40, seekor saja maka tidak terdapat zakat kecuali bila pemiliknya menghendakinya. [16]

4.2.3. Nishob zakat hasil pertanian dan buah-buahan dan ukuran zakatnya.

Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyariatkan dalam islam dengan dasar firman Allah l :

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَآأَثْمَرَ وَءَاتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَتُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermaca-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Surat Al An’am :141)

Sedangkan nishobnya adalah 5 Wasaq, berdasarkan sabda Rasululloh n :

لَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسَةِ أَوْسُقِ صَدَقَةٌ

Tidak ada dibawah lima Wasaq zakat.[17]

Satu wasaq setara dengan 60 Sho’[18] dan satu Sho’ setara dengan 2,175 kg[19] atau 3 kg menurut ukuran komite tetap fatwa dan penelitian Islam Saudi Arabia (Lajnah Daimah Li Al fatwa Wa Al Buhuts Al Islamiyah). Berdasarkan fatwa dan amal resmi yang berlaku di Saudi Arabia nishob zakat hasil pertanian adalah 300X 3= 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan bila diairi dengan pengairan (menggunakan alat penyiram tanaman) 1/20 (5%) dan bila diairi dengan hujan (tadah hujan) maka 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasululloh n :

فِيْمَا سَقَتْ الأَنْهَارُ وَالغَيْمُ الْعُشُوْرُوَ فِيْمَا سُقِِيَ بِالسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشُوْرِ

Pada yang disirami oleh sungai dan hujan maka sepersepuluh (1/10) dan yang disirami dengan pengairan (irigasi) maka seperduapuluh (1/20).[20]

Misalnya: seorang petani berhasil menuai panennya sebanyak 1000kg. Maka ukuran yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) adalah 1000 X 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan

4.2.5. Nishob zakat barang dagangan dan ukuran zakatnya.

Zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama pensyariatannya. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishob dan ukuran zakat emas.

Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain kecuali ada tambahan 3 syarat,yaitu:

1. Memilikinya dengan tidak dipaksa,seperti dengan membeli,menerima hadiah dan yang sejenisnya.

2. Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.

3. Nilainya telah sampai nishob.[21]

Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong hutang.

Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya diakhir tahun dengan jumlah totoal Rp 200.000.000. dan laba bersih sebesar Rp 50.000.000. sementara ia memiliki hutang sebesar Rp 100.000.000. maka perhitungannya adalah:

Modal – hutang : Rp 200.000.000. – Rp 100.000.00.= Rp 100.000.000. jadi jumlah harta zakat adalah Rp 100.000.000 + 50.000.000. = 150.000.000.

Zakat yang harus dibayarkan: Rp 150.000.000.X 2,5% = Rp 3.750.000.[22]

4.2.5. Nishob zakat harta karun dan ukuran zakatnya.

Zakat harta karun diwajibkan secara langsung tanpa mensyaratkan nishob dan haul, berdasarkan keumuman sabda rasululloh n :

وَفِيْ الرِّكَازِ الْخُمُسُ

Dalam harta karun temuan terdapat seperlima zakatnya.[23]

4.2.4. Cara menghitung nishob.

Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat, yaitu pada masalah: apakah yang dilihat adalah nishab selama setahun ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Al-Imam an-Nawawy berkata, “Menurut mazhab kami (Syafii), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpatokan pada hitungan haul, seperti emas, perak, dan binatang ternak – keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Maka kalau berkurang nishab tersebut pada satu ketika dari haul, maka terputuslah (hitungan) haul, dan kalau sempurna lagi setelah itu maka dimulai perhitungannya lagi ketika sempurna nishab tersebut. [24] inilah pendapat yang rojih insya Allah l .

Misalnya nishob tercapai pada bulan Muharram 1423 H lalu dibulan Rajab tahun tersebut harta berkurang dari nishobnya. Maka perhitungan dihapus. Kemudian pada bulan Romadhan harta bertambah sehingga mencapai nishob, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari bulan Romadhon tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai setahun sempurna, lalu dikeluarkan zakatnya.

Demikian tulisan singkat ini mudah-mudahan bermanfaat.


[1] Hadits riwayat Al Jamaah.

[2] Lihat: Al-Mughniy karya Ibnu Al Qudamah 4/5

[3] Lihat: Bidayah al-Mujtahidin 1/244

[4] lihat Al Wajiz Fi Fiqhi Al Sunnah wa Al Kitabi Al Aziz karya Abduladzim bin Badawiy hal 212 dan Al Zakaat Wa Tanmiyat Al Mujtama’ karya Al Sayyid Ahmad Al Makhzanjiy hal 115.

[5] Lihat Al Zakaat Wa Tanmiyat Al Mujtama’ karya Al Sayyid Ahmad Al Makhzanjiy hal 118.

[6] Ibid hal 117-118.

[7] Lihat: Syarh al-Mumti’ ‘Ala Zaad Al Mustaqni’ karya Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin 6/20

[8] lihat Al Zakaat Wa Tanmiyat Al Mujtama’ karya Al Sayyid Ahmad Al Makhzanjiy hal 119.

[9] Lihat: Fiqh as-Sunah karya Sayyid Saabiq 1/467

[10] Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan periwayatan. Diriwayatkan dari jalan periwayatan Ibnu Umar oleh At-Tirmidzy 1/123, dari jalan periwayatan ‘Aisyah oleh Ibnu Majah dalam Sunannya no. 1793, dari periwayatan Anas bin Malik oleh Al Daraquthniy dalam sunannya no. 199 dan periwayatan Ali bin Abi Tholib oleh Abu Daud dalam sunannya no. 1573. hadits ini dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy dalam kitab Irwa al-Ghalil 3/254-258.

[11] Lihat: Syarh al-Mumti’ 6/ 24

[12] dalam syarhul mumti’(6/103),

[13] dalam fiqhu azzakat

[14] Hadits Ali bin Abi Tholib ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya no.1573 dan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 4/95. hadits ini dihasankan Syeikh AL Albaniy dalam Irwa’ Al Gholil 3/256.

[15] Hadits diriwayatkan Imam Al Bukhori dalam shohihnya.no. 1362.

[16] Hadits diriwayatkan Imam Al Bukhori dalam shohihnya.no. 1362

[17] Muttafaqun ‘Alaihi.

[18] Menurut kesepakatan, lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364.

[19] Menurut hitungan Syeikh Abdullah bin Sulaiman Alimanii’ dalam makalah beliau yang berjudul Bahtsun Fi Tahwili Al Mawaaziin wa Al Makaayil Al Syari’ah Ila Al Maqaadir Al Mu’ashir dalam Majalah Buhuts Al Islamiy Edisi 59, hal. 195. sehingga menurut hitungan beliau ini, nishob zakat pertanian dan buah-buahan adalah 300 X 2,175 = 652,5 kg.

[20] Riwayat Muslim 2/673.

[21] Lihat tulisan penulis dalam majalah Assunnah edisi ../../…? Hal? (tolong carikan berjudul Fiqih Zakat).

[22] Lihat Panduan praktis menghitung zakat karya Adil Rasyad Ghanim (edisi terjemahan) hal 14.

[23] Muttafaqun ‘Alaihi, lihat Al Wajiz Fi Fiqhi Al Sunnah wa Al Kitabi Al Aziz hal 218.

[24] Dinukil oleh Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468

Abu Al Abbas Kholid bin Syamhudi.

7 komentar

  1. assalaamu’alaykum,ustadz,ana mau menanyakan bagaimana perhitungan zakat profesi disertai contohnya untuk pegawai yang memperoleh penghasilan rutin bulanan?dan bagaimana perhitungannya apabila suatu saat dia memperoleh rapelan/bonus?
    Jazakallahu khairan katsir atas jawabannya.


  2. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    Mohon bantuannya ustadz.

    Jika seseorang berpenghasilan melebihi nishab setiap bulan dalam jangka waktu tertentu (berdasarkan kontrak misalnya 6 bln), bagaimana perhitungan zakatnya? Sementara itu masih ada simpanan dari hasil bekerja dg kontrak lainnya sebelumnya yang dibayarkan setiap ramadhan (wkt tersebut dipilih karena sebelumnya lalai, dan itu telah dilakukan selama 2 th). Apakah utk pembayaran zakat dr simpanan sebelumnya pada ramadhan ini, wajib baginya mengumpulkannya dengan penghasilan yg baru diterimanya setelah dikurangi kebutuhan, ataukah penghasilan yang baru diperolehnya ini ditunggu sampai 1 tahun lagi?? Mohon penjelasan ustadz. Jazakllahu khairan wa Barakallahu fika

    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh


  3. Assalamu’alaikum wr wb…
    Ustadz, ana mohon penjelasan yg lebih rinci kapan dan kepada siapa zakat hrs dikeluarkan??? ke lembaga yg mengurus zakatkah? atau bisa lsg kepada yg membutuhkan?? satu tahun itu dihitung berdasar tahun masehi atau tahun arab??
    Adakah “rukun” khusus pada waktu mengeluarkan zakat tsb???
    Jazakallahu khairan katsir atas jawabannya.


  4. assalamu’alaikum wr wb….
    Ustadz, ana minta tolong penjelasannya zakat penghasilan bulanan ( gaji ) ana keluarkan zakat setiap mendapat gaji atau menunggu sampai satu tahun, sebab ada yang berpendapat setiap terima gaji, ana jadi bingung.
    Jazakallahu khairan


  5. Wa’alaikum salam.
    untuk menjawab pertanyaan yang banyak tentang masalah ini insya Allah ana coba buakan makalah yang memuat jawaban atas pertanyaan2 antum. do’akan kemudahan untuk ana.


  6. Assalamu’alaikum.
    Afwan ustadz mau klarifikasi, yg ana maksud di pertanyaan sebelumnya bukan berupa zakat profesi karena ana paham itu tidak ada aturannya, tetapi bertambahnya simpanan (tabungan) dari sisa penghasilan setiap bulan yang tidak terpakai.

    Barakallahu fik


  7. assalaamu’alaikum.ustad.saya ingin menanyakan, bagaimana yang seharusnya saya lakukan, dimana saya sebagai seorang mahasiswa yang jauh dari orang tua, sementara sarana yang selalu saya gunakan untuk mengirim uang adalah atm, sementara selama ini saya jelas sekali telah memakan uang riba, maka apa yang mesti saya lakukan terhadap kesalahan saya tersebut dan juga kebanyakan mahasisswa lain nya yang senantiasa menggunakan sarana atm bank konvensional yang di dalam nya ada unsur riba? saya tidak ingin harta yang saya makan menjadi azab di akhirat nanti.mohon balasannya.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: