h1

Urgensi Halal dan Haram Bagi Seorang Muslim

Oktober 2, 2007


 

Haram aja susah apalagi yang halal ?

Era globalisasi banyak berpengaruh pada kehidupan seorang muslim, sadar atau tidak sadar mereka terseret kedalam arusnya. Hal ini tidak mungkin dipungkiri, karena lingkungan dan sarana komunikasi dan informasi terus memerangi dan merusak pikiran dan pola hidup sekitarnya. Iklan dari makanan hingga kendaraan mewahpun tidak kalah bersaing dengan yang lainnya. Ditambah lagi dengan kerendahan ilmu dan iman serta jauhnya kaum muslimin dari zaman kenabian. Mau tidak mau banyak kaum muslimin yang hanyut dan larut dalam kehidupan yang melalaikan syari’at. Mereka akhirnya berusaha mendapatkan ambisi dan keinginannya tanpa mengindahkan tuntutan syari’at. Tak heran bila banyak dijumpai orang menyatakan: “Yang haram aja susah apalagi yang halal”. Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan mereka terhadap rahmat dan rizki Allah. Juga ketidak tahuan bahwa yang halal jauh lebih banyak dari yang haram.

Padahal Allah berfirman:

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 2:29)

Sebenarnya Allah telah menghaalkan semua yang ada dibumi ini dan hanya mengharamkan sedikit darinya karena merusak atau merugikan manusia.

Demikian juga ungkapan ini tidak akan muncul bila yakin Allah akan mencukupkan rizki mereka dan tidak membebankan hal itu kepada pundak mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:

)وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ) (العنكبوت:60)

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri.Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 29:60) dan firmanNya”

 

)مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ) (الذريات:57)

Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. (QS. 51:57)

Dalam dua ayat diatas jelaslah Allah sebagai pemberi rizki kepada semua makhluknya, lalu Ia mengutus Rasulullah SAW untuk menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang buruk dan jelek bagi manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:

  الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) (لأعراف:157)

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 7:157)

ingatlah semua yang Allah larang pasti ada keburukan bagi manusia.

 

Makanlah yang halal dan baik saja.

Setelah mengetahui yang dihalalkan Allah adalah semua yang baik dan yang diharomkan semuanya pasti buruk, apalagi yang menjadi halangan menghindari yang harom dan hanya mengambil yang halal saja?

Tinggal kita laksanakan saja perintah Allah untuk memakan yang halal dan baik dan tidak mengikuti jejak dan ajakan syeitan yang mengajak kepada keburukan dan kesengsaraan. Allah berfirman:

)يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلالاً طَيِّباً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ) (البقرة:168)

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:168)

Karena hal ini merupakan wujud syukur kita kepada Allah yang telah memberikan rizkiNya yang luas dan banyak. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya:

)  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ) (البقرة:172)

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. (QS. 2:172)

Apabila kita bersyukur, Allah akan menambah anugrahnya dan jangan sekali-kali mengkufuri nikmat Allah dan melampaui batas, sebab kebinasaan ada dihadapan kita. Allah berfirman:

)كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى) (طـه:81)

Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. (QS. 20:81)

 

Berobatpun dengan yang halal saja!

Termasuk makanan adalah obat-obatan yang Allah jadikan sebagai sebab dan sarana kesembuhan, sehingga kita harus memilih obat-obatan baik yang kimia ataupun herbal yang jelas halalnya, sebab Rasululloh n bersabda:

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dengan obatnya dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Karena itu berobatlah kalian dan jangan berobat dengan yang haram. (HR Muslim).

Dilarang berobat dengan yang haram mencakup obat-obatan yang mengandung barang haram.

Syariat islam tidak hanya mengharamkan penggunaan obat-obatan yang mengandung barang haram tapi juga melarang membuat obat-obatan dari barang-barang haram. Sebagaimana dikisahkan dalam hadits yang berbunyi:

أَنَّ طَارِقَ بْنَ سُوَيْدٍ الْجُعْفِيَّ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَمْرِ فَنَهَاهُ أَنْ يَصْنَعَهَا فَقَالَ إِنَّمَا أَصْنَعُهَا لِلدَّوَاءِ فَقَالَ إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ

Sesungguhnya Thooriq bin Suwaid Al Ju’fi bertanya kepada Nabi n tentang khomer, lalu beliau melarangnya membuatnya.  Maka ia berkata: Aku membuatnya untuk obat lalu beliau bersabda kepadanya: Sungguh ia bukan obat tapi penyakit. (HR Muslim).

Oleh karena itu berhati-hatilah juga dalam memilih obat-obatan!

Urgensi halal dan haram dalam makanan dan obat-obatan.

Permasalahan halal dan haram sangat penting sekali bagi seorang muslim dan ini ditunjukkan langsung dengan pengaitan Allah SWT antara makanan yang baik termasuk didalamnya obat-obatan dengan amal shalih dan ‘ibadah. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik,tidak menerima kecuali yang baik,dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya,”Hai rasul-rasul,makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh .Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Mu’minun: 51). Dan Ia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman,makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”, (al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a: Ya Rabb,Ya Rabb, sedang makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya haram,ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!”1.

Dalam hadits diatas berisi penjelasan Rasululloh tentang makanan yang dimakan seseorang sangat mempengaruhi diterima dan tidaknya amal sholeh orang tersebut.

Ibnu Rajab RAH menegaskan hal ini dalam pernyataan beliau, “Hadits ini menunjukkan bahwa amal tidak diterima dan tidak suci kecuali dengan makan makanan yang halal. Sedangkan makan makanan yang haram dapat merusak amal perbuatan dan membuatnya tidak diterima”2.

Hal ini tentunya cukup membuat kita memberikan perhatiaan yang serius dan berhati-hati dalam permasalahan ini.

Meremehkan permasalahan halal dan haram dalam perkara ini sangat berbahaya sekali, tidak hanya mempengaruhi amalan seorang tapi lebih dari itu dapat berakibat cukup fatal bagi kehidupan akheratnya. Perhatikan lagi sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

أَيَّمَا عَبْدٍ  نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan)  haram maka Neraka lebih pantas baginya”3.

Ini merupakan ancaman keras kepada orang yang meremehkan makanan, obat-obatan dan minuman yang masuk kedalam tubuhnya. Tentunya kita harus meyadarkan diri kita untuk peduli dengan yang halal dan haram.

Siapa yang ingin do’anya tidak dikabulkan, amalan sholihnya tidak diterima dan neraka lebih pantas baginya?

Rasululloh n mengajari kita berdo’a dengan do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ

Wahai Allah sungguh aku berlindung kepada Engkau dari ketidak mampuan, malas, penakut, kikir, pikun dan Adzab Qubur. Wahai Allah berilah kepada jiwaku ketakwaan dan sucikanlah, Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkaulah wali dan pemiliknya. Wahai Allah sungguh aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak manfaat, hati yang tidak khusu’, jiwa yang tidak kenyang dan do’a yang tidak dikabulkan.

 

Mudah-mudahan hal ini membuat kita lebih berhati-hati. Wallahu Al Muwaffiq.

 

 




1 Dikeluarkan oleh Muslim dalam az-Zakaah no.1015, at-Tirmidzi dalam Tafsirul Qur’qn no.2989,Ahmad dalam Baaqi Musnad al-Muktsriin no.1838, ad-Darimi dalam ar-Riqaaq no. 2717.

2 Jaami’ul’Uluum wal Hikam 1/260.

3 Bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam at-Targhiibu wa at-Tarhiib 3/17, awalnya,”Hai Sa’d perbaikilah makananmu niscaya do’amu diterima”, al-Haitsami menyebutnya dalam al-Mujama’ 10/294, ia berkata, ”Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan pada sanadnya terdapat perawi yang saya belum mengenal mereka, adapun tambahan ini, shahih dengan banyak syahidnya dari Jabir dan Ka’b bin ‘Ujrah serta Abu Bakar ash-Shiddiiq sebagaimana dalam adh-Dha’ifah 3/293, dan dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dengan sepertinya dalam al-Jumu’ah no. 614 dari Ka’b bin ‘Ujrah pada sebahagian dari hadits panjang, lafazhnya, ”Sesungguhnya tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali Neraka yang lebih pantas baginya”. Abu ‘Isa berkata, ”Hadits ini hasan Gharib. Dan disahkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 501.    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: