h1

Qurban dan Pensyariatannya

November 27, 2007

.

Islam telah mensyari’atkan sembelihan qurban kepada kaum muslimin dan menjadikannya sebagai salah satu ibadah mereka. Namun masih banyak kaum muslimin yang tidak tahu atau salah faham dalam pelaksanaan dan hukum-hukum sekitarnya. Banyak diantara mereka yang mampu dan enggan melaksanakannya atau merasa itu sesuatu yang tidak disyari’atkan atau menunggu kiriman sembelihan qurban dari luar daerah atau luar negeri. Oleh karena itu sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui hukum-hukum sekitar ibadah ini agar dapat beribadah diatas ilmu dan yakin. Mudah-mudahan dengan ini kita dapat mencapai keridhaan Allah Ta’ala. Hukum Qurban.Qurban merupakan salah satu sembelihan yang disyariatkan sebagai ibadah dan amalan mendekatkan diri kepada Allah. Hal inilah yang dinyatakan Ibnul Qayyim dalam pernyataan beliau: “Sembelihan-sembelihan yang menjadi amalan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah adalah Al Hadyu, Al Adhhiyah (Qurban) dan Al Aqiqah”.[1]                 Demikianlah pensyariatannya sudah merupakan ijma’ (consensus) yang disepakati kaum muslimin.[2] Namun tentang hukumnya masih diperselisihkan para ulama dalam beberapa pendapat.

  1. Wajib bagi yang mampu, inilah pendapat Abu Hanifah dan Maalik. Madzhab inipun dinukil dari Rabi’ah Al Ra’yi, Al Auzaa’ie, Al Laits bin Sa’ad[3] dan salah satu riwayat dari Ahmad. Bin Hambal[4].  Pendapat ini dirojihkan oleh Ibnu Taimiyah[5] dan Syeikh Ibnu Utsaimin berkata: “Pendapat yang mewajibkan bagi orang yang mampu adalah kuat, karena banyaknya dalil yang menunjukkan perhatian dan kepedulian Allah padanya”[6].
  2. Sunnah atau sunnah muakkad bagi yang mampu, inilah pendapat Jumhur Ulama[7] dan Al Hafidz ibnu Hajar menukil pernyataan Ibnu Hazm yang menyatakan: “Tidak shohih dari seorangpun dari para sahabat yang menyatakan kewajibannya. Yang benar Qurban tidak wajib menurut Jumhur dan tidak ada perselisihan bahwa ia merupakan salah satu syiar agama”.[8]
  3. Fardhu Kifayah, ini merupakan satu pendapat dalam madzhab Syafi’i

Dalil pendapat pertama adalah:

  1. Hadits Al Bara’ bin ‘Aazib, beliau berkata:

ذَبَحَ أَبُو بُرْدَةَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْدِلْهَا قَالَ لَيْسَ عِنْدِي إِلَّا جَذَعَةٌ قَالَ اجْعَلْهَا مَكَانَهَا وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ Abu Burah telah menyembelih Qurban sebelum sholat (Ied) lalu Nabi n berkata kepadanya: Gantilah, beliau menjawab: saya tidak punya kecuali Jaz’ah. Maka beliau berkata: Jadikanlah ia sebagai penggantinya dan hal itu tidak berlaku pada seorangpun setelahmu. (Muttafaqun ‘Alaihi)orang yang mewajibkan berhujjah dengan hadits ini dengan menyatakan bahwa Rasululloh n memerintahkan Abu Burdah untuk mengulangi penyembelihannya jika telah melakukannya sebelum sholat. Hal seperti ini tidak dikatakan kecuali dalam perkara wajib saja.

  1. Hadits Jundab bin Abdillah bin Sufyaan Al Bajalie, beliau berkata:

قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ ذَبَحَ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِNabi n berkata pada hari Nahr (ied Al Adhha) kemudian berkhutbah: Siapa yang menyembelih sebelum sholat maka sembelihlah yang lain sebagai penggantinya dan siapa yang belum menyembelih maka sembelihlah dengan nama Allah. (Muttafaqun ‘Alaihi)

  1. Hadits Anas bin Malik, beliau berkata:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلْيُعِدْ Nabi n berkata: Siapa yang telah menyembelih sebelum sholat maka ulangi lagi. (Muttafqun ‘Alaihi)

  1. Hadits Jaabir bin Abdillah, beliau berkata:

 صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ بِالْمَدِينَةِ فَتَقَدَّمَ رِجَالٌ فَنَحَرُوا وَظَنُّوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَحَرَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ نَحَرَ قَبْلَهُ أَنْ يُعِيدَ بِنَحْرٍ آخَرَ وَلَا يَنْحَرُوا حَتَّى يَنْحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَNabi n mengimami kami shholat di hari nahr (iedul Adha) di Madinah, lalu beberapa orang maju dan menyembelih (sembelihannya) dalam keadan menyangka Nabi n telah menyembelih. Lalu Nabi memerintahkan orang yang menyembelih sebelul beliau untuk mengulangi sembelihan yang lainnya dan jangan menyembelih sampai nabi menyembelih. [9]

Hadits-hadits ini jelas menunjukkan kewajiban Qurban, sebab ada padanya dua penunjukkan wajib, pertama bentuk perintah dan kedua perintah mengulangi. Tentunya sesuatu yang tidak wajib tidak diperintahkan untuk mengulanginya.

Ketiga hadits diatas dikomentari Ibnu Hajar dalam pernyataan beliau: “Orang yang mewajibkan kurban berdalil dengan adanya perintah mengulangi penyembelihan. Mak hal ini dibantah dengan menyatakan bahwa yang dimaksud adalah penjelasan syarat penyembelihan kurban yang disyariatkan. Ini seperti pernyataan orang yang sholat sunnah dhuha sebelum matahari terbit: ‘Jika matahari sudah terbit maka ulangi sholat kamu’.”.[10]

  1. Hadits Abu Hurairoh, beliau berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَاRasululloh n bersabda: Siapa yang memiliki kemampuan (keluasan rizki) dan tidak menyembelih maka jangan dekati tempat sholat kami.[11] Hadits ini jelas menunjukkan ancaman kepada orang yang memiliki kemampuan dan enggan menyembelih kurban. Tentunya Rasululloh tidaklah berbuat demikian kecuali menunjukkan kewajibannya.Pendapat yang tidak mewajibkan menyatakan bahwa hadits ini hadit yang mauquf saja sehingga tidak dapat dijadikan hujjah dalam perkara ini. Hal ini dijawab oelh Syeikh Al Albanie dalam pernyataan beliau: “Hadits ini diriwayatkan secara mauquf oleh Ibnu Wahab, namun ziyadah Tsiqah ini diterima. Abu Abdurrahman AL Muqri’ diatas tsiqah (sangat tsiqah (kredibel))”[12]Kemudian pendapat yang tidak mewajibkan menjawab: oke, anggap saja haditsnya hasan, namun juga tidak tegas dalam menunjukkan kewajibannya, sebagaiaman diaktakan Ibnu Hajar: “Yang menjadi dasar kuat yang dipegangi pendapat yang mewajibkan adalah hadits Abu Hurairoh ini. Namun diperselsihkan apakah marfu’ atau mauquf?. Mauquf lebih dekat kepada kebenaran, sebagaiaman pendpat Al Thohawie dan selainnya. Walaupun marfu’ hadits ini juga tidak tegas dalam menunjukkan kewajibannya”.[13]

  1. Hadits Mikhnaf bin Sulaim, ia berkata:

نَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحِيَةً وَعَتِيرَةً قَالَ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ ؟ هَذِهِ الَّتِي يَقُولُ النَّاسُ الرَّجَبِيَّةُ“Kami bersama Rasululoh dan beliau wukuf di Arafah, lalu berkata; Wahai manusia, sesungguhnya wajib bagi setiap keluarga setiap tahunnya kurban dan ‘Atirah. Beliau berkata: Tahukah kalian apa itu ‘Atiroh? Itu yang dikatakan orang rajabiyah”.[14]Al hafidz ibnu Hajar berkata: Demikian juga orang yang menwajibkan berhujah dengan hadits Mikhnaf bin Sulaim ini yang diriwayatkan Ahmad dan imam yang empat dengan sanad yang kuat. Namun tidak ada hujjah disana , karena shighahnya tidak tegas menunjukkan wajib secara muthlak dan juga disebutkan bersamanya Al ‘Atiroh yang tidak diwajibkan orang yang berpendapat mewajibkan kurban”.[15] Sedangkan dalil pendapat kedua adalah:
1. Hadits Ummu Salamah, beliau berkata:
َ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًاBahwa Nabi n bersabda jika masuk sepuluh hari pertama dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban maka jangan memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.[16]Imam Al Syafi’ie berkata: “Ini adalah dalil yang menunjukkan kurban tidak wajib, dengan dasar sabda Nabi : وَأَرَادَ . Beliau menjadikannya diserahkan kepada kehendak. Seandainya wajib tentulah beliau menyatakan: ‘Maka janganlah memotong rambutnya sampai menyembelih’.”[17].Pendapat yang mewajibkan membantah dalil ini dengan menyatkan: “Hadits ini tidak menunjukkan tidak wajibnya kurban secara muthlak, karena kami mewajibkan dengan syarat mampu. Demikian juga hadits ini dapat difahami dengan makna orang yang ingin menyembelih dengan sebab memiliki kemampuan, maka jangan mengambil dari rambut dan kukunya sampai menyembelih, dengan dalil riwayat lain yang diriwayatkan imam Muslim yang tidak menyebutkan kata أَرَادَ , yaitu sabda rasululloh: مَنْ كَانَ لَهُ ذَبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلَ ذِيْ الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًَا حَتَّى يُضَحِّي Siapa yang memiliki sembelihan yang akan disembelih dan tempak hilal dzil hijjah maka jangan memotong sedikitpun rambut dan kukunya sampai menyembelih[18].Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Orang yang tidak mewajibkan tidak memiliki nash dalam hal ini, karena pokok dasar mereka adalah hadits umu salamah ini. Mereka menyatakan: ‘Kewajiban tidak disandarkan kepada kehendak (irodah)’. Ini adalah pernyataan global, karena memang kewajiban tidak diserahkan kepada kehendak hamba, sehingga diketakan: Jika kamu mau berbuatkah, namun terkadang kewajiban disandarkan kepada syarat untuk menjelaskan hukumnya, seperti firman Allah:إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُواApabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah (QS. 5:6)Dan mereka  memaknakannya: Jika kalian ingin melaksanakan, dan memaknakan: Jika ingin membaca Al Qur’an maka berta’awudz. Padahal thoharoh wajib dan membaca Al Qur’an dalam sholat wajib juga.”.[19]   2. Hadits Jaabir, beliau berkata:شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ عَنْ مِنْبَرِهِ فَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي Aku menyaksikan bersama nabi n sholat ied al Adha di Mushalla (tanah lapang), ketika selesai khuthbahnya, beliau turun dari mimbarnya lalu dibawakan seekor kambing dan Rasululloh menyembelihnya dengan tangannya langsung dan berkata: Bismilah wa Allahu Akbar hadza ‘Anni wa ‘Amman Lam Yudhahi Min Ummati (Bismillah Allahu Akbar, Ini dariku dan dari umatku yang belum menyembelih).[20]Mereka menyatakan: “ Seandainya qurban diwajibkan, tentunya orang yang meninggalkannya berhak dihukum dan tidak bisa dianggap cukup, lalu bagaimana dengan sembelihan Rasululloh tersebut? sehingga sabda beliau : هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي Yang disampaikan secara mutlak tanpa perincian merupakan dalil tidak wajibnya Qurban.Al Syaukanie berkata: “ Sisi Pendalilan hadits ini dan yang semakna dengannya atas ketidak wajiban kurban adalah dzahir \nya menunjukan bahwa kurban Nabi n bagu umatnya dan keluarganya mencukupkan orang yang tidak menyembelih kurban, baik mampu atau tidak mampu. Hal ini mungkin dijawab, bahwa hadits إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحِيَةً  – yang menunjukkan kewajiban menyembelih kurban bagi ahli bait yang mampu – menjadi indicator bahwa kurban nabi n tersebut untuk orang yang tdiak mampu saja. Seandainya benar yang disampaikan Al Mudda’ie (pendapat yang tidak mewajibkan (pent)), maka tidalah dapat menjadi dalil tidak wajibnya kurban, karena titik perselisihannya adalah pada orang yang menyembelih untuk dirinya sendiri dan bukan orang yang disembelihkan orang lain. Sehingga ketidak wajibannya pada orang yang ada dizaman beliau dari umat ini mengharuskan tidak wajibnya pada orang yang ada diluar zaman beliau”.[21]3. Atsar Abu Bakr dan Umar, sebagaiman diriwayatkan oleh Abu Sariehah Al Ghifarie, beliau berkata:مَا أَدْرَكْتُ أَبَا بَكْرٍ أَوْ رَأَيْتُ  أَبَا بَكْرٍ وَ عُمَرَ كَانَا لاَ يُضَحِّيَانِ –في بَعْضِ حَديْثِهِمْ- كَرَاهِيَّةَ أَنْ يُقْتَدَى بِهِمَاAku mendapati Abu Bakar atau melihat Abu Bakar dan Umar tidak menyembelih kurban- dalam sebagian hadits mereka- khawatir dijadikan panutan[22]Seandainya Qurban diwajibkan, tentulah keduanya orang yang lebih pantas mengamalkan nya, akan tetapi keduanya memahami hukum Qurban tersebut tidak wajib. 

Pendapat yang Rajih

Syeikh Muhammad Al Amien Al Syingkitie berkata: “Saya telah menerliti dalil-dalil sunnah pendapat yang mewajibkan dan yang tidak mewajibkan dan realitanya dalam pandangan kami, bahwa tidak ada satupun dalil kedua pendapat tersebut yang tegas pasti dan selamat dari bantahan baik yang menunjukkan wajib atau tidak wajib”. Kemudian berkata : “yang rojih bagi saya dalam perkara seperti ini yang tidak jelas penunjukan nash-nash  kepasa satu hal tertentu dengan tegas dan jelas adalah berusaha sekuat mungkin keluar dari khilaf. Sehingga berkurban bila mampu, karena Nabi bersabda: Tinggalkanlah yang ragu kepada yang tidak ragu. Sepatutnya seorang tidak meningalkannya bila mampu, karena menunaikannya itu yang sudah pasti menghilangkan tanggung jawabnya. Wallahu A’lam”.[23]

Yang rojih –Wallahu A’lam – dalam permasalahan ini adalah pendapat Jumhur ulama. Karena seandainya tidak ada satu dalil hadits nabi pun yang secara pasti menunjukkan kerojihan salah satu pendapat tersebut, namun amalan Abu Bakar dan Umar dapat dijadikan factor merojihkan pendapat jumhur. Sebab hal ini merupakan pengamalan perintah Rasululloh dalam hadits Irbadh bin Saariyah yang berbunyi:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسَنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ Sungguh siapa diantara kalian yang hidup setelahku maka akan mendapati perselisihan yang banyak maka wajib baginya untuk memegangi sunnahku dan sunnah khulafa’ Al Rosyidin.Keduanya termasuk dari Khulafa Rasyidin menurut kesepakatan kaum muslimin. Kemudian hal ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya yang diriwayatkan imam Muslim dengan lafadz:

فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا

Karena jika mereka mengikuti Abu Bakar dan Umar niscaya mendapati petunjuk.

Ditambah lagi dengan adanya riwayat atsa r dari Ibnu Umar, Abu Mas’ud Al Anshori dan Ibnu Abas yang menunjukan ketidak wajibannya.

Mudah-mudahan bermanfa’at.

 

 

 


[1] Lihat Abdulaziz bin Muhammad Alisalman, Ithaaf Al Muslimin Bimaa Tayassara Min Ahkam Al Dien –Ilmun wa Dalilun, cetakan kedua tahun 1403 H, tanpa penerbit hal. 2/505.

[2] Lihat Ibnu Qudamah, Al Mughnie, hal 11/94.dan Ibnu Hajar, Fathul Barie Bi Syarhi Shohih Al Bukhorie, tanpa cetakan dan tahun, Al Maktabah Al Salafiyah 10/3

[3] lihat DR. Ahmad Muwaafie, Taisier Al Fiqhi Al Jaami’ Lilikhtiyaaraat Al Fiqhiyah Lisyeikh Al Islam Ibnu Taimiyah, cetakan pertama tahun 1416 H, Dar ibnu Al Jauzie, Dammaam, KSA 3/1210

[4] lihat makalah Abu Bakar Al Baghdadie yang berjudul Juzun Fi Udhhiyah Wa Hukmu Ikhrojiha ‘An Balad Al Mudhohie, Majalah AL Hikmah, tanpa edisi dan tahun hal 22.

[5] Lihat Taisier Al Fiqh op.cit 3/1208 menukil dari Majmu’ Fatawa 23/162.

[6] lihat Ibnu Utsaimin, Syarhu Al Mumti’ ‘Ala Zaad Al Mustaqni’, Tahqiq Kholid bin ‘Ali Al Musyaiqih dan Sulaiman Aba khoil, cet 1 taun 1416H, Muassasah Aasaam , Riyadh, KSA, 7/519.

[7] Lihat Al Nawawie, Majimu’ Syarhu Al Muhadzdzab, tahqiq Muhammad Najieb A Muthi’ie, tanpa cetakan dan tahun, Daar Ihya’ Al Turats Al Arabie 8/354

[8] Lihat Fathul barie op.cit 10/3

[9] Diriwayatkan Imam Muslim no. 1964.

[10] Fathul Barie 10/4.

[11] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3123 dan AL Khothib 8/338 dari Zaid bin AL Hubaab dan AL Haakim 2/389 dan Ahmad 2/321 dari Abdullah bin Yazied Al Muqri’ dan Abu Bakar Al Syaerozie dalam Sab’at Majaalis min Al Amani dari Muhammad bin Sa’ied. Mereka bertiag meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Iyaasy dari Abdurrahman Al A’roj dari Abu Hurairoh secara marfu’. Diambil dari Takhriej Ahadits Musykil Al Faqr karya Al Albanie, cetakan pertama tahun 1405 H Al Maktab AL Islamie, Baerut  hal. 67-68

[12] Takhriej Ahadits Musykil AL faqr, op.cit hal 68.

[13] Fathul Barie op.cit 10/3.

[14] Hadist ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/215, Abu Daud no. 2788, At Tirmidzie no.1518, Al Nasaa’I 7/167 dan Ibnu Majah no.3125. Haditsini dishohihkan AL Albanie dalam Al Misykah no. 1478 dan Shohih Al Jaami’

[15] Fathul Barie op.cit 10/4.

[16] Diriwayatkan Muslim no. 5089.

[17] Lihat Majmu’ Syarhu Al Muhadzdzab, op.cit    8/356.

[18] Diriwayatkan imam Muslim no.5093

[19] Majmu’ Al Fatawa 23/164.

[20] Syeikh Al Albani berkata: Hadits Shohih diriwayatkan Abu Daud (2810) dan At Tirmidzie 1/287. lihat Irwa’ Al Gholil 4/349 no. 1138.

[21] Muhammad bin Ali Al Syaukani, Nailul Author Min ahadits Sayidil Ahyaar Syarhu Muntaqa Al Akhbaar , tahqiq Muhammad Saalim Hasyim, cetakan pertama tahun 1415H, Daar AL Kutub Al Ilmiyah , Baerut. Hal 5/117.

[22] Diriwayatkan Al Baihaqie dalam Sunan AL Kubro 9/295 dan dishohihkan Al Albanie. Lihat irwa’ Al Gholiel Fi Takhriej Ahaadits Manaar Al Sabiel, karya Syeikh AL Albanie cetakan ke-2 tahun1405 H Al Maktab Al Islamie no. 1139 hal 4/355

[23] Muhammad Al Amien bin Muhammad Al Mukhtar Al Jaknie Al Syinqithie, Adhwaa’ Al Bayaan Fie Iedhah Al Qur’an bil Qur’an, tanpa tahun dan cetakan , ‘Alam Al Kutub, Baerut 5/618.

One comment

  1. minta ijin untuk di kopy paste….



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: