h1

Dakwah Satu Kewajiban umat ini.

April 8, 2008

Oleh Kholid Syamhudi

Dakwah merupakan jalannya para rasul dan para pengikutnya. Juga merupakan tugas utama mereka dalam memperbaiki keadaan umat manusia. Demikianlah Rasululloh diutus untuk berdakwah kepada tauhid dan akhlak yang mulia. Itu tidak hanya beliau, bahkan Rasul sebelumnyapun demikian.

Dakwah dan pembinaan generasi umat dengan segala lapisan dan tingkatannya merupakan tugas agung. Para rasul dan para pengikutnya selalu bersemangat dalam menjalankannya. Mereka sangat antusias dalam menunjuki manusia kejalan Allah.

Lihatlah kisah nabi Nuh yang dikisahkan Allah dalam Al Qur’an.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلاَّ خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. 29:14) dalam waktu yang demikian panjangnya beliau berdakwah dengan kesungguhan dan kesabarannya. Lihatlah firman Allah:

إِنَّآ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ يَاقَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللهِ إِذَآ جَآءَ لاَيُؤَخَّرُ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَآءِى إِلاَّ فِرَارًا وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي ءَاذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan):”Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”. Nuh berkata:”Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertaqwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. Nuh berkata:”Ya Rabbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mangampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, (Nuh 71:1-9)

Beliau berdakwah siang dan malam, kemudian terang-terangan lalu menyatukan cara terang-terangan dengan diam-diam. Inilah sebenar-benarnya kesungguhan dalam nasehat dan penyampaian risalah.[1] Ibnu ‘Atiyah menyetakan: “makna Jihar (terang-terangan disini) adalah mengajak mereka di perayaan dan tempat berkumpulnya mereka dan Israr (diam-diam) adalah mendo’akan setiap orang dari mereka”

Imam Al Qurthubiy menyatakan dalam tafsir ayat-ayat ini: “Semua ini merupakan kesungguhan dalam dakwah dan lemah lembut dalam mengajak orang dari nabi Nuh”.[2]

Demikian juga kisah Ibrohim dan Ya’quub dalam dakwah kepada Allah, sampai keduanya masih berdakwah menjelang wafat. Sebagaimana firman Allah :

وَوَصَّى بِهَآإِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبَ يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ أَمْ ُكنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتَ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلاَهاً وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata):”Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:”Apa yang kamu sembah sepeninggalku”. Mereka menjawab:”Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya”. (QS. 2:132-133).

Adapun semangat Rasululloh dalam menunjuki manusia kejalan Allah sudah dikenal dan masyhur sekali.

Hal ini mestinya menjadi panduan dan contoh kepada kita dalam berdakwah, sehingga kita dapat mencapai apa yang diberikan Allah kepada kita dari keutamaan dakwah kepada Allah.

Keutamaan Dakwah Kepada Allah.

Setelah melihat semangat para Rasul dalam berdakwah kepada Allah, perlu kita melihat kepada keutamaannya untuk memompa semangat kita dalam berdakwah.

1. Da’I adalah orang yang paling baik perkataannya.

2. Mendapatkan do’a Rasululloh diberi cahaya oleh Allah

3. mendapat pahala besar bila seseorang mendapat hidayah melaluinya.

4. Mendapatkan pahala orang yang mengikutinya.

5. mendapat sholawat Allah dan makhluknya yang dilangit dan dibumi.

6. mendapat pahala yang kekal sampai hari kiamat.

Hukum Dakwah atau Amar Ma’ruf Nahi Mungkar [3]

Dakwah dapat disamakan dengan amar ma’ruf nahi mungkar, karena dakwah berisikan ajakan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dengan demikian dakwah merupakan kewajiban yang dibebankan Allah l kepada umat Islam sesuai kemampuannya. Ditegaskan oleh dalil Al Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ para Ulama.

Dalil Al Qur’an

Firman Allah l,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (Al-Imran:104).

Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat ini,”Maksud dari ayat ini, hendaklah ada sebagian umat ini yang menegakkan perkata ini”.[4]

Dan firman-Nya,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (Al-Imran :110).

Umar bin Khathab berkata ketika memahami ayat ini,”Wahai sekalian manusia, barang siapa yang ingin termasuk umat tersebut, hendaklah menunaikan syarat Allah darinya”.[5]

Dalil Sunnah

Sabda Rasulullah n,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman (Riwayat Muslim).

Sedangkan Ijma’ kaum muslimin, telah dijelaskan oleh para ulama, diantaranya:

1. Ibnu Hazm Adz Dzahiriy, beliau berkata, “Seluruh umat telah bersepakat mengenai kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada perselisihan diantara mereka sedikitpun”.[6]

2. Abu Bakr al- Jashshash, beliau berkata,”Allah l telah menegaskan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar melalui beberapa ayat dalam Al Qur’an, lalu dijelaskan Rasulullah n dalam hadits yang mutawatir. Dan para salaf serta ahli fiqih Islam telah berkonsensus atas kewajibannya”.[7]

3. An-Nawawi berkata,”telah banyak dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah serta Ijma yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar”.[8]

4. Asy-Syaukaniy berkata,”Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban, pokok serta rukun syari’at terbesar dalam syariat. Dengannya sempurna aturan Islam dan tegak kejayaannya”.[9]

Jelaslah kewajiban umat ini untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

Sarana (wasilah), Majal dan Uslub Dakwah.

Dalam mencapai keutamaan dan menunaikan kewajiban, kita diperintahkan untuk melakukan usaha-usaha syar’iyah dalam dakwah. Hal ini mengajak kita untuk mengenal cara, sarana dan uslub dakwah.

Wasilah dakwah adalah cara yang dipakai da’I sebagai sarana dalam menyampaikan dakwahnya[10] atau materi atau non materi yang dipakai seorang da’I sebagai sarana dalam menerapkan manhaj dakwahnya. Dengan kata lain sarana meteri atau non materi yang dapat menyampaikan dakwah seorang da’I kepada mad’unya[11].

Ringkasnya wasilah ini terbagi menjadi 3 :

  1. Pertemuan Langsung.

Seorang da’I menemui langsung mad’unya dan berbicara langsung dalam mengutarakan materi dakwahnya.

Keistemawaan cara ini, seorang da’I akan mengetahui sampai sejauh mana penerimaan mad’u terhadap dakwahnya. Ini dapat dilihat dari keadaan wajah dan gerakannya agar dapat bergaul sesuai keadaan. Juga dapat melakukan perdebatan sehingga mereka dapat menerima dan merasakan kebenarannya. Tentu ini lebih memberikan pengaruh dari yang lainnya.

Diantara cara ini adalah menggunakan penyampaian dengan perkataan. Nampak urgensi cara ini dari beberapa sisi:

  1. Perhatian Al Qur’an terhadap cara ini.
  2. Seluruh Rasul menggunakan cara ini dalam berdakwahnya.
  3. Cara ini sangat mudah dan gampang dilakukan, karena hampir setiap orang dapat melakukannya.[12]
  1. Penyampaian secara tidak langsung.

Hal ini dapat dilakukan misalnya melalui radio, atau yang lainnya. Cara ini memiliki keistimewaan dapat menjangkau lebih banyak dan lebih jauh dari yang pertama.

  1. Tulisan

Ini dilakukan melalui karya tulis atau tulisan di surak kabar, majalah dan yang sejenisnya. Keistimewaan cara ini, memungkinkan para mad’u mengetahui dan memahami materi dakwah (ajaran yang disampaikan) dengan membacanya berulang-ulang.

Sedangkan cara penyampaian ditinjau dari keadaan para mad’u, dapat dibagi menjadi empat keadaan:

  1. Keadaan mad’u sudah mencintai kebenaran dan kebaikan dan mencarinya, akan tetapi dia tidak tahu atau lalai dari hal tersebut. Ini cukup dengan hikmah dan sekedar pemberitahuan dan ajakan dengan menyatakan: “jangan dikerjakan karena itu dilarang agama dengan dalil demikian dan demikian”.
  2. Keadaan mad’u memiliki kemalasan dan future dari kebaikan atau memiliki keinginan berbuat kejahatan dan keburukan. Ini tidak cukup sekedar ajakan. Ini harus disertai dengan mau’idzatul hasanah dengan memotivasi berbuat kebaikan dan memperingatkan mereka dari kejelekan dan kejahatan serta akibat buruk perbuatan tersebut.
  3. Mad’u memiliki sikap berpaling dari kebenaran dan kesukaan berbuat kerusakan. Maka dibutuhkan disini mujadalah (debat) dengan cara terbaik. Menggunakan cara penjelasan yang dapat menghancurkan hujjah dan jalannya.

Ketiga keadaan ini disampaikan Allah dalam firmanNya:

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 16:125)

  1. Keadaan yang dijelaskan dalam firman Allah :

وَلاَتُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا ءَامَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلاَهُنَا وَإِلاَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka, dan katakanlah:”Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Ilah kami dan Ilahmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (QS. 29:46)

Adapun cara berdakwah ditinjau dari isi materi dakwah tentunya dimulai dengan paling penting kemudian seterusnya.

Adapun majal dakwah adalah medannya yang beragam. Diantaranya:

A. Hubungan individu.

B. Tempat-tempat penting.

C. Tempat-tempat belajar mengajar

Ushlub dakwah adalah ilmu yang berhubungan dengan cara taktis penyampaian dakwah dan menghilangkan hambatan-hambatannya. Uslub dakwah dalam makna ini sangat penting dimiliki para da’I agar dakwahnya dapat sampai dan mengenai sasarannya. Sulub dakwah ini sangat banyak sekali, akan tetapi tidak lepas dari lima uslub, yaitu:

1. Uslub penggerak jiwa dan semangat.

Diantaranya, Al Mau’idzatul hasanah, targhib dan tarhiib, Do’a untuk para mad’u dll.

2. Uslub tadabur, I’tibar dan berfikir.

Diantaranya, uslub tasybih, Uslub dialog, debat dan diskusi, istifham ingkari dll.

3. Uslub yang berhubungan dengan pengalaman dan persaksian

Diantaranya, menyebut beberapa pengalaman atau kisah nyata, mengunbgkapkan kekurangan dan tidak dapatnya da’I menunaikan tanggung jawabnya dll.]

4. Uslub keras dan tegas

Diantaranya, uslub ta’diib sebagian mad’u dengan ucapan dll.

5. Uslub umum.

Diantaranya, uslub tadarruj, hikmah, soal jawab dll.

Kriteria Da’i.

Tugas seorang da’I adalah tugas memimpin, sehingga sepatutnya seorang da’I memiliki sifat-sifat yang dapat mendukung dakwahnya. Diantara sifat tersebut adalah:

  1. Ikhlash.
  2. Berilmu.
  3. Sabar dan hilm.
  4. Rifq (lemah lembut).

Ketiga sifat ini (ilmu, rifq dan hilm) dikatakan syeikhul Islam sebagai satu keharusan bagi da’i. Beliau berkata: “Harus memiliki tiga hal ini: ilmu, kelemah lembutan dan sabar. Berilmu sebelum melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, berlemah lembut bersamanya dan bersabar setelahnya, walaupun setiap dari sifat-sifat tersebut harus bersama ada dalam keadaan-keadaan yang ada.”

  1. kesatuan amal dan ucapan.
  2. memperhatikan keadan para mad’u.
  3. berkeyakinan sebagai pewaris Nabi dengan dakwah mereka meyebarkan sunnah dan petunjuknya, agar hal ini dapat mendorongnya mengikuti Rasululoh dalam berdakwah dan bersabar padanya.
  4. Berdakwah dengan hikmah dengan menggunakan wasilah dan uslub ang sesuai dengan tempat dan kondisi.
  5. memiliki akhlak dan adab yang menjadikannya sebagai qudwah hasanah bagi para mad’unya.

Demikian makalah ini dibuat mudah-mudahan bermanfaat


[1] Dari perkataan Abul Qaasim Al Ghornathiy dalam At Tashil Liulumit Tanziil 4/161.

[2] Taafsiir Qurthubiy 18/301 dinukil dari Al Hirshu ‘Ala Hidayatin Nas hal 12.

[3] Disarikan dari buku Hakikat Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi ‘Anil Mungkar, karya Dr. Hamd bin Nashir Al Amaar, hal. 39-40 dan Makalah Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi Anil Mungkar Bainal Ifraath wat Tafriith, karya Dr.Ali n ashir Al Faqihiy, dalam Majalah Al-Furqaan edisi 144, 21 Shafar 1422 H, hal.20 serta Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi ‘Anil Mungkar, Ibnu Taimiyah.

[4] Lihat tafsir Al Quran Al Karim karya Ibnu Katsir 1/339-405

[5] Lihat Asy-Syaukaniy, Fathul Qadir, 1/453

[6] Ibnu Hazm, Al-Fashl Fil Milal Wan Nihal, 5/19.

[7] Al-Jashash, Ahkamul Qur’an , 2/486

[8] An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 2/22.

[9] Asy-Syaukaniy, Fathul Qadir, 1/450.

[10] Risalah ilad duat 15

[11] fiqih dakwah fi Shohih Bukhoriy 2/1116.

[12] Fiqih Dakwah 1/56

3 komentar

  1. […] dengan diam-diam. Inilah sebenar-benarnya kesungguhan dalam nasehat dan penyampaian risalah.[1] Ibnu ‘Atiyah menyetakan: “makna Jihar (terang-terangan disini) adalah mengajak mereka di […]


  2. salam ta’aruf,

    senang menemukan tulisan ini, semoga kita mampu mengemban tugas ini…

    wassalaam,


  3. Assalaamu’alaykum warohmatullohi wabarokaatuh,
    Jazakallahu khoiron katsir atas nasehat antum ustadz. Semoga ana bisa menjalankannya.

    Wassalaamu’alaykum warohmatullohi wabarokaatuh.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: