h1

Masa Sebelum Kenabian

September 25, 2007

Keadaan Alam (Dunia) ketika diutusnya Rasululloh .

Manusia pada abad ke-6 dan ke-7 masehi hidup dalam kegelapan dan kebodohan, ketika telah tersebar merata paganisme, khurofat, fanatisme kebangsaan, rasialisme dan kesenjangan antara tingkatan kehidupan manusia dalam tatanan sosial kemasyarakatan dan politik serta penyimpangan-penyimpangan yang sangat jauh dari fitrohnya mereka. Kemudian semua pemikiran dan ajaran yang membawa kepada perbaikan manusia baik yang datang dari para Nabi dan Rasul yang diturunkan kepada mereka ataupun dari para tokoh cendikiawan dan ahli hikmah yang masih berada diatas fithrohnya yang benar telah tersimpangkan dan dibuang jauh-jauh dari kehudupan mereka, sehingga benar-benar mereka menjadi masyarakat yang rusak dan jauh dari kebenaran. Keadaan ini merata kecuali pada sekelompok ahli kitab yang masih berpegang teguh dengan agama mereka yang benar dan belum tersimpangkan, namun mereka inipun telah habis seluruhnya atau sebagian besarnya menjelang kenabian Muhammad. Hal ini digambarkan oleh rasululah r dalam sabdanya:

وَإِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ.

Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi lalu merka kepada mereka baik Arab atau Ajamnya kecuali sebagian kecil ahli kitab.[1]

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ketahuilah sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus Muhammad kepada seluruh makhluk pada zaman fatroh dalam keadaan telah murka kepada penduduk bumi baik Arab atau A’jamnya kecuali sisa ahli kitab. Merekapun telah meninggal dunia seluruhnya atau hampir seluruhnya menjelang kenabiannya. Manusia ketika itu, adalah satu dari dua keadaan; Ahli kitab yang berpegang teguh kepada kitab, ada kalanya sudah dirubah dan ada kalanya sudah dirubah dan dihapus hukumnya dan ada kalanya agama yang telah lenyap, yang sebagiannya tidak diketahui dan yang lainnya ditinggalkan, atau ummie (buta huruf) dari orang Arab dan A’jam yang senang beribadah kepada apa saja yang ia anggap baik dan bermanfaat, berupa bintang, berhala, kuburan, patung atau yang lainnya.

Manusia dalam keadaan jahiliah yang sangat bodoh, menyakini pernyataan dan pendapatnya sebagai ilmu ternyata itu adalah kebodohan dan menyakini amalan-amalannya sebagai amalan sholeh ternyata rusak. Paling baiknya mereka dalam ilmu dan amal adalah memiliki sedikit ilmu warisan para Nabi terdahulu yang telah bercampur antara kebenaran dan kebatilannya atau melakukan sedikit amalan yang disyari’atkan dan kebanyakan amalannya bid’ah yang hampir tidak memberikan pengaruh dalam kebaikannya walaupun sedikit atau bersungguh-sungguh meneliti seperti kesungguhan para filosof lalu seluruh pikirannya lebur dalam perkara materi dan hitungan serta perbaikan akhlak, sampai mencapai –jika berhasil- setelah susah payah yang tidak dapat disifatkan kepada sedikit kata yang membingungkan, tidak mendapatkan ilmu ilahi, kebatilannya lebih banyak berlipat-lipat dari kebenarannya- jika berhasi;-. Namun bagaiman bisa berhasil dengan banyaknya perselisihan diantara ahlinya dan kebingungan serta tidak adanya dalil dan sebab”.[2]

Demikianlah keadaan dunia menjelang kelahiran Rasululloh r , namun dalam pembahasan kita ini, kita hanya membatasinya dengan pembahasan mengenai jaziroh Arabiyah dan kondisinya agar dapat terlihat jelas hikmah dan nikmat yang Allah karuniakan kepada kita semua.

I. Jaziroh Arab

 

Siroh Rasulullah e tidak lepas dari tempat dan bangsa yang hidup bersama beliau r , sehingga perlu digambarkan terlebih dahulu keadaan jazirah arab sebagai tempat diutusnya beliau dan bangsa Arab sebelum Islam dan perkembangannya sebagai satu kaum yang Allah U persiapkan untuk menerima dakwah Rasulullah e yang pertama kali.

I.1. Nama, Letak geogarfis dan Iklim Jaziroh Arabiyah

Banyak nama menunjukkan kemulian sesuatu, demikian menurut istilah bangsa Arab, oleh karena itu jazirah Arabiyah memiliki nama yang cukup banyak, diantaranya Jaziroh Al Arab, Al Jaziroh Al Arabiyah, Ardhu Al Arab, Diyaar AL Arab, Syibhu Jazirat Al Arab, Syibhu Al Jaziroh Al Arabiyah.[3]

Jaziroh bermakna daerah yang terpisah dari lautan dan dinamakan jaziroh Karena terpisah dari kebanyakan bumi. Sedangkan Arab secara etimologi berarti padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tidak ada air dan tanaman. Sebutan ini telah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab.

Adapun letak geografisnya, jazirah Arab dibatasi oleh laut merah dan gurun sinai disebelah barat, teluk Arab dan sebagian besar negara iraq bagian selatan disebelah timur, laut Arab yang bersambung dengan samudra hindia disebelah selatan, negeri Syam dan sebagian kecil dari negeri iraq disebelah utara, dan luas jazirah Arab diperkirakan membentang antara satu juta mil2 sampai satu juta seribu tiga ratus mil2

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Nama Arab pada asalnya adalah nama untuk satu kaum yang memiliki tiga hal;

Pertama: Bahasa mereka bahasa Arab,

kedua: Mereka keturunan Arab

ketiga: tempat tinggal mereka adalah Jaziroh Al Arab membentang dari laut Qalzuum sampai Laut Bashroh dan dari ujung hijr Yamamah sampai permulaan negeri Syam, dimana yaman termasuk dalam wilayah mereka dan Syam tidak masuk dalam wilayahnya. Diwilayah inilah bangsa Arab bermukim ketika diutus Rasululoh dan sebelumnya”[4]

Sehingga dapat disimpulkan bahwa jazirah Arab dibatasi oleh tiga laut yaitu disebelah barat, selatan dan timur. Jazirah Al Arab dibatasi oleh laut Qalzuum (laut merah) disebelah barat, laut Arab atau laut Yaman disebelah selatan dan teluk Bashroh atau telauk Arab disebelah timur. Inilah batasan yang telah disepakti para muhaditsin, Fuqaha, Ahli sejarah dan Geografie serta yang lainnya. Sedangkan sebelah utaranya dibatasi oleh pinggiran laut merah sebelah timur laut dari pinggiran negeri Syam dan sekitarnya yang sekarang dikenal dengan Yordania.[5]

Jazirah Arab memiliki arti penting yang besar, karena letak geologis dan geografisnya, sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, jazirah Arab hanya dikelilingi oleh gurun dan pasir dari segala sudut, oleh karena itu jadilah dia sebuah benteng yang kokoh yang mencegah masuknya orang asing yang ingin menjajahnya, dan ini menyebabkan mereka bisa hidup merdeka dan bebas dari segala urusan sejak dahulu kala, padahal mereka bertetangga dengan dua imperium besar yang tidaklah mereka mampu menahan serangannya andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh ini

Adapun dilihat dari kondisi hubungan eksternal,maka jazirah Arab terletak diantar benua-benua yang terkenal dalam dunia lama, dan dia mempertemukan benua-benua tersebut daratan ataupun lautan, karena sebelah barat laut merupakan pintu masuk benua Afrika, dan sebelah timur laut merupakan kunci masuk benua eropa, dan sebelah timur merupakan pintu masuk bangsa-bangsa Ajam (Non Arab), timur tengah dan timur dekat, dan terus membentang ke India dan Cina, demikianlah jaziroh Arab merupakan tempat pertemuan laut antar benua, sehingga menjadi bandara yang ramai.

Adapun iklimnya terbagi menjadi 5 bagian:

1. Iklim Tihaamah

2. Iklim Hijaz

3. Iklim najd

4. Iklim Al Yaman

5. Iklim Al ‘Arudh dan dinamakan juga Al Yamaamah

6. Iklim Omaan dan ini masuk dalam iklim Al Yaman

Diantara Iklim ini yang sangat bersinggungan langsung dengan kehidupan Rasululloh adalah iklim Hijaz, walaupun seluruh iklim ini memiliki hubungan yang tidak kalah penting dengan sirah Nabawiyah dan perkembangan Islam didunia.

I.2. Kaum-kaum Bangsa Arab

 

Para ahli sejarah membagi bangsa Arab ditilik dari asal muasalnya menjadi 3 bagian, yaitu:

a. Arab Baa’idah, yaitu bangsa Arab kuno,yang sukar untuk diketahui perincian sejarahnya, seperti kaum ‘Ad, Tsamud, jadis dan ‘Amlaaq

b. Arab ’Aaribah, yaitu bangsa Arab yang berasal dari keturunan Ya’rib bin Yasyjab bin Qahthon, yang dikenal dengan Arab Qohthoniyah

c Arab Musta’robah, yaitu bangsa Arab yang berasal dari keturunan Isma’il bin Ibrohim, yang dikenal dengan Arab Adnaniyah

Sedangkan Arab ‘Aaribah atau bangsa Qahthon tempat asalnya adalah Yaman, lalu berkembang menjadi kabilah-kabilah yang banyak. Diantara yang terkenal adalah :

a. Himyar , dan dari suku-sukunya yang terkenal :Zaid Al Jumhur, Qadho’ah dan Al Sakaasik.

b. Kahlan, dan diantara suku-sukunya yang terkenal: Hamdaan, Anmaar, Thoi, Madzhaj, Kindah, Lakhm, Jidzaam, Al Azd, Al Aus, Al Khodzroj dan anak turunan Jafnah penguasa-penguasa Syam.

Suku-suku dari kabilah kahlan berhijroh dari yaman dan tersebar di Jaziroh Arab, dan kebanyakan hijroh mereka terjadi sebelum terjadinya banjir (sail arim) ketika mereka gagal dalam perdagangannya, karena tekanan dari Rumawi dan kekuasaannya terhadap jalur-jalur perdagangan laut serta pengrusakan (bangsa Rumawi) jalan-jalan darat setelah mereka menguasai negeri mesir dan Syam. Apalagi tidak tertutup kemungkinan adanya persaingan yang keras antara kabilah Kahlan dengan Himyar yang menyebabkan hijrohnya Kahlan dari Yaman[6].

I.3. Karekteristik dan keutamaan Jaziroh Arabiyah.

Diantara keutamaan dan kekhususan Jaziroh Arab secara umum adalah :

  1. Jaziroh Arab adalah tanah suci Islam (haramul Islam).[7]
  2. Syeitan putus asa mengajak penghuninya menyembah selain Allah, sebagaimana sabda Rasululloh:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
Sesungguhnya Syeitan putus asa disembah oleh orang-orang yang sholat di jaziroh Arab akan tetapi berusaha memecah belah mereka[8]
Makna hadits ini, syetan putus asa dari bersatunya ahli jaziroh Arab untuk berbuat syirik. Sebagian ulama memandang keumuman hadits ini kepada seluruh umat Muhammad, seperti pernyataan Ibnu Rajab: ‘yang dimaksud adalah putus asa mengajak umat Islam seluruhnya bersatu berbuat kesyirikan besar’. Dengan dasar makna ini maka penyebutan jaziroh Arab dalam hadits ini karena keutamaan dan keistimewaannya sebagai asal negara islam dan penduduknya adalah asal kaum muslimin.
  1. Jaziroh Arab adalah wakaf islam untuk pemeluknya dan peninggalan nabi untuk umatnya agar mereka menjaganya dalam wasiat terakhir beliau.
  2. Islam ketika ditekan di negaranya diluar jaziroh akan berlindung ke jaziroh Arab dan kembali kesana, lalu mendapatkan sambutan hangat setelah terasingkan, sebagaimana sabda rasululloh :

إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ وَهُوَ يَأْرِزُ بَيْنَ الْمَسْجِدَيْنِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ فِي جُحْرِهَا

Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti awalnya dan ia akan kembali kedaerah diantara dua masjid sebagaimana ular kembali kelubangnya.[9]

I.4. Karekteristik dan keutamaan bangsa Arab.

Bangsa Arab adalah bangsa besar yang menimbang dan mengukur kehidupan ini dengan timbangan yang berbeda dengan umat lainnya, mereka menimbangnya pada satu etika yaitu kemuliaan dan nama baik. Memang bangsa Arab dahulu sebelum diutusnya Rasululloh n merupakan umat yang memiliki akhlak terbaik, karena mereka memiliki sebagian akhlak mulia yang menjadi warisan agama nabi Ibrohim, namun mereka kufur dari banyak syari’at nabi Ibrohim. Karena itulah Allah mengutus Muhammad untuk menyempurnakan akhlak mereka dengan membersihkan jiwa mereka dari akhlak yang buruk, sehingga menjadi umat yang bertakwa.. Rasululloh bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Rasululloh bersabda: “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.[10]

Islam mempertahankan akhlak mulia yang dimiliki bangsa Arab, seperti dermawan, memuliakan tamu dan lain-lainnya, lalu menyempurnakannya dengan menghapus akhlak buruk mereka.

Demikianlah Allah memilih kemunculan Islam pada mereka, tentu itu karena keistimewaan yang dimiliki bangsa Arab dan jazirohnya. Allah memilih Rasululloh dari mereka, sehingga kenabian berasal dari keturunan mereka lalu mereka terpilih sebagai pengemban tugas menyebarkan risalah Islam yang pertama dan jadilah keyakinan akan keutamaan mereka sebagai salah satu pokok aqidah seorang muslim. Syeikhul Islam Ibnu Taiomiyah berkata:

‘Diantara ajaran Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah meyakini jenis Arab lebih utama dari jenis A’jam baik jenis Ibranie, Suryanie, Rumawi, farsie dan selainnya dan Quraisy adalah suku terbaik Arab dan bani Hasyim adalah bani terbaik Quraisy dan Rasulullohadalah anggota bani Hasyim yang paling utama, dialah makhluk terbaik dalam pribadi dan nasabnya. Bukanlah keutamaan Arab, kemudian Quraisy kemudian bani Hasyim sekedar karena nabi dari mereka- walaupun ini satu keutamaan-, bahkan mereka sendiri itu terbaik. Dengan demikian terbuktilah bahwa Rasululloh adalah orang yang paling utama diri dan nasabvnya. Jika tidak maka harus terjadi daur[11]”.[12]

Syeikh Thohir bin ‘Asyuur memberikan pernyataan tentang hal ini dalam pernyataan beliau di kitab Maqaashid Al Syari’at Al Islamiyah hal 93.: ‘Allah memiliki hikmah yang agung dalam memilih seorang Arab untuk mengemban risalah islam ini. Sekarang bukanlah tempat menjelaskan pengetahuan saya tentang hikmahnya dan Allah telah berfirman:

Allah lebih mengetahui ketika menjadikan risalahNya”

Kami berkata : Sungguh Rasul ketika beliau seorang arab maka secara otomatis berbicara dengan bahasa Arab, sehingga mengharuskan orang yang menerima syariatnya memiliki kemampuan bahasa Arab. Maka Arablah pengemban risalah islam kepada sekalian orang yang berbahasa Arab dan mereka termasuk dalam kumpulan ini. Kemudian Allah memilih mereka untuk memanggul amanah ini, karena mereka memiliki keistimewaan dari seluruh umat yang ada dengan berkumpulnya empat sifat yang tidak dimiliki umat lain dalam sejarah. Sifat tersebut adalah kejernihan pikiran, kuat hafalan, peradaban dan syariat yang sederhana dan jauhnya dari percampuran umat dunia yang lainnya.

Mereka dengan sifat pertama mampu memahami dan menerima agama dan dengan sifat kedua mampu menghafalnya dan tidak ada kebimbangan dalam menerimanya. Dengan sifat ketiga mampu cepat berakhlak dengan akhlaknya; karena mereka lebih dekat kepada fithroh yang selamat dan tidak memiliki syari’at yang baku dan mewakili sehingga mereka sungguh-sungguh bela mati-matian dan dengan sifat keempat mampu bergaul dengan seluruh umat, kare tidak terdapat permusuhan diantara mereka dengan umat lain, karena perseteruan Arab tidak lain hanya ada diantara kabilah mereka berbeda dengan bangsa farsi dengan rumawi dan seperti Al Qibthie dengan orang-orang Israil. [13]

(kholid syamhudi, www.ustadzkholid.wordpress.com )


[1] Hadits Riwayat Muslim dalam Shohihnya, kitab Al Jannah Wa Sifat na’imiha, hadits no.5109.

[2] Iqtidha’ Al Shirat AL Mustaqiem Li Mukholafati Ashhabi AL Jahim, oleh Ibnu Taimiyah , Cetakan ke-5 tahun 1417 H, tahqiiq DR. Nashir bin Abdilkarim Al Aql, maktabah Al Rusyd, Riyaadh, KSA 1/63-64.

[3] Khoshaaish Jazirah Al Arab, oleh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, Cetakan ke-3 tahun 1421, Mathobi’ Adhwa’ Al bayaan, KSA, hal 13

[4] Iqtidha Al Shirath AL Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah, op.cit 1/406.

[5] Lihat Khashaaish Jaziroh AL Arab, oleh Bakr bin Abdillah Abu Zaid op.cit hlm 15-16.

[6] Disarikan dari kitab Rahiiqul Makhtum oleh Shofiyur Rohman Al Mubarokfury hal.15-16

[7] dari fatwa Lajnah Daimah no 21413 pada tanggal 1 Robiul Tsanie 1421 H.

[8] Riwayat Muslim dalam Shohihnya kitab Shifat Al Qiyamah wal Jannah wa Al Naar, bab Tahrisy Al Syaithon, no 2812 dan Al Tirmidzie dalam sunannya kitab Al Bir wa AL Shilah An Rasulillah, bab ma ja’a fi Tabaghudh no. 1937 dan Ahmad dalam Musnadnya 3/313 dan 354.

[9] diriwayatakan imam Muslim dalam Shohihnya kitab Al Imaan bab Bayaan Ana Al Islam Bada’a Ghoriban.. no 146.

[10] Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan lafadz ini dalam Musnadnya 2/381, imam Al Haakim dalam Mustadraknya 2/613, imam Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrad no. 273 dan Tarikh Al Kabiir 4/1/188, Ibnu Sa’ad dalam Thobaqatnya 1/192, Al Qadha’iy dalam Musnad Asy Syihaab no. 1165, Al Khorooithiy dalam Makarimul Akhlak Wa Ma’alimiha hal 2 dan Ibnu ‘Asaakir dalam Tarikh Dimasqi 6/267/1.

[11] Daur adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan tertin sesuatu atas yang lainnya, dimana tidak ada satu kecuali dengan adanya sesuatu yang lain atau sebaliknya.

[12] Iqtidha’ Al Shirath Al Mustaqim karya Ibnu Taimiyah op.cit 1/274-275

[13] dinukil dari khoshoish Jazirat Al Arab karya Syeikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, hal 60-61.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: