h1

November 20, 2007

FIQIH THOHAROH

Oleh : Kholid Syamhudi

Thoharoh merupakan kunci nya sholat dan merupakan perkara yang memiliki urgensi cukup tinggi di dalam agama Islam,oleh karena itu maka sudah sepatutnyalah kita mengetahuinya dengan melihat kepada Syariat agama kita yang mulia ini.

1. Definisi Thoharoh Dan Jenis-Jenisnya

Dalam bahasa arab thoharoh bermakna kebersihan dan kesucian dari kotoran-kotoran [70]

Dalam syrariat terbagi menjadi dua:

a. Thoharoh Manawiyah yaitu mensucikan hati dari kesyirikan dalam peribadahan kepada Allah dan dari rasa kebencian dan permusuhan terhadap sesama hamba Allah,dan ini lebih penting dari Thoharoh Hissiyah (badan),bahkan tidak mungkin ada kesucian badan kecuali bersamanya

b. Thoharoh Hissiyah yaitu mensucikan badan dengan menghilangkan/mengangkat hal-hal yang mencegah dari syahnya sholat dan ibadah-ibadah yang lain dari hadats dan najis dengan air atau dengan debu[71] sebagai ganti air.

Dan ini terbagi menjadi dua:

1. Kesucian dari hadats

2. Kesucian dari najis

Adapun hadats adalah sifat yang ada di badan yang mencegah syahnya sholat dan yang sejenisnya dari ibadah-ibadah yang disyaratkan padaya kesucian,sedangkan najis adalah setiap zat yang di haramkan memakannya bukan karena bahayanya atau menjijikannya dan tidak pula karena kehormatannya [72]

kemudian thoharoh (kesucian) dari hadats terbagi menjadi dua:.

1. Thoharoh dari hadats yang kecil seperti seorang yang kencing atau buang hajat maka dia telah berhadats kecil dan ini dengan berwudhu’

2. Thoharoh dari hadats yang besar dan ini dengan mandi wajib.

Sedangkan thoharoh dari najis dapat dilakukan dengan menghilangkannya dan mencuci tempat yang terkena najis dengan air.[73]

2. Air Dan Pembagiannya

Air dan bersuci merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkann,karena air adalah alat untuk bersuci dan air juga meruupakan satu kebutuhan primer yayng harus dipenuhi oleh seorang manusia di dalam kehidupannya.

Air menurut sudut pandang syari terbagi menjadi dua:

a. Air Thohur adalah air yang masih berada dalam sifat-sifatnya yang asli baik secara hakiki atau hukum,seperti air hujan,air laut,air sungai,air sumur,air mata air dan air hujan ini adalah air yang suci dan mensucikan karena masih berada pada sifatnya yang asli secara hakiki sedangkan air yang sudah dipanaskan dengan api dan mengalami perubahan pada sebagian sifat-sifatnya masih dikatakan suci mensucikan secara hukum,air-air ini dapat diminum dan dipergnakan untuk bersuci karena dia suci dan mensucikan .

b.Air najis adalah air yang berubah salah satu sifat-sifatnya (warna atau rasa atau baunya) dengan najis,misalnya air yang berubah rasanya karena tercampur kencing dan ini tidak boleh dipakai untuk bersuci

Adapun air yang berubah warna,atau baunya atau rasanya karena tercampur dengan sesuatu yang suci maka tidak mempengaruhi kesuciannya.dan hal ini memiliki dua keadaan:

1. kalau perubahan tersebut disebabkan tercampur benda-benda suci yang sedikit sehingga tidak mempengaruhinya dengan jelas seperti tercampur debu atau sabun yang sedikit maka air tersebt termasuk air yang suci lagi mensucikan

2. kalau terpengaruh dan banyak campurannya sehingga mendominasi air tersebut sepert tercampur tinta,teh,kopi dan lain-lainnya maka tidak dinamakan lagi dengan air ,tepai dinamai dengan benda yang mencampurinya,maka dikatakan padanya tinta,teh dan kopi

3. Najis dan jenis-jenisnya.

Najis dalam syariat terbagi menjadi dua:

1. Najis karena zatnnya (Najasah zatiyah)atau (Najasah Ainiyah),seperti kencing,tinja dll,dan najis ini tidak mungkin di suci kan,karena zatnya trsebut adalah najis.

2. Najis secara hukum (Najasah Hukmiyah) seeperti air yang terkena kencing dll,dan ini bisa disucikan karena pada asalnya zat tersebut adalah suci kemudian terkena najis dan menjadi najis.

4. Hukum-Hukum Ynag Berhubungan dengan Membuang hajat.

A. Yang di sunnahkan.

1. Menjauh dari manusia kalau membuang hajatnya yang tidak di WC.

2. Mendahulukan kaki kirinya ketika masuk WC dan kaki kananna ketika keluarnya.

3. Mencuci tangan setelah istinja’

4 . Membaca :”بسم الله اللهم إني أعوذ بك من الخبث و الخبائث

(insya Allah bersambung)


[1] HR Buhkori , Muslim dan Ahmad

[2] HR.Bukhori,Muslim dan As Siraj

[3] Al Baqoroh 238

[4] Al Baqorah 238-239

[5] HR Bukhori ,Abu Daud dan Ahmad

[6] HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad baik

[7] HR. Bukhori dan Ahmad

[8] HR.Bukhori dan Muslim

[9] HR. Muslim dan Ibnu Majah ,Berkata Syeikh Al Albany :”Di dalam hadits ini terdapat isyarat bahwasanya beliau belum pernah membuka sholatnya dengan ucapan seperti yang diucapkan :NAWAITU AN USHOLI……Bahkan telah disepakati bahwa hal itu adalah bid’ahDan mereka (ahli Ilmu) hanya berselisih apakah niat seperti ini baik atau buruk.

[10] HR. Thobrany dan berkata Al Albany: sanadnya shohih

[11] HR. Ahmad dan Hakim dan dishohihkan oleh Hakim dan disepakat oleh Adz Dzahaby

[12] HR Ahmad dan Baihaqi dan dishohihkan Al Albany.

[13] HR. Bukhori dan An Nasai

[14] HR. Bukhori dan An Nasai

[15] HR. Bukhori dan Abu Daud

[16] HR.Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah (1/62/2,64/1) dan Hakim dan dishohihkannya dan disepakati oleh Adz Dzahaby.

[17] HR Bukori dan An Nasai

[18] HR Bukhori dan Abi Daud

[19] HR.Bukhori dan Abu Daud

[20] HR Ibnu Hibban dan Adh Dhiya’

[21] HR Abu Daud,An Nasai dan Ibnu Khuzaimah

[22] HR Abu Daud dan ‎Ibnu Khuzaimah

[23] HR An Nasai dan Adalah Daraquthny

[24] HR Al Baihaqi dan Hakim

[25] HR Abu Daud dan Al Hakim.

[26] HR Bukhori dan Muslim

[27] HR Ibnu Mandah dan An Nasai

[28] HR Abu Daud dan Ibnu Majah

[29] HR Abu Daud dan Hakim

[30] HR Bukhori dsn Abu Daud

[31] Ibid

[32] HR Al Hakim

[33] HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban

[34] HR Abu Daud

[35] HR Al Baihaqy dan Bukhori

[36] HR Abu Daud dan Bukhori

[37] HR Bukhori dan Muslim

[38] HR Ahmad ,Abu Daud ,Ibnu Majah,Adalah Daruqutni dan lain-lain.

[39] HR Abu Daud dan Ahmad dan lain-lainnya.

[40] HR Bukhori dan Muslim

[41] HR Muslim

[42] HR Bukhori dan Muslim

[43] HR Muslim dan Abu Daud

[44] HR Muslim dan Abu Awanah

[45] HR Abu B‎Daud dan HR An Nasai

[46] HR Ibnu Khuzaimah, Adalah Daruquthny dan Hakim

[47] HR Abuu Daud dan At Tirmidzi

[48]HR Al Baihaqy

[49] HR Al; Baihaqy

[50] HR Al Baihaqy

[51] HR At Thohawy dan Ibnu Khuzaimah

[52] HR Baihaqy

[53] HRBukhori dan Abu Daud

[54] HR Bukhori dan Muslim

[55] HR Ahmad,Abu Daud

[56] HR Bukhori dan Muslim

[57] HR Bukhori dan Muslim

[58] HR Bukhori dan Abu Daud

[59] HR Bukhori

[60] HR Muslim

[61] HR Abu Daud ,At Tirmidzi dan Ibnu Majah

[62] HR Ibnu Majah

[63] HHR Bukhori

[64] HR Muslim

[65] HR Bukhori dan Muslim

[66] HR Abu Awanah

[67] HR Ahmad

[68] HR Buhori dan Muslim

[69] HR Muslim

[70] lihat Al Mughny 1/12 dan Syarhul Mumti 1/19

[71] lihat al Mughny 1/12

[72] lihat Syarhul Mumti 1/19-20 dan penjelasannya hal

[73] lihat Muqaror Fiqih 1/6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: