h1

Keadaan Arab sebelum Kenabian (lanjutan 2)

September 25, 2007

1.5. Kondisi politik, keagamaan dan social di Jaziroh Arabiyah

             Ketika kita akan berbicara tentang kondisi bangsa Arab sebelum Islam, tampaknya perlu memberikan gambaran sekilas tentang kondisi politik, keagamaan dan social mereka sehingga memudahkan kita mengenal keadaan yang ada ketika islam muncul.

1.5.1. Sistem Pemerintahan dan Politik

            Pemerintahan Arab sebelum datangnya Islam dapat dibagi menjadi dua ; kerajaan, namun tidak merdeka penuh dan kepemimpinan kepala suku yang sama dengan kekuasaan seorang raja. Bangsa Arab hampir seluruhnya merdeka dibawah pimpinan kepala suku dan sebagian lainnya dibawah kekuasaan kerajaan.

Kerajaan ini dapat diwakili oleh kerajaan Yaman, Alighasaan (di Syam)dan Al Hieroh.

 

1. Kerajaan di Yaman.

Bangsa Arab Al Aribah yang terdahulu yang dapat diketahui beritanya adalah kaum Saba’ yang disebutkan dalam Al Qur’an. Allah berfirman:

 فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَالَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ  إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ اللهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لاَيَهْتَدُونَ  أَلاَّيَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَاتُخْفُونَ وَمَاتُعْلِنُونَ اللهُ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ اذْهَب بِّكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ قَالَتْ يَآأَيُّهَا الْمَلَؤُا إِنِّي أُلْقِيَ إِلَىَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أَلاَّتَعْلُوا عَلَىَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ قَالَتْ يَآأَيًّهَا الْمَلَؤُا أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَاكُنتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونَ قَالُوا نَحْنُ أُولُوا قُوَّةٍ وَأُوْلُوا بَأْسٍ شَدِيدٍ وَاْلأَمْرُ إِلَيْكِ فَانظُرِي مَاذَا تَأْمُرِين قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَآ أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ فَلَمَّا جَآءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَآ ءَاتَانِىَ اللهُ خَيْرٌ مِّمَّا ءَاتَاكُم بَلْ أَنتُم بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُم بِجُنُودٍ لاَّقِبَلَ لَهُم بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُم مِّنْهَآ أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ قَالَ يَآأَيُّهَا الْمَلَؤُا أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَن يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ الْجِنِّ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَءَاهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونَ مِنَ الَّذِينَ لاَيَهْتَدُونَ فَلَمَّا جَآءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ  وَصَدَّهَا مَاكَانَتْ تَعْبُدُ مِن دُونِ اللهِ إِنَّهَا كَانَتْ مِن قَوْمٍ كَافِرِينَ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّن قَوَارِيرَ قَالَتْ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata:”Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai’Arsy yang besar”. Berkata Sulaiman:”Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. Berkatalah ia (Balqis):”Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya:”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkatalah dia (Balqis):”Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”. Mereka menjawab:”Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. Dia berkata:”Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata:”Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”. Berkata Sulaiman:”Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin:”Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya”. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab:”Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:”Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. Dia berkata:”Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya:”Serupa inikah singgasanamu” Dia menjawab:”Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. Dikatakan kepadanya:”Masuklah ke dalam istana”.Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya.Berkatalah Sulaiman:”Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis:”Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam”. (QS. Al Naml 27: 22-44)

Mereka diketahui dalam penelitian ahli sejarah telah hidup sejak abad ke-25 sebelum masehi (SM) dan terus berkembang dan memiliki kekuasaan besar sampai abad ke-11 SM[1]

Dapat kita ringkas sejarah kerajaan Yaman ini kedalam perkiraan dibawah ini:

  1. Masa sebelum tahun 250 SM.. raja-raja saba’ dizaman ini bergelar Makrib Saba’ dan ibukotanya Shorwaah yang terdapat peninggalannya di sebelah barat kota Ma’rib sejauh perjalanan sehari. Tempat ini dikenal dengan nama Khoribah. Dizaman inilah dimulai pembangunan bendungan tertua yang dikenal dengan Sad Ma’rib (bendungan Ma’rib).
  2. Sejak tahun 250 SM sampai tahun 115 SM berubah gelar raja-raja mereka dengan gelar Muluk Saba’ (raja-raja Saba’) dengan ibukotanya Ma’rib. Peninggalannya masih ada disebelah timur kota Shon’a berjarak 60 mil.
  3. Sejak tahun 115 SM sampai 300 M kabilah Himyaar dapat mengalahkan kerajaan Saba’ dan menjadikan kota Ridaan sebagai ibukotanya menggantikan Ma’rib. Kemudian kota Radaan ini dikenal dengan kota Dzifaar dan peninggalannya masih ada disekitar pegunungan dekat kota Yariem. Pada masa ini mulailah kerajaan Yaman mundur dan mulailah suku-suku Al Qahthoniyah melakukan imigrasi kedaerah-daerah sekitarnya. Diantara sebab kemunduran ini adalah munculnya kekuasaan Al Anbaath[2] yang telah menguasai utara Hijaaz dan kekuasaan Rumawie yang telah menguasai jalur perdagangan laut setelah menguasai Mesir, Suria dan sebelah utara Hijaaz serta adanya persaingan diantara suku-suku Arab Yaman.

4.      sejak tahun 300 M sampai islam masuk ke Yaman. Dalam masa ini terjadi keguncangan politik dan kudeta berdarah yang berturut-turut serta perang saudara yang membawa Yaman tunduk dibawah imperalis asing. Pada masa ini Rumawi berhasil menduduki ‘Aden dengan dengan bantuan mereka kerajaan Habasyah berhasil menduduki Yaman pertama kali pada tahun 340 M dengan memanfaatkan perseteruan antara suku Hamadaan dan Himyaar dan berlangsung pendudukan ini sampai tahun 378 M kemudian Yaman merdeka kembali,[3] namun terjadi musibah besar setelah itu yaitu hancurnya bendungan Ma’rib yang menjadi sumber kenikmatan dan kemakmuran mereka, peristiwa ini dikenal dengan Sail Al ‘Ariem pada tahun 450 atau 451M[4]. peristiwa ini Allah abadikan dalam Al Qur’an dalam firmanNya:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ  ذَلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلاَّ الْكَفُورَ

Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan):”Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka.Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba’ 34:15-17)

Pada tahun 523 M Raja Yaman yeng bernama Dzu Nuwaas berusaha memalingkan orang-orang nashroni dari agama mereka, ketika mereka enggan maka mereka dibakar di dalam parit yang telah disediakan. Kejadian ini menurut ahli sejarah adalah kejadian yang Allah abadikan dalam Al Qur’an dalam firmanNya:

 

Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk disekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orangyang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang yang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Alllah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al Buruj 85:5-9)

Ini menjadi sebab yang digunakan Rumawi untuk memprovokasi kerajaan Habasyah untuk menguasai Yaman yang kedua kali dibawah pimpinan Aryaath tahun 525 H. ia tetap memimpin sampai dibunuh Abrahah. Kemudian Abrahah memimpin Yaman dan berusaha menghancurkan Ka’bah.[5]

Setelah meninggalnya Abrahah, bangsa Yaman meminta bantuan Farsi untuk mengusir orang habasyah dan dibantu sehingga tahun 575 H dibawah pimpinan Ma’dikarib bin Saif bin Dzi Yazin Al Himyarie berhasil mengusirnya  dan menjadi raja Yaman lalu ia terbunuh dan akhirnya Yaman dipimpin seorang Farsi yang bernama Baadzaan bin Saasaan[6] yang memeluk Islam pada bulan Jumada Ula tahun ke-7 H atau 628[7], kemudian Rasululloh mengangkat anaknya yang bernama Syahr binBaadzaan sebagai penggantinya.

Ibnul Qayyim menjelaskan tentang hal ini dalam pernyataan beliau: ‘Diantara amir-amir yang diangkat Nabi adalah Baadzaan bin Saasaan dari keturunan Bahram Jur. Rasululloh mengangkatnya sebagai amir seluruh Yaman setelah kematian kisra’. Beliau adalah amir yaman pertama yang masuk Islam dan raja A’jam pertama yang masuk Islam. Kemudian setelah kematian Baadzaan Rasululloh mengangkat anaknya yang bernama Syahru bin Baadzaan sebagai amir Shon’a dan sekitarnya”.[8]

 

2. Kerajaan di Al Hierah

            Farsie menguasai Iraq dan sekitarnya sejak disatukan kekuatan mereka oleh Quruusy Agung tahun 557-529 S.M, kemudian dihancurkan oleh Iskandar Agung Al Makedonie tahun 326 SM lalu yang berkuasa hanyalah kerajaan kecil sampai tahun 330 M. Pada masa raja-raja kecil inilah bangsa Arab Qahthoniyah berimigrasi dan menetap di sebagian kecil wilayah rief (pinggiran selatan) Iraq lalu disusul Al Adnaniyah dan berhasil menempati satu wilayah dari Jazirah Al Furatiyah.

            Ardatsier pendiri kerajaan Sasaaniyah mengumpulkan kekuatan farsie sejak 226 M dan berhasil menyatukan farsi dan menguasai bangsa Arab yang tinggal disekitar wilayah kerajaannya. Inilah yang menyebabkan suku Qudha’ah berimigrasi ke Syam sedang penduduk Al Hierah dan Al Anbaar bergabung dengan Ardasyier. [9] pada zaman Ardasyier ini yang memimpin bangsa Arab di Al Hierah adalah Jadziemah Al Wadhooh, tampaknya Ardasyier memandang tidak akan mampu memimpin langsung bangsa Arab dan tidak mampu menghalau mereka menggangu wilayah kerajaannya kecuali dengan mengangkat seorang raja dari mereka yang memiliki loyalitas kepadanya, disamping itu ia ingin menggunakan mereka melawan kerajaan Rumawie. Ia menempatkan satu battalion pasukan berkudanya untuk membantu raja Arab tersebut dalam memimpin dan mengatur bangsa Arab agar dapat menghadang kepentingan Rumawie dan Arab Syam. Kemudian setelah wafatnya Jaziemah kekuasaan Arab pindah ke suku Lakhm dengan rajanya Amru bin ‘Adie Al Lakhmie pada masa kisra Saabuur bin Ardasyier sampai masa kekuasaan Qabaadz bin Fairuz. [10]

            Diantara raja-raja Al Hierah yang terkenal adalah Al Nu’maan bin Al Mundzir yang berhasil mengalahkan pasukan Farsi dalam perang Dzi Qaar [11]setelah kelahiran Nabi. Kejadian ini adalah kemenangan pertama Arab atas A’jam, sehingga Rasululloh bersabda:

هَذَا أَوَلُ يَوْمٍ انْتَصَفَ الْعَرَبُ فِيْهِ مِنَ الْعَجَمِ وَبِيْ نُصِرُوْا

Inilah hari pertama kemenangan Arab dari A’jam dan dengan sebabku mereka menang.[12] Namun hadits ini lemah (dho’if).

3. Kerajaan Syam.

            Pada masa imigrasi Arab dari negeri mereka, beberapa suku dari Qudha’ah berimigrasi ke pinggiran Syam dan menetap disana. Mereka ini berasal dari bani Salieh bin Halwaan yang melahirkan bani Dhaj’am bin Salieh yang dikenal dengan Dhaja’amah yang dimanfaatkan Rumawie untuk melawan Arab pedalaman berbuat keonaran dan untuk senjata melawan Farsi. Lalu mereka mengangkat seorang raja untuk mereka, kemudian silih berganti raja Dhaja’imah ini sampai dikalahkan suku Ghasaasinah. Kemudian Ghosaasinah ini mejadi penguasa boneka Rumawie sampai terjadi perang Yarmuk tahun 12 H (634 M) dan raja terakhir mereka yang bernama Jabalah bin Al Aiham masuk Islam pada masa pemerintahan Umar bin Al Khothob[13].

 

4. Selain ketiga kerajaan ini.

            Adapun bangsa Arab lainnya mereka dipimpin oleh kepala suku atau kepala kabilah. Mereka ini layaknya seperti raja dan memiliki hak-hak khusus seperti Al Marbaa’[14], Al Shofaa[15], Al Nasyithoh[16] dan Al Fudhul[17] .[18] Para kabilah ini sangat mematuhi segala titah dan perintah kepala sukunya yang didasari oleh kesatuan fanatis golongan dan keluarga.

 

 

 




[1] Lihat Al Rahiqul Al Makhtum karya Shofiyurrahman Al Mubarakfurie, cetakan ke-6 tahun 1418 H, Rabithoh Al Alaam Al Islami, Jeddah, KSA. Hal 28 dan Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 59.

[2] Al Anbaath adalah anak keturunan Nabiet bin Ismail yang menguasai wilayah utara Hijaaz.

[3] Lihat Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 59 dan Rahiqul Makhtum karya Shofiyurrohman Al Mubarakfuri,op.cit hal 28-29.

[4] Dinukil dari kitab Al Tarikh karya Al Ya’qubie oleh penulis kitab Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 59.

[5] Lihat Rahiqul Makhtum karya Shofiyurrohman Al Mubarakfuri,op.cit hal 28-30 dan Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 59-60.

[6] Lihat Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 59 dan Rahiqul Makhtum karya Shofiyurrohman Al Mubarakfuri,op.cit hal 28-29.

[7] Lihat Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 60

[8] Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khoir Al Ibaad, karya Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arnauth, cetakan ke-3 tahun 1421 H, Muassasat Al Risalah 1/121.

[9] Lihat Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 60-61.

[10] Lihat Rahiqul Makhtum karya Shofiyurrohman Al Mubarakfuri,op.cit hal 30-31.

[11] Lihat kisahnya dalam Rahiqul Makhtum op.cit hal 31-32.

[12] Haditsi ini diriwayatkan Al Thobarie dalam tarikhnya 1/206-207dan Al Ya’qubie dalam Tarikhnya 1/215 tanpa sanad,

[13] diterjemahkan dari Al Siroh Al Nabawiyah Fi Dhu’i Al Mashodir Al Asliyah op.cit hal 61.

[14] Al Marba’ adalah hak mengambil seperempat dari ghonimah (harta rampasan perang).

[15] Al Shofaa adalah harta yang dipilih kepala kabilah tersebut sebelum pembagian harta rampasan perang.

[16] Al Nasyithoh adalah harta yang didapatkan kepala suku di jalan sebelum sampai ke tengah-tengah kaumnya.

[17] Al Fudhul adalah harta sisa pembagian yang tidak dapat dibagi kembali kepada para perajurit perangnya, seperti onte, kuda dan lain-lainnya.

[18] Lihat Rahiqul Makhtum op.cit hal 39.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: