h1

ITTIBA’ KEPADA NABI

Oktober 2, 2007

اِتِّبَاعُ النَّبِيِّ فِيْ ضَوْءِ الْوَحْيَيْنِ

ITTIBA’ KEPADA NABI

MENURUT

AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Ittiba’ kepada Nabi n adalah salah satu inti dan pondasi dasar agama islam. Juga merupakan syariat paling agung yang diterima dan diketahui dengan pasti. Dalil-dalil syar’i yang shahih, yang menjelaskan dan menegaskan hal ini sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah k:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Dan firman Allah k:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS. An-Nisaa: 80)

Akan tetapi ketika pemahaman telah kacau dan kaki telah tergelincir, hal itu tidak menghalangi adanya kelompok-kelompok dari kaum muslimin yang menyimpang dari meniti dan menetapi jalan tengah yang lurus. Sehingga kebutuhan untuk menjelaskan dan menerangkan hal ini menjadi lebih besar dan lebih wajib.

Oleh karena itu, di dalam pelajaran ini aku akan berusaha memberikan perhatian kepadanya untuk menampakkan hakikat dan hukum ittiba’, menerangkan kedudukan dan tanda-tandanya serta menjelaskan jalan yang membantu untuk mewujudkannya dan sebagian penghalang-penghalangnya. Dengan berharap kepada Robbku (Penguasaku) Yang maha pengampun agar memberikan petunjuk kepada kebaikan dan memperbaiki niat ini. Sesungguhnya Dia maha berkuasa atas segala sesuatu dan berhak menjawab do’a.

ITTIBA’ MENURUT BAHASA

Ittiba’ adalah mashdar (kata bentukan) dari kata ittaba’a (mengikuti). Dikatakan mengikuti sesuatu jika berjalan mengikuti jejaknya dan mengiringinya. Dan kata ini berkisar pada makna menyusul, mencari, mengikuti, meneladani dan mencontoh.

Dikatakan ittiba’ kepada al-Qur’an, yaitu mengikutinya dan mengamalkan kandungannya. Dan ittiba’ kepada Rasul n, yaitu meneladani, mencontoh dan mengikuti jejak beliau.[1]

ITTIBA’ MENURUT ISTILAH SYAR’I

Yaitu meneladani dan mencontoh Nabi n di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan. Beramal seperti amalan beliau sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan, apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Dan disertai dengan niat dan kehendak padanya.

Ittiba’ kepada Nabi n di dalam keyakinan akan terwujud dengan meyakini apa yang diyakini oleh Nabi n sesuai dengan bagaimana beliau meyakininya – apakah merupakan kewajiban, kebid’ahan ataukah merupakan pondasi dasar agama atau yang membatalkannya atau yang merusak kesempurnaannya… dst – dengan alasan karena beliau n meyakininya.

Ittiba’ kepada Nabi n di dalam perkataan akan terwujud dengan melaksanakan kandungan dan makna-makna yang ada padanya. Bukan dengan mengulang-ulang lafadz dan nashnya saja. Sebagai contoh sabda beliau n:

(( صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي ))

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”[2]

Ittiba’ kepadanya adalah dengan melaksanakan shalat seperti shalat beliau.

Sabda beliau n:

(( لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا ))

“Janganlah kalian saling hasad dan janganlah kalian berbuat najasy.”[3]

Ittiba’ kepadanya adalah dengan meninggalkan hasad dan najasy.

Sabda Nabi n:

(( مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ ))

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya maka pada hari kiamat dia dikekang dengan tali kekang dari api.”[4]

Ittiba’ kepadanya adalah dengan menyebarkan ilmu yang shahih dan bermanfaat serta tidak menyembunyikannya.

Sebagaimana ittiba’ kepada Nabi n di dalam perbuatan adalah dengan melakukan amalan seperti yang beliau lakukan, sesuai ketentuan yang beliau lakukan dan dengan sebab karena beliau melakukannya.

Kami katakan “seperti yang beliau lakukan” karena meneladani sesuatu tidak akan terwujud jika terdapat perbedaan bentuk dalam tatacara perbuatan.

Makna perkataan kami “sesuai dengan ketentuan yang beliau lakukan” adalah adanya kesamaan di dalam tujuan dan niat perbuatan itu – berupa keikhlasan dan pembatasan terhadap perbuatan itu dari segi wajib atau sunnahnya – karena tidak dapat dikatakan meneladani jika berbeda tujuan dan niatnya meskipun sama bentuk perbuatannya.

Dan kami katakan “dengan sebab karena beliau melakukannya” karena meskipun sama bentuk dan niat perbuatannya, jika maksud melakukannya bukan untuk meneladani dan mencontoh maka tidak akan dikatakan sebagai ittiba’.

Sebagai contoh untuk menjelaskan ittiba’ di dalam perbuatan; Jika kita ingin meneladani Nabi n di dalam puasa beliau maka kita harus berpuasa sebagaimana tatacara puasa Nabi n. Yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah l. Maka jika salah seorang di antara kita menahan dirinya hanya dari sebagian perkara yang membatalkan puasa berarti dia belum ittiba’. Sebagaimana jika dia menahan diri pada sebagian waktu saja.

Dan kita juga harus berpuasa sesuai dengan ketentuan Nabi n dalam berpuasa dari segi niatnya. Yaitu dengan puasa ini kita mengharapkan wajah Allah dan untuk melaksanakan kewajiban atau sebagai qadha atau sebagai nadzar. Atau meniatkannya sebagai puasa sunnah sesuai dengan alasan Nabi n berpuasa.[5]

Sebagaimana juga kita melakukan puasa tersebut dengan alasan karena beliau n melakukannya. Oleh karena itu seseorang yang melakukan amalan yang sama bentuk dan tujuannya dengan orang lain – selain Nabi n – tidaklah dianggap meneladani orang tersebut jika keduanya sama-sama melakukannya dengan niat melaksanakan perintah Allah dan ittiba’ kepada Rasul-Nya n.

Sedangkan ittiba’ kepada Nabi n di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan adalah dengan meninggalkan perkara-perkara yang beliau tinggalkan, yaitu perkara-perkara yang tidak disyariatkan. Sesuai dengan tatacara dan ketentuan Nabi n di dalam meninggalkannya, dengan alasan karena beliau n meninggalkannya. Dan ini adalah batasan yang sama dengan batasan ittiba’ di dalam perbuatan.

Sebagai contoh untuk menjelaskannya; Nabi n meninggalkan (tidak melakukan) shalat ketika terbit matahari. Maka seorang yang meneladani beliau juga meninggalkan shalat pada waktu itu sesuai dengan ketentuan beliau n di dalam meninggalkannya, dengan alasan karena beliau n meninggalkannya.[6]

MUKHOLAFAH LAWAN ITTIBA’

Lawan dari ittiba’ adalah mukholafah (penyelisihan). Mukholafah juga terjadi di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan perkara-perkara yang ditinggalkan.

Adapun penyelisihan di dalam keyakinan, seorang hamba meyakini suatu keyakinan yang berbeda dengan keyakinan Nabi n. Contohnya, seseorang yang menganggap (meyakini) halalnya suatu perkara yang jelas-jelas diketahui keharamannya di dalam agama Islam. Atau mewajibkan sesuatu yang jelas-jelas diketahui halal atau haramnya hal itu di dalam agama Islam. Contoh lain, seorang hamba membuat sesuatu hal yang baru di dalam agama Allah, sesuatu yang bukan dari agama. Dan juga seperti orang yang memiliki keyakinan bahwa orang-orang yang menyelisihi syariat Allah dan risalah Nabi n adalah wali-wali Allah dan orang-orang yang Dia cintai.

Mukholafah di dalam perkataan adalah dengan tidak menerapkan makna dan kandungan perkataan yang berupa kewajiban-kewajiban atau larangan-larangan.

Mukholafah di dalam perbuatan adalah dengan menyimpang dari yang semisal dengannya sedangkan hal itu merupakan kewajiban.

Mukholafah di dalam perkara yang ditinggalkan adalah dengan melaksanakan apa yang beliau n tinggalkan sedangkan hal itu merupakan perkara yang haram.

Dan tidak ada mukholafah di dalam meninggalkan perkara-perkara yang mandub (sunnah, disukai) dan melaksanakan yang makruh. Akan tetapi mukholafah terjadi hanya di dalam meninggalkan perkara yang wajib dan melaksanakan perkara yang haram. Baik terjadi di dalam perkataan, perbuatan atau perkara-perkara yang ditinggalkan.[7]

KAITAN ITTIBA’ DENGAN WAKTU DAN TEMPAT

Tidak ada kaitan antara suatu perbuatan (yang diikuti –pen) dengan waktu atau tempat tertentu hanya karena semata-mata perbuatan itu terjadi padanya. Kecuali dengan dalil lain selain perbuatan itu. Maka jika Nabi n mengkhususkan suatu waktu atau tempat untuk suatu perbuatan dengan dalil lain selain perbuatan itu, kita juga mengkhususkannya. Seperti pengkhususan ka’bah untuk thawaf, hajar aswad dan rukun yamani untuk disentuh – sesuai dengan perbedaan sifatnya –, pengkhususan bulan Ramadhan untuk puasa wajib, pengkhususan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dan pengkhususan dua hari raya dengan waktunya yang telah ma’ruf (diketahui).

Adapun perbuatan yang beliau lakukan secara kebetulan dan beliau tidak memaksudkan dzat (perbuatan) itu sendiri, maka tidak disyariatkan mutaba’ah (mencontoh) di dalam hal tersebut, meskipun hal itu terjadi berulang kali. Contohnya, Nabi n singgah pada suatu tempat dan shalat padanya, namun beliau tidak berniat mengkhususkannya untuk shalat atau singgah. Jika kita berniat mengkhususkan tempat itu untuk shalat atau singgah, maka – menurut pendapat yang benar – kita bukanlah muttabi’ (orang yang ittiba’, mengikuti Nabi n –pen).

Dan telah datang larangan dari Umar Al-Faruq z, ketika beliau melihat orang-orang yang berada dalam perjalanan bersegera menuju suatu tempat, beliau menanyakannya. Lalu mereka menjawab, “Nabi n pernah shalat di tempat itu.” Maka Umar pun berkata, “Sesungguhnya ahli kitab binasa hanya karena mereka mencari-cari bekas peninggalan Nabi-nabi mereka, lalu mereka menjadikannya sebagai gereja-gereja dan tempat-tempat peribadahan (sinagog). Maka barangsiapa kedatangan waktu shalat (yakni di tempat shalatnya Nabi n), hendaknya dia shalat atau melanjutkan (perjalanan).”[8]

Di dalam riwayat lain beliau berkata, “Barangsiapa kedatangan waktu shalat pada salah satu masjid-masjid tempat shalat Nabi n maka hendaknya dia shalat di sana, jika tidak maka janganlah menyengaja untuk mendatanginya.”[9]

Hal ini juga ditegaskan oleh Ummul Mukminin Aisyah x. Beliau berkata, “Singgah di Abthah bukan merupakan sunnah. Hanya saja Rasulullah n singgah di sana karena hal itu lebih mudah bagi safar beliau ketika beliau safar.”[10]

Dan banyak dari kalangan para ulama juga telah menetapkan hal ini. Seperti Ibnu Taimiyah di dalam al-Fatawa[11] dan Al-Amidi di dalam al-Ihkam, dimana beliau berkata, “… seandainya perbuatan beliau terjadi pada suatu tempat atau waktu tertentu, maka tidak ada pintu mutaba’ah padanya. Baik hal itu terjadi berulang kali ataupun tidak. Kecuali dengan suatu dalil yang menunjukkan pengkhususan ibadah itu padanya. Seperti pengkhususan haji dengan Arafah, shalat-shalat yang wajib dengan waktunya dan pengkhususan puasa Ramadhan.”[12]

PERBUATAN NABI n DITINJAU DARI SEGI ITTIBA’

Perbuatan Nabi n ditinjau dari segi ittiba’ (diikuti atau tidaknya -pen), terbagi menjadi tiga macam:

1. Perbuatan Jibiliyah (yang merupakan tabiat manusia)

Seperti berdiri, duduk, minum, tidur dan lain-lain. Perbuatan ini terbagi menjadi dua jenis ditinjau dari segi ittiba’:

a. Perbuatan yang ditunjukkan oleh dalil lain – selain perbuatan itu – bahwa perbuatan ini wajib atau mandub (disukai). Seperti makan dengan tangan kanan, minum sebanyak tiga kali tegukan dengan duduk, dan tidur di atas lambung kanan. Maka perbuatan ini disyariatkan untuk dicontoh dan diikuti.

b. Perbuatan yang tidak ditunjukkan oleh satu dalil pun bahwa perbuatan itu disyariatkan. Maka perbuatan itu tetap pada hukum asalnya yaitu mubah (boleh dilakukan) oleh semuanya. Hal itu karena “sifat tabiat manusia, seperti keinginan untuk makan dan minum, tidak dituntut untuk di hilangkan seluruhnya atau sebagian darinya.”[13]

Dan para ulama berselisih pendapat tentang disyariatkannya mengikuti dan meneladani Nabi n – secara mandub (disukai) – di dalam jenis perbuatan ini menjadi 2 pendapat.

· Disukai meneladani dan mencontoh Nabi n di dalam jenis perbuatan ini. Dan dahulu Ibnu Umar c melakukan yang semacam ini meskipun Nabi n melakukannya secara kebetulan.

· Tidak disyariatkan meneladani dan mengikuti Nabi n di dalam jenis perbuatan ini. Dan ini adalah pendapat dan perbuatan jumhur (mayoritas) sahabat g. Di antaranya adalah Al-Faruq dan Aisyah c, sebagaimana di dalam perkataan keduanya yang telah lalu.[14]

Dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan Nabi n karena tuntutan adat dan kebiasaan, disamakan hukumnya dengan perbuatan jibiliyah ini. Seperti mengenakan jubah dan surban, memanjangkan rambut, dan yang semacamnya. Karena – menurut pendapat yang lebih kuat – hal itu tidak menunjukkan selain hukum mubah. Kecuali jika ada dalil yang menunjukkan pensyariatannya.[15]

2. Perbuatan yang merupakan kekhususan beliau n

Di dalam hal kekhususan-kekhususan beliau n, para ulama telah menyebutkan beberapa perkara yang mubah, wajib atau haram bagi Nabi n yang sebagiannya disepakati hukumnya dan yang lain diperselisihkan – dan di sini bukan tempat untuk menetapkannya. Maka di antara yang mubah bagi beliau adalah menikah lebih dari empat wanita, menikah tanpa mahar dan menikahi wanita yang menghibahkan (menyerahkan) dirinya. Di antara yang wajib bagi beliau adalah kewajiban tahajjud dan shalat malam. Dan di antara yang haram bagi beliau adalah makan dari shadaqah dan makan makanan yang berbau busuk seperti bawang putih dan bawang merah.

Maka ini adalah kekhususan-kekhususan yang tidak boleh seorang pun mengikutinya dengan bentuk yang telah dijelaskan.[16] Asy-Syaukani berkata, “Dan yang benar, bahwa Nabi n tidak diikuti di dalam perkara apa saja yang jelas bagi kita bahwa itu merupakan kekhususan beliau. Kecuali dengan syariat yang mengkhususkan kita.”[17]

Dan diikutsertakan ke dalam hukum ini pula, kekhususan-kekhususan yang Rasulullah n berikan kepada sebagian sahabat beliau. Seperti persaksian Khuzaimah yang setara dengan persaksian dua orang laki-laki dan sembelihan Abu Burdah yang menyembelih seekor anak kambing (ketika kurban –pen). Nabi n bersabda kepadanya,

(( اِذْبَحْهَا وَلَنْ تَصْلُحَ لِغَيْرِكَ ))

“Sembelihlah anak kambing itu, tapi tidak boleh bagi selain engkau.”[18]

Sebagaimana diikutkan pula ke dalam hukum ini apa yang Nabi n khususkan terhadap ahli bait beliau g. Seperti larangan memakan shadaqah.

3. perbuatan yang merupakan ibadah

Yaitu perbuatan-perbuatan – selain tabiat dan kekhususan beliau n – yang mana tujuan perbuatan itu adalah pensyariatan. Maka perbuatan-perbuatan ini diikuti dan diteladani. Dan ini adalah hukum asal perbuatan Nabi n, berdasarkan firman Allah l:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah” (QS. Al-Ahzab: 21)

Hanya saja sifatnya secara syar’i berbeda-beda dalam hal wajib atau mandubnya sesuai dengan indikasi yang ada.

KAIDAH-KAIDAH PENTING DALAM ITTIBA’

Untuk menetapkan makna dan hakikat ittiba yang telah lalu, akan aku sebutkan beberapa kaidah berikut ini:

1. Agama Islam dibangun di atas wahyu dan dalil yang shahih, bukan akal dan pendapat. Maka jika datang suatu perintah ataupun larangan dari Kitabullah atau sunnah (hadits) Rasul-Nya n, wajib bagi menerimanya dan bersegera untuk menerapkannya dengan melaksanakan perintah atau menjauhi larangan.

Oleh karena itu dahulu para salaf v berjalan mengikuti nash-nash. Mereka menghukumi seseorang di atas jalan yang benar selama dia mengikuti atsar.[19]

Zuhri berkata, “Risalah datangnya dari Allah, kewajiban Rasul n adalah menyampaikan dan kewajiban kita adalah menerimanya.”[20]

Ketika menjelaskan perkataan Ath-Thahawi, “Telapak kaki Islam tidak akan tegak kecuali di atas permukaan menerima dan pasrah,” Ibnu Abil ‘Izz berkata, “Yaitu tidak akan kokoh keislaman seseorang yang tidak menerima dan tunduk kepada nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, tidak menolaknya dan tidak mempertentangkannya dengan pendapat, akal dan logikanya.”[21]

2. Wajib bagi seorang Muslim untuk mencari tahu tentang hukum syar’i dan memastikannya sebelum mengamalkannya di dalam semua urusan hidupnya. Karena Nabi n bersabda,

(( مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ))

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara (tuntunan-pen) kami padanya maka tertolak.”[22]

Asy-Syathibi berkata, “Setiap orang yang mencari sesuatu yang tidak disyariatkan di dalam beban-beban syariat (ibadah-pen), berarti dia telah menyelisihi syariat. Dan setiap orang yang menyelisihi syariat, amalan dia di dalam penyelisihan itu adalah batil (sia-sia). Maka barangsiapa mencari sesuatu yang tidak disyariatkan di dalam beban-beban syariat, berarti amalannya juga batil.”[23]

Alangkah indahnya perkataan seorang khalifah yang lurus, Ali z, ketika dia berkata, “Janganlah kalian mengikuti sunnahnya orang-orang (yang masih hidup –pen). Karena sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan ahli surga kemudian dia berbalik lalu melakukan amalan ahli neraka sehingga dia mati dan termasuk ahli neraka. Dan sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan ahli neraka kemudian dia berbalik – karena Allah mengetahui tentangnya – lalu dia melakukan amalan ahli surga sehingga dia mati dan termasuk ahli surga. Dan jika kalian memang harus melakukannya (mengikuti suatu sunnah –pen), maka hendaknya terhadap orang-orang yang telah wafat, bukan yang masih hidup.” Beliau mengisyaratkan kepada Rasul n dan para sahabat beliau yang mulia.[24]

Dan juga perkataan Abu Zinad, “Sesungguhnya sunnah-sunnah dan sisi-sisi kebenaran banyak yang datang menyelisihi akal. Maka mau tidak mau kaum muslimin harus mengikutinya. Di antaranya, bahwa seorang wanita haidh mengganti puasa namun tidak mengganti shalat.”[25]

3. Maksud dari ittiba’ kepada Rasul n adalah mengamalkan segala sesuatu yang beliau bawa di dalam al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah l kepada beliau, baik berupa perintah maupun larangan, dan juga mengamalkan sunnah yang suci. Rasulullah n bersabda,

أَلاَ إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab bersama dengan yang semisalnya. Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab bersama dengan yang semisalnya.”[26]

‘Atha berkata, “Mentaati Rasul adalah dengan mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah.”[27]

Al-‘allamah As-Sa’di berkata, “Sesungguhnya wajib bagi seluruh hamba untuk berpegang dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul n, tidak halal menyelisihinya. Dan sesungguhnya pernyataan Rasulullah n sama dengan pernyataan Allah l di dalam memberikan hukum. Maka tidak ada keringanan ataupun alasan bagi seorangpun untuk meninggalkannya. Dan tidak boleh mendahulukan perkataan seseorang atas perkataan beliau n.”[28]

4. Ibadah-ibadah yang ditinggalkan oleh Nabi n dan tidak beliau lakukan padahal ada sebab yang menuntutnya pada zaman beliau n, maka melakukannya adalah bid’ah sedangkan meninggalkannya adalah sunnah. Seperti perayaan maulid, menghidupkan malam isra’ mi’raj, merayakan hijrah dan tahun baru serta yang semisalnya.

Hal ini ditunjukkan oleh sabda Rasulullah n,

(( مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ))

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara (tuntunan-pen) kami padanya maka tertolak.”[29]

Imam Malik v berkata, “Apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu, maka pada hari ini juga bukan merupakan agama.”[30]

Ibnu Taimiyah v berkata, “Meninggalkan sesuatu secara terus-menerus adalah sunnah, sebagaimana perbuatan yang terus-menerus adalah sunnah.”[31]

Ibnu Katsir v berkata, “Adapun ahlu sunnah wal jama’ah, mereka berkata bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang tidak tetap dari para sahabat g adalah bid’ah. Karena seandainya baik, tentunya mereka telah mendahului kita kepadanya.”[32]

5. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia di dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama, di dalam urusan dunia dan akhirat, yang berupa ibadah dan muamalah, dalam keadaan damai ataupun perang, dalam masalah politik atau ekonomi … dan seterusnya, maka syariat menjelaskan dan menerangkannya. Allah l berfirman.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan telah Kami turunkan suatu kitab kepadamu sebagai penjelas terhadap segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An-Nahl: 89)

Allah l berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama.” (QS. Al-Maidah: 3)

Seorang dari kaum musyrikin berkata kepada Salman Al-Farisi, “Apakah Nabimu mengajarkan segala sesuatu kepada kalian sampai pun pada masalah buang air?” Maka Salman menjawab, “Benar, beliau telah melarang kami dari menghadap kiblat ketika buang air besar maupun kecil … – sampai akhir hadits”[33]

6. Ittiba’ tidak akan terwujud kecuali jika amalan sesuai dengan syariat di dalam enam perkara, yaitu:

a.) Sebab. Jika seseorang beribadah kepada Allah l dengan satu ibadah yang disertai dengan sebab yang tidak syar’i maka ibadah ini tertolak kepada pelakunya. Contohnya, menghidupkan malam ke duapuluh tujuh bulan Rajab dengan shalat tahajjud, dengan anggapan bahwa malam itu adalah malam isra’ mi’raj.[34] Maka shalat tahajjud pada asalnya adalah ibadah, namun ketika dikaitkan dengan sebab ini, maka menjadi bid’ah karena dibangun di atas sebab yang tidak ditetapkan secara syar’i.

b.) Jenis. Jika seseorang beribadah kepada Allah l dengan suatu ibadah yang jenisnya tidak disyariatkan, maka ibadah itu tidak diterima. Contohnya, menyembelih kuda sebagai hewan kurban. Karena hewan kurban hanya dari jenis binatang ternak onta, sapi dan kambing.

c.) Ukuran. Seandainya ada seseorang yang ingin menambah satu shalat sebagai shalat wajib atau menambah satu raka’at dalam shalat wajib, maka amalannya ini adalah bid’ah dan tertolak. Karena amalan (shalat) itu menyelisihi syari’at di dalam ukuran dan bilangannya.

d.) Tatacara. Jika seseorang membolak-balik wudhu dan shalat, maka wudhu dan shalatnya tidak akan sah. Karena amalannya menyelisihi syari’at di dalam kaifiyah (tatacara).

e.) Waktu. Seandainya seseorang menyembelih hewan kurban di bulan Rajab atau puasa Ramadhan di bulan syawwal atau wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzulqa’idah, maka itu semua tidak akan sah karena menyelisihi syari’at di dalam waktu.

f.) Tempat. Jika seseorang melakukan i’tikaf di rumahnya, tidak di masjid atau dia wukuf pada tanggal sembilan Dzulhijjah di Muzdalifah, maka hal itu tidak sah karena menyelisihi syari’at di dalam tempat.[35]

7. Asal di dalam ibadah bagi mukallaf adalah ta’abbud (merendahkan diri dan tunduk –pen) dan imtitsal (mewujudkan ketaatan –pen) tanpa melihat kepada hikmah-hikmah atau amalan-amalan yang dikandungnya, meskipun kadang nampak jelas pada sebagian banyak darinya.

Syaikh Ibnu Utsaiman v berkata menetapkan hal ini, “Wajib kita ketahui bahwa hikmah adalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya n, maka kita wajib menerimanya. Jika ada seseorang yang bertanya kepada kita tentang hikmah di dalam suatu perkara, kita jawab bahwa sesungguhnya hikmah adalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya n. Dalilnya dari al-Qur’an al-Karim adalah firman Allah l,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Tidak pantas bagi seorang laki-laki atau perempuan yang beriman memiliki pilihan di dalam urusan mereka jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu urusan.” (QS. Al-Ahzaab: 36)

Aisyah x pernah ditanya, kenapa seorang wanita yang haidh mengganti puasanya tetapi tidak mengganti shalat? Maka beliaupun menjawab, “Dahulu hal itu juga menimpa kita, lalu kami diperintah untuk mengganti puasa tapi tidak diperintah untuk mengganti shalat.[36] Maka beliau berdalil dengan sunnah dan tidak menyebutkan ‘illah (alasannya). Inilah hakikat taslim dan ibadah, yaitu menerima perintah Allah dan Rasul-Nya baik diketahui hikmahnya ataupun tidak. Jika seseorang tidak mau beriman terhadap sesuatu kecuali jika dia mengetahui hikmahnya, kita katakan, sesungguhnya engkau adalah orang yang mengikuti hawa nafsu, engkau tidak mau melaksanakan ketaatan kecuali jika nampak bagimu bahwa hal itu adalah baik.”[37]

Alangkah menakjubkan Al-Faruq Umar z ketika berkata, “Kenapa tetap berlari-lari kecil dan membuka bahu kanan (yakni ketika thawaf dalam haji dan umrah –pen) padahal Allah telah mengokohkan Islam, menghilangkan kekafiran dan orang-orangnya? Meskipun demikian kita tidak akan meninggalkan sesuatupun yang dulu kita lakukan pada zaman Rasulullah n.”[38]

Akan tetapi, dari penjelasan yang telah lalu, tidak boleh dipahami oleh seorang pun bahwa tidak ada tuntutan untuk membahas tentang hikmah dan makna yang terkandung di dalam ibadah-ibadah yang ditunjukkan oleh beberapa indikasi. Bagaimana tidak, sedangkan Allah l dan Rasul-Nya n telah menyebutkan sebagian darinya. Misalnya, firman Allah l,

لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Agar kalian berfikir.”

لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Agar kalian beruntung.”

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa.”

Dan sabda Rasulullah n,

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ ِلإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya, diadakannya thawaf di Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwa dan melempar jumrah, adalah untuk mengingat Allah.”[39]

Akan tetapi, yang dimaksudkan adalah untuk memberi peringatan agar tidak berlebih-lebihan di dalam membahasnya dan agar tidak menggantungkan pelaksanaan suatu ibadah dengan pengetahuan terhadap hikmahnya. Adapun kaidah di dalam masalah adat, kebiasaan dan mu’amalah, adalah melihat dan menyelidiki hikmah-hikmah dan makna-maknanya, meskipun kadang tidak nampak jelas pada sebagian darinya.[40]

8. Kesusahan bukanlah tujuan syariat. Oleh karenanya, Rasulullah n bersabda kepada seorang tua yang dipapah oleh kedua anaknya karena telah bernadzar untuk berjalan,

(( إِنَّ اللهَ عَنْ تَعْذِيبِ هَذَا نَفْسَهُ لَغَنِيٌّ ))

“Sesungguhnya Allah tidak butuh kepada penyiksaan orang ini terhadap dirinya.”[41]

Al-‘Izz bin Abdis Salaam menguatkan hal ini, “Tidak benar mendekatkan diri (kepada Allah) dengan perkara-perkara yang menyusahkan. Karena seluruh pendekatan diri kepada Allah adalah pengagungan terhadap-Nya, sedangkan perkara-perkara yang menyusahkan itu bukanlah suatu pengagungan atau penghormatan.”[42]

Dan yang dituntut dari seorang hamba adalah menjauhi larangan dan melaksanakan perintah sesuai dengan batas kemampuan. Dengan dalil sabda Nabi n,

(( فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَ أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ ))

“Jika aku larang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.”[43]

Dasar dan landasan syariat adalah memberikan kemudahan dan menghilangkan kesusahan dari hamba-hamba. Dalilnya firman Allah l,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ

“Allah tidak menghendaki membuat kesusahan kepada kalian.” (QS. Al-Maidah: 6)

Oleh karena itu, perbedaan pahala dan balasan mengikuti tingkatan amal dan ukuran kemuliaannya, baik besar ataupun kecil tingkat kesusahannya.[44]

Tapi tidak diragukan bahwa kesusahan – yang bukan merupakan tujuan – yang didapati oleh seorang mukallaf karena melaksanakan amalan yang disyariatkan, akan menambah pahala baginya. Allah l berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلاَ يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kesusahan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan suatu amal shalih bagi mereka dengan sebab yang demikian itu.” (QS. At-Taubah: 120)

Dari Jabir z berkata, “Dahulu, rumah-rumah kami jauh dari masjid. Maka kami berniat menjual rumah-rumah kami dan mendekat menuju masjid. Lalu Rasulullah n melarang kami dan bersabda,

(( إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ خُطْوَةٍ دَرَجَةً ))

“Sesungguhnya kalian mendapatkan satu derajat pada setiap langkah.”[45]

Ketika Aisyah x berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang keluar untuk melakukan dua ibadah sekaligus (haji dan umrah –pen), sedangkan aku hanya melakukan satu ibadah (haji –pen)? Rasulullah n bersabda kepadanya,

(( انتظري فإذا طهرت فاخرجي إلى التنعيم فأهلي ثم ائْتِنَا بمكان كذا ، ولكنها على قدر نفقتك أو نصبك ))

“Tunggulah, jika engkau telah suci maka pergilah ke Tan’im lalu serukan talbiyah, kemudian datangilah kami di tempat anu. Akan tetapi hal itu sesuai dengan harta atau tenagamu.”[46]

Al-‘Izz bin Abdis Salaam berkata tentang hal ini di dalam perkataan yang berharga, “Jika ditanyakan, apa ketentuan dari amalan susah yang diberi balasan lebih banyak dari amalan yang ringan? Aku katakan, jika ada dua perbuatan yang memiliki kesamaan di dalam kemuliaan, syarat-syarat, sandaran dan rukun-rukunnya, sedangkan salah satunya adalah amalan yang berat, maka pahala kedua amalan itu sama saja, karena keduanya memiliki kesamaan di dalam seluruh ketentuannya. Hanya saja yang satu berbeda dari yang lain karena ada penahanan diri terhadap perkara yang susah karena Allah l, sehingga diberi pahala karena menahan perkara yang susah itu, bukan karena dzat kesusahan itu sendiri.”[47]

KEDUDUKAN ITTIBA’ DALAM SYARIAT

Ittiba’ memiliki kedudukan yang agung di dalam syariat Islam. Hal itu akan menjadi jelas dari keterangan berikut ini:

1. Ittiba’ syarat diterimanya ibadah.

Suatu amalan ibadah tidak akan diterima kecuali dengan ittiba’ dan kesesuaiannya terhadap ajaran Nabi Muhammad n. Bahkan amalan-amalan yang tidak dilakukan dengan ittiba’ dan meneladani Nabi n hanya akan menambah jauh pelakunya dari Allah l. Hal itu karena Allah l hanya diibadahi dengan perintah-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya n, bukan dengan akal dan hawa nafsu. Rasulullah n bersabda,

(( مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ))

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara (tuntunan-pen) kami padanya maka tertolak.”

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Perkataan tidak sah kecuali dengan perbuatan. Perkataan dan perbuatan tidak sah kecuali dengan niat. Sedangkan perkataan, perbuatan dan niat tidak akan sah kecuali dengan sunnah.”[48]

Ibnu Rajab berkata, “Sebagaimana seluruh amalan yang tidak diniatkan untuk mendapatkan wajah Allah l tidak akan mendatangkan pahala bagi pelakunya, maka begitu pula seluruh amalan yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya n akan ditolak kepada pelakunya. Dan setiap orang yang mengada-adakan perkara baru yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam agama ini, maka hal itu sama sekali bukan dari agama.”[49]

2. Ittiba’ adalah salah satu dari dua landasan dasar Islam.

Ikhlash dan mengesakan Allah dalam beribadah adalah hakikat keimanan dan persaksian seorang hamba bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah (laa ilaaha illallah). Sedangkan ittiba’ dan meneladani Rasulullah n adalah hakikat keimanan dan persaksian seorang hamba bahwa Muhammad adalah utusan Allah (Muhammad Rasulullah). Maka tidak akan terwujud keislaman seorang hamba, tidak akan diterima perkataan, perbuatan dan keyakinan darinya kecuali jika dia telah mewujudkan dan melaksanakan dua landasan ini (ikhlash dan ittiba’). Allah l berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaknya dia melakukan amal shalih dan tidak menyekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ibnu Taimiyah berkata, “Kesimpulannya, bahwa bersama kita ada dua landasan yang agung. Pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada Allah. Kedua, kita tidak beribadah kepada-Nya kecuali dengan apa yang Dia syariatkan, tidak beribadah kepada-Nya dengan ibadah yang diada-adakan. Dua landasan ini adalah perwujudan dari syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammad rasulullah.[50]

Ibnul Qayyim berkata, “Maka seorang hamba tidak akan mewujudkan firman Allah إِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya kepada Engkau kami beribadah), kecuali dengan dua landasan yang agung. Pertama, mengikuti Rasul n. Dan yang kedua, ikhlash kepada yang diibadahi.”[51]

Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi berkata, “Maka keduanya adalah tauhid. Seorang hamba tidak akan selamat dari siksaan Allah kecuali dengan keduanya. Yaitu tauhidul Mursil (mengesakan Allah yang mengutus –pen) dan tauhidu mutaaba’atir Rasul n (mengesakan ittiba’ hanya kepada Rasul n –pen).”[52]

3. Ittiba’ adalah sebab untuk masuk surga.

Hal ini ditunjukkan oleh sabda Nabi n,

(( كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى )) قالوا يا رسول الله ومن يأبى ؟ قال (( من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى ))

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang mentaatiku akan masuk surga, sedangkan yang durhaka kepadaku berarti dia telah enggan.”[53]

Tentang firman Allah,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari memutihnya wajah-wajah dan menghitamnya wajah-wajah.” (QS. Ali ‘Imraan: 106)

Ibnu ‘Abbas c berkata, “Adapun orang-orang yang memutih wajah-wajah mereka adalah Ahlus Sunnah dan orang-orang yang memiliki ilmu. Sedangkan orang-orang yang menghitam wajah-wajah mereka adalah orang yang mengikuti bid’ah dan kesesatan.”[54]

Az-Zuhri v berkata, “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.”[55]

4. Ittiba’ adalah bukti kecintaan kepada Allah l.

Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah l,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Rasul), jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah maha pengampun dan penyayang.” (QS. Ali ‘Imraan: 31)

Ibnu Taimiyah berkata, “Di antara perkara yang hendaknya dipahami, bahwa Allah berfirman ‘Katakanlah (wahai Rasul), jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah akan mencintaimu.’ Sebagian salaf berkata, ‘Pada zaman Rasulullah n ada suatu kaum yang mengaku-aku bahwa mereka mencintai Alla. Maka Allah menurunkan ayat ini ‘Katakanlah (wahai Rasul), jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah akan mencintaimu.’ Allah menjelaskan bahwa kecintaan kepada-Nya menuntut ittiba’ kepada Rasul n. Sedangkan ittiba’ kepada Rasul n menyebabkan kecintaan Allah kepada hamba. Dan ini adalah ujian yang Allah ujikan kepada orang-orang yang mengaku mencintai Allah. Karena di dalam masalah ini telah banyak pengakuan dan kesamaran.”[56]

Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menghukumi setiap orang yang mengaku mencintai Allah padahal dia tidak berada di atas jalan Muhammad n. Karena pada hakikatnya dia adalah orang yang dusta di dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syariat dan agama Nabi Muhammad n di dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya.”[57]

Ibnul Qayyim berkata, “Firman Allah ‘niscaya Allah akan mencintaimu’ mengisyaratkan kepada bukti kecintaan, hasil dan faidahnya. Maka bukti dan tanda kecintaan adalah ittiba’ kepada Rasul. Sedangkan hasil dan faidahnya adalah kecintaan Mursil (Allah yang mengutus Rasul-Nya) kepada kalian. Maka selama tidak ada mutaba’ah (mengikuti Rasul), berarti tidak ada kecintaan kalian kepada-Nya dan tidak ada kecintaan-Nya kepada kalian.”[58]

Dan beliau berkata, “Kekokohannya – yakni kecintaan kepada Allah – hanyalah dengan mengikuti Rasul di dalam perbuatan, perkataan dan akhlaq beliau. Maka munculnya kecintaan ini, kekokohan dan kekuatannya, sesuai dengan ittiba’ ini. Dan berkurangnya hal itu sesuai dengan berkurangnya hal ini.”[59]

5. Ittiba’ adalah jalan untuk mendapatkan kecintaan Rasulullah n dengan sesungguhnya.

Allah telah mewajibkan atas hamba-Nya untuk mencintai Rasul-Nya n dan mendahulukannya di atas kecintaan terhadap diri sendiri, harta, anak, orang tua dan seluruh manusia. Sebagaimana di dalam hadits,

(( لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين ))

“Tidaklah beriman (dengan sempurna –pen) salah seorang di antara kalian sampai dia lebih mencintai aku dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.”[60]

Dan ketika Umar bin Khath-thab berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari pada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Rasulullah n bersabda,

(( لا والذي نفسي بيده حتى أكون أحب إليك من نفسك ))

“Tidak, Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai dari pada dirimu sendiri.”

Lalu Umar berkata kepada beliau, “Sekarang ini, sungguh demi Allah, engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri.” Lalu beliau berkata, “Sekarang, wahai Umar.”[61]

Dan tidak ada jalan untuk mendapatkan dan mewujudkan kecintaan kepada Nabi n, kecuali melalui jalan ittiba’ dan bersemangat untuk menyempurnakannya. Al-Khath-thabi berkata sekitar makna ini, “Beliau tidak menghendaki kecintaan yang merupakan tabiat, akan tetapi menghendaki kecintaan yang merupakan ikhtiar (karena usaha –pen). Karena kecintaan seseorang kepada dirinya adalah merupakan tabiat, dan tidak ada jalan untuk menuju hatinya.” Beliau berkata, “Maka maknanya, engkau tidak jujur di dalam mencintaiku sampai engkau membinasakan dirimu di dalam mentaatiku dan engkau mengutamakan keridhaanku atas hawa nafsumu meskipun engkau akan binasa karenanya.”[62]

6. Ittiba’ adalah jalan untuk melaksanakan perintah taat kepada Rasul n dan menjauhi ancaman atas (menyelisihi) hal itu.

Di dalam banyak ayat, Allah telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk taat kepada Nabi-Nya. Di antaranya adalah firman Allah l,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul.” (QS. An-Nisaa: 59)

Dan Dia telah memberikan ancaman yang keras atas penyelisihan terhadapnya. Sebagaimana di dalam firman Allah l,

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang kafir.” (QS. Ali ‘Imraan: 32)

Dan firman Allah l,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya jika ia menyeru kepada sesuatu yang menghidupkanmu. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah menghalangi seseorang dari hatinya dan sesungguhnya hanya kepadaNya kalian akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfaal: 24)

Dan tidak ada jalan bagi seorang hamba untuk melaksanakan perintah taat kepada Rasul dan menyambut seruannya, menjauhi ancaman di dunia dan akhirat atas hal itu, kecuali dengan ittiba’ dan meneladani Nabi n.

7. Ittiba’ adalah sifat yang selalu menetap pada orang-orang yang beriman.

Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah l,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman jika mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memberi hukum di antara mereka ialah ucapan, ‘kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut dan bertakwa kepada Allah, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nuur: 51-52)

Dan Allah telah meniadakan keimanan dari orang yang berpaling, tidak mau taat kepada Rasul n dan tidak ridha terhadap hukumnya. Allah berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati pada diri mereka rasa keberatan terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65)

8. Ittiba’ adalah salah satu tanda ketakwaan.

Ittiba’ kepada Nabi n merupakan tanda dan bukti ketakwaan hati dan kebenaran imannya. Allah l berfirman,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah, barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu merupakan ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Syi’ar-syi’ar Allah adalah perintah-perintahNya dan rambu-rambu agamaNya yang jelas. Sedangkan ketaatan kepada Nabi n dan ittiba’ kepada syari’atnya adalah syi’ar-syi’ar Allah yang paling jelas dan paling tinggi.[63]

HUKUM ITTIBA’

Ittiba’ dan meneladani Rasulullah n di dalam apa yang beliau bawa dari Rabbnya merupakan perkara yang telah tetap, tidak ada seorangpun yang diperkenankan untuk tidak mengetahuinya. Karena ia merupakan perkara yang pasti diketahui, melihat banyak dan tersebarnya nash-nash yang menunjukkan kepadanya. Di antaranya adalah:

1. Firman Allah l,

!$tBur ãNä39s?#uä ãAqߙ§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Maksudnya, apa saja yang beliau perintahkan kepada kalian maka lakukanlah. Dan apa saja yang beliau larang kalian darinya maka jauhilah. Karena beliau hanya memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan.”[64]

Setelah Asy-Syaukani membawakan sebagian perkataan yang bisa dipahami darinya bahwa ayat tersebut khusus di dalam masalah fai’, beliau berkata, “Yang benar, bahwa ayat ini umum mencakup segala hal yang dibawa Rasulullah n, baik berupa perintah, larangan, perkataan maupun perbuatan. Dan apabila sebabnya khusus, maka yang dilihat adalah keumuman lafadznya bukan kekhususan sebabnya. Dan seluruh syariat yang beliau bawa telah beliau berikan dan sampaikan kepada kita. Maka alangkah banyaknya faidah dan manfaat ayat ini.”[65]

2. Firman Allah l,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati rasa keberatan pada diri mereka terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65)

Di dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Allah l bersumpah dengan diri-Nya yang mulia dan suci, bahwa seseorang tidaklah beriman sampai dia menjadikan Rasul n sebagai hakim di dalam segala urusan. Maka hukum yang beliau tetapkan adalah kebenaran yang wajib ditunduki secara lahir dan batin. Oleh karenanya, Allah berfirman, “kemudian mereka tidak mendapati rasa keberatan pada diri mereka terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” Maksudnya, jika mereka menjadikanmu sebagai hakim maka mereka mentaatimu di dalam batin mereka, yaitu mereka tidak mendapati rasa berat pada diri-diri mereka terhadap hukum yang engkau tetapkan. Dan mereka tunduk kepadanya secara lahir dan batin, yaitu mereka menerima hal itu dengan sepenuhnya, tanpa mencegah, menolak ataupun menentang.”[66]

Al-‘allamah As-Sa’di berkata, “Kemudian Allah l bersumpah dengan diri-Nya yang mulia, bahwa mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikan Rasul-Nya sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan, yaitu di dalam setiap perkara yang terjadi perselisihan padanya.”[67]

3. Firman Allah l,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hendaknya orang-orang yang menyelisihi perintahnya berwaspada terhadap fitnah yang akan menimpa mereka atau siksaan yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63)

Ibnu Katsir v berkata, “Firman-Nya, ‘Hendaknya orang-orang yang menyelisihi perintahnya berwaspada’ maksudnya adalah perintah Rasulullah n. Yaitu jalan, metode, sunnah dan syariat beliau. Maka seluruh perkataan dan perbuatan ditimbang dengan perkataan dan perbuatan beliau. Yang sesuai dengannya diterima, sedangkan yang menyelisihinya ditolak kepada pelakunya atau pengucapnya, siapapun orangnya.”[68]

4. Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah z, bahwa Rasulullah n memberikan nasihat kepada manusia, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, maka wasiat apa yang engkau amanatkan kepada kami?” Beliau bersabda,

(( قد تركتكم على البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك ))

“Sungguh aku telah meninggalkan kalian di atas sesuatu yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya sepeninggalku melainkan orang yang binasa.”[69]

5. Dari Abdullah bin ‘Amr c, dia berkata, Rasulullah n bersabda,

(( فمن رغب عن سنتي فليس مني ))

“Maka barangsiapa yang tidak suka sunnahku, berarti dia bukan dari golonganku.”[70]

Ketika menjelaskan hadits ini, Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud dengan sunnah adalah jalan, bukan lawan dari wajib. Dan tidak suka kepada sesuatu adalah berpaling darinya, menuju kepada yang lain. Maka maksud hadits ini, barangsiapa meninggalkan jalanku dan mengambil jalan selainku maka dia bukan dari golonganku.”[71]

KEADAAN MANUSIA DI DALAM ITTIBA’

Keadaan manusia di dalam ittiba’ berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Karena mereka tidak akan lepas dari empat keadaan:

Orang yang melaksanakan perintah dan tidak melakukan perkara yang dilarang. Ini adalah keadaan yang paling sempurna dari pemeluk agama ini dan sifat yang paling sempurna dari orang-orang yang bertakwa. Orang inilah yang berhak mendapatkan balasan dan pahala orang-orang yang taat dan beramal.

Orang yang tidak melaksanakan perintah dan dia melakukan perkara-perkara yang dilarang. Ini adalah seburuk-buruk keadaan mukallaf dan sejelek-jelek sifat orang yang menghambakan dirinya. Orang ini berhak mendapatkan siksaan orang yang lalai dari ketaatan yang diperintahkan dan siksaan orang yang melakukan perkara-perkara yang dilarang. Ibnu Syibrimah berkata, “Aku heran terhadap orang yang menjaga dirinya dari perkara-perkara yang baik karena takut penyakit, tetapi dia tidak menjaga dirinya dari perbuatan maksiat karena takut neraka.”

Orang yang melaksanakan perintah namun juga melakukan perkara-perkara yang dilarang. Dialah yang berhak mendapat siksaan orang yang lancang melakukan perkara-perkara haram dan melampaui batas. Karena dia telah terjerumus ke dalam perbuatan maksiat dengan gejolak syahwatnya, meskipun dia selamat dari peremehan perbuatan taat.

Orang yang tidak melaksanakan perintah dan tidak melakukan perkara yang dilarang. Maka orang ini berhak mendapat hukuman meninggalkan ketaatan dan lalai dari perkara yang mendekatkan kepada Allah.[72]

TANDA-TANDA ITTIBA’

Ittiba’ memiliki tanda-tanda yang banyak, yang paling penting di antaranya adalah:

1. Mengagungkan nash-nash syar’iyah.

Tanda dan bukti ittiba’ yang paling nampak adalah mengagungkan nash-nash agama yang telah tetap. Yaitu dengan menghormati, memuliakan, mendahulukannya, tidak meninggalkannya, meyakini bahwa petunjuk hanya ada padanya tidak pada selainnya, mempelajari, memahami, memperhatikan, mengamalkannya, berhukum kepadanya dan tidak menentangnya. Dan ini adalah petunjuk tokoh-tokoh panutan dan imam-imam di dalam ittiba’, yaitu para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang setelah mereka.

Abdullah bin Mughaffal pernah melihat seorang sahabatnya melempar kerikil dengan jarinya. Lalu dia berkata kepadanya, “Jangan kau lakukan itu. Karena Rasulullah n melarang melempar kerikil dengan jari dan beliau membencinya.” Kemudian setelah itu dia melihatnya melakukan lagi. Lalu Abdullah berkata kepadanya, “Bukankah telah kusampaikan kepadamu bahwa Rasulullah n melarang perbuatan ini? Kemudian aku lihat engkau melakukannya lagi? Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.”[73]

Khirasy bin Jubair berkata, “Aku melihat seorang pemuda di masjid melempar kerikil dengan jarinya. Lalu ada seorang tua berkata kepadanya, “Jangan kau lempar kerikil dengan jari, karena aku mendengar Rasulullah n melarang perbuatan itu.” Kemudian pemuda itu lalai dan menyangka bahwa orang tua tadi tidak memperhatikannya, lalu dia melempar kerikil dengan jarinya lagi. Maka orang tua itupun berkata kepadanya, “Aku sampaikan kepadamu bahwa aku mendengar Rasulullah n melarang perbuatan itu, kemudian engkau melakukannya. Demi Allah, aku tidak akan menghadiri jenazahmu, aku tidak akan menjengukmu jika engkau sakit dan aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.”[74]

Ibnu Umar c menyampaikan hadits bahwa Rasulullah n bersabda,

(( إذا استأذنت أحدكم امرأته إلى المسجد فلا يمنعها ))

“Jika salah seorang dari kalian dimintai izin oleh istrinya untuk pergi ke masjid maka janganlah dilarang.”

Lalu salah seorang anaknya berkata, “Kalau demikian, demi Allah aku akan melarangnya.” Maka Ibnu Umar menghadap kepadanya dan mencelanya dengan celaan yang belum pernah ia berikan kepada seorangpun sebelumnya. Kemudian dia berkata, “Aku sampaikan hadits dari Rasulullah n tapi engkau berkata, kalau demikian demi Allah aku akan melarangnya?!”[75]

Abu Hurairah z berkata, Rasulullah n mengharamkan apa saja yang ada di antara kedua batunya. Seorang perawi berkata, maksud beliau adalah kota Madinah. Beliau (Abu Hurairah) berkata, maka seandainya aku mendapati seekor rusa yang diam, aku tidak akan mengagetkannya.”[76]

Ubadah bin Shamit z menyebutkan bahwa Nabi n melarang pertukaran dua dirham dengan satu dirham. Lalu ada seseorang yang berkata, “Menurutku, ini tidak mengapa asalkan kontan.” Maka Ubadah berkata, “Aku katakan Nabi n bersabda, sedangkan engkau katakan, menurutku tidak mengapa. Demi Allah, engkau dan aku tidak akan dinaungi oleh satu atap.”[77]

Dari Ibnu Abbas c, dia berkata, Nabi n melakukan tamattu’*). Lalu Urwah bin Zubair berkata, Abu Bakar dan Umar melarang dari mut’ah (yakni tamattu’ dalam haji –pen). Maka Ibnu Abbas berkata, “Aku melihat mereka akan binasa. Aku berkata, Nabi n bersabda, tetapi mereka berkata Abu Bakar dan Umar melarangnya.”[78]

Ibnu Sirin menyampaikan satu hadits dari Nabi n kepada seseorang lalu orang itu berkata, “Fulan dan fulan berkata begini”. Maka Ibnu Sirin berkata, “Aku sampaikan kepadamu hadits dari Nabi n, namun engkau malah berkata fulan dan fulan berkata begini dan begitu? Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.”[79]

Imam Asy-Syafi’i berkata kepada seseorang, “Apa saja yang mereka sampaikan kepadamu dari Rasulullah n, maka ambillah. Akan tetapi, apa saja yang mereka katakan dengan pendapat mereka saja, maka buanglah di tempat pembuangan kotoran.”[80]

2. Takut terhadap penyimpangan dan istidraj.

Di antara tanda-tanda dan bukti-bukti ittiba’ yang paling nampak adalah rasa takut seorang hamba dari penyimpangan dan dosa-dosanya. Dan rasa takutnya dari istidraj (diberikan kenikmatan-kenikmatan di dalam kesesatannya –pen) dan ketidak-kokohan dirinya di atas kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad n. Tanda-tanda ini telah nampak jelas dan gamblang pada diri para sahabat dan tabi’in g.

Ibnu Mas’ud z menggambarkan keadaan ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya keadaan seorang mukmin ketika melihat dosa-dosanya, sebagaimana keadaan dia ketika duduk di bawah suatu gunung. Dia khawatir gunung itu akan runtuh menimpanya. Sedangkan orang yang fajir melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang melewati hidungnya. Dia mengusirnya begitu saja.”[81]

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Seorang yang beriman melaksanakan ketaatan-ketaatan dalam keadaan takut dan khawatir. Sedangkan orang yang fajir melakukan maksiat-maksiat dengan perasaan aman.”[82]

Imam Bukhari berkata, Ibrahim At-Taimi berkata, “Tidaklah aku membandingkan perkataanku terhadap perbuatanku melainkan aku merasa takut kalau-kalau aku adalah seorang pendusta.” Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku mendapati tiga puluh sahabat Nabi n, semuanya mengkhawatirkan dirinya terkena sifat nifaq. Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa dia memiliki keimanan Jibril dan Mikail.” Disebutkan dari Al-Hasan, “Tidak ada yang takut kepada-Nya kecuali orang yang beriman, dan tidak merasa aman dari-Nya kecuali orang munafiq.”[83]

Bahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq – manusia yang paling utama dari umat ini setelah Nabinya – berkata, “Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang diamalkan oleh Rasulullah n melainkan aku juga mengamalkannya. Sungguh aku takut menyimpang jika aku meninggalkan sesuatu dari perintah beliau.”

Ibnu Bath-thah memberikan komentar terhadap perkataan Ash-Shiddiq ini dengan mengatakan, “Inilah Ash-Shiddiq al-Akbar – wahai saudaraku – beliau takut dirinya menyimpang jika menyelisihi sesuatu dari perintah Nabinya n. Maka apa jadinya suatu zaman yang manusianya menghina Nabi mereka dan perintah-perintahnya, berbangga dengan menyelisihinya dan mencela sunnahnya?! Kita memohon kepada Allah perlindungan dari ketergelinciran dan keselamatan dari buruknya amal.[84]

3. Mencontoh dan meneladani Nabi n secara lahir dan batin.

Yaitu dengan memurnikan mutaba’ah hanya kepada Rasulullah n, mencukupkan diri dengan menerima dan mengambil dari beliau, dan mengamalkan apa saja yang beliau bawa, sebagai perwujudan firman Allah l,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah. Yaitu bagi siapa saja yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)

Maka tidak ada keyakinan, ibadah, muamalah, akhlaq, adab, peraturan jama’ah, ekonomi, politik… dan seterusnya, melainkan dari jalan beliau dan sesuai dengan hukum-hukum dan pengajaran-pengajaran yang berliau bawa di dalam al-Kitab dan as-Sunnah yang shahih. Dimana syariat beliau menjadi muhaiminah (pengawas) dan raidah (pemandu).

Di dalam menafsirkan firman Allah l,

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

“Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang yang beriman dari diri-diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzaab: 6)

Ibnul Qayyim v berkata, “Ini adalah dalil bahwa barangsiapa yang tidak menjadikan Rasul lebih dekat terhadapnya dari dirinya sendiri maka dia tidak termasuk orang-orang yang beriman. Dan kedekatan ini mengandung beberapa perkara. Di antaranya, bahwa pada asalnya seorang hamba tidak berhak menghukumi dirinya sendiri, akan tetapi hukum itu adalah hak Rasul n. Hukum yang beliau tetapkan untuk diri seorang hamba, lebih besar daripada hukum seorang tuan terhadap budaknya atau orang tua terhadap anaknya. Maka tidak ada hak baginya untuk bertindak terhadap dirinya kecuali yang diizinkan oleh Rasul. Karena beliau lebih dekat terhadapnya daripada dirinya sendiri.”[85]

4. Menjadikan syariat sebagai hakim dan berhukum kepadanya.

Yaitu menjadikan ajaran yang dibawa Rasul n di dalam al-Kitab dan as-Sunnah sebagai hakim dan berhukum kepada keduanya. Dan menjadikannya sebagai timbangan untuk menilai keyakinan-keyakinan, perkataan-perkataan dan perkara-perkara yang ditinggalkan. Maka yang sesuai dengannya diterima dan diamalkan. Sedangkan yang menyelisihinya ditolak meskipun dibawa oleh orang yang membawa.

Allah l berfirman,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Maka demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan,” (QS. An-Nisaa: 65)

Allah k berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih di dalam suatu perkara (apapun) maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa: 59)

Menjadikan syariat sebagai hakim, berhukum (mengangkat perkara) kepadanya dan keinginan yang kuat untuk menjadikan seluruh perkara tunduk kepadanya, adalah sifat yang nampak dan tanda yang membedakan antara seorang muslim yang bersemangat untuk mengikuti kebenaran dengan orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah sehingga sesat dan menyesatkan, meskipun hawa nafsu itu disebut dengan akal, perasaan, maslahat, imam, partai, peraturan … dan seterusnya.

5. Ridha dengan hukum Rasulullah n dan syariatnya.

Di antara bukti ittiba’ kepada Rasulullah n adalah ridha terhadap hukum dan syariat beliau. Dari Al-Abbas z, beliau mendengar Rasulullah n bersabda,

(( ذاق طعم الإيمان من رضي بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد رسولا ))

“Orang yang ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rasulnya, pasti akan merasakan lezatnya iman.”[86]

Maka apabila seorang muslim telah ridha terhadap Muhammad n sebagai nabi dan rasul, dia tidak akan menoleh kepada selain petunjuk beliau, tidak akan bersandar kepada selain sunnah beliau di dalam perilakunya, menjadikannya sebagai hakim dan berhukum kepadanya, menerima, tunduk dan mengikuti hukumnya, serta ridha terhadap segala sesuatu yang beliau bawa dari Rabbnya. Sehingga dengan hal itu hati dan jiwanya menjadi tenang dan dadanya menjadi lapang. Dia melihat nikmat yang Allah berikan kepadanya dan kepada seluruh makhluk dengan diutusnya Nabi yang mulia n dan dengan agama yang agung ini, sebagai nikmat yang sebenarnya. Sehingga dengan hal itu dia akan merasa gembira dengan karunia dan rahmat Allah kepadanya, dimana Allah telah menjadikanya sebagai orang yang mengikuti Rasul terbaik dan golongannya yang beruntung. Allah l berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57) قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Wahai manusia, telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh terhadap (penyakit) yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, dengan karunia dan rahmat Allah maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Hal itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 57-58)

Ridha adalah suatu kata yang mencakup penerimaan dan ketundukan. Maka tidak ada keridhaan kecuali jika ada penerimaan yang mutlak dan ketundukan yang sempurna secara lahir dan batin terhadap apa yang dibawa oleh Rasul n dari Rabbnya.[87]

JALAN-JALAN YANG MEMBANTU KEPADA ITTIBA’

Banyak jalan-jalan yang akan menolong seseorang di dalam ittiba’ kepada Nabi n. Di antaranya:

1. Taqwa dan takut kepada Allah k.

Karena, barangsiapa yang bertaqwa dan takut kepada Allah k, maka Allah akan memberikan pembeda (furqan) baginya. Dengan itu dia bisa membedakan antara yang haq dan yang batil, antara cahaya dan kegelapan. Dan hal itu adalah sebab keselamatan dan kebahagiaannya di dunia dan di akhirat. Allah l berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan pembeda bagi kalian.” (QS. Al-Anfaal: 29)

Dan Allah k berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآَمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah akan memberi kalian dua kali lipat dari rahmat-Nya dan Dia menjadikan cahaya bagi kalian yang kalian gunakan untuk berjalan dan Dia akan mengampuni kalian. Allah maha pemgampun dan penyayang.” (QS. Al-Hadid: 28)

Tentang makna firman Allah l, “dan Dia menjadikan cahaya bagi kalian yang kalian gunakan untuk berjalan,” As-Sa’di menjelaskan, “Yaitu memberi kalian ilmu, petunjuk dan cahaya yang kaliangunakan untuk berjalan di gelapnya kebodohan.”[88]

Dan Allah k berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungghnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang bergetar hati-hati mereka jika disebut nama Allah. Dan jika dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, niscaya (ayat-ayat itu) akan menambah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakkal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfaal: 2)

2. Ikhlas kepada Allah dan semata-semata mencari kebenaran.

Perkara ini memiliki keterkaitan dengan pembersihan dan pensucian jiwa dari hawa nafsu dan hal-hal yang mengotorinya. Karena, setiap kali seorang hamba berusaha untuk membersihkan dan mensucikan jiwanya, berusaha untuk mentaati Allah dan meninggalkan maksiat kepadaNya secara lahir dan batin, niscaya penerimaan dan keinginan terhadap kebenaran akan semakin bertambah.

Ibnu Taimiyah berkata, “Dan demikianlah, barangsiapa yang berpaling, tidak mau mengikuti kebenaran – yang diketahuinya – karena mengikuti hawa nafsunya, maka hal itu akan mewariskan kebodohan dan kesesatan kepadanya, sehingga akan membutakan hatinya dari kebnaran yang nyata. Sebagaimana Allah l berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Maka tatkala mereka menyimpang, Allah menyesatkan hati-hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. Ash-Shaff: 5)

Dan Allah l berfirman,

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah tambahkan penyakit mereka.” (QS. Al-Baqarah: 10)…”[89]

Kemurnian dan keikhlasan akan menolong seorang hamba untuk kembali dari berbagai bid’ah dan kesalahan, ketika dia terjerumus ke dalamnya. Dan hal ini telah terjadi pada tokoh-tokoh besar ilmu kalam, filsafat dan yang lain. Seperti Abul Hasan Al-Asy’ari, Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Fakhru Ar-Razi dan banyak lagi selain mereka.

3. Kembali dan merendahkan diri kepada Allah k serta menampakkan rasa butuh kepadaNya.

Di antara sebab terbesar yang menolong seorang hamba untuk ittiba’ kepada petunjuk dan cahaya yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad n adalah kembali kepada Rabbnya, merendahkan diri di hadapanNya dan menampakkan kebutuhan serta hajat kepadaNya. Dan sungguh Rasulullah n sering melakukan hal ini. Do’a beliau ketika memulai shalat (do’a iftitah setelah takbiratul ihram –pen) adalah,

(( اللهم رب جبرائيل وميكائيل وإسرافيل فاطر السماوات والأرض عالم الغيب والشهادة أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم ))

“Wahai Allah, Rabb (penguasa) Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui perkara ghaib dan nampak. Engkaulah yang memberi hukum antara hamba-hambaMu di dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah kepadaku kebenaran yang diperselisihkan, dengan izinMu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”[90]

Dan di antara do’a beliau adalah,

« اللهم انفعني بما علمتني ، وعلمني ما ينفعني ، وزدني علما »

“Wahai Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa yang engkau ajarkan kepadaku. Ajarilah aku apa saja yang memberi manfaat kepadaku. Dan tambahlah ilmuku.”[91]

Dan juga,

(( اللهم إني أعوذ بك أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ ، أو أَزِلَّ أو أُزَلَّ … ))

“Wahai Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari keadaan tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan …”[92]

Dan juga,

(( اللهم أسلمت وجهي إليك ، وفوضت أمري إليك ، وألجأت ظهري إليك ، رغبة ورهبة إليك ، لا ملجأ منك إلا إليك … ))

“Wahai Allah, aku serahkan wajahku kepadaMu, aku pasrahkan seluruh urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, karena rasa takut dan harap kepadaMu. Tidak ada tempat berlindung dari (ancaman)-Mu kecuali kepadaMu …”[93]

Allah telah memerintahkan hambanya untuk berdoa dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Allah k berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman, berdoalah kepadaKu niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin: 60)

Dan Nabi n telah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah dan tidak menampakkan kebutuhan dan hajatnya kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z, dia berkata, Rasulullah n bersabda,

(( من لا يسأل الله يغضب عليه ))

“Barangsiap tidak meminta kepada Allah, niscaya Allah murka kepadanya.”[94]

4. Mempelajari hukum-hukum syar’i.

Hal itu karena Islam adalah agama yang dibangun di atas wahyu. Sedangkan wahyu tidak bisa diketahui kecuali dengan mempelajarinya. Sehingga, tidak ada jalan untuk mengamalkan hukum-hukum Islam dan mengikuti sunnah Nabi n kecuali dengan mempelajari apa yang datang dari beliau di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena merupakan perkara yang mustahil, seorang manusia mengamalkan sesuatu yang tidak dia ketahui dan pelajari.

Oleh karena itu Imam al-Bukhari di dalam shahihnya berkata, “Bab ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Berdasarkan firman Allah l,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Maka Dia memulai dengan ilmu.”[95]

Dan ayat dari al-Qur’an yang pertama kali turun adalah firman Allah,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Rabbmu yang mencipta.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Sedangkan membaca adalah penjaga pintu belajar.

5. Memahami nash-nash yang shahih dan merenungi makna-maknanya.

Al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyah yang shahih adalah sumber pengambilan kebenaran dan petunjuk. Allah berfirman,

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lurus.” (QS. Al-Isra: 9)

Dan Nabi n bersabda,

(( إني تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض ))

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua hal bagi kalian. Kalian tidak akan tersesat setelah keduanya. Yaitu kitabullah dan sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sampai mendatangiku di haudh.”[96]

Allah telah menjamin terjaganya nash-nash kitabNya dari perubahan dan penggantian. Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan adz-Dzikr dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Dan penjagaan ini mencakup penjagaan terhadap sunnah Nabi n. Yaitu, meskipun telah dimasuki oleh hadits-hadits yang lemah dan palsu, akan tetapi Allah menyiapkan untuknya para imam yang mempersembahkan diri dan umur mereka untuk melayani sunnah dan membedakan yang shahih dari yang lemah dan palsu. Oleh karena itu, seorang yang bersemangat untuk benar-benar ittiba’ kepada Nabi n harus memiliki semangat terhadap nash-nash yang shahih yang akan dia amalkan, dan berusaha memahami dan merenunginya. Dan dari sanalah pengamalan terhadap kandungan nash-nash yang shahih, baik di dalam melaksanakan sesuatu atau meninggalkannya.

Di dalam menjelaskan firman Allah l,

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Syaikh As-Sa’di berkata, “yakni, hendaknya orang-orang yang berpaling dari kitabullah memperhatikan dan benar-benar merenunginya. Karena jika mereka mau memperhatikannya, sesungguhnya al-Qur’an akan menunjukkan segala kebaikan kepada mereka dan akan memperingatkan mereka dari segala keburukan. Al-Qur’an akan memenuhi hati mereka dengan keimanan dan keyakinan, menghantarkan mereka menuju cita-cita yang tinggi dan pemberian-pemberian yang mahal, menjelaskan kepada mereka jalan yang akan menghantarkan kepada Allah dan surgaNya serta menjelaskan penyempurna dan perusak jalan itu. Al-Qur’an akan menjelaskan jalan yang menghantarkan kepada siksa dan sarana untuk mewaspadainya, mengenalkan mereka kepada Rabbnya dengan nama-nama dan sifat-sifatNya serta perbuatan baikNya. Al-Qur’an akan menjadikan mereka rindu terhadap pahala yang besat dan akan menjadikan mereka takut terhadap siksaan yang keras. “Ataukah hati mereka terkunci?” Yakni, telah ditutup hati itu bersamaan dengan keberpalingan, kelalaian dan penentangan yang ada padanya. Dan telah dikunci sehingga tidak akan dimasuki kebaikan selamanya! Inilah kenyataannya.”[97]

Aku katakan, “Orang yang tidak mau memperhatikan nash-nash nabawiyah (hadits) sama dengan orang yang tidak mau memperhatikan nash-nash al-Qur’an. Karena keduanya adalah sumber hukum dan jalan untuk berpegang teguh dengan kebenaran dan mendapatkan keamanan dari penyimpangan dan kesesatan.

6. Mengikuti jalan as-salaf (pendahulu umat islam yang shalih –pen) di dalam ilmu dan amal.

Nabi n telah menjelaskan bahwa generasi yang paling baik dan paling utama dari umat ini adalah yang paling dekat dengan beliau n. Beliau bersabda,

(( خيركم قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم … ))

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya …”[98]

Di dalam hadits al-iftiraq (hadits yang memberitakan tentang perpecahan umat –pen), Nabi n menjelaskan bahwa umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semua golongan berada di dalam neraka kecuali satu golongan. Beliau ditanya, “siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jalan yang aku dan para sahabatku berada padanya.”[99]

Garis penyimpangan mulai masuk di tengah-tengah kaum muslimin di akhir kekuasaan khalifah rasyidah. Penyimpangan ini terus berlanjut, bertambah dan meluas seiring dengan semakin sedikitnya jumlah orang-orang yang berpegang teguh dan mendakwahkan kebenaran murni yang dianut oleh Rasulullah n dan para sahabatnya. Hal ini terus berlanjut dari satu generasi kepada generasi yang lain, waktu demi waktu. Sehingga pada sebagian tempat dan waktu, orang yang berpegang teguh dengan kebenaran bagaikan orang yang menggenggam bara api. Maka tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.

Oleh karena itu, tidak ada jalan bagi orang yang ingin berpegang teguh dengan agamanya, mengikuti Rasulullah n secara murni dan benar, kecuali dengan mengokohkan pengertian, pemahaman dan pengamalannya terhadap nash-nash yang shahih, melalui jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah n, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka sebagaimana satu sisi bulu anak panah mengiringi sisi lainnya. Dan kebutuhan untuk mengetahui jalan as-salaf semakin bertambah, mengingat bahwa Nabi n telah membatasi bahwa kebenaran adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah n dan para sahabatnya yang mulia. Sedangkan pada zaman-zaman yang datang seelah beliau, hawa nafsu semakin banyak dan ilmu semakin sedikit.

Alangkah bagusnya perkataan Abdullah bin Mas’ud z ketika beliau berkata, “Barangsiapa ingin mengikuti suatu sunnah, hendaklah dia mengikuti sunnah orang yang telah wafat. Karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad n. Di antara umat ini, merekalah yang paling utama, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit takallufnya (sikap memberat-beratkan diri –pen). Allah telah memilih mereka untuk menjadi sahabat Nabi-Nya dan menegakkan agamaNya. Maka ketahuilah keutamaan mereka, ikutilah jejak-jejak mereka dan berpegang teguhlah dengan akhlaq dan agama mereka semampu kalian. Karena mereka benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus.”[100]

7. Sahabat yang shalih.

Di antara sebab terbesar yang akan menolong seseorang untuk ittiba’ dan berpegang teguh dengan kebenaran adalah bersahabat dengan ahlu sunnah wal jama’ah, orang-orang yang berpegang teguh dengan petunjuk Rasulullah n dan para sahabat beliau. Hal itu karena seorang sahabat akan menyeret dan menuntun seseorang. Rasulullah n bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu sesuai dengan agama sahabat dekatnya. Maka hendaknya salah seorang di antara kalian melihat siapa sahabat dekatnya.”[101]

Hal itu karena seorang sahabat dekat akan membawa sahabatnya kepada apa yang dianutnya. Jika dia seorang pengikut sunnah dan ittiba’, dia akan membawa sahabatnya kepada hal itu. Jika dia seorang pengikut bid’ah dan kefasikan, dia akan membawa sahabatnya kepada hal itu. Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman duduk yang shalih dan yang jahat adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup tungku api. Seorang penjual minyak wangi, bisa jadi engkau diberi olehnya atau engkau membeli darinya atau engkau mendapatkan bau yang harum darinya. Sedangkan seorang peniup tungku api, bisa jadi dia akan membakar bajumu atau engkau mendapatkan bau yang buruk darinya.”[102]

Dan di antara bukti nyata tentang pengaruh seorang sahabat adalah perkataan Yusuf bin Asbath, “Bapakku adalah seorang qadari (pengingkar takdir) dan paman-pamanku adalah orang-orang rafidhah, lalu Allah menyelamatkan aku melalui Sufyan.”[103]

Oleh karena itu, sangat banyak perkataan salaf yang menganjurkan untuk bersahabat dengan orang-orang yang ittiba’ dan mengikuti sunnah, serta meninggalkan persahabatan dengan selain mereka.

Di antaranya adalah perkataan Ayyub, “Merupakan kebahagiaan seorang pemuda dan seorang non arab, dia diberi taufik oleh Allah (untuk bersahabat) dengan seorang alim dari ahli sunnah.”[104]

Dan dari Abdullah bin Syaudzab, dia berkata, “Sesungguhnya di antara nikmat Allah kepada seorang pemuda jika dia mulai beribadah, dia berteman dengan seorang pengikut sunnah, yang akan membawanya kepada sunnah.”[105]

Al-Mulla’i berkata, “Jika engkau melihat seorang pemuda yang awal perkembangannya bersama ahlu sunnah, maka harapkanlah ia. Dan jika engkau melihatnya bersama ahlu bid’ah, maka janganlah engkau mengharapkannya. Karena seorang pemuda tergantung pada awal perkembangannya.”[106]

Ibnu Abbas c memberikan peringatan dengan berkata, “Janganlah engkau duduk-duduk bersama orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya. Sesungguhnya duduk bersama mereka akan membuat hati menjadi sakit.”[107]

Abu Qilabah berkata, “Janganlah kalian duduk-duduk bersama orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dan jangan berdebat dengan mereka. Sesungguhnya aku takut mereka menjerumuskan kalian ke dalam kesesatan mereka atau membuat kalian samar terhadap apa yang kalian ketahui.”[108]

PENGHALANG-PENGHALANG ITTIBA’

Di sana ada banyak hal yang menghalangi seorang hamba dari ittiba’ kepada Nabi n dengan benar. Yang paling nampak adalah:

1. Kebodohan.

Kebodohan adalah penghalang terbesar dari ittiba’. Bahkan ia adalah sebab terbesar yang menjerumuskan seseorang ke dalam seluruh perkara yang haram, baik berupa kekufuran, bid’ah maupun kemaksiatan.[109] Kebodohan itu bisa berupa kebodohan terhadap nash-nash, yaitu tidak mengetahui nash-nash tersebut. Atau kebodohan terhadap kedudukan nash-nash tersebut di dalam agama – bahwa nash-nash itulah yang berhak didahulukan, sedangkan sumber-sumber yang lain mengikutinya. Atau kebodohan terhadap penunjukan lafadz, maksud-maksud syariat dan kaidah-kaidah serta landasan-landasan dalam ilmu, seperti mutlak dan muqayyad, umum dan khusus, nasikh dan mansukh, mujmal dan mubayyan.[110]

Dan karena besarnya bahaya kebodohan ini, kita dapati al-Qur’an al-Karim dan sunnah shahihah penuh dengan nash-nash yang memberikan peringatan dari kebodohan dan menjelaskan bahayanya, serta memberi anjuran untuk berilmu dan menjelaskan keutamaannya.

Di antaranya adalah firman Allah l,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, sesungguhnya Rabbku hanyalah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji yang lahir maupun batin, mengharamkan perbuatan dosa, kezhaliman tanpa hak, mengharamkan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak ada bukti padanya dan Dia mengharamkan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-A’raaf: 33)

As-Sa’di berkata, “Dan Dia mengharamkan kalian berkata atas nama Allah, sesuatu tidak kalian ketahui, di dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya dan syariatNya.”[111]

Ibnul Qayyim berkata, “Adapun berbicara atas nama Allah tanpa ilmu, maka ini adalah perkara yang paling haram dan paling besar dosanya. Oleh karena itu, dia disebutkan pada tingkatan yang ke empat di antara perkara-perkara haram yang telah disepakati keharamannya oleh berbagai syariat dan agama, dan tidak dibolehkan sama sekali, bahkan senantiasa diharamkan. Kemudian beralih darinya kepada sesuatu yang lebih besar lagi. Yaitu Allah l berfirman,

وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“dan Dia mengharamkan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui.”

Maka ini lebih besar keharamannya dan lebih berat dosanya di sisi Allah. Karena mengandung kedustaan atas nama Allah, penisbatan Allah kepada sesuatu yang tidak layak bagiNya, perubahan dan penggantian terhadap agamaNya, penolakan terhadap apa yang Dia tetapkan, penetapan terhadap apa yang Dia tiadakan, pembenaran sesuatu yang Dia batalkan, pembatalan sesuatu yang Dia benarkan, permusuhan terhadap wali-waliNya, kecintaan terhadap musuh-musuhNya, kecintaan terhadap apa yang Dia benci, kebencian terhadap apa yang Dia cintai, pensifatan Allah dengan sesuatu yang tidak layak bagiNya di dalam dzatNya, sifat-sifatNya, perkataan-perkataanNya dan perbuatan-perbuatanNya. Maka tidak ada jenis keharaman yang lebih besar dan lebih berat di sisi Allah dari pada hal ini. Dia adalah pangkal kesyirikan dan kekufuran, pondasi bid’ah dan kesesatan. Maka seluruh bid’ah yang menyesatkan di dalam agama, pondasinya adalah perkataan atas nama Allah tanpa ilmu …”[112]

Allah k berfirman,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban darinya.” (QS. Al-Isra: 36)

Sayyid Quthb berkata, “Aqidah Islamiyah adalah aqidah yang jelas, lurus dan murni. Tidak ada sedikitpun darinya yang tegak di atas persangkaan, dugaan atau syubhat. “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya,” janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui dengan yakin dan belum engkau pastikan kebenarannya, baik berupa perkataan atau riwayat yang disampaikan, dari suatu zhahir yang ditafsirkan atau kenyataan yang dijelaskan sebabnya, dan dari hukum syar’i atau masalah keyakinan.”[113]

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata, Rasulullah n bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dari hamba-hambaNya. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga jika tidak menyisakan seorang alim pun, manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh. Lalu mereka ditanya kemudian berfatwa (menjawab pertanyaan) tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan.”[114]

Dari Ali z, dia berkata tentang sifat orang-orang khawarij, aku mendengar Rasulullah n bersabda,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Pada akhir zaman nanti akan keluar suatu kaum yang masih muda umurnya, bodoh pikirannya. Mereka berkata dengan sebaik-baik perkataan makhluk, mereka membaca al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka melesat menembus agama ini sebagaimana anak panah menembus sasarannya …”[115]

Di antara perkataan salaf tentang hal itu, dari Ibnu Mas’ud z, dia berkata, “Pergilah kamu sebagai pengajar atau pelajar atau yang mendengarkan. Dan janganlah kamu menjadi orang yang ke empat, nanti kamu akan binasa.”[116]

Dari Salman al-Farisi z, dia berkata, “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama orang-orang yang pertama masih ada sehingga orang yang terakhir mempelajari ilmu. Jika orang-orang yang pertama telah meninggal sebelum orang-orang yang akhir mempelajari ilmu, niscaya manusia akan binasa.”[117]

2. Mengikuti hawa nafsu.

Mengikuti hawa nafsu dan apa yang disenanginya termasuk penghalang dari ittiba’ dan sebab terbesar terjadinya penyimpangan dari kebenaran. Bahkan seluruh bid’ah dan maksiat muncul dengan sebab didahulukannya hawa nafsu atas nash yang shahih. Hal itu karena tabiat jiwa manusia selalu menginginkan dan cenderung kepada apa yang dia sukai dan senangi. Dan sangat susah bagi seorang manusia untuk memalingkan jiwanya dari hal itu – terlebih lagi jika jiwanya telah terbiasa dengannya – selama keimanan dan keyakinannya belum kuat dan kokoh.

Bahkan, setiap orang yang tidak mau mengikuti Rasul n dan menerima ajaran yang beliau bawa, maka sesungguhnya dia tidak mengikuti petunjuk, akan tetapi mengikuti hawa nafsunya.[118] Oleh karena itu, kita dapati banyak nash yang mencela dan memberi peringatan dri mengikuti hawa nafsu. Di antaranya, firman Allah l,

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak mau menyambutmu, ketahuilah sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang berbuat zhalim.” (QS. Al-Qashash: 50)

Allah l berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Dari Mu’awiyah z, dia berkata, Rasulullah n bersabda,

وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لاَ يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلاَ مَفْصِلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ

“Dan sesungguhnya akan muncul kaum-kaum dari umatku yang hawa nafsu mengalir pada mereka sebagaimana penyakit anjing gila mengalir pada penderitanya. Tidak ada satu urat dan persendianpun melainkan dimasukinya.”[119]

Dan Rasulullah n takut terhadap hawa nafsu, beliau berlindung kepada Allah dengan berdo’a,

« اللهم إني أعوذ بك من منكرات الأخلاق ، والأعمال ، والأهواء »

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kemungkaran akhlaq, amal dan hawa nafsu.”[120]

Yang menjadi masalah bukanlah adanya hawa nafsu pada diri seorang hamba, yang mendorong untuk menyelisihi Rasul n. Karena hal itu (keberadaan hawa nafsu) adalah sebagai medan ujian dan cobaan, sedangkan seorang hamba tidak menguasainya. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah jika seorang hamba mengikuti hawa nafsunya, mengambil apa yang disukai, meninggalkan apa yang dibenci, dan menjadikannya sebagai faktor pendorong perkataan dan perbuatannya baik sesuai ataupun menyelisihi apa yang dicintai oleh Allah l.[121]

Kadang-kadang hawa nafsu masuk kepada orang yang memiliki keterkaitan dan ikatan dengan nash-nash. Hawa nafsu itu tidak mendorongnya untuk meninggalkan dan berpaling dari nash-nash itu secara keseluruhan. Akan tetapi, pertama-tama hawa nafsu itu membiarkan ia menetapkan apa yang dia inginkan, kemudian mulai beralih kepada nash-nash itu, sehingga dia mengambil nash yang sesuai dengan hawa nafsunya saja. Mahmud Syaltut berkata, “Terkadang, seorang pemerhati dalil adalah seorang yang dikuasai oleh hawa nafsunya. Sehingga hawa nafsunya itu mendorongnya untuk menetapkan suatu hukum yang merealisasikan tujuannya. Kemudian dia mulai mencari-cari dalil untuk dijadikan sandaran dan hujah dalam berdebat. Maka pada kenyataannya, orang ini menjadikan hawa nafsunya sebagai dasar untuk memahami dan menghukumi dalil-dalil. Dan ini berarti membalik perkara tasyri’ (pembuatan syari’at) dan merusak tujuan Syari’ (Pembuat syari’at) di dalam menegakkan dalil-dalil.”[122]

3. Mendahulukan pendapat nenek moyang, para guru dan pembesar-pembesar, atas nash-nash yang shahih.

Termasuk penghalang ittiba’ yang terbesar adalah mendahulukan pendapat nenek moyang, para guru dan pembesar-pembesar, atas nash-nash yang shahih. Allah berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104)

Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Jika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka berkata, cukup bagi kami jalan-jalan yang ditempuh oleh nenek moyang kami. Allah berfirman, ‘Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?’ Yakni, mereka tidak mengetahui, memahami dan mengikuti kebenaran. Lalu kenapa mereka tetap mengikutinya padahal demikian keadaannya?! Tidak ada yang mengikuti mereka melainkan orang yang lebih bodoh dari mereka dan lebih sesat jalannya.”[123]

Allah k berfirman,

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولاَ (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلاَ (67) رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari ketika wajah-wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata, aduhai, seandainya dulu kita mentaati Allah dan Rasul. Mereka berkata, wahai Rabb kami, sesungguhnya kami (dahulu) mentaati tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus), wahai Rabb kami, berikanlah kepada mereka siksaan dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 66-68)

Asy-Syaukani berkata, “Yang dimaksud dengan tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar adalah para pemimpin yang dipatuhi perintahnya di dunia dan diteladani. Dan di dalam firman Allah ini terdapat larangan keras dari taklid. Alangkah banyaknya peringatan-peringatan di dalam al-Qur’an terhadap taklid. Akan tetapi hal itu hanyalah bagi orang yang memahami dan mengikuti firman Allah serta bersikap adil terhadap dirinya, bukan bagi orang yang sejenis dengan binatang ternak di dalam pemahaman yang buruk, keras kepala dan kefanatikan.”[124]

Dan telah datang banyak riwayat dari salaf (ulama terdahulu) yang memperingatkan hal itu. Diantaranya:

Perkataan Ibnu Abbas c kepada ‘Urwah bin Zubair ketika dia berkata dalam suatu masalah, “Adapun Abu Bakar dan Umar, mereka tidak melakukannya.” Ibnu Abbas berkata, “Demi Allah, aku melihat kalian tidak akan berhenti kecuali Allah mengadzab kalian. Kami menyampaikan hadits dari Nabi n kepada kalian, namun kalian menyampaikan kepada kami perkataan Abu Bakar dan Umar.”[125]

Dan perkataan Ibnu Mas’ud, “Ketahuilah, janganlah salah seorang di antara kalian taklid kepada seseorang di dalama agamanya, jika dia beriman dia ikut beriman, jika dia kafir diapun ikut kafir. Dan jika kalian harus mengambil teladan, maka terhadap orang yang telah mati. Karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah (ujian/kesesatan-pen).”[126]

Di dalam satu riwayat dari beliau, “Janganlah salah seorang di antara kalian taklid kepada seseorang di dalam agamanya, jika dia beriman dia ikut beriman, jika dia kafir diapun ikut kafir. Karena tidak ada keteladanan di dalam keburukan.”[127]

Umar bin Abdil Aziz berkata, “Tidak ada hak berpendapat bagi seorangpun bersama adanya sunnah yang diajarkan Rasulullah n.”[128]

Asy-Syafi’i berkata, “Manusia telah bersepakat, barangsiapa yang telah jelas baginya satu sunnah dari Rasulullah n, maka dia tidak boleh meninggalkannya karena perkataan/pendapat seorang manusia.” Dan telah shahih riwayat dari beliau bahwa beliau berkata, “Tidak ada hak berpendapat bagi seorangpun bersama adanya sunnah Rasulullah n.”[129]

Ibnu Khuzaimah berkata, “Tidak ada hak berpendapat bagi seorangpun bersama dengan adanya (hadits-pen) Rasulullah n, jika telah shahih hadits dari beliau.”[130]

Dan Ibnu Taimiyah memiliki perkataan yang sangat berharga tentang hal ini. Beliau berkata, “Agama Allah dibangun di atas pondasi ittiba’ (mengikuti) kitabullah, sunnah Nabi-Nya dan kesepakatan umat ini. Maka tiga pondasi inilah yang terjaga (dari kesalahan-pen). Segala sesuatu yang diperselisihkan umat ini, mereka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada seorangpun yang berhak mengangkat seorang individu bagi umat ini yang dia dakwahkan jalannya, dia tegakkan sikap loyal dan permusuhan karenanya kecuali perkataan Allah dan RasulNya serta kesepakatan umat ini. Bahkan sikap ini adalah perbuatan ahlu bid’ah, yangmengangkat seorang individu bagi mereka atau mengangkat suatu perkataan untuk memecah belah umat. Mereka menyandarkan sikap loyal dan permusuhan mereka di atas perkataan atau jalan tesebut.”[131]

Dan perkataan Al-Karkhi – semoga Allah mengampuninya – menunjukkan kepada puncak kejahatan yang dicapai oleh sikap mendahulukan pendapat manusia – siapapun orangnya – di atas nash yang shahih. Dia berkata, “Setiap ayat yang menyelisihi pendapat sahabat-sahabat kami, maka ayat itu ditakwil (dipalingkan maknanya-pen) atau dimansukh (dihapus hukumnya-pen). Begitu pula setiap hadits (yang menyelisihi pendapat sahabat-sahabat kami-pen), maka ditakwil atau dimansukh.”[132]

Aku katakan, “Inilah yang dipegangi oleh kebanyakan manusia pada zaman ini, yang mendahulukan pendapat guru-guru mereka atau kelompok-kelompok mereka atau partai-partai mereka di atas nash-nash yang telah tetap dan shahih. Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.

4. Mendahulukan akal di atas nukilan yang shahih.

Allah telah memberikan kemuliaan dan keutamaan kepada manusia dengan akal. Dan di dalam kitab-Nya, Dia memuji orang-orang yang memiliki fikiran dan akal-akal yang terang. Allah l berfirman,

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Hanya orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Ar-Ra’du: 19)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو اْلأَلْبَابِ

“Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang yang memiliki pikiran bisa mengambil pelajaran.” (QS. Shaad: 29)

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak membiarkan akal pada kedudukan yang telah Allah tetapkan. Bahkan mereka tergelincir menjadi dua golongan manusia:

a. Golongan yang meniadakan akal dan tidak menghargainya sedikitpun.

b. Golongan yang berlebih-lebihan terhadap akal, menjadikannya sebagai sumber pembuatan syariat dan mendahulukannya di atas nukilan-nukilan yang shahih. Mereka membangun kesesatan-kesesatan pada diri mereka dengan menamakannya kadang-kadang sebagai hakikat, perkara yang meyakinkan atau maslahat dan tujuan yang hendak diwujudkan oleh nash-nash – meskipun sesungguhnya tidak ditunjukkan oleh nash itu. Kemudian mereka mengambil nash-nash shahih yang mereka istilahkan dengan zhanniyyat (yang masih berupa persangkaan, tidak memberi faidah yakin -pen), lalu mereka menghadapkannya dengan kesesatan-kesesatan itu. Maka nash yang sesuai dengannya mereka terima, sedangkan yang bertentangan dengannya mereka tolak, dengan bersandar kepada suatu kaidah “al-yaqin laa yazuulu bisy syakk” (sesuatu yang meyakinkan tidak bisa hilang dikarenakan sesuatu yang meragukan–pen).

Mereka tidak mengetahui bahwa akal memiliki batasan-batasan di dalam mengetahui sesuatu. Dan Allah tidak memberikan jalan bagi akal untuk mengetahui segala sesuatu.[133] Sebagaimana mereka tidak mengetahui bahwa Allah menjaga agama-Nya dan melindungi Nabi-Nya dari ketergelinciran dan penyimpangan di dalam menyampaikan agama-Nya. Maka segala sesuatu yang beliau bawa adalah kebenaran yang tidak ada keraguannya, sedangkan yang mereka namakan dengan hakikat dan perkara yang meyakinkan adalah kebatilan. Hal itu ditunjukkan oleh adanya perbedaan akal dan pemahaman manusia di dalam menentukan hakikat-hakikat dan maslahat-maslahat. Dan juga, Allah telah memerintahkan kita untuk menerima hukum Allah dan Rasul-Nya dengan penerimaan yang mutlak tanpa menghadapkan nash itu kepada akal sebelum menerimanya. Sebagaimana di dalam firman Allah,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati pada diri mereka rasa keberatan terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65)

Alangkah bagusnya perkatan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi ketika menjelaskan perkataan Ath-Thahawi, “Tidak akan kokoh telapak kaki islam kecuali diatas permukaan taslim (menerima) dan istislam (pasrah).” Beliau berkata, “Yaitu tidak akan kokoh keislaman seseorang yang tidak menerima dan tunduk kepada nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, tidak menolaknya dan tidak mempertentangkannya dengan pendapat, akal dan logikanya. Al-Bukhari meriwayatkan dari Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri v, bahwa beliau berkata, dari Allah datangnya risalah, kewajiban Rasul menyampaikan dan kewajiban kita adalah menerima.”[134]

5. Bergantung kepada syubhat.

Agama islam tegak di atas penerimaan seorang hamba secara mutlak terhadap wahyu. Namun banyak dari orang-orang yang memiliki sedikit pengetahuan terhadap wahyu, bergantung kepada syubhat-syubhat, khayalan-khayalan dan berbagai persangkaan adanya maslahat (kebaikan). Mereka menyangka hal itu adalah jalan untuk mengetahui dan menghantarkan kepada kebenaran. Oleh karena itu, engkau akan dapati orang yang keadaannya seperti ini, jika ada seseorang datang kepdanya memberitahukan tentang kebenaran yang telah tetap dengan nash, maka hatinya akan bergantung kepada syubhat-syubhat dan kesesatan-kesesatan yang telah mendahuluinya, sehingga dia tidak beriman terhadap kebenaran. Dan dia mulai membuat samar kebenaran tersebut kepada manusia, dengan kebatilan yang ada di dalam hati dan fikirannya, sehingga diapun sesat dan menyesatkan.

Karena perkara yang sangat berbahaya ini, Nabi n memperingatkan umatnya dari jenis manusia seperti ini. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah x, beliau bersabda,

(( إِذَا رَأَيْتُمْ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ ))

“Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti (ayat-ayat) yang samar dari Al-Qur’an, mereka itulah yang Allah sebutkan (di dalam surat Ali ‘Imran ayat 7-pen), maka waspadailah mereka.”[135]

Dan beliau n bersabda,

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Di akhir umatku nanti akan ada orang-orang yang menceritakan kepada kalian sesuatu yang belum pernah kalian dengar dan juga bapak-bapak kalian, maka jauhilah mereka.”[136]

Dan telah banyak tersebar (mutawatir) perkataan imam-imam salaf di dalam memperingatkan manusia dari syubhat dan pengikutnya. Di antaranya adalah perkataan Umar, “Sungguh akan datang orang-orang yang membantah kalian dengan ayat-ayat syubhat (mutasyabihat, samar –pen) dari Al-Qur’an. Maka kalahkanlah mereka dengan sunnah-sunnah, karena para pengikut sunnah lebih paham terhadap kitabullah.”[137]

Dan perkataan Abu Qilabah, “Janganlah kalian duduk dan berbincang-bincang dengan para pengikut hawa nafsu. Sesungguhnya aku takut mereka akan menjerumuskan kalian ke dalam kesesatan mereka, atau membuat kerancuan terhadap apa yang telah kalian ketahui.”[138]

Dalam rangka memberikan peringatan, Ibnu Sirin berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian.”[139]

6. Diamnya para ulama.

Dengan diamnya para ulama dari menyebarkan kebenaran dan memperingatkan kebatilan, suara kebatilan menjadi tinggi, suara kebenaran menjadi lemah dan banyak orang menyangka bahwa orang-orang yang berada di atas kebatilan – karena banyak dan tersebarnya mereka – adalah orang-orang yang benar, dengan dalil muncul dan nampaknya mereka, karena jika tidak demikian tentu mereka tidak akan muncul dan nampak. Dan sebagai akibat darinya, pengikut kebenaran menjadi sedikit.

Oleh karena itu, nash-nash datang dengan membawa peringatan dari menyembunyikan ilmu dan tidak menyebarkannya. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ (159) إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan bayyinah (penjelas) dan petunjuk yang Kami turunkan, setelah Kami jelaskan kepada manusia di dalam al-kitab, mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Alah dan orang-orang yang melaknat. Kecuali orang-orang yang telah bertaubat, memperbaiki dan menjelaskan, maka Allah akan menerima taubat mereka dan Aku Maha menerima taubat dan Maha penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 159-160)

Asy-Syaukani di dalam menjelaskan ayat ini mengatakan, “Mereka (para ulama-pen) berselisih tentang yang dimaksud dengan orang-orang itu. Ada yang mengatakan, mereka adalah ulama-ulama yahudi dan pendeta-pendeta nasrani yang meninggalkan urusan Muhammad n. Dan ada yang mengatakan, mereka adalah setiap orang yang menyembunyikan kebenaran dan tidak menjelaskan apa yang diwajibkan oleh Allah untuk dijelaskan. Inilah pendapat yang lebih kuat, karena yang dijadikan patokan adalah keumuman lafadznya bukan kekhususan sebabnya. Sebagaimana hal ini telah ditetapkan dalam ilmu ushul. Seandainya kita terima bahwa sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan sikap orang-orang yahudi dan nasrani yang menyembunyikan ilmu, maka hal ini tidak bertentangan dengan cakupan ayat terhadap setiap orang yang menyembunyikan kebenaran. Dan di dalam ayat ini terdapat ancaman yang sangat keras, tidak bisa diukur besarnya. Karena barangsiapa yang dilaknat oleh Allah dan hamba-hambaNya yang bisa melaknat, berarti kecelakaan dan kerugiannya telah sampai kepada batas yang tidak bisa dijangkau dan diketahui hakikatnya.”[140]

Dan di dalam hadits Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda,

(( مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ ))

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya maka pada hari kiamat dia dikekang dengan tali kekang dari api.”[141]

Dalam riwayat Ibnu Majah,

مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْمًا فَيَكْتُمُهُ إِلاَّ أُتِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ النَّارِ

“Tidaklah seseorang menghafal suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, melainkan pada hari kiamat dia akan datang dalam keadaan dikekang dengan tali kekang dari neraka.”[142]

7. Duduk bersama dengan ahlu bid’ah dan maksiat.

Termasuk penghalang ittiba’ yang paling besar adalah duduk-duduknya seorang hamba bersama ahli bid’ah dan maksiat. Dimana para pelaku keburukan akan memperindah kebatilan yang mereka lakukan dan memperlihatkannya sebagai kebenaran kepada teman-teman duduknya. Jika mereka tidak mampu membalik kebenaran yang ada pada pemikirannya dan merubah pemahamannya, maka mereka akan berusaha memaksanya untuk melakukan kebatilan mereka sebagai basa-basi kepada mereka atau karena takut akan celaan dan olok-olok mereka. Dan jika mereka tidak mampu melakukan hal itu, maka paling tidak dia akan berbasa-basi kepada mereka dengan tidak mengingkari mereka atau tidak melakukan kebenaran yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka.

Oleh karenanya, sangat keras dan besar pengingkaran ulama salaf serta peringatan mereka terhadap ahli sunnah dari bercampur dengan teman-teman duduk yang buruk. Pada kisah Umar z dan Shabigh, Abu Utsman yang meriwayatkannya berkata, “Sesungguhnya Umar menulis surat kepada kami yang berisi, janganlah kalian duduk-duduk bersama dengannya.” Beliau (Utsman-pen) berkata, “Maka jika dia datang untuk duduk bersama kami, sedangkan jumlah kami seratus orang, maka kamipun berpencar menjauh darinya.”[143]

Ibnu Abbas c berkata, “Janganlah engkau duduk bersama ahlul ahwa (orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya-pen). Karena duduk-duduk bersama mereka akan membuat hati sakit.”[144]

Mush’ab bin Sa’ad berkata, “Janganlah engkau duduk bersama orang yang terfitnah (sesat). Karena tidak akan luput darimu salah satu dari dua kemungkinan, engkau terfitnah olehnya sehingga engkau mengikutinya, atau dia akan mengganggumu sebelum engkau meninggalkannya.”[145]

Mufadhdhal bin Muhallil berkata, “Seandainya shahibul bid’ah (ahlu bid’ah) langsung berbicara kepadamu tentang bid’ahnya ketika engkau duduk kepadanya, tentu engkau akan waspada dan lari darinya. Akan tetapi di awal majlisnya, dia akan berbicara kepadamu dengan pembicaraan-pembicaraan sunnah, kemudian dia memasukkan bid’ahnya kepadamu, sehingga kemungkinan bid’ah itu akan menetap di hatimu. Lalu kapan bid’ah itu akan keluar dari hatimu?!”[146]

Seseorang berkata kepada Ibnu Sirin, “Sesungguhnya fulan ingin datang kepadamu dan dia tidak akan berkata sedikitpun.” Beliau berkata, “Katakan kepada fulan, tidak! Dia tidak akan mendatangiku. Karena hati anak Adam itu lemah dan aku takut mendengar satu kalimat darinya lalu hatiku tidak bisa kembali kepada keadaan semula.”[147]

8. Bersandar kepada nash-nash yang lemah dan palsu.

Termasuk penghalang ittiba’ yang terbesar adalah bersandar kepada nash-nash yang lemah dan palsu, menetapkan hukum dengannya dan melakukan penolakan dengannya terhadap kebenaran yang telah tetap dengan nash-nash yang shahih. Sama saja apakah hal itu disebabkan karena kebodohan dan ketidakmampuan mereka untuk membedakan antara nash-nash yang shahih, lemah dan palsu, atau karena tertipu dengan pernyataan sebagian ahli ilmu yang membolehkan amal dengan hadits yang lemah dalam masalah fadhailul a’mal (keutamaan-keutamaan amal). Mereka pura-pura lupa bahwa hal itu ada syarat-syaratnya. Yang terpenting adalah:

Ketika beramal, tidak meyakini keabsahan hadits tersebut, agar tidak menisbatkan kepada Nabi n sesuatu yang beliau katakan.

Hendaknya kelemahan hadits itu tidak parah.

Dan hukum yang ditetapkan oleh hadits lemah itu masuk di bawah dalil yang umum. Sehingga sesuatu yang tidak ada dalilnya atau yang tidak bisa ditetapkan hukumnya dari jalan manapun akan keluar dengan syarat ini (yakni tidak bisa diamalkan-pen).[148]

Inilah sekilas pandangan tentang hakikat ittiba’. Aku hadiahkan kepada kekasih-kekasihku di jalan Allah untuk memurnikan mutaba’ah yang hakiki kepada Nabi terpilih dan tercinta n. Dan agar nampak hakikat pengakuan cinta dari ahli bid’ah, para pengikut thariqah-thariqah dan selain mereka serta sejauh mana penyimpangan mereka dari jalan yang lurus.

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ اْلإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Yang aku inginkan tidak lain hanyalah perbaikan selama aku mampu. Dan taufiq yang aku peroleh hanyalah dengan pertolongan Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya aku kembali.” (QS. Huud: 88).


[1] Lihat lisanul ‘arab (1/416-417), al-Mu’jamul Wasith (1/81)

[2] Al-Bukhari no. 631 lihat Fath al-Bari (2/131-132)

[3] Muslim (4/1986) no. 2564

[4] At-Tirmidzi (5/29) no. 2649 dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi (2/336) no. 2135

[5] Jika ada tatacara dan tujuan yang khusus bagi Nabi n seperti puasa wishol (puasa sejak terbit fajar sampai waktu sahur -pen) atau kewajiban shalat malam, maka tidak boleh menyamai beliau di dalam kekhususan tatacara dan tujuan ini. Akan tetapi perkara ittiba’ berkaitan dengan tujuan-tujuan dan tatacara yang beliau n syariatkan kepada umatnya.

[6] Lihat al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (10/409) dan al-Ihkam karya al-Amidi (1/226, 227)

[7] Lihat al-Ihkam karya al-Amidi (1/227)

[8] Majmu’ Fatawa (10/418). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Nukilan ini datang dengan sanad yang shahih.” Fathul Bari karya Ibnu Hajar (1/569).

[9] Mukhtashorul mukhtashor karya Abul Mahasin al-Hanafi (2/177).

[10] Shahih Muslim (2/951) no. 1311.

[11] Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (10/409).

[12] Al-Ihkam karya Al-Amidi (1/226).

[13] Al-Muwafaqaat karya Asy-Syathibi (2/108).

[14] Tentang penetapan hal ini, lihat Kitab Qa’idah Jalilah fit-Tawassul wal Wasilah (hlm 105, 106) karya Ibnu Taimiyah, al-Fatawa karya beliau (10/409) dan al-Ihkam karya Al-Amidi (1/227, 228). Lihat perbuatan Ibnu Umar di dalam al-Ibanah al-Kubra karya Ibnu Bath-thah (1/240-245).

[15] Lihat Af’aalun Nabi n karya Al-Asyqar (1/235, 236).

[16] Lihat Al-Ihkam karya Al-Amidi (1/228)

[17] Irsyaadul Fuhul (35, 36).

[18] Lihat Shahih Bukhari no. 2807, 5556, Al-Muwafaqaat karya Asy-Syathibi (2/245, 246)

[19] Lihat perkataan Ibnu Sirin yang semisal dengan ini di dalam sunan Ad-Darimi no. 140.

[20] Shahih Bukhari, Fathul Bari (13/504).

[21] Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (1/219).

[22] Riwayat Muslim (3/1343) no: 1718.

[23] Al-I’tisham karya Asy-Syathibi (2/358).

[24] Al-Muwafaqaat (2/333).

[25] Riwayat al-Bukhari, lihat Fathul Bari (4/192). Ibnu Hajar berkata, “Dan perkataan Abu Zinad, ‘sesungguhnya sunnah-sunnah banyak yang datang menyelisihi akal’, seakan-akan beliau mengisyaratkan kepada perkataan Ali, ‘seandainya agama ini (bersandar) dengan akal, tentunya bagian bawah sepatu lebih berhak untuk diusap dari pada bagian atasnya.’ Riwayat ini dikeluarkan oleh Ahmad (1267), Abu Daud (162), Ad-Daruquthni (1/199) dan para perawinya adalah tsiqaat (orang-orang yang terpercaya). Dan banyak yang semakna dengan ini di dalam asy-Syar’iyat.”

[26] Riwayat Ahmad (4/131) dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (1/516) no: 2643.

[27] Riwayat Ad-Darimi (1/77) no: 223.

[28] Tafsir as-Sa’di (7/333).

[29] Riwayat Muslim (3/1343) no: 1718.

[30] Al-I’tisham karya Asy-Syathibi (1/49).

[31] Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (26/172).

[32] Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (4/156).

[33] Riwayat Muslim (1/223) no. 262, lihat Tafsir As-Sa’di (4/230, 231)

[34] Penetapan malam isra’ mi’raj telah dipeselisihkan oleh para ulama dan muncul lebih dari sepuluh pendapat. Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar (7/203). Dan Syaikh Ibnu Baaz memiliki perkataan yang berharga tentang hal ini. Beliau berkata, “Malam terjadinya isra’ dan mi’raj ini tidak ada penentuannya di dalam hadits-hadits yang shahih. Semua riwayat yang datang tentang penentuannya, tidak ada yang shahih dari Nabi n menurut ulama ahli hadits. Dan Allah memiliki hikmah yang dalam dimana Allah menjadikan manusia lupa terhadapnya. Seandainya penentuan malam itu benar, kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan suatu ibadah apapun dan mereka tidak boleh merayakannya. Karena Nabi n dan para sahabat beliau tidak merayakannya dan tidak mengkhususkannya dengan sesuatu apapun. Seandainya perayaan itu adalah perkara yang disyariatkan, tentunya Rasulullah n telah menjelaskannya kepada umat ini dengan perkataan dan perbuatan. Dan seandainya hal itu terjadi, tentunya telah diketahui, dikenal dan para sahabat tentunya telah menukilkannya kepada kita. Sesungguhnya mereka telah menukilkan dari Nabi n segala sesuatu yang dibutuhkan umat ini dan mereka tidak akan meremehkan sesuatupun dari agama ini. Bahkan mereka adalah orang-orang yang pertama kali menuju kebaikan. Maka seandainya perayaan malam ini disyariatkan, pasti mereka adalah orang-orang yang paling pertama melakukannya. Dan Nabi n adalah orang yang paling menghendaki kebaikan bagi manusia. Beliau telah menyampaikan risalah dengan sungguh-sungguh dan telah menunaikan amanah. Maka seandainya pengagungan terhadap malam ini termasuk di dalam agama Islam, tentunya Nabi n tidak akan lalai atau menyembunyikannya. Maka tatkala hal ini tidak terjadi sama sekali, diketahuilah bahwa perayaan dan pengagungan terhadap malam itu bukan dari agama Islam sama sekali.” Lihat Fatwa Lajnah Daimah (3/65).

[35] Lihat Al-Ibda’ fii Bayaani Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtida’ karya Syaikh Ibnu Utsaimin halaman 21, 22.

[36] Lihat Shahih Bukhari dengan Fathul Bari (1/501) no. 321.

[37] Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ (4/165, 166).

[38] Sunan Abi Daud no. 1887. Al-Albani berkata di dalam Shahih Sunan Abi Daud no. 2662, “Hasan Shahih.”

[39] Sunan Abi Daud no. 1888. Di hasankan oleh Al-Arnauth di dalam takhrijnya terhadap Jami’ul Ushul no. 1505.

[40] Lihat pembahasan Imam Asy-Syathibi tentang hal ini di dalam Al-Muwafaqaat (2/300-310).

[41] Riwayat Muslim (3/1263) no. 1642.

[42] Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam (1/30).

[43] Al-Bukhari dengan Fathul Bari (13/264) no. 7288.

[44] Lihat Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam (1/29, 30).

[45] Riwayat Muslim (1/461) no. 664.

[46] Al-Bukhari dengan Fathul Bari (13/264) no. 7288.

[47] Qawa’idul Ahkam fii Mashalihul Anam (1/30).

[48] Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalikai (1/57) no. 87.

[49] Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam (1/176).

[50] Al-Fatawa (1/333-334).

[51] Madarijus Salikin (1/104).

[52] Syarh ath-Thahawwiyah (1/228).

[53] Al-Bukhari bersama Fathul Bari (13/263) no. 7280.

[54] Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalikai (1/71) no. 74.

[55] Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalikai (1/56) no. 15.

[56] Al-Fatawa (10/81).

[57] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (1/358).

[58] Madarijus Salikin (3/22).

[59] Madarijus Salikin (3/37).

[60] Al-Bukhari dengan Fathul Bari (1/75) no. 15.

[61] Al-Bukhari dengan Fathul Bari (11/532) no. 6632.

[62] Lihat syarh Nawawi terhadap Shahih Muslim (2/15).

[63] Lihat Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (3/219) dan Tafsir As-Sa’di (5/293).

[64] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (4/336).

[65] Fathul Qadir (5/282).

[66] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (1/520).

[67] Tafsir As-Sa’di (2/93).

[68] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (3/307).

[69] Ibnu Majah (1/16) no. 43, Syaikh al-Albani menshahihkannya di dalam shahih Ibnu Majah (1/13) no. 41.

[70] Al-Bukhari dengan Fathul Bari (9/5) no. 5063.

[71] Fathul Bari (9/7)

[72] Lihat Adabud Dunya wad Diin karya Al-Mawardi (103-105), Nazhratun Na’im karya beberapa orang pembahas (7/2673).

[73] Shahih Muslim no. 1954, Sunan Ad-Darimi (1/124) no. 446 dan ini lafazh darinya.

[74] Sunan Ad-Darimi (1/127) no. 438.

[75] Sunan Ad-Darimi (1/124) no. 448.

[76] Shahih al-Bukhari no. 9944.

[77] Sunan Ad-Darimi (1/129) no. 443.

*) [Istilah tamattu’ dalam hadits tentang haji mengandung dua kemungkinan makna, makna khusus dan umum. Tamattu’ secara khusus – sebagaimana istilah ahli fiqih – adalah melakukan ihram untuk umrah di bulan haji kemudian tahallul dan diteruskan dengan ihram untuk haji. Adapun secara umum mencakup istilah tamattu’ secara khusus tersebut dan juga qiran, yaitu menggabungkan ibadah haji dengan umrah. Lihat tafsir Ibnu Katsur surat Al-Baqarah ayat 196 –pen.]

[78] Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (2/1210) no. 2381.

[79] Ad-Darimi (1/124) no. 247.

[80] Ad-Darimi (1/72) no. 204.

[81] Shahih al-Bukhari no. 6308.

[82] Tafsir Ibnu Katsir (2/235).

[83] Al-Bukhari dengan Al-Fath (1/135).

[84] Lihat perkataan Ash-Shiddiq di dalam al-Bukhari no. 3093, dan komentar Ibnu Bath-thah di dalam al-Ibanah al-Kubra (1/245, 246).

[85] Badai’ut Tafsir al-Jami’ litafsir Ibnil Qayyim (3/422).

[86] Muslim (1/62) no. 34.

[87] Lihat Adh-Dhau al-Munir ‘ala at-Tafsir karya Ash-Shalihi (2/253, 254).

[88] Tafsir As-Sa’di (7/305).

[89] Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (10/10).

[90] Muslim (1/534) no. 770.

[91] Ibnu Majah (1/92) no. 251, dishahihkan oleh Al-Albani di dalam shahih Ibnu Majah (1/47) no. 203.

[92] Abu Daud (5/327) no. 5094, dishahihkan oleh Al-Albani di dalam shahih Abu Daud (3/959) no. 4248.

[93] Abu Daud (5/298) no. 506, dishahihkan oleh Al-Albani di dalam shahih Abu Daud (3/952) no. 4219.

[94] At-Tirmidzi (5/56) no. 3373, dihasankan oleh Al-Albani di dalam shahih At-Tirmidzi (3/138) no. 2686.

[95] Al-Bukhari dengan al-Fath (1/192).

[96] Al-Mustadrak karya At-Tirmidzi (1/93), dishahihkan Al-Albani di Shahih al-Jami’ (1/566) no. 2937.

[97] Tafsir As-Sa’di (7/80).

[98] Al-Bukhari dengan Fathul Bari (5/306) no. 2651.

[99] At-Tirmidzi (5/6) no. 2641, dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahih at-Tirmidzi (2/334) no. 2129.

[100] Syarh ath-Thahawiyah (2/546).

[101] Abu Daud (5/168) no. 4833, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Daud (3/917) no. 4046.

[102] Al-Bukhari dengan Fathul Bari (9/577) no. 5534.

[103] Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (1/60) no. 32.

[104] Idem (4/60) no. 30.

[105] Idem (1/60) no. 31.

[106] Al-Ibanah al-Kubra karya Ibnu Bath-thah (1/205) no. 33.

[107] Idem (2/438) no. 371.

[108] Idem (2/437) no. 369.

[109] Lihat Haqiqatul Bid’ah wa Ahkamuha karya Al-Ghamidi (1/177, 178, …).

[110] Tafsir As-Sa’di (3/22).

[111] Lihat Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (14/22).

[112] Madarijus Salikin (1/378).

[113] Fii Zhilaalil Qur’an (4/2227).

[114] Al-Bukhari dengan Fathul Bari (1/23) no. 100.

[115] Muslim (2/746, 747) no. 1066.

[116] Ad-Darimi (1/84) no. 252.

[117] Idem (1/84) no. 253.

[118] Lihat Tafsir As-Sa’di (6/33).

[119] Abu Daud (5/5-6) no. 4597, dihasankan Al-Albani di dalam shahih Abi Daud (3/869) no. 383.

[120] At-Tirmidzi (5/575) no. 3591, dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih At-Tirmidzi (3/184) no. 2840.

[121] Lihat Fatawa karya Ibnu Taimiyah (28/131-133).

[122] Al-Bid’ah Asbaabuha wa Madhaarruha karya Syaltut halaman 24.

[123] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (2/108, 109).

[124] Fathul Qadir (4/431).

[125] Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (2/1209-1210) no. 2377.

[126] Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Al-Lalikai (1/903) no. 130.

[127] I’laamul Muwaqqi’in (2/135).

[128] Idem (2/201).

[129] Idem (2/201).

[130] Idem (2/202).

[131] Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (20/164).

[132] Ar-Risalah fi Ushulil Hanafiyah karya Al-Karkhi, 169-170, (dicetak bersama kitab Ta’sis An-Nazhar karya Ad-Dabusi).

[133] Lihat Al-I’tisham karya Asy-Syathibi (2/349).

[134] Syarh Ath-Thahawiyah (1/231) dan lihat Shahih Bukhari dengan Fathul Bari (13/512).

[135] Al-Bukhari dengan Al-Fath (8/57) no. 4547.

[136] Muslim (1/12) no. 6.

[137] Ad-Darimi (1/53) no. 119.

[138] Siyar A’laamin Nubalaa (4/472).

[139] Muslim (1/14).

[140] Fathul Qadir (1/238).

[141] At-Tirmidzi (5/29) no. 2649.

[142] Ibnu Majah (1/96) no. 261, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah (1/49) no. 210.

[143] Al-Ibanah al-Kubra karya Ibnu Bath-thah (1/414) no. 329.

[144] Idem (2/438) no. 371.

[145] Idem (2/442) no. 385.

[146] Idem (2/444) no. 394.

[147] Idem (2/446) no. 399.

[148] Lihat Al-I’tisham karya Asy-Syathibi (1/228-231).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: