h1

Sholat Sunah Rawatib Zhuhur

Oktober 23, 2007

Kholid Syamhudi

Sholat Sunah Rawatib Zhuhur

Telah lalu dijelaskan tentang sholat rawatib subuh dan hukum-hukumnya. kali ini akan dijelaskan tentang sholat rawatib berikutnya yaitu sholat rawatib zhuhur.

1. Hukumnya.

Sholat Sunnah rawatib shubuh termasuk sholat Sunnah muakkad yang dilakukan Rasululloh n dan dianjurkan beliau. Dasarnya adalah keumuman hadits-hadits yang menjelaskan sholat sunnah rawatib seperti hadits Ummu Habibah dan Ibnu Umar.[1]

2. Jumlah Rakaatnya

Beberapa riwayat menjelaskan jumlah rakaat sholat sunnah rawatib zhuhur sebagai berikut:

  1. Dua rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَكَانَتْ سَاعَةً لَا يُدْخَلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَطَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Aku hafal dari Nabi n sepuluh rakaat; dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah ‘Isya dan dua rakaat sebelum sholat subuh. Dan ada waktu tidak napat menemui Nabi n . Hafshoh menceritakan kepadaku bahwa beliau bila Muadzin beradzan dan terbit fajar beliau sholat dua rakaat. (HR Al Bukhori kitab Tahajjud, Bab al-Rakatain Qabla dzuhur no.1180 dan Muslim kitab sholat al-Musafirin wa Qashruha bab Fadhlu al-Sunan al-Raatibah 729.).

  1. empat rakaat sebelumnya dan dua rakaat sesudahnya, sebagaimana dalam hadits A’isyah yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ

Sungguh Nabi n dahulu tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum zhuhur. (HR al-Bukhoori dalam kitab al-Jum’at bab al-Rak’atain Qabla al-Zhuhri no. 1110) dan hadits Abdullah bin Syaqieq ketika bertanya kepada ‘Aisyah tentang sholat sunnahnya Rasululloh n dan beliau menjawab:

كَانَ يُصَلِّي فِي بَيْتِي قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا ثُمَّ يَخْرُجُ فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

Beliau n dahulu sholat dirumahnya sebelum zhuhur empat rakaat, kemudian keluar dan sholat mengimami manusia kemudian masuk (rumah lagi) dan sholat dua rakaat. (HR Muslim, kitab sholat al-Musafirin wa Qashruha bab Jawaaz an-Naafilah Qaaiman wa Qa’idan no. 730).

  1. Empat rakaat sebelumnya dan empat rakaat setelahnya, sebagaimana ada dalam hadits Ummu Habibah yang berbunyi :

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasululloh n bersabda, Siapa yang menjaga empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat setelahnya maka Allah mengharamkannya dari neraka. (HR al-Titmidzi kitab al-Sholat, no. 428, Ibnu Majah kitab al-Sholat no. 428 , Abu Daud kitab al-Sholat Bab al-Arba’ Qabla al-Zhuhri Wa Ba’daha no. 1269 dan Ibnu Majah kitab al-Sholat wa as-Sunnah Fiha Bab Maa Jaa`a Fiman Sholla Qabla al-Zhuhri `Arba’an Wa Ba’daha `Arba’an no1160, dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan Ibnu Majah 1/191)

Siapa yang menunaikan seluruhnya maka telah melaksanakan sunnah, namun yang muakkad adalah empat rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat setelahnya sebagaimana telah dirojihkan ibnul Qayyim dan Syeikh Ibnu Utsaimin.[2]

3. Keutamaannya

sholat rawatib zhuhur termasuk yang tidak pernah ditinggalkan Nabi n kecuali dalam safar. Sholat ini memiliki keutamaan seperti keumuman sholat rawatib lainnya. Namun ada beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan khususnya seperti hadits Ummu Habibah yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasululloh n bersabda, Siapa yang menjaga empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat setelahnya maka Allah mengharamkannya dari neraka. (HR al-Titmidzi kitab al-Sholat, no. 428, dan Ibnu Majah kitab al-Sholat no. 428 dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan Ibnu Majah 1/191)

Dan hadits yang berbunyi:

أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّجَرِ

Empat rakaat sebelum zhuhur menyamai sholat as-Sahar (menjelang terbit fajar) (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 2/15/2 dan dishohihkan al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shohihah no. 1431 lihat silsilah 3/416)

4. Tata Caranya.

Empat rakaat sunah rawatib zhuhur dapat dilakukan dengan dua cara;

Pertama: dilakukan dengan dua kali salam, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasululloh n yang berbunyi:

صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

Sholat malam dan siang adalah dua rakaat, dua rakaat (HR an-Nasaa’I dalam kitab Qiyaam al-Lail wa Tathawu’ an-Nahar, Bab Kaifa Sholat al-Lail 3/227 dan Ibnu Majah dalam kitab Iqaamat ash-sholat Wa as-Sunnah Fiiha, Bab Maa Jaa Fii Sholaat al-Lail wa an-Nahaar Matsna matsna no. 1322 dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih Ibnu Majah 1/221).

Kedua: dilakukan dengan satu salam dan dua tasyahud dengan dasar hadits yang berbunyi:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيهِنَّ تَسْلِيمٌ تُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Dari Abu Ayyub dari Nabi n beliau bersabda: “EMpat rakaat sebelum zhuhur tidak ada padanya salam maka dibukakan karenanya pintu-pintu langit”. (HR Abu Daud 1269 dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Targhib wa al-Tarhiib no. 585 dan shohih Abu Daud).

Imam Abu ‘Isa at-Tirmidzi menyatakan: “Kebanyakan ulama dari kalangan sahabat Rasululloh n dan setelah mereka mengamalkan hadits ini. Mereka merojihkan seorang sholat sebelum zhuhur empat rakaat. Inilah pendapat Sufyaan ats-Tsauri, Ibnu al-Mubaarak, Ishaaq dan ahli kufah. Sebagian ulama menyatakan: Sholat malam dan siang dua rakaat dua rakaat. Mereka memandang pemisahan antara setiap dua rakaat. Inilah pendapat asy-Syafi’I dan Ahmad.[3]

  1. Orang yang tidak sempat melakukan sholat Sunnah empat rakaat sebelum dzuhur.

Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin memberikan satu kaedah tentang mengqadha sholat sunnah ini dalam pernyataan beliau:

“Orang yang tidak sempat melakukan sholat-sholat rawatib ini pada waktunya, maka disunnahkan mengqadho’nya dengan syarat karena udzur. Dasarnya adalah hadits Abu Hurairoh dan Abu Qatadah dalam kisah tidurnya Rasululloh n dan para sahabatnya dalam satu perjalanan sehingga terlambat sholat subuh, lalu beliau melakukan sholat rawatib subuh dahulu kemudian baru sholat subuh. Demikian juga hadits Ummu Salamah bahwa Nabi n tersibukkan dari dua rakaat setelah zhuhur dan mengqadho’nya setelah sholat ‘Ashr. Ini adalah nas dalam qadho’ sholat sunnah rawatib. Demikian juga keumuman sabda Rasululloh n (yang berbunyi):

مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Siapa yang ketiduran dari sholat atau lupa maka hendaknya sholat ketika ia ingat.

Ini mencakup sholat fardhu dan nafilah (sunnah) dan ini bila ditinggalkan karena udzur seperti lupa, ketiduran dan sibuk dengan yang lebih penting. Adapun bila ditinggalkannya dengan sengaja hingga kehilangan waktunya maka ia tidak mengqadho’nya, seandainya ia mengqadho’nyapun maka tidak sah sebagai rawatib darinya. Hal ini karena sholat rawatib adalah ibadat yang ada waktu tertentu. Ibadah yang memiliki ketentuan waktu bila sengaja seseorang mengeluarkannya dari waktunya maka tidak diterima. Dasarnya adalah sabda Rasululloh n yang berbunyi:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada padanya perintah kami maka ia tertolak (HR Muslim).

Sedangkan ibadah yang memliki ketentuan waktu bila kamu keluarkan darinya dengan sengaja maka kamu telah mengamalkan amalan yang tidak ada perintah Allah l dan RasulNya n . sebab Allah l dan RasulNya n memerintahkan untuk kamu kerjakan pada waktu tersebut sehingga tidak diterima (selainnya). Juga sebagaimana tidak sah sholat sebelum waktunya maka tidak sah juga sholat setelah keluar waktunya karena tidak ada perbedaan yang benar antara kamu kerjakan sebelum masuk waktunya dan setelah keluar waktunya apabila tanpa udzur”. [4]

Dengan dasar ini, apabila seseorang tidak dapat melakukan sholat sunnah rawatib sebelum zhuhur karena udzur maka boleh mengqadho’nya. Hal ini dilakukan setelah sholat zhuhur sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلَّاهُنَّ بَعْدَهُ

Sesungguhnya Nabi n dahulu bila tidak sholat empat rakaat sebelumzhuhur maka beliau lakukan setelahnya. (HR at-Tirmidzi dalam kitab ash-Sholat Bab Minhu Aakhor no. 426 dan Ibnu Majah dalam kitab Iqaamat ash-Sholat Wa as-Sunnah Fiiha Bab Man Faatathu al-Arba’ Qabla azh-Zhuhur no 1158 dan dishohihkan al-Albani dalam shohih sunan at_tirmidzi 1/134)

(Lengkapi dengan Lihat Tamam al Minnah 241)

4. Orang yang tidak sempat melakukan sholat Sunnah dua rakaat setelah dzuhur

Demikian pula bila seseorang tidak dapat melakukan sholat sunnah rawatib sebelum zhuhur karena udzur maka boleh mengqadho’nya setelah hilang udzurnya walaupun setelah sholat ashar. Hal ini didasarkan pada hadits yang berbunyi:

عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَزْهَرَ وَالْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ أَرْسَلُوهُ إِلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا اقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنَّا جَمِيعًا وَسَلْهَا عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ وَقُلْ إِنَّا أُخْبِرْنَا أَنَّكِ تُصَلِّينَهُمَا وَقَدْ بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهُمَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَكُنْتُ أَضْرِبُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ النَّاسَ عَلَيْهَا قَالَ كُرَيْبٌ فَدَخَلْتُ عَلَيْهَا وَبَلَّغْتُهَا مَا أَرْسَلُونِي بِهِ فَقَالَتْ سَلْ أُمَّ سَلَمَةَ فَخَرَجْتُ إِلَيْهِمْ فَأَخْبَرْتُهُمْ بِقَوْلِهَا فَرَدُّونِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ بِمِثْلِ مَا أَرْسَلُونِي بِهِ إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْهُمَا ثُمَّ رَأَيْتُهُ يُصَلِّيهِمَا أَمَّا حِينَ صَلَّاهُمَا فَإِنَّهُ صَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ وَعِنْدِي نِسْوَةٌ مِنْ بَنِي حَرَامٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَصَلَّاهُمَا فَأَرْسَلْتُ إِلَيْهِ الْجَارِيَةَ فَقُلْتُ قُومِي بِجَنْبِهِ فَقُولِي لَهُ تَقُولُ أُمُّ سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَسْمَعُكَ تَنْهَى عَنْ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ وَأَرَاكَ تُصَلِّيهِمَا فَإِنْ أَشَارَ بِيَدِهِ فَاسْتَأْخِرِي عَنْهُ قَالَ فَفَعَلَتْ الْجَارِيَةُ فَأَشَارَ بِيَدِهِ فَاسْتَأْخَرَتْ عَنْهُ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ يَا بِنْتَ أَبِي أُمَيَّةَ سَأَلْتِ عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ بِالْإِسْلَامِ مِنْ قَوْمِهِمْ فَشَغَلُونِي عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ فَهُمَا هَاتَانِ

Dari Kuraib Maula Ibnu Abas bahwasanya Abdullah bin Abas, Abdurrahman bin Azhar dan al-Miswar bin Makhramah mengutusnya menemui ‘Aisyah istri Nabi n , mereka berkata: “Sampaikan kepada beliau salam dari kami semua dan tanyakan tentang dua rakaat setelah sholat ashar. Juga katakan bahwa kami menerima berita bahwa engkau melakukan sholat dua rakaat (setelah ashar) tersebut, padahal telah sampai kapada kami bahwa Rasululoh n telah melarangnya”. Ibnu Abas menyatakan: “Aku dahulu bersama Umar bin al-Khothob memukul orang yang melakukannya”. Kuraib menyatakan: “Lalu aku menemui beliau (‘Aisyah) dan menyampaikan semua pesan mereka”. Lalu beliau berkata: “Tanyalah kepada Ummu Salamah!”. Lalu aku berangkat kepada mereka dan memberitahukan mereka tentang jawaban beliau. Lalu mereka menyuruhku pergi ke Ummu Salamah dengan pesan-pesan yang dibawa kepada ‘Aisyah. Maka Ummu Salamah menjawab: “Aku telah mendengar Rasululloh n melarang dari keduanya, kemudian aku melihat beliau melakukannya. Adapun waktu beliau melakukannya maka beliau setelah sholat ashar kemudian masuk dan bersamaku ada beberapa orang wanita dari bani Haraam dari kalangan anshor, lalu beliau melakukan sholat dua rakaat tersebut. Lalu aku suruh seorang anak perempuan menemui beliau, aku katakana: “Berdirilah kamu disamping beliau dan katakana kepadanya bahwa Ummu salamah mengatakan: ‘Wahai Rasululloh! Aku telah mendengra engkau melarang dari sua rakaat tersebut dan melihatmu melakukannya’. Apabila beliau memberi isyarat dengan tangannya maka mundurlah darinya”. Kuraib menyatakan: “Anak perempuan itupun melakukannya dan beliau n memberi isyarat dengan tangannya dan iapun mundur dari beliau. Ketika beliau n selesai maka berkata: “Wahai bintu Abi Umayyah kamu telah bertanya tentang dua rakaat setelah sholat ashr, sesungguhnya telah menemuiku beberapa orang dari Abdu al-Qais masuk islam dari kaum mereka lalu menyibukkan dari melakukan dua rakaat (sholat rawatib) setelah zhuhur. Inilah dua rakaat tersebut.

(HR al-Bukhori kitab al-Sahwu, Bab Idza Kallama Wahuwa Yusholli Fa Asyara biyadihi wastama’ no. 1233 dan Muslim kitab sholat al-Musafirin wa Qashruha bab Ma’rifat ar-Rak’atain allataini Kaana Yusholiihumaa an-Nabi n Ba’da al-Ashr no. 834)

demikianlah beberapa permasalahan seputar sholat rawatib zhuhur yang dapat kami jelaskan, semoga dapat diamalkan dan bermanfaat bagi kita semua.

www.ustadzkholid.wordpress.com


[1] Telah lalu hadits-hadits ini semua dalam pembahasan sholat sunnah rawatib pada edisi ??????

[2] ibid

[3] sunan at-Tirmidzi 2/289-290.

[4] Syarhul Mumti’ 4/101-103.

One comment

  1. assalaamu’alaikum
    ust nitip pertanyaan dari teman ana seorang akhwat…
    “umat Islam kan di perintahkan untuk menikah, karena termasuk Sunnah Nabi, dan dianjurkan untuk menikahi gadis-gadis yang subur atau kemungkinan akan dapat melahirkan banyak anak…
    bagaimana dengan seorang akhwat yang mandul? disatu sisi dia menginginkan untuk menikah karena mengikuti Sunnah, di sisi yang lain, dia merasa sedih karena mandul, sehingga banyak ikhwan yang lebih memilih akhwat yang subur daripada yan mandul(karena termasuk yang dianjurkan Nabi dalam menikah memilih yang subur)…”
    ustadz bagaimana nasihat antum buat teman ana? soalnya dia selalu merasa sedih katanya…
    barokallhu fiikum, jazakallahu khoir atas jawabanya…



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: