h1

Mengirim Kurban Keluar negeri

November 27, 2007

.

 Kaum muslimin telah tersebar diseantero dunia dengan keadaan ekonomi yang bertingkat-tingkat. Demikian juga negeri kaum muslimin bertingkat-tingkat, ada yang berlebih dari kecukupan dan ada yang kekurangan sampai kelaparan. Dewasa imi muncul sikap yang baik yang tumbuh dari solidaritas dan rasa kebersamaan kaum muslimin. Sikap mengirim sembelihan kurban kepara pengungsi dan fakir miskin dinegeri kaum muslimin yang kekurangan sebagai sikap solidaritas islam. Hal ini cukup menggembirakan ditengah-tengan kehancuran dan perpecahan kaum muslimin. Mudah-mudahan ini dapat menjadi dasar awal pembangunan persaudaraan kaum muslimin yang dilandasi aqidah yang benar dan syari’at yang lurus. Tentunya jangan dilupakan hal ini harus disertai dengan kembali merujuk pada agama dalam segala aspek kehidupan  termasuk dalam tindakan mengirim kurban ini. Namun realita ini tentunya memunculkan satu pertanyaan, apakah tindakan ini sesuai dengan aturan syari’at islam atau tidak? Hal ini perlu sekali khususnya dinegeri kita ini, yang seringkali menerima bantuan kurban dari luar negeri. Nah untuk itu kita mencoba mengangkat permasalahan ini dengan harapan semakin menambah wawasan dan pengetahuan kita terhadap kesempurnaan islam.

           

Pengertian Mengirim Kurban Keluar Negeri.

            Maksudnya adalah seorang mengirimkan sejumlah uang ke satu negeri melalui yayasan sosial atau organisasi atau yang sejenisnya, lalu yayasan ini bekerja sama dengan yayasan atau perorangan dinegeri yang dituju untuk membelikan hewan kurban sekaligus menyembelihnya dan membagi-bagikannya kepada kaum muslimin yang ada disana.

 

Hukumnya[1]

Para ulama berselisih tentang hukum mengirim kurban ini; sebagian mereka membolehkan dan sebagiannya tidak membolehkan[2]. Diantara ulama yang tidak memperbolehkan adalah Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.  Pendapat yang membolehkanMereka yang membolehkan berdalil dengan keabsahan wakalah dalam kurban sebagaimana dalam hadits-hadits berikut:1. Hadits Ali bin Abi Tholib, beliau berkata:أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِجِلَالِ الْبُدْنِ الَّتِي نَحَرْتُ وَبِجُلُودِهَا

Rasululoh n memerintahkan aku untuk mensedekahi jilaal dan kulit onta yang telah aku sembelih. (Diriwayatkan Al Bukhori no. 1592)

2. Hadits Jabir bin Abdillah, beliau berkata:شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ عَنْ مِنْبَرِهِ فَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي Aku menyaksikan bersama nabi n sholat ied al Adha di Mushalla (tanah lapang), ketika selesai khuthbahnya, beliau turun dari mimbarnya lalu dibawakan seekor kambing dan Rasululloh menyembelihnya dengan tangannya langsung dan berkata: Bismilah wa Allahu Akbar hadza ‘Anni wa ‘Amman Lam Yudhahi Min Ummati (Bismillah Allahu Akbar, Ini dariku dan dari umatku yang belum menyembelih).[3]3. Hadits ‘Urwah bin Abi Al Ja’d Al Baarieqie, beliau berkata:أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ وَكَانَ لَوْ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ قَالَ سُفْيَانُ يَشْتَرِي لَهُ شَاةً كَأَنَّهَا أُضْحِيَّةٌ“Sesungguhnya Nabi n memberinya satu dinar untuk membeli seekor kambing, lalu ia membeli untuk Nabi n dua kambing dengan uang tersebut, makaia jual seekor dengan harga satu dinar dan membawa satu ekor kambing dan satu dinar kepada Nabi n . lalu Nabi n mendoakannya dengan barokah . beliau (‘Urwah ini) seandainya membeli debu tentu akan untung juga”.Sufyaan berkata: membeli untuk Nabi seekor kambing tampaknya untuk kurban.”[4]4. Hadits Ali bin Abi Tholib, beliau berkata:أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Rasululoh n memerintah aku untuk mengurus hewan kurbannya dan untuk mensedekahkan daging, kulit dan jilalnya dan untuk tidak memberi orang yang memotongnya (jagalnya) sedikitpun darinya. Rasululloh berkata: kami yang memberinya dari harta kami. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits-hadits ini semua menunjukkan sahnya wakalah dalam kurban dan wakalah diperbolehkan kepada orang yang jauh sekalipun. Wallahu A’lam. Pendapat yang tidak memperbolehkan                Diantara ulama yang melarang hal ini adalah Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin. Beliau berdalil tentang tidak disyari’atkan organisasi dan yayasan sosial mewakilkan atau mengirim pelaksanaan kurban diluar negeri dengan beberapa dalil. Berikut ini kami sampaikan dalil-dalil beliau yang terpenting dengan jawaban dari pendapat yang membolehkan[5]:1. Hilangnya penampakan Sya’iroh (syiar kurban).Jawab: Allah befirman:وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَآئِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهَا صَوَآفَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَDan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. (QS. 22:36)Dzohir ayat diturunkan untuk hadyu dan kurban ikut didalamnya. Disini ada beberapa jawaban:a.        hal ini tidak mengharuskan seluruh orang menyembelih kurbannya di luar negeri mereka, sehingga penampakan sya’iroh masih ada dari sisi ini.b.       Seandainya benar, seluruh orang menyembelih kurbannya di luar negeri mereka, maka asal penampakan sya’iroh masih ada tidak hilang. Hanya saja tampak dan kuat penampakannya di negeri lain walaupun lemah penampakannya dinegeri asal karena hajat dan maslahat. Ini sama saja seandainya disana ada negeri yang mayoritas penduduknya fakir miskin tidak mampu berkurban, namun akan nampak di negeri yang mayoritas penduduknya kaya. Jika hal ini dibenarkan dengan sebab kefakiran dan kaya, naka dibenarkan juga dengan sebab maslahat dan hajat. Wallahu A’lam.2. Hilangnya penyebutan nama Allah (dzikru ismillah)jawab: alasan ini dapat dibenarkan bila benar tidak diperbolehkan perwakilan (wakalah) dalam kurban diluar negeri orang yang berkurban. Hal ini telah terbantah sebagaimana terdahulu penjelasannya.[6] Adapun bila benar hal itu[7], maka inipun tidak dapat dijadikan alas an, sebab  Rasululloh mewakilkan Ali bin Abi Tholib dan yang lainnya. Apabila wakalah tersebut dapat menghilangkan penyebutan nama Allah, tentulah beliau tidak akan mewakilkan kepada seorangpun. Demikian juga karena Nabi n mewakili istri-istri beliau dan kaum muslimin dalam menyembelih kurban dan beliau menyebut nama Allah, seandainya hal tersebut tidak boleh tentulah belia tidak melakukannya.3. Tidak dapat memakan sebagian dagingnya.Jawab: imam Al Qurthubie berkata dalam menafsirkan firman Allah: (فَكُلُوْا مِنْهَا ) : ini perintah bermakna sunnah (mandub).Seluruh ulama mensunnahkan memakan sebagian dari hadyu nya dan terdapat padanya pahala dan pelaksanaan perintah. Karena orang jahiliyah dulu tidak memakan daging hadyunya. Al Syafi’I berkata: memakan daging kurban sunnah dan memberi makan orang lain dengan daging tersebut hukumnya wajib. Jika dibagikan seluruhnya maka sah dan jika ia makan seluruhnya (tidak dibagikan), maka tidak sah. Ini berkenaan dengan sembelihan yang sunnah.Sudah dimaklumi bahwa sesuatu yang sunnah jika bertabrakan dengan hajat kebutuhan atau maslahat yang lebih besar, maka diperbolehkan meninggalkannya untuk mendapatkan yang lebih besar ini, sebagaimana sudah dikenal para ulama. Sudah pasti kebutuhan di negeri yang tertimpa musibah dan bencana lebih besar daripada kebaikan orang yang berkurban memakan dari sembelihan kurbannya. Tidak benar jika dikatakan bahwa musibah dan bencana tersebut dapat di tanggulangi dengan shodaqat dan lainnya dari hal-hal yang disyari’atkan. sebab hal ini tidak kuat untuk menjadi bantahan sampai dapat memastikan bahwa kurban di negeri yang jauh tidak disyari’atkan dan orang yang menyembelih disana tidak ada alas an kecuali hajat kebutuhan semata. Kalau begitu adanya maka dibenarkan alas an bantahan ini. Akan tetapi itu jauh dari benar dan realitanya menyelisihi hal itu, sebagaimana tampak dalam pembahasan ini.Kemudian seandainya kita benarkan bahwa makan sebagian daging kurban adalah wajib, maka dijawab bahwa maslahat mengirimnya kenegeri yang kelaparan yang penduduknya mati kelaparan lebih didahulukan dari mafsadat tidak memakannya dan sudah jelas para ulama mendahulukan maslahat umum dari maslahat peribadi individu saja.4.  Tidak tenang (tidak percaya penuh) tentang keabsahan pembagian daging kurbannya.Jawab: ketenangan (kepercayaan penuh) ini bersandar kepada kepercayaannya terhadap sifat amanah yang diwakilkan (Al Wakiel), pengetahuannya terhadap hukum syari’at tentang kurban baik hal ini di negeri orang yang berkurbnan atau diluar negeri. Hal ini sama tidak ada bedanya, sebab ia butuh Al Wakiel hanya karena tidak mampu atau tidak tahu atau ia memilih maslaaht yang lebih besar dari sesuatu yang telah disyari’atkan pada asalnya. Demikian juga dalam wakalah tidak diharuskan Al Wakiel memakai ijtihad fiqih orang yang mewakilkan (Al Muwakkil) kecuali bila Al Muwakkil mensyaratkannya. Hal ini secara adat kebiasaan sangat sulit adanya, karena kurban ada hanya dihadapan Al Wakiel dan kadang berbeda cara pandang Al Wakiel dari Al Muwakkil dan ia mendapatkan pahala dalam ijtihadnya walaupun salah. Kemudian alas an tidak dapat percaya penuh ini tidak memiliki dasar kuat, apalagi Al Wakiel mendapat pahala dalam ijtihadnya walaupun salah. Wallahu A”lam.5. Ia tidak tahu kapan kurban disembelih, padahal ini berhubungan erat dengan syari’at tidak memotong rambut dan kukunya, sehingga tidak jelas (kapan memotongnya)Jawab: mingkin alasan ini dianggap lemah dengan dua sebab:a.        Hubungan erat ini hanyalah sekedar tidak memotong kuku dan rambut. Ini secara kebiasaan tentunya tidak masalah, karena memotongnya termasuk sunah-sunah fitroh dan biasanya seorang muslim hanya memotongnya dengan waktu sekitar sebulanan, sebagaimana hadits Anas:وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةًKami memiliki waktu untuk memotong kumis, kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan untuk tidak membiarkannya lebih dari empat puluh hari. (riwayat Muslim)Demikian juga dijawab bahwa diperbolehkan juga menyerahkan hadyu kepada perusahaan-perusahaan bisnis dan penduduk Makkah untuk memotongnya dan tidak diketahui secara pasti apakah mereka membagikannya atau tidak? Maka mengapa tidak diperbolehkan dalam kurban, padahal ia lebih ringan dari Hadyu. Karena tidak boleh menganalagikan sesuatu yang sunnah dengan yang wajib kecuali hanya beberapa permasalahan tertentu.b.       Perbedaan anatara kurban disembelih dihadapat orang yang kurban dengan di luar negeri sangat kecil, yaitu paling banyak tiga hari saja. Ini mungkin bersabar tidak memotongnya selama waktu ini untuk mendapat kemaslahan yang lebih besar. Wallahu A’lam.6. tidak dapat ta’yien (menentukan hewan kurban ini milik fulan (pen)), dimana sangat sulit bagi oraganisasi tersebut menentukan setiap hewan kurban kepada orang tertentu yang berkurban, karena biasanya mereka membelinya dalam jumlah besar sekaligus.Jawab: alasan ini dijawab bahwa Ta’yien terjadi dengan sembelihan, sebagaimana dijelaskan sendiri oleh Syeikh Muhamamd bin Sholih Al Utsaimin, sehingga tidak dianggap hal ini sebelum penyembelihan, sebagaimana juga ta’yien ini bukan syarat yang berpengaruh menurut banyak para ulama.7. tidak mampu menyembelih kurban di hari tasyrieq karena banyaknya hewan kurban.Jawab: Mestinya pertama kali harus percaya dengan kemampuan Al Wakiel dalam melaksanakannya secara syar’i. Jika telah ada kepercayaan – namun terjadi setelah itu kekurangan dengan sebab diluar kesengajaan dan kemampuan Al Wakiel- maka ini ma’dzur dan yang berkurban mendapat pahala sempurna. Dan jika tidak dapat ditunaikan di hari tasyrieq maka orang yang telah bertekad sempurna dan berbuat semampunya sama dengan orang yang melakukannya sempurna, sebagaimana telah dijelaskan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sehingga hal ini tidak perlu dikhawatirkan.Berdasarkan pendapat ulama yang menyunahkan kurban dan ini yang rojih[8], maka maksud dari kurban adalah mendapatkan pahala dengan melaksanakan amalan ini, dan ini tercapai dengan pasti. Adapun menurut pendapat yang mewajibkan, maka walaupun tidak sah, namun pahala didapatkan dari satu sisi lalu kewajibanpun gugur dengan udzur, sebagaimana gugurnya kewajiban dengan udzur tidak mampu  menurut pendapat yang mewajibkannya. Udzur ini sebenarnya setelah pengalaman dapat dihilangkan dengan mudah, caranya dirancang sebelumnya dengan baik dan teliti.8. Kurban adalah bukan semata ibadah harta saja (maliyah) dengan dalil firman Allah:لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَدِمَآؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَDaging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 22:37)Demikian juga orang yang berkurban dilarang memotong rambut dan kukunya sampai menyembelih, berbeda dengan orang yang shodaqoh dengan hartanya.Jawab: Tidak diragukan lagi adanya perbedaan antara shodaqah dan kurban, namun apa hubungannya dengan menyembelih kurban di luar negeri? Perbedaan tetap perbedaan, namun jika Syeikh Ibnu Utsaimin  bermaksud mengarahkan orang untuk bershodaqah selain kurban dinegeri tersebut, maka kemungkinan hal itu karena larangan syar’I yang mu’tabar, maka beliau dituntut untuk menjelaskannya atau hanya karena perbedaan ini. Jika demikian maka itu lemah sekali, sebagaimana telah lalu jawabannya dalam hal yang berhubungan dengan tidak memotong rambut dan kuku.Disini harus berfikir pada satu masalah penting yaitu jika saja negeri tersebut sangat membutuhkan bantuan materi yang besar dengan sebab besarnya bencana disana. Maka memberikan bantuan ini bukanlah mudah. Apalagi banyak orang yang hanya mengeluarkan hartanya karena adanya satu acara tertentu seperti orang bakhil (kikir) yang mengeluarkan hartanya karena nadzar, sebagaimana sabda Rasululloh n ! Kurban termasuk acara besar dalam islam yang kaum muslimin mengeluarkan harta yang sangan besar yang tidak mungkin diganti dengan mudah oleh shadaqoh.Demikian juga diantara hikmah tujuan pensyari’atan kurban adalah memberi makan, dengan dalil larangan Nabi n menyimpan daging kurban diatas 3 hari dengan sebab kefakiran. Ketika hilang sebab tersebut maka hilang juga larangannya. Tidak diragukan lagi bahwa mewujudkan hikmah tujuan pensyariatan ini di negeri yang terkena bencana lebih besar dari negeri lainnya, sehingga jelaslah penguatan hal ini dalam kurban dari pada negeri yang tidak terjadi bencana. 9. Diperbolehkan mengirim kurban di dalam negeri dan tidak boleh diluar negeri.Jawab:Tidak diketahui adanya dalil pengkhususan ini kecuali jika pengkhususan ini besandar kepada penetapan hukum berdasarkan alas an yang dikemukan tadi. Namun hal ini tidak bisa dijadikan alasn sebagaiaman telah dijelaskan. Demikian juga wakalah (perwakilan) kurban ke lain negeri orang yang berkurban sudah ada pada Rasululloh n sebagaimana hadits ‘Amroh, beliau berkata:أَنَّ ابْنَ زِيَادٍ كَتَبَ إِلَى عَائِشَةَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَ مَنْ أَهْدَى هَدْيًا حَرُمَ عَلَيْهِ مَا يَحْرُمُ عَلَى الْحَاجِّ حَتَّى يُنْحَرَ الْهَدْيُ وَقَدْ بَعَثْتُ بِهَدْيِي فَاكْتُبِي إِلَيَّ بِأَمْرِكِ قَالَتْ عَمْرَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ لَيْسَ كَمَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَا فَتَلْتُ قَلَائِدَ هَدْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيَّ ثُمَّ قَلَّدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ ثُمَّ بَعَثَ بِهَا مَعَ أَبِي فَلَمْ يَحْرُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ أَحَلَّهُ اللَّهُ لَهُ حَتَّى نُحِرَ الْهَدْيُSesungguhnya Ibnu Ziyaadmenulis surat kepada ‘Aisyah bahwa Abdullah bin Abaas berpendapat bahwa orang yang memberikan hadyu diharamkan padanya apa yang diharamkan bagi orang yang haji sampai menyembelih hadyunya dan saya telah mengirim hadyu saya. Maka saya mohon kepada mu (‘Aisyah) untuk menulis untukku pendapatmu tentang hal ini. ‘Amroh berkata: ‘Aisyah telah berkata: Tidak seperti yang disampaikan Ibnu Abaas, saya telah melepas Qalaid hadyu Rasululloh n dengan tangan saya kemudian Rasululloh menandainya dengan tangannya kemudian mengirimnya bersama  bapakku (Abu bakar), lalu tidak diharamkan kepada Rasululloh sesuatu yang Allah halalkan baginy sampai disembelih hadyunya. (diriwayatkan Muslim)Sudah dimaklumi Rasululloh ada diMadinah ketika mengirim hadyu tersebut bersama Abu Bakr, sebagaimana dalam sebagian lafadz hadits. Wallahu A’lam. Pendapat yang rojih.                Dari pembahasan diatas dapat diambil pendapat yang rojih dalam masalah ini adalah pendapat yang membolehkannya. Ini yang dirojihkan Prof. DR Abdullah bin Muhammad Al Thoyaar dengan sedikit perincian dalam pernyataannya: “Yang rojih menurut saya, disana ada perbedaaan antara kurban seorang muslimuntuk dirinya dan keluarganya serta yang telah diwasiatkan kepadanya dengan kurban tabaru’[9] . Adapun kurban untuk dirinya dan ahli baitnya dan demikian juga wasiat yang tertentu tempat dan penegluarannya maka tampaknya menurut saya lebih baik  tidak dikirimkan namun di sembelih ditempat orang yang berkurban. Sedangkan kurban tabarru’ maka bebas- Insya Allah-.[10].Demikian pembahasan ini mudah-mudahan bermanfaat (Kholid). 
Tambahan Fatwa:Apakah boleh memberi daging kurban kepada orang kafir? Dan bolehkan orang yang berkurban berbuka dengan daging kurbannya?Jawab:Diperbolehkan seseorang memberi daging kurbannya kepada orang kafir sebagai shodaqah dengan syarat orang kafir tersebut bukan termasuk orang yang memerangi kaum muslimin. Jika ia termasuk orang yang memerangi kaum muslimin maka tidak boleh diberi sedikitpun daging kurban tersebut, berdasarkan firman Allah ta’ala:Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 60:8-9)Adapun seseorang yang berbuka dengan daging kurbannya maka diperbolehkan. Jika seseorang sholat ‘ied dan menyembelih sembelihan kurbannya lalu memakan darinya sebelum memakan yang lainnya maka diperbolehkan, bahkan para ulama berpendapat ini lebih utama.(Fatawa Al Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Disusun oleh Asyraf Abdulmaqshud Abdurrahim- cetakan 4 tahun1414H Daar ‘Aalam Al Kutub, Baerut, hal. 3/664.)


[1] Permasalahan ini diangkat dari makalah Abu Bakar Al Baghdadie , Juz’un Fi Al Adhhiyah Wa Hukmi Ikhrojiha ‘An Baladi Al Mudhahie. Majalah Al Himah tanpa edisi hal. 50-55 dan risalah Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Al Thoyaar, Ahkam Al ‘Iedain Wa ‘Asyara Dzil Hijjah, cetakan pertama tahun 1413H, Daar Al ‘Ashimah, Riyaadh hal 88 dengan sedikit perubahan dan tambahan dari penulis.

[2] Lihat Ahkam Al ‘Iedain Wa ‘Asyara Dzil Hijjah, hal 88.

[3] Syeikh Al Albani berkata: Hadits Shohih diriwayatkan Abu Daud (2810) dan At Tirmidzie 1/287. lihat Irwa’ Al Gholil 4/349 no. 1138.

[4] Diriwayatkan Al Bukhori no. 3320.

[5] Diangkat dari Juz’un Fi Al Adhhiyah Wa Hukmi Ikhrojiha ‘An Baladi Al Mudhahie. hal. 51-55

[6] lihat dalil yang membolehkannya.(pen)

[7] tidak boleh wakalah dalam kurban (pen)

[8] lihat Mabhats Qurban dan hukumnya dalam majalah ini.???????

[9] Adalah kurban seseorang yang lebih dari satu. Misalnya seorang berkurban 5 ekor kambing, maka satu adalah kurban untuk dirinya sedangkan yang lain ia niatkan untuk shodaqah. Nah keempat kambing tersebut dinamakan hewan kurban tabarru’.(pen).

[10] Ahkam Al ‘Idaein wa ‘Asyara Dzil Hujjah op.cit hal. 88.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: