h1

Kaedah dalam memahami islam

Oktober 4, 2007


Jauhnya kaum muslimin dari zaman kenabian dan zaman para salaf sholih memberikan pengaruh besar dalam pemahaman dan amalan mereka. Sehingga tidak dapat dielakkan lagi munculnya kebidahan-kebidahan dan metodologi memahami islam yang menyimpang dari ajaran Rasululloh n yang difahami para salaf umat ini. Mereka karena kejahilannya menjadikan hadits-hadits yang lemah dan palsu sebagai dasar pijakan beragama atau terkadang salah dalam beristidlal dari nash-nash shohih. Hal inilah yang menyebabkan para ulama menjelaskan bagaimana manhaj ahli Sunnah wal jamaah dalam memahami cara pengambilan hukum dan aqidah

Ahli Sunnah Wajamaah telah meletakan dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang jelas yang merupakan petunjuk bagi umat dalam berta’amul bersama nushush As Syar’iyah dalam menetapka hukum dan ‘itiqod agar tidak terjerumus pada jurang kesesatan. Mereka telah menempuh manhaj yang benar, Mereka membangun manhajnya diatas Al Qur`an , As Sunnah dan ijma As Slafus As Sholeh, sehingga mereka selamat dari penyimpangan dan perselisihan, mereka teguh dalam hak, mereka senantiasa jauh dari hawa nafsu dan bid’ah.

Diantara kaedah tersebut adalah:

1. BERILTIZAM (KOMITMEN) KEPADA Al Qur`an DAN AS SUNNAH DAN MENCUKUPKAN DENGAN KEDUANYA SERTA MENDAHULUKAN KEDUANYA DIATAS AKAL.

Al Qur`an dan As Sunnah keduanya adalah merupakan timbangan, yang akan ditimbang dengan keduanya perkataan, perbuatan dan keyakinan, keduanya merupakan hak yang wajid untuk diikuti, dengan keduanya terpisah antara hak dan bathil, dan selain dari keduanya wajib dikembalikan kepadanya apabila sesuai diterima dan apabila bertentangan maka ditolak.

Manhaj Ahlu sunnah mengharuskan untuk mengedepankan naql (al-Qur’an &as-Sunnah) dari selainnya. Dan memerintahkan untuk selalu berpegang teguhkepada keduanya, sebagaimana firman Allah :

Dan berpeganglah kamusemuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilahkamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. DemikianlahAllah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. 3:103).

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah Al-Qur’an sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Suraih al-Khazza’I berkata: Rasulullah keluar menemui kami dan bersabda, “Kabar gembira, Kabar gembira, bukankah kamu

bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku adalah Rasul-Nya?.Sahabat menjawab; Ya. Beliau berkata, “ Sesungguhnya Al-Qur’an adalah tali yang satu ujungnya ditangan Allah dan ujungnya yang lain ditangan kamu. Maka berpeganglah dengannya. Sesungguhnya kamu tidak akan tersesat

dan binasa selama-lamanya” (HR.Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syekh Albani dalam Targhib dan tarhib).

Diantara yang menguatkan prinsip ini adalah:

1. Allah memerintahkan untuk mengembalikan segala urusan dan permasalahan kepada al-Qur’an & as-Sunnah, sebagaimana firman-Nya,

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59).

Imam Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Mujahid dan lainnya tentang maksud ayat di atas mereka berkata,” Ini perintah Allah untuk mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan baik pada masalah dasar-dasar agama atau cabangnya kepada Al-Qur’an dan sunnah”, (Tafsir Ibnu Katsir I/ 338).

Mafhumnya, menunjukkan larangan untuk menyandarkan permasalahan hanya kepada akal semata, karena hanya akan membuat kebinasaan. Sahl bin Hunaif berkata, “Tuduhlah akalmu, saya telah menyaksikan peristiwa Abi jandal, kalau saja boleh saya membantah keputusan Rasulullah, niscaya saya akan lakukan. Demi Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, (HR.Bukhari).

2. Perinta dalam membuat keputusan harus dilandaskan pada al- Qur’an & as-Sunnah, sebagaimana firman Allah,

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.(Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Rabbku.Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (QS. 42:10)

3. Allah Ta’ala juga melarang berbuat dan berkata tanpa didasari ilmu dan argumentasi yang benar dari Al-Qur’an dan sunnah, sebagaimana firman-Nya,

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. 17:36).

Orang yang berkata dalam masalah agama tanpa dalil, berarti berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Dan ini dilarang oleh Allah, sebagaimana firman-Nya,

“ Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui”, (QS.2:169).

Begitu juga ketika seseorang berfatwa dan memberikan jawaban dalam masalah agama tanpa dalil yang benar, maka fatwa atau jawabannya hanya akan menyesatkan saja. Rasulullah bersabda,

“ Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengambil ilmu dari manusia dengan mencabutnya, tetapi dengan mewafatkan para ulama’, dan ilmu akan ikut hilang bersamanya. Dan akan tinggal bersama manusia pemimpin-pemimpin bodoh yang berfatwa tanpa ilmu, Maka dia telah tersesat dan akan menyesatkan”, (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash).

4. Al-Qur’an tidaklah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali untuk dijadikan petunjuk oleh manusia, sehingga mereka mendapatkan keselamatan dan kebahagian dalam hidupnya baik di dunia dan di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan

ayat-ayatnya dan supaya mereka mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”, (QS.Shaad: 29). Ketika Umar bin Khattab memilih pegawai beliau mengangkat orang yang mempunyai ilmu yang tinggi tentang

Al-Qur’an dan Sunnah. seperti yang dilakukannya pada Ibnu Abza seorang budak yang diangkatnya menjadi pemimpin untuk ahlul wadi. Ketika ditanya mengapa mengangkat seorang budak menjadi pemimpin?, beliau menjawab, “Dialah yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya, paling bisa dalam ilmu waris, bukankah Rasulullah telah bersabda, “ Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebuah kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkan yang lain dengannya”, (HR.Muslim).

5. Mengamalkan Al-Qur’an juga mendatangkan keberuntungan dan rahmat dari Allah, sebagaimana firmanNya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat”, (QS.Al-An’am: 155). Ibnu Abbas Ra, berkata, “Allah Ta’ala akan menjamin mereka yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, tidak akan tersesat di dunia dan tidak menderita di akherat, kemudian beliau membaca ayat ini”, (Majmu’ Fatawa, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah juz 19 hal. 77).

Pada perinsip pertama wajib kita memperhatikan empat poin berikut ini:

1. Mengambil Zhohir Nushush dan tidak menta’wil tanpa dalil shohih.

Yang dimaksud dengan Dzohir nash adalah makna yang terpahami langsung oleh akal dan ini berbeda sesuai konteks kalimat dan yang disandarkan kepadanya perkataan. (lihat Qawaid Al Mutsla )

Inilah yang diinginkan Allah dan RasulNya. Karena itu imam Al Syafi’I menyatakan:

آمنت بالله وبما جاء عن الله ، على مراد الله ، وآمنت برسول الله ، وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله .

Aku beriman kepada Allah dan ajaran yang datang dari Allah sesuai keinginan Allah dan aku beriman kepada Rasululloh n dan ajaran yang ada dari Rasululloh sesuai dengan keinginan Rasululloh n . (Lihat Lum’at Al I’tikad)

Ahlu Sunnah tidak melakukan ta’wiel dan mengeluarkan satu nash dari zhohirnya kecuali dengan dalil yang menunjukkan kebenaran ta’wiel tersebut. Oleh karenanya para salaf terdahulu menyatakan:

أمروها كما جاءت .

Berlakukanlah sebagaimana adanya.

Kaedah ini walaupun ada pada permasalahan tauhid asma dan sifat namun tidak diragukan berlaku juga untuk yang lainnya. Oleh karena itu para salaf terdahulu tidak pernah menta’wil hadits-hadits hokum dan mereka memberlakukannya sebagaimana adanya.

Contohnya: Sabda Rasululloh n ketika ditanya tentang wudhu’ setelah makan daging onta :

( توضئوا منها ) .

Berwudhu’lah darinya. (HR Muslim no. 360, Abu Daud no. 184 dan Al Tirmidzi no. 81)

Kata wudhu’ disini bisa bermakna wudhu’ untuk sholat yang sudah dikenal dalam syari’at dan bisa juga bermakna cuci tangan. Zhohir hadits adalah wudhu’ untuk sholat dan inilah yang difahami dan diamalkan para sahabat. Mereka dahulu berwudhu` bila selesai makan daging onta dan tidak memahaminya dengan mencuci tangan.

Al Khothib Al Baghdadi dalam Al Fiqhu wal Mutafaqqih (1/222) menyatakan:

” Wajib memahami hadits Nabi n sesuai keumuman dan zhohirnya kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa yang diinginkan adalah selainnya, lalu beralih kepada penunjukkan dalil tersebut. Imam Al Syafi’I menyatakan: Seandainya boleh dalam hadits dialihkan sesuatu darinya dari zhohirnya kepada makna yang lain yang mungkin ditunjukkannya, maka kebanyakan hadits memiliki kemungkinan lebih dari satu pengertian, sehingga pemahaman yang diambil seseorang dari satu pengertiannya tidak dapat dijadikan hujjah atas orang yang berpendapat dengan pengertian kedua. Namun yang benar itu hanya satu, yaitu yang sesuai dengan zhahir dan keumumannya kecuali dengan dalil dari Rasululloh n .”

Ibnul Qayyimpun dalam I’lam Al Muwaqqi’in 3/108 menyatakan:

“Yang wajib adalah memahami firman Allah dan sabda Rasululloh n dan memahami perkataan seorang mukallaf sesuai zhohir yang sesungguhnya yaitu yang menjadi maksud dari lafadz dalam percakapan, dan tidak sempurna pencerahan dan pemahaman kecuali dengannya.”,

sedangkan Syeikh Muhammad Al Amien Al Singqiti dalam Adhwa’ Al bayaan 7/438 menyatakan:

” oleh berpaling dari zhohir kitabullah dan sunnah Rasululloh n dalam semua keadaan dari semua sisi hingga tegak dalil shohih syra’I yang memalingkan dari zhohirnya kepada kemungkinan pengertian yang lain.”.

Demikian juga Al Syaukani dalam Irsyad Al Fuhul (263) menyatakan:

” Ketahuilah bahwa zhohir dalil syar’I wajib diikuti dan diamalkan dengan dalil ijma’ para sahabat mengamalkan zhohir lafadz”.

2. Tidak Membedakan Diantara Dalil-dalil Syar’i ( Antar Al Qur`an dan As Sunnah).

Hal terpenting yang membedakan antara Ahli Sunnah wal jamaah dengan ahli bid’ah, adalah mereka memenandang sama antara Al Qur`an dan As Sunnah dalam ‘itibar dan ihtijaj, mereka mejunjung tinggi Sunnah Rasululloh n . Sunnah bagi mereka adalah penjelas, penafsir dan pengurai AlQuraan, baik dalam bidang Aqidah atau Syari’ah .

Sudah menjadi kesepakat dan tidak ada perselisih bahwa Al Qur`an memiliki keutamaan dari As Sunnah. Al Qur`an memliki keutamaan dari segi lafadznya, dia turun dari sisi Allah, muta’abadun bitilawatihi, dan merupakan mujizat, sedangkan As Sunnah berbedanya dengannya. Namun hal itu tidak mengharuskan pengakhiran As Sunnah dalam berhujah (Ihtijaaj). Sebagimana kita mengimani adanya perbedaan keutamaan diantara surat-surat dan ayat-ayat dalam Al Qur`an, tapi tidak menunjukan adanya perbedaan dalam derajat hujah.

Keduanya adalah merupakan hujah dalam aqidah dan hokum. Dalil-dalil yang menunjukan pada qoidah ini adalah banyak:

1. Dalil dari Al Qur`an.

Pertama : Allah telah memerintahkan untuk mengambil Al Qur`an sebagai dasar dalam Aqidah dan hukum.

Allah berfirman :

“Apa yang dibawa oleh Rasul kepadamu, ambillah dan apa yang kamu dilarang olehnya maka tinggalkanlah.

Ayat ini menunjukan wajibnya kita menerima apa yang disampaikan oleh Rasul, baik itu beru Al Qur`an atau As Sunnah yang merupakan hukum atau penjelas terhadap Al Qur`an.

Kedua : Allah telah menghabarkan akan menjaga keduanya.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur`an dan sesungguhnya kami bener-bener memeliharanya.( All Hijr :9)

Penjagaan Allah terhadap Syari’atnya mencakup Al Qur`an dan As Sunnah, walaupun kita mengartikan kalimat ( الذكر) adalah Al Qur`an, karena sesungguhnya Allah telah menurunkan Al Qur`an kepada Rasul-Nya agar Rasul-Nya menjelaskan kepada Umat-Nya. Maka penjelasan Rasul yang termuat dalam As sunnah berupa bayan (penjelasan) dari yang mujmal atau berupa takh-shish dari yang sifatnya umum merupakan sesuatu yang dijaga Allah, karena Rasul bertugas menjelaskan apa yang dimaksud oleh Allah. Juga merupakan alasan yang kuat bahwa Al Qur`an tidak berdiri sendiri untuk dijadikan hujah tanpa ada pejelasan dari Sunnah.

Al Imam Ibnu Hazm berkata: Maka tatkala menjelaskan kepada kita bahwa Al Qur`an merupakan pokok tempat kembali dalam Syariah, maka kita melihat kepadanya, lalu kita dapatkan didalamnya ada kewajiban mentaati Rasululloh n dalam semua perintahnya kepada kita. Kita dapati didalam Al Qur`an bahwa Allah mensifati Rasululloh dengan berfirman:

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS Al najm: 3-4)

Maka dengan itu jelaslah bahwa wahyu yang diwahyukan kepada Rasululloh ada dua:

1. Wahyu yang dibacakan secara tilawah, disusun dalan ta’lif dan mu’jizat dalam susunannya, maka itu adalah Al Qur`an.

2. Wahyu yang diriwayatkan, dinukil tanpa dita’lif, bukan mu’jizat dalam susunannya, tidak beribadah dengan lafadznya. Maka itu adalah khobar yang datang dari Rasululloh n . (Al Ihkam 87).

Maka Kalau begitu Al Qur`an dan As Sunnah berasal dari satu misykah (satu sumber). As Sunnah masuk dalam janji penjagaan Allah. Cukuplah dalil yang nyata adanya para muhaditsin dalam setiap jaman, yang dikatagorikan sebagai para mujadid dan At Thoifatu Al Manshurah. Merekalah yang telah memisahkan hadits-hadits yang dhoif dan shohihnya, kemudian mereka menjelaskan maksudnya, dengan riwayat-riwayat yang mereka terima dari para pendahulu mereka ( As Slafus As Sholeh).

2. Dalil dari Sunnah.

Rasul bersabda:

“Aku tinggalkan bagi kamu dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya : Al Qur`an dan sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga menemuiku dihaudh ( telaga).

“ Aku tidak ingin menjumpai salah seorang di antara kamu bersandar ditempatnya,datang kepadanya suatu perintah atau larangan dariku, tapi dia berkata, akau tidak peduli itu, apa yang aku dapati dalam kitabullah,aku akan mengikutinya.

Berkata Imam Syafi’I: Hadits ini menunjukan, bahwa hadits Rasululloh harus diambil, sekalipun nash yang sesuai dengan kandungannya tidak didapati dalam kitabullah.

3. Perkataan Para ‘Ulama:

1. Berkata Al Imam Al ‘Auza’I : berkata Ayub As Sikhtiyani : Apabila kamu menyampaikan hadits pada seseorang kemudian dia berkata tinggalkan ini dan sampaikan padaku Al Qur`an maka ketahuilah bahwa dia adalah sesat.

2. Al Imam Hasan Al bahsri: ‘Imron bin Al Huhsain sedang duduk bersamanya maka berkatalah seseorang diantara kaum: Janganlah kalian bercerita kepada kami kecuali Al Qur`an! Maka berkata Imron kepadanya: Mendekatlah! Maka iapun mendekat, lalu berkata: Bagaimana pandanganmu seadainya engkau dan saudara-saudaramu menggantung hanya pada Al Qur`an, apakah kamu mendapatkan bahwa Sholat dluhur adalah empat rokaat, sholat ashar empat rokaat dan maghrib tiga rokaat, dan membaca surat pada dua rokaat pertama? Dan apakah kamu mendapatkan dalam Al Qur`an bahwa towaf itu tujuh putaran, dan towaf diantara shofs dan marwah (Sa’i)? Wahai kaum ambillah hadits dari kami, karena sesungguhnya demi Allah jika tidak mengambilnya, benar-benar kamu akan sesat.

3. Imam Ahmad rahimahulloh berkata tentang hadits-hadits mengenai sifat Allah: “Kita mengimani dan meyakininya dengan tidak menolak sedikitpun daripadanya, jika isnadnya shahih.” Adapun tentang hadits ru’yah ( melihat Allah Subhanahuwata’ala diakhirat ), Imam Ahmad rahimahullah berkata : “ Hadits-haditsnya yang shohih, kita mengimani dan menerimanya dan kita mengimaninya”.

4. Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah juga berkata tentang hadits-hadits mengenai ru’yatullah (melihat Allah pada hari kiamat): “Itu adalah haq, kami meriwayatkannya sesuai dengan apa yang kami dengar dari orang yang tsiqah ( bisa dipercaya ) dan yang kami ridhoi.”

5. Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani rahimahullah pernah ditanya tentang hadits-hadits yang berkenaan dengan sifat Allah, maka ia menjawab: “Hadits-hadits ini adalah benar, kami beriman dengannya dan kami tidak menta’wilnya”.

6. Abu “Ubaid berkata tentang sebagian hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat Allah :” Hadits-hadits ini menurut kami adalah haq, diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqah ( terpercaya ) antara sebagian rawi dengan sebagian rawi”.

3. Tidak Mempertentangkan Antara As Sunnah Dengan Al Qur`an.

Kita meyakini bahwa tidak ada kalam Rasulullah yang bertentangan dengan kalmam Allah, karena kalam Rasul yang berkaitan dengan Syariat adalah merupakan wahyu dari Allah. Allah berfirman:

‘ Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS Al Najm 3-4)

Maka dengan itu wajib bagi kita untuk memahami kedudukan As Sunnah dan wadhifah (tugas\pungsi ) As Sunnah terhadap Al Qur`an.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Wajib untuk diketahu bahwa Rasululloh menjelaskan kepada para shohabat makn-makna Al Qur`an sebagai mana Rasululloh menjelaskan kepada mereka lafadlnya, Allah berfirman : لتبين للناس ما نزل إليهم , ayat ini mencakup kepada keduanya. Telah berkata Abu Abdurahman As Sulami: Telah mncerikan kepada kami orang-orang yang telah membacakan Al Qur`an kepada kami, seperti ‘Utsman bin’Afan, Abdulah bin Mas’ud dan yang lainnya bahwasannya mereka apa bila belajar dari Rasululloh n sepuluh ayat mereka tidak menambahnya sehingga mempelajari kandungannya berupa ilmu dan amal. Mereka berkata: Kami mempelajari AlQuraan ;ilmu dan amal seluruhnya. Oleh karena itu mereka tinggal beberpa waktu dalam menghafal surat Al Qur`an. Anas berkata: Seorang bila telah hafal surat Al Baqarah dan Alimram, maka ia adalah orang besar dimata kami. Ibnu Umar menghafal Al Baqarah dalam beberapa tahun. Ada yang meriwayatkan lamanya delapan tahun. Hal ini dijelaskan imam Malik. ( Al Fatawa ,7:177).

Kemudian ketahuilah bahwa nash-nash As Sunnah ada tiga kategori:

1. Berisi kandungan Al Qur`an.

2. berisi penjelasan dari kandungan Al Qu`an.

3. Berisi hal diluar kandungan Al Qur`an.

Tidak ada yang keempat, apabila ada maka ia masuk dalam salah satu dari ketiga kategori tersebut.

Imam Ibnu Al Qoyim berkata: Hubungan As Sunnah dengan Al Qur`an ada tiga:

1. As sunnah sesuai dengan Al Qur`an dari berbagai segi, sehingga datang Al Qur`an dan As Sunnah pada satu hukum menunjukkan ada dan banyaknya dalil (semakin menguatkan).

2. As Sunnah sebagai penjelas maksud Al Qur`an dan penafsirnya.

3. As sunnah menentukan satu hokum wajib atau haran pada sesuatu yang Al Qur`an diamkan.

As Sunnah tidak akan keluar dari tiga kategori ini, sehingga As Sunnah tidak akan menentang Al Qur`an sama sekali. ( ‘Ilam Muwaqi’in 2:276).

Dalam hal ini Imam Syafi’I berkata: Setiap apa saja yang datang dari Sunnah adalah penjelasan Kitabullah. Maka setiap orang yang menerima hal-hal yang Fardhu dari Allah yang terdapat dalam Al Qur`an, ia mesti menerima Sunnah-sunnah Rasul-Nya, karena Allah mewajibkan makhluk-Nya untuk mentaati Rasul-Nya dan mematuhi hukum-hukumnya. Juga orang-orang yang menerima apa yang datang dari Rasululloh, berarti ia menerima apa yang datang dari Allah, karena Allah telah mewajibkan kita untuk mentaati-Nya. ( Ar risalah:33).

Berikut ini contoh orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus dalam masalah ini:

a. Kelompok yang menolak sunnah secara keseluruhan ( kelompok ini dikenal dengan quraniyun)

b. Kelompok yang menolak hadits ahad baik dalam hukum atau aqidah.

c. Kelompok yang menolak hadits ahad dalam aqidah. Mereka hanya berhujah denga hadits mutawatir.

d. Kelompok yang menolak Hadits dengan alasan bertentangan dengan zhohir Al Qur`an.

e. Kelompok yang menolak Hadits dengan alasan bertentangan dengan akal.

f. Kelompok yang menolak Hadits dengan alasan bertentangan dengan penemuan ‘ilmiah.

Diantara kelompok yang terang-terangan menolak sunnah adalah Kaum Rofidoh, yang mengkafirkan jumhur As Shohabat. Karena mengkafirkan para shohabat berarti penolakan terhadap sunnah secara total.

Para tokoh pengingkar Sunnah, diantaranya:

· Abdullah bin saba’ Al Yahudi

· Suusan An Nashrani

· Ibrohim An Nadzom Al Mu’tazili

· Bisyir Al Mirisi

· Jahm bin Shofwan

· Muhammad ‘Abduh.

Tugas As Sunnah terhadap Al Qur`an.

Syeikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani menyatakan: Kalian tahu bahwa Allah telah memilih Muhammad n sebagai Nabi dan rasulNya, lalu menurunkan kepadanya kitabNya Al Qur`an dan memerintahkannya untuk menjelaskan kepada manusia. Allah berfirman:

( وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ) [ النحل : 44 ]

Saya memandang penjelasan yang tertera dalam ayat yang mulia ini mencakup dua jenis penjelasan:

1. Penjelasan lafadz dan susunannya. Ini adalah tabligh Al Qur`an, tidak menyembunyikan dan menyampaikannya kepada umat sebagaimana Allah menurunkannya ke hati Nabi n , inilah yang dimaksud firman Allah:

( يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك ) [ المائدة : 67 ]

‘Aisyah menjelaskan dalam satu haditsnya:

ومن حدثكم أن محمدا كتم شيئا أمر بتبليغه فقد أعظم على الله الفرية . ثم تلت الآية المذكورة

Siapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan maka telah berdusta besar terhadap Allah. Kemudian beliau mebaca ayat tersebut (HR Syeikhon). Dalam riwayat imam Muslim lainnya:

لو كان رسول الله صلى الله عليه وسلم كاتما شيئا أمر بتبليغه لكتم قوله تعالى : ( وإذ تقول للذي أنعم الله عليه وأنعمت عليه أمسك عليك زوجك واتق الله وتخفي في نفسك ما الله مبديه وتخشى الناس والله أحق أن تخشاه ) [ الأحزاب : 37 ]

Seandainya Rasululloh menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan, tentulah beliau akan menyembunyikan firman Allah: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu Menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. (QS Al Ahzab :37).

2. Penjelasan pengertian lafadz atau kalimat atau ayat yang umat butuh penjelasannya. Terbanyak terjadi pada ayat-ayat yang mujmalah (global) atau umum atau mutlaq, lalu datanglah As Sunnah menjelaskan yang mujmal, mengkhususkan yang umum dan mentaqyied yang muthlaq. Hal itu dengan perkataan beliau n sebagaimana juga dengan perbuatan dan persetujuannya.

Contohnya:

a. Firman Allah:

( الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون ) [ الأنعام : 82 ]

Para sahabat telah memahami firman Allah : () sesuai keumumannya yang mencakup seluruh kezholiman baik yang besar ataupun yang kecil. Oleh karena itu mereka bertanya tentang ayat tersebut dengan menyatakan:

يا رسول الله أينا لم يلبس أيمانه بظلم ؟ فقال صلى الله عليه وسلم : ” ليس بذلك إنما هو الشرك ألا تسمعوا إلى قول لقمان : ( إن الشرك لظلم عظيم ) [ لقمان : 13 ] ؟

Wahai Rasululloh! Siapakah diantara kami yang tidak mencampuri keimanannya dengan kezholiman? Maka beliau menjawab: Bukan demikian, ia itu adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan Luqmaan:

Sesungguhnya syirik adalah kezholiman yang besar. (QS Luqmaan: 13). (HR Syaikhon dan selainnya).

b. Firman Allah:

( وإذا ضربتم في الأرض فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلاة إن خفتم أن يفتنكم الذين كفروا ) [ النساء : 101 ]

Zhohir ayat ini menunjukkan bahwa mengqashor sholat dalam safar disyaratkan adanya rasa takut, oleh karena itu sebagian sahabat bertanya kepada Rasululloh n :

ما بالنا نقصر وقد أمنا ؟ قال : ” صدقة تصدق الله بها عليكم فاقبلوا صدقته ” [ رواه مسلم ]

Mengapa kita mengqashor sholat padahal kita telah aman? Maka beliau menjawab: Itu adalah shodaqah yang Allah anugerahkan kepada kalian, maka ambillah shodaqahNya tersebut. (HR Muslim)

c. Firman Allah:

( حرمت عليكم الميتة والدم . . ) [ المائدة : 3 ]

Lalu Nabi menjelaskan bahwa bangkai belalang dan ikan halal dan darah liver dan limpa juga halal dalam sabdanya:

أحلت لنا ميتتان ودمان : الجراد والحوت والكبد والطحال [ أخرجه البيهقي وغيره مرفوعا وموقوفا وإسناد الموقوف صحيح وهو في حكم المرفوع لأنه لا يقال من قبل الرأي ]

Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah; belalang dan ikan, lever dan limpa (HR Al baihaqi dan selainnya secara marfu’ dan mauquf dan sanad mauqufnya shohih. ini masuk hokum marfu’ karena tidak disampaikan dari hasil pemikiran)

d. Firman Allah:

( قل لا أجد في ما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا أو لحم خنزير فإنه رجس أو فسقا أهل لغير الله به ) [ الأنعام : 145 ]

kemudian datang As Sunnah mengharamkan beberapa yang tidak disebutkan dalam ayat ini, seperti sabda beliau n :

كل ذي ناب من السباع وكل ذي مخلب من الطير حرام

Setiap yang memiliki taring dari hewan buas dan yang berkuku mencengkram dari burung adalah haram. Demikian juga sabda beliau pada hari peperangan Al Khaibar:

إن الله ورسوله ينهيانكم عن الحمر الإنسية فإنها رجس

Sesungguhnya Allah dan RasulNya melarang kalian memakan keledai karena ia najis. (HR Syeikhon).

e. firman Allah:

( قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده والطيبات من الرزق ) [ الأعراف : 32 ]

As Sunnah menjelaskan ada dari perhiasan yang diharamkan, sebagaimana dalam hadits dari Nabi n bahwa beliau keluar disatu hari menemui para sahabatnya dalam keadaan memegang sutera disalah satu tangannya dan emas ditangannya yang lain, lalu bersabda:

هذان حرام على ذكور أمتي حل لإناثهم [ أخرجه الحاكم وصححه ]

Keduanya ini diharamkan atas lelaki dari umatku dan halal bagi wanitanya. (HR Al Haakim)

5. Tidak Membedakan Antara Hadits Mutawatir Dengan Hadits Ahad.

Merupakan keyakinan dan kesepakatan Ahli Sunnah walajamaah bahwa hadits yang shohih adalah merupakan hujah, dan mereka tidak membedakan hadits mutawatir dan ahad dalam hujah baik dalam masalah Aqidah atau hukum.

Hadits ahad seperti hadits mutawatir dalam seluruh kaedah dan hokum syari’at. Sebagaimana Mutawatir mennasakh Al Mutawatir, demikian juga hadits ahad dapat mennasakh yang mutawatir. Juga sebagaimana Mutawatir mentakh-shish yang umum (Al ‘Aam) demikian juga Ahaad. Bila mutawatir didahulukan dari Qiyaas (analogi), demikian jua ahead. Demikianlah amalan para salaf sholih berlaku dan berjalan, karena mereka dahulu tidak membedakan antara Al Mutawatir dan Ahad dalam kaedah dan hokum syari’at. Bahkan membeda-bedakan Al Mutawatir dengan ahad termasuk bid’ah yang baru.

Dalil kewajiban beramal dengan hadits ahad.

Diantara dalil yang menunjukkan kewajiban beramal dengan hadits Ahad adalah:

1. Nabi mengutus Mu’adz bin Jabal sendirian ke Yaman, sebagaimana dalam Shohihain dari hadits Ibnu Abas, Rasululloh bersabda :

إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Sungguh kamu akan menjumpai satu kaum dari ahli kitab, apabila kamu mendatangi merkea maka dakwahilah untuk bersaksi syahadatain, bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sholat lima waktu setiap harinya. Bila mereka mentaatimu dalam hal itu maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shodaqah (zakat) yang diambil dari orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka. Apabila mereka mentaatimu dalam hal ini maka hati-hatilah dari harta-harta kesayangan mereka dan takutlah dari do’a orang mazhlum, karena tidak ada hijab antaranya dengan Allah. (HR Al Bukhori).

Dalam hadits ini Rasululloh n memerintahkan Muadz untuk mengajarkan tauhid yang merupakan aqidah. Seandainya penduduk Yaman setelah kedatangan Mu’adz dan dakwahnya tersebut menolak berita yang disampaikan Mu’adz dari Rasululloh n dalam masalah Aqidah tentulah mereka menjadi kafir yang murtad.

Apakah masuk akal dan dibenarkan penduduk Yaman menyatakan, berita Rasululloh kami terima, namun pernyataanmu tersebut tidak memberi faedah ilmu karena ada kemungkinan salah atau dusta. Oleh karena itu kami tidak menerima darimu kecuali bila diutus mendampingimu sejumlah orang hingga sampai batasan mutawatir.

oleh Kholid Syamhudi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: