h1

Alat dan Bagian yang disembelih.

November 27, 2007

  telah lalu dipaparkan syarat pertama dalam penyembelihan secara syar’i. Sekarang akan dijelaskan syarat kedua. Syarat Kedua: Syarat Yang Berhubungan dengan alat potong atau sembelih. Syarat yang berhubungan dengan alat potong atau alat sembelih ada dua: Pertama: Alat sembelih harus tajam, memotong atau menyobek dengan ketajamannya bukan dengan beratnya. Kedua : Tidak berupa gigi dan kuku. Apabila telah ada dua syarat ini dalam penyembelihan maka halal sembelihannya, baik alat tersebut berupa besi, batu, kayu atau kaca. Dikecualikan gigi dan kuku, karena keumuman sabda Nabi SAW : مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ ذَلِكَ أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ Semua yang darahnya tertumpah dan disebutkan nama Allah atasnya, maka makanlah! Bukan memakai gigi dan kuku. Saya akan sampaikan tentang hal itu. Adapun gigi maka ia adalah tulang, sedangkan Kuku maka itu adalah alat potongnya orang Habasyah. (HR Al Bukhori) Sabda Rasululloh ini menegaskan bahwa semua alat potong yang dapat menumpahkan darah hewan sembelihan dengan ketajamannya menjadikan sembelihan sah secara syar’I, kecuali dua; yaitu Gigi dan Kuku. Pengertian kuku disini adalah kuku manusia dan selainnya dari hewan-hewan baik yang masih bersambung dengan tubuhnya atau sudah terpisah. Seperti menyembelih dengan kuku harimau atau binatang buas lainnya. Inilah pendapat mayoritas ulama dan yang rojih karena keumuman hadits diatas Memotong dengan potongan tulang. Para ulama berselisih pendapat tentang hokum memotong hewan dengan potongan tulang dalam dua pendapat: 1. Diperbolehkan, karena yang dilarang hanyalah gigi sehingga diperbolehkan memotong hewan dengan potongan tulang selain gigi. 2. tidak diperbolehkan karena larangan bersifat umum pada semua tulang. Inilah pendapat madzhab Syafi’i, dengan berlandaskan sabda Rasululloh : { أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ }( Adapun gigi maka ia adalah tulang). Pernyataan beliau ini menjelaskan ketidak bolehan menyembelih dengan tulang. Mereka menyatakan bahwa pengertian hadits diatas adalah adapun gigi, maka ia adalah tulang dan semua tulang tidak boleh dijadikan alat penyembelihan. Dengan demikian ada ketetapan sembelihan tidak boleh dengan tulang, oleh karena itu beliau mencukupkan denga menyatakan: (فَعَظْمٌ ) seakan-akan sembelihan dengan tulang sudah dikenal para sahabat tidak diperbolehkan lalu Syari’at mengokohkannya. Dalam hal ini imam Al Bukhori membuat judul bab dalam kitab Shohih AL Bukhori dengan: Bab tidak disembelih dengan gigi, tulang dan kuku. Yang rojih tentang hal ini adalah pendapat kedua yang tidak memperbolehkannya. Wallahu A’lam Syarat Ketiga: Memotong yang wajib dipotong dalam penyembelihan. Para ulama sepakat bahwa bagian yang disembelih adalah leher dan Lubbah dan tidak boleh menyembelih dibagian lainnya. Dikhususkan bagian ini dalam penyembelihanpenyembelihan karena ia adalah tempat berkumpulnya pembuluh darah dan urat, sehingga akan mudah tumpah darah dan cepat hilangnya nyawa. Sehingga dengan demikian dapat menjadikan daging lebih bagus dan lebih mudah bagi hewan yang disembelih. Sembelihan dileher dinamakan Al Dzabh dan ini untuk selain ontam, sedangkan sembelihan di Lubbah yaitu bagian yang ada dipangkal leher dan diatas dada dinamakan Nahr dan ini khusus untuk onta. Denga demikian sembelihan di leher bagian atas dinamakan Al Dzabh dan dibagian bawah leher dinamakan Nahr. Adapun yang wajib dipotong dalam sembelihan adalah memotong empat bagian: 1. Kerongkongan yaitu saluran keluar masuk nafas. 2. Tenggorokan yaitu saluran masuk makanan dan minuman dan ia berada dibawah kerongkongan. 3. dua urat leher yang ada di dua sisi leher menggapit kerongkongan atau tenggorokan yang merupakan saluran darah. Disepakati bila keempat bagian tersebut terpotong maka sembelihannya sempurna. Namun para ulama berselisih dalam masalah berikut ini: a. Bila terpotong sebagian dari empat bagian tersebut, apakah sah sembelihannya? Yang rojih dalam masalah ini adalah cukup dengan memotong sebagian dari empat hal terebut. Kemudian timbul masalah lain yaitu: b. Apabila sah, bagian mana yang harus dipotong? Yang rojih adalah memotong tiga bagian darinya tanpa ditentukan, Karena ketiga bagian tersebut adalah dua urat leher dan kerongkongan atau tenggorokan, mungkin juga tenggorokan dan kerongkongan dengan salah satu dari dua urat leher tersebut. Kedua hal diatas dapat menumpahkan darah dan mempercepat kematian hewan sembelihan. c. Hokum sembelihan yang kelewatan hingga memotong sungsum tulang lehernya yang memanjang dari tulang belakang sampai otak. Yang rojih dalam permasalahan ini adalah sah sembelihannya dengan kemakruhan karena menambah sakit pada hewan tersebut d. Hukum sembelihan dari tengkuknya. Yang rojih dalam masalah ini adalah sah sembelihannya apabila alat potong tersebut memotong bagian yang wajib dipotong dalam keadaan hewan tersebut masih bernyawa walaupun sedikit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: