h1

Kaedah Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar

November 27, 2007

     Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan salah satu kewajiban yang sangat agung dalam Islam. Jihad di jalan Allah l sebagai penyempurnanya. Tentunya membutuhkan pengorbanan dalam menegakkannya. Dan Islam sebagai agama paripurna ditetapkan Allah l untuk kemaslahatan makhluk-Nya. Sehingga dalam amar ma’ruf nahi mungkar harus mempertimbangkan permasalahan maslahat dan mafsadat, yang berdasar syari’at. Bukan sekedar prasangka atau dugaan saja.Akan tetapi, fenomena sekarang ini banyak amar ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan tidak sejalan dengan syari’at. Sehingga menimbulkan fitnah dan kemungkaran yang besar menimpa kaum muslimin. Menyebabkan orang lemah yang tidak berdosapun ikut menanggung akibatnya. Demikianlah sunatullah. Jika timbul fitnah maka akan menimpa semua orang.  Sebagaimana firman Allah l ,وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَتُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِDan peliharalah dirimu daripada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS 8:25).  Tentunya hal ini tidak kita harapkan terjadi terus-menerus. Kitapun tidak boleh apriori dan meninggalkan tanggung jawab dari beramar ma’ruf nahi mungkar. Dan berdalih dengan kenyataan di atas.Ingatlah. Amar ma’ruf nahi mungkar disyariatkan semata untuk kemaslahatan manusia. Kemaslahatan bagi yang berbuat kemungkaran, dan bagi pelaku amar ma’ruf nahi mungkar, juga kemaslahatan bagi yang belum melakukannya. Rasulullah bersabda dalam hadits An Nu’man bin Basyir, مَثَلُ الْمُدْهِنِ فِي حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا مَثَلُ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا سَفِينَةً فَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَسْفَلِهَا وَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَعْلاَهَا فَكَانَ الَّذِي فِي أَسْفَلِهَا يَمُرُّونَ بِالْمَاءِ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلاَهَا فَتَأَذَّوْا بِهِ فَأَخَذَ فَأْسًا فَجَعَلَ يَنْقُرُ أَسْفَلَ السَّفِينَةِ فَأَتَوْهُ فَقَالُوا مَا لَكَ قَالَ تَأَذَّيْتُمْ بِي وَلاَ بُدَّ لِي مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَنْجَوْهُ وَنَجَّوْا أَنْفُسَهُمْ وَإِنْ تَرَكُوهُ أَهْلَكُوهُ وَأَهْلَكُوا أَنْفُسَهُمْ Perumpamaan orang yang teguh menjalankan hukum Allah dan orang yang terjerumus di dalamnya, bagaikan satu kaum yang membagi tempat diatas perahu. Sebagian mendapat tempat di bawah dan sebagian di atas. Orang yang di bawah memerlukan air melalui orang yang di atas. Lalu hal itu mengganggu mereka. Kemudian (orang yang dibawah) mengambil kampak dan mulai melubangi perahu. Datanglah orang-orang yang diatas dan berkata,” Kenapa berbuat demikian?” Orang yang di bawah menjawab, “Kalian terganggu oleh saya,  padahal saya mesti mengambil air.” Jika mereka menahannya, maka mereka menyelamatkannya dan menyelamatkan diri mereka sendiri.  Dan jika membiarkannya,  maka mereka membinasakannya dan membinasakan diri mereka semua. ( Riwayat Bukhari). Untuk itulah para Ulama mengerahkan segala kemampuannya merumuskan kaedah amar ma’ruf nahi mungkar. Garis besar penerapan yang dapat digunakan kaum muslimin untuk setiap tempat dan waktu. Sehingga amar ma’ruf nahi mungkar menjadi rahmat bagi manusia.Amar ma’ruf nahi mungkar memiliki empat rukun, yaitu :1. Pelaku amar ma’ruf nahi mungkar.2. Orang yang meninggalkan kema’rufan dan pelaku kemungkaran (obyek amar ma’ruf nahi mungkar)3. Amalan kema’rufan dan kemungkaran 4. Perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar itu sendiri.  1.  Yang Berhubungan Dengan Pelaku Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.Pelaku amar ma’ruf nahi mungkar hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat terpuji dan akhlak mulia. i.                                 IkhlashHendaklah seorang pelaku amar ma’ruf nahi mungkar menetapkan tujuannya untuk mendapatkan keridhaan Allah semata. Tidak mengharapkan balasan dan syukur dari orang lain. Demikianlah yang dilakukan para Nabi. Allah berfirman,وَمَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَDan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. (QS Asy-Syuara :  145)وَمآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينََ Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. (QS Asy-Syuara :  127)وَمَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَDan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. (QS. Asy-Syuara : 109) ii.                               Berilmu.Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “…….akan tetapi niat terpuji yang diterima Allah dan menghasilkan pahala adalah yang semata-mata untuk Allah . Sedangkan amal terpuji lagi shaleh merupakan perintah Allah….. Jika hal itu menjadi batasan seluruh amal shalih,  maka wajib bagi pelaku amar ma’ruf nahi mungkar memiliki kriteria tersebut. Tidak disebut amal shalih, apabila dilakukan tanpa ilmu dan fiqih. Sebagaiman pernyataan Umar bin Abdil Aziz , ‘Orang yang menyembah Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dibanding kemaslahatan yang dihasilkannya’ ..…ini sangat gambling. Karena niat maupun amal tanpa ilmu merupakan kebodohan, kesesatan dan mengikuti hawa nafsu…… Maka dari itu ia harus mengetahui kema’rufan dan kemungkaran. Dapat membedakan keduanya serta harus memiliki ilmu tentang keadaan yang diperintah dan dilarang.”[1]              Kemudian beliau berkata dalam mendefinisikan ilmu tersebut, “Dan Ilmu tersebut adalah syariat Allah yang dibawa oleh Rasulullah n. Dinamakan juga sulthan,  sebagaimana firman-Nya,‘(Yaitu) orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman.Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang’ (QS  40:35). Barangsiapa yang berbicara agama tanpa ilmu sebagaimana yang dibawa Rasulullah n , maka dia berbicara tanpa ilmu. Dan siapa yang dipimpin syethan, maka dia menyesatkannya dan menyeretnya ke adzab neraka.”[2]Ketidak tahuan pelaku amar ma’ruf nahi mungkar terhadap yang dia serukan dan ingkari dapat menjerumuskannya kepada bencana dan fitnah. Terkadang muncul karena kerusakan yang beraneka ragam serta hilangnya kemaslahatan yang diinginkan. iii.                             Rifq Rifq artinya lemah lembut dalam perkataan dan perbuatan serta selalu mangambil yang mudah. [3]            Merupakan sifat para Nabi dan Rasul ketika mengingkari pernuatan buruk kaumnya. Lihatlah firman-Nya dalam kisah Musa, 

اذْهَبَآ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى . فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

 Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thoha  : 43-44) Rasulullah n juga melakukan hal yang sama dalam berdakwah kepada semua manusia. Seperti diriwayatkan Aisyah, beliau berkata,دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُمْ فَقَالَتْ وَعَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ قَالَتْ فَقَالَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ Sekelompok orang Yahudi menemui Rasulullah n dan berkata, “Assaamu ‘alaikum.” Lalu Aisyah memjawab, “Wa’alaikum assaam.” Lalu Rasulullah n berkata, “Sabar wahai Aisyah. Sesungguhnya Allah mencintai rifq dalam seluruh perkara.” Lalu (Aisyah) berkata, “Wahai Rasulullah n,  apakah engkau tidak mendengar yang mereka ucapkan?” Beliau menjawab, “Ya, dan saya sudah ucapkan, alaikum.” (Riwayat Bukhari  No. 6024)Bahkan beliau bersabda,إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّزَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ Sesungguhnya rifq, tidak ada pada sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidak hilang dari sesuatu kecuali merusaknya. (Riwayat Muslim No. 2594). Demikian pentingnya sifat rifq. Sehingga Sufyan Ats-Tsauriy berkata, “Tidak beramar ma’ruf nahi mungkar kecuali orang yang memiliki tiga sifat, yaitu : rifq, adil dan berilmu dalam mengajak dan mencegah” [4]Imam Ahmad bin Hambal  ditanya tentang amar ma’ruf nahi mungkar. Beliau menjawab,“Para sahabat Abdillah bin Mas’ud jika melewati satu kaum, jika mereka melihat kaum itu melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai,  (para sahabat) berkata, sabar, sabar, semoga Allah merahmati kalian.”[5] Dengan rifq (kelembutan) tabiat menerima dan mengerti bahaya kemungkaran. Sehingga pelaku kemungkaran tersebut dapat kembali menerima ajakan (kebaikan) tersebut-dengan izin Allah l -. iv.                              SabarKesabaran merupakan perkara yang sangat penting manusia seluruhnya. Apalagi dalam beramar ma’ruf nahi mungkar. Karena pelaku amar ma’ruf nahi mungkar bergerak di medan perbaikan jiwanya dan jiwa orang lain. Luqman mewasiatkan kepada anaknya untuk bersabar dalam amar ma’ruf nahi mungkar. يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَآأَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS  31:17) Demikian juga Nabi kita Muhammad n. Sebaik-baik pelaku amar ma’ruf nahi mungkar selalu bersabar atas segala musibah dan rintangan dari orang yang didakwahinya. Lihatlah kisah Anas bin Malik tentang hal ini dalam pernyataan beliau, كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءAku berjalan bersama Rasulullah n yang mengenakan pakaian (burd) Nejron yang kasar pinggirannya. Lalu seorang A’rab memegangnya dan menariknya dengan keras sampai aku melihat leher Nabi n telah ada bekas selendangnya ( karena kerasnya tarikan). Kemudian dia berkata, “Berikan kepadaku sebagian harta Allah yang kamu miliki.”  Lalu beliau menengoknya dan tertawa, setelah itu beliau memerintahkan untuk memberikannya. (Riwayat Bukhari no.3149). Demikian pentingnya sabar bagi seorang muslim, sehingga Rasulullah n  menganjurkan umatnya untuk bersabar. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqaash, beliau bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ حَتَّى يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِ ذَاكَ فَإِنْ كَانَ صُلْبَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى قَدْرِ ذَاكَ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ قَالَ فَمَا تَبْرَحُ الْبَلاَيَا عَنِ الْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ فِي الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ  Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling keras cobaannya? Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian yang mendekatinya, kemudian yang mendekatinya, sampai seorang hamba dicoba sesuai dengan agamanya tersebut. Jika agamanya kuat maka dicoba sesuai dengan agamanya, dan jika terdapat kelemahan dalam agamanya, maka dicoba sesuai dengan agamanya.” Beliau bersabda lagi,”Senantiasa cobaan menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dosa.” (Riwayat Bukhari). Arti penting ketiga sifat ini diutarakan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam pernyataannya,“Ia harus memiliki tiga sifat, yaitu : ilmu, rifq dan sabar. Ilmu sebelum melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, harus lembut dalam melaksanakannya dan harus sabar (atas konsekwensi (pent)) setelahnya. Ketiga sifat ini harus selalu bersama dalam setiap keadaan.”[6] v.                                Melihat dan menakar kemaslahatan maupun kemudharatannya.Diantara hal yang sangat perlu diperhatikan seorang pelaku amar ma’ruf nahi mungkar yaitu melihat dan menakar kemaslahatan yang ditimbulkan. Karena Syari’at ditegakkan untuk mendapatkan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadat. Syeikhul Islam menjelaskan kaidah ini dalam pernyataannya, “Amar ma’ruf tidak boleh menghilangkan kema’rufan lebih banyak, atau mendatangkan kemungkaran yang lebih besar. Nahi mungkar tidak boleh mendatangkan kemungkaran yang lebih besar atau menghilangkan kema’rufan yang lebih kuat (rajih) darinya”[7]Ibnul Qayyim berkata, “Allah l telah mensyariatkan kewajiban untuk mengingkari kemungkaran, agar mendapatkan kema’rufan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Jika ingkar mungkar menghasilkan kemungkaran yang lebih besar dan lebih dibenci Allah dan RasulNya, maka tidak boleh diingkari.Ingkar mungkar memiliki empat derajat. Pertama, kemungkarannya hilang dan digantikan dengan kema’rufan. Kedua, kemungkaran berkurang walaupun tidak hilang seluruhnya. Ketiga, kemungkaran hilang diganti dengan kemungkaran yang semisalnya. Keempat, kemungkaran tersebut diganti dengan yang lebih berat.Dua derajat yang pertama disyariatkan (untuk dilaksanakan). Derajat ketiga kembali ke ijtihat pelakunya, dan derajat keempat diharamkan (pelaksanaannya).Misalnya, jika engkau melihat orang jahat dan fasiq bermain catur,  maka pengingkaranmu dikatakan tidak didasarkan fiqih dan ilmu. Kecuali jika engkau memalingkan mereka kepada sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai. Seperti bermain panah dan balap kuda serta yang sejenisnya. Jika engkau melihat orang fasiq berkumpul pada satu amalan yang sia-sia atau mendengarkan tepuk tangan dan siulan. Kemudian engkau membawa mereka kepada ketaatan Allah, maka demikianlah yang diharapkan. Kalaupun tidak, maka membiarkan mereka dalam demikian lebih baik untuk mencegah mereka berbuat lebih buruk dari itu. Karena amalan tersebut menyibukkan mereka sehingga tidak beramal yang lebih jelek. Demikian juga jika ada seorang yang sibuk membaca buku berisi kefasikan atau sejenisnya. Lalu engkau khawatir mereka berganti kebuku bid’ah, sesat dan sihir, maka lebih baik membiarkannya dengan kitab tersebut. Ini merupakan pembahasan yang sangat luas. Aku mendengar Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah- semoga Allah mensucikan ruhnya- mengatakan, “Saya dan sebagian sahabatku di zaman Tatar melewati satu kaum yang meminum khamr. Salah seorang yang bersamaku mengingkari mereka. Lalu saya cegah. Saya katakan kepadanya, “Allah mengharamkan khamr karena dia menghalangi zikir dan sholat. Sedangkan khamr menghalangi mereka dari membunuh, menawan anak-anak serta merampok. Maka biarkanlah mereka..”[8] Permasalahan maslahat dan mafsadat sangat penting dalam syari’at Islam, khususnya amar ma’ruf nahi mungkar. Syeikhul Islam menyatakan, “Apabila amar ma’ruf nahi mungkar tersebut mencakup hal yang mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan,  maka harus dilihat penentangnya. Jika menyebabkan hilangnya kemaslahatan atau  (mendatangkan) mafsadat yang lebih besar. Maka hal itu tidak diperintahkan. Bahkan menjadi haram, apabila  mafsadatnya lebih besar dari kemaslahatannya. Dan standar (takaran) maslahat maupun mafsadat ialah syari’at.”[9]Beliau mencela orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar tanpa memperhatikan hal ini, “Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar dengan lisannya, maupun dengan tangannya tanpa fiqih, hilm, kesabaran, tidak memandang perkara maslahat atau tidak maslahat serta tidak menakar mana yang mampu dan yang tidak mampu….. Lalu melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan keyakinan mentaati Allah dan RasulNya,  (namun) hakikatnya dia telah melanggar batasan-batasan Allah l (bermaksiat (pent)).”[10]Kaedah ini dapat diperinci sebagai berikut:[11]·                                 Jika kemaslahatan lebih besar dari mafsadatnya,  maka disyari’atkan beramar ma’ruf nahi mungkar. Syeikhul Islam menyatakan, “Jika amar ma’ruf nahi mungkar merupakan kewajiban yang agung atau sunnah, pasti kemaslahatan yang ada padanya lebih besar dari mafsadatnya. Karena demikianlah para Rasul diutus dan kitab-kitab suci diturunkan. Sedangkan Allah l tidak menyukai kerusakan, bahkan seluruh perintah-Nya adalah kebaikan. Dia memuji kebaikan dan pelakunya serta orang yang beriman dan beramal shalih. Diapun mencela kerusakan dan orang yang melakukan kerusakan dalam banyak ayat di Al Qur’an.”[12]·                                 Jika mafsadat lebih besar dari kemaslahatannya,  maka diharamkan beramar ma’ruf nahi mungkar. Karena menolak mafsadat lebih didahulukan dari mendapat kemaslahatan. Syeikhul Islam berkata, “Apabila amar ma’ruf nahi mungkar tersebut mencakup hal yang mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan,  maka harus dilihat penentangnya. Jika menyebabkan hilangnya kemaslahatan atau mendatangkan mafsadat yang lebih besar,  Maka hal itu tidak diperintahkan. Bahkan menjadi haram, apabila mafsadatnya lebih besar dari kemaslahatannya. Akan tetapi takaran maslahat maupun mafsadatnya ialah syari’at. Kapan saja seseorang mampu melaksanakan perintah syari’at,  maka jangan berpaling darinya. Jika tidak, maka hendaklah ia berijtihad untuk mengetahui yang serupa (sama). Dan sedikit sekali orang yang pakar terhadap nash-nash dan penunjukannya terhadap hukum (tetapi) tidak menemukannya.”[13]Dan berkata juga, “Jika ajakan melakukan ketaatan mendatangkan kemaksiatan yang lebih besar, maka ajakan tersebut ditinggalkan untuk menolak adanya kemaksiatan. Seorang alim (dalam bayan dan balagh)  terkadang mengakhirkan bayan dan balaghnya karena sesuatu. Menunggu saat yang tepat. Sebagaimana Allah l mengakhirkan turunnya ayat dan penjelasan hukum hingga (sampai waktunya) Rasulullah n mampu menjelaskannya.” [14]·                                 Jika mafsadat dan maslahat dampak yang seimbang, maka amar ma’ruf nahi mungkar tidak disyaria’atkan. Karena tujuan pensyari’atan hukum-hukum adalah untuk menolak mafsadat dan mendapatkan maslahat bagi manusia.Syeikhul Islam berkata, “Jika perkara ma’ruf dan mungkar sama dominan dan tak terpisah,  maka amar ma’ruf nahi mungkar tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Terkadang amar ma’ruflah yang harus dilakukan. Dan terkadang  nahi mungkarlah yang harus dilakukan. Atau terkadang kedua-duanya tidak dilaksanakan, karena kema’rufan dan kemungkaran tidak terpisahkan.”[15]·                                 Jika mafsadat berbilang ketika pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar,  hal ini tidak lepas dari dua hal.Pertama. Mesti terjerumus pada salah satunya  (seperti buah simalakama), maka dilaksanakan yang paling sedikit menimbulkan kemudharatan, untuk menolak yang lebih besar.Syeikhul Islam berkata seputar permasalahan ini, “Demikian pula jika berkumpul dua keharaman. Tidak mungkin meninggalkan yang terbesar, kecuali melakukan yang lebih kecil (mafsadahnya). Melakukan hal itu pada saat ini tidak dikatakan haram secara hakikat, Jika hal itu termasuk meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman secara istilah, maka tidak mengapa. Dikatakan demikian juga, seseorang yang meninggalkan kewajiban dan mengamalkan keharaman karena maslahat yang lebih besar, darurat, atau mencegah yang lebih haram darinya”[16]Kedua. Tidak mesti terjerumus kepada salah satunya, maka hukumnya berusaha menghindari keduanya, sesuai dengan kaedah fiqhiyah. [17]الضَّرَرُ يُزَالُKemudhoratan dihilangkan. Dan الضَّرَرُ لاَيُزَالُ بمِثْلِهِkemudhoratan tidak dihilangkan dengan semisalnya.الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الإِمْكَانِKemudhoratan dicegah sedapat mungkin. Demikianlah pentingnya mengenal standar maslahat dan mafsadat berkaitan dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Lihatlah contoh yang disampaikan Ibnu Taimiyah dengan perkataan beliau, “Pengakuan Nabi n bagi Abdillah bin Ubay bin Salul dan para pengikutnya (tokoh-tokoh kemunafikan dan kekufuran), disebabkan mereka memiliki simpatisan fanatik. Menghilangkan kemungkarannya dengan (sejenis) hukuman justru menghilangkan kemaslahatan yang lebih banyak, yang dikarenakan kemarahan dan asabiyah (pembelaan karena merasa satu kaum. Pent.) kaumnya. Demikian juga antipati manusia ketika mereka mendengar Rasulullah n membunuh sahabatnya sendiri. Oleh karena itu, ketika beliau berkhutbah dihadapan manusia tentang peristiwa ifki (tuduhan dusta kepada Aisyah. Pent.) dengan khutbahnya dan memaafkannya. Lalu Sa’ad bin Mu’adz mengucapkan perkataan yang sangat menyentuh.  Saad bin ‘Ubadah dengan kesempurnaan iman dan sidiqnya masih terbakar emosi kesukuannya. Setiap orang dari mereka berta’ashub (saling membela karena kefanatikan. Pent.) terhadap sukunya, sehingga hampir terjadi fitnah.”[18]Demikian juga Imam Ibnul Qayyim menjelaskan kaedah ini dengan memberikan contoh dalam pernyataan beliau, “Barang siapa meneliti fitnah besar atau kecil yang terjadi dalam Islam, akan melihat hal tersebut dikarenakan melalaikan pokok kaedah ini dan tidak sabar dalam (mengingkari) kemungkaran. Menuntut hilangnya kemungkaran, akan tetapi lahir darinya kemungkaran yang lebih besar. Rasulullah n dahulu melihat diMakkah satu kemungkaran besar dan tidak dapat merubahnya. Bahkan ketika Allah taklukan Makkah menjadi negeri Islam. Beliau bertekad merubah Ka’bah dan mengembalikannya sesuai dasar bangunan Nabi Ibrahim. Akan tetapi tercegah (walaupun beliau mampu) oleh kekhawatiran munculnya sesuatu yang lebih besar dari itu. Yaitu berupa tantangan Quraisy, karena mereka baru masuk Islam dan meninggalkan kekufuran. Oleh karena itu tidak diizinkan mengingkari para penguasa dengan tangan, apabila akan menghasilkan sesuatu kemungkaran yang lebih besar darinya.”[19]     vi.                              Hendaknya pelaku amar ma’ruf nahi mungkar mengenal dan mengetahui kaedah Saddudz dzara’i   (menahan sesuatu yang dapat mengantar kepada kemungkaran). Sebagaimana digunakan Allah l dalam firman-Nya,وَلاَتَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلٍّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS 6:108) Demikian juga Rasulullah n  mencontohkan hal itu dalam hadits, عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِي لِيَقْلِبَنِي فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا سُوءًا أَوْ قَالَ شَيْئًا  Dari Shofiyah bintu Huyaiy, beliau berkata, Rasulullah n sedang beri’tikaf, lalu aku datang menziarahinya pada satu malam. Aku berbicara kepada beliau, lalu bangkit untuk pulang. Kemudian beliau bangkit untuk mengantarkanku,  lalu lewatlah dua orang anshor. Ketika beliau melihat keduanya mempercepat jalan,  maka Nabi n berkata,  “Perlahanlah kalian, sesungguhnya dia adalah Shofiyah bintu Huyaiy.” Lalu keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Sesungguhnya syethan masuk ke dalam manusia melalui aliran darah dan aku khawatir dia memasukkan kejelekan ke dalam hati kalian berdua.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).Dalam hadits ini, Rasulullah n  mencegah prasangka buruk kedua orang tersebut dengan pemberitahuannya. vii.                            Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar secara syar’i dan adil. Tidak berlebihan dalam membenci, mencela, melarang atau menghijrahinya. Diingatkan oleh Syeikhul Islam dalam menjelaskan sebagian ketentuan amar ma’ruf nahi   mungkar. Beliau berkata,“Tidak menyakiti ahli maksiat melebihi ketentuan syari’at, baik dalam membenci, mencela, mencegah, hijrah atau menghukumnya. Bahkan disampaikan kepada orang yang disakiti, perhatikanlah dirimu saja, orang yang sesat tidak merugikanmu, jika kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana firman Allah l, وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَئَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS  5 : 8) Dan firman-Nya,وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS   2 : 190) Dan firmanNya,Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim. (QS  2:193)kebanyakan pelaku amar ma’ruf nahi mungkar terkadang melampaui batas. Adakala karena kebodohan dan adakalanya karena kedzaliman. Permasalahan ini harus dilakukan dengan ketelitian, baik dalam mengingkari kemungkaran terhadap orang kafir, munafik, fasik atau orang yang bermaksiat.”[20]Kemudian berkata lagi, “Melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar hendaklah mengikuti tuntunan syari’at, dari ilmu, rifq, kesabaran, niat yang ikhlas dan mengikuti jalan yang lurus. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَيَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ إِذَااهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS  5:105).” Dalam ayat ini terdapat makna lain. Yaitu hendaklah seseorang berusaha mendapatkan kemaslahatan dirinya, ilmu dan amalnya. Berpaling dari sesuatu yang tidak berguna, sebagaiman sabda Rasulullh n, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْهِ  Termasuk baiknya Islam seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya. Apalagi melakukan sesuatu secara berlebihan, yang tidak ada nilai kepentingannya dalam masalah din dan orang lain. Khususnya berbicara karena hasad atau ambisi kepemimpinan. Demikian juga amalannya, maka pelakunya adakalanya jahat lagi dzalim atau bodoh lagi pandir.Alangkah banyak amalan yang syethan menodai amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad di jalan Allah l . Hal itu termasuk kedzaliman dan kejahatan.” [21] viii.                           Hendaklah menjadi teladan bagi orang lain, karena pengaruh mencontoh dan meniru cukup besar dalam diri orang yang didakwahi. Oleh karena itu Allah l menjadikan Rasulullah n sebagai teladan terbaik agar manusia  mencontoh seluruh perbuatan dan perkataannya. Allah berfirman, لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS  33:21) Sehingga seorang pelaku amar ma’ruf nahi mungkar hendaklah merasa, bahwa Islam memerintahkan supaya manusia mengikuti teladan yang baik, teladan para Rasul, orang shaleh dan mulia. Hendaklah sebagai salah satu dari mereka tersebut. Agar menjadi contoh teladan dalam perkataan dan perbuatannya. Imam Al Hasan Al Bashriy berkata, “Penasehat adalah orang yang menasehati manusia dengan amalannya, bukan ucapannya. Demikianlah keadaan Rasulullah n. Jika ingin memerintahkan sesuatu, beliau berbuat memulai dari dirinya. Jika ingin melarang sesuatu, beliau berhenti darinya.” [22]Jangan sampai menjadi teladan jelek di masyarakat. Sehingga termasuk orang yang dicela Allah dalam firman-Nya,Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat).  Maka tidakkah kamu berpikir (QS  2:44)Dan Rasulullah n  dalam sabdanya,يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلاَنُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ Seseorang didatangkan pada hari kiamat,  lalu dilemparkan ke neraka, sehingga usus-ususnya keluar di neraka,  lalu dia berputar seperti berputarnya keledai di batu gilingannya. Ahli neraka berkumpul mengelilinginya, mereka berkata, “Wahai fulan, kenapa kamu ini? Bukankah dulu  engkau beramar ma’ruf nahi mungkar?” Dia menjawab, “Saya dulu beramar ma’ruf tetapi tidak melaksanakannya dan mencegah kemungkaran tetapi saya melakukannya”. (Riwayat Bukhari No. 3267 dan Muslim No.2989).  Mereka inilah yang dikatakan Ibnul Qayyim tentang ulama su’ (ulama jelek) dengan pernyataan beliau, “Ulama su’ adalah orang yang duduk di pintu syurga. Menyeru manusia ke syurga dengan ucapannya dan menyeru ke neraka dengan perbuatannya. Setiap kali ucapannya mengajak manusia,’kemarilah’. Maka perbuatannya berkata, ‘Janganlah kalian mendengarkannya. Seandainya yang mereka seru merupakan kebenaran, tentunya dia sebagai orang pertama yang menerimanya.’  Mereka secara lahiriyah sebagai penunjuk kebenaran, tetapi hakikatnya adalah perampok’.”[23]Dengan demikian pelaku amar ma’ruf nahi mungkar harus menjadi teladan baik dalam masyarakatnya. Tentunya hal ini tidak lepas dari taufiq Allah l , dan tarbiyah yang shahih (bersambung, Insya Allah). 


[1] . Ibnu Taimiyah,  Majmu’ Fatawa 27/135-137, dengan sedikit pemotongan.

[2]  Ibid 27/39.

[3]  Lihat definisi Rifq dalam Fathul Bari 10/449.

[4]  Ibnu Rajab, Jami’ Ulum Wal Hikam 2/156, lihat Hakikat Al Amr Bil Ma’ruf Wan Nahi Anil Mungkar hal. 93

[5]  ibid.

[6]  Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Makruf Wan Nahi Anil Mungkar, hal 57.

[7]  Ibnu Taimiyah, Al Hisbah, hal124

[8]  Ibnul Qayyim,  I’lamul Muwaqi’in  3/4-5, lihat Hamd Al-Amaar, Hakikat Al-Amr Bil Ma’ruf Wan Nahi Anil Mungkar hal. 95 dan Ali Hasan, Dhawaabith Al Amr Bil Ma’ruf Wan Nahi Anil Mungkar Inda Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 31-32.

[9] Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Makruf Wan Nahi Anil Mungkar, hal 47.

[10] Ibid hal.43-45.

[11] Diambil dari kitab Hakikat Al Amr Bil Makruf Wan Nahi Anil Mungkar, hal 96-100, Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Makruf Wan Nahi Anil Mungkar, hal 47-48 dan Dhawaabith Al amr Bil ma’ruf Wan Nahi Anil mungkar Inda Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 36-40 serta Majmu’ Fatawa jilid 20.

[12] Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Makruf Wan Nahi Anil Mungkar, hal 39.

[13] Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Makruf Wan Nahi Anil Mungkar, hal 47.

[14] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa 20/58-59.

[15] Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Makruf Wan Nahi Anil Mungkar, hal 48.

[16] Ibnu Taimiyah,  Majmu’ Fatawa 20/57.

[17] Lihat pengertian kaedah ini dalam kitab Syarah Al Qawaaid Al Fiqhiyah karya Ahmad bin Muhammad Az Zarqaa’.

[18] Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Makruf Wan Nahi Anil Mungkar, hal 48-49.

[19] Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’iin 4/3, lihat Dhawaabith Al Amr Bil Ma’ruf Wan Nahi Anil Mungkar Inda Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 39-40.

[20]Ibnu Taimiyah,  Majmu’ Fatawa, 14/48-482.

[21]  Ibid 14/482

[22] Dinukil dari Fiqhud Dakwah Fi Ingkaril Mungkar, hal. 50.

[23] Ibnul Qayyim, Al Fawaaid, hal 94.`               

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: