h1

Hukum-Hukum Yang berkaitan (Seputar) Sholat Jama’ah.

September 25, 2007

Sholat berjama’ah memiliki adab dan hukum-hukum yang terkait dan berhubungan dengannya. Semua ini karena arti penting dan kedudukannya dalam islam. Padahal pada kenyataannya banyak kaum muslimin yang belum mengetahui hal ini, sehingga banyak dijumpai mereka sholat berjama’ah tanpa memperhatikan adab dan hokum yang terkait. Akhirnya mereka terjerumus kedalam kesalahan dan dosa bahkan dalam kebidahan.

 

Batasan minimal peserta sholat berjama’ah.

Batasan minimal untuk sholat jama’ah adalah dua orang, seorang imam dan seorang makmum. Jumlah ini telah disepakati para ulama, sehingga Ibnu Qudamah menyatakan: “Sholat jama’ah dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih. Kami belum menemukan perbedaan pendapat dalam masalah ini”[1].

Demikian juga Ibnu Hubairoh menyatakan: “Para ulama bersepakat batasan minimal sholat jama’ah adalah dua orang, yaitu imam dan seorang makmum yang berdiri disebelah kanannya”.[2]

Sholat jama’ah sah walaupun makmumnya seorang anak kecil atau wanita, berdasarkan hadits Ibnu Abbas z yang berbunyi:

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِرَأْسِي فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

Aku tidur dirumah bibiku, lalu Rasululloh n bangun mengerjakan sholat malam. Lalu aku turut sholat bersamanya dan berdiri disamping kirinya. Kemudian beliau meraih kepalaku dan memindahkanku kesamping kanannya.[3]

Demikian juga hadits Anas bin Malik z :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِ وَبِأُمِّهِ قَالَ فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ وَأَقَامَ الْمَرْأَةَ خَلْفَنَا

Sesungguhnya Rasululoh n sholat mengimami dia dan ibunya. Anas berkata: “Beliau menempatkanku disebelah kanannya dan wanita (ibunya) dibelakang kami”.[4]

Semakin banyak jumlah makmum semakin besar pahalanya dan semakin Allah sukai, berdasarkan sabda Rasululloh n :

 وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Sholat besama orang lain lebih baik dari sholat sendirian. Sholat bersama dua orang lebih baik dari sholat bersama seorang. Semakin banyak (yang sholat) semakim disukai Allah l .[5]

Hadits ini jelas menunjukkan semakin banyak jumlah jama’ahnya semakin lebih utama dan lebih disukai Allah l .

Demikian juga seorang anak kecil yang telah mumayiz boleh menjadi imam menurut pendapat yang rojih. Hal ini berdasarkan hadits Amru bin Salamah z yang berbunyi:

فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَادَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ وَبَدَرَ أَبِي قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ جِئْتُكُمْ وَاللَّهِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا فَقَالَ صَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا وَصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ

Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, setiap kaum datang menyatakan keislaman mereka. Bapakku datang menyatakan keislaman kaumku. Ketika beliau pulang beliau berkata: “Demi Allah Aku membawakan kepada kalian kebenaran dari sisi Rasululloh”. Lalu berkata: “Sholatlah kalian sholat ini pada waktu ini dan sholatlah ini pada waktu ini. Jika telah masuk waktu sholat, hnedaklah salah seorang kalian beradzan dan orang yang paling banyak hafalan qur’annya yang mengimami. Lalu mereka mencari (imam). Ternyata tidak ada seorangpun yang lebih banyak dariku hafalan Al Qur’annya. Lalu mereka menunjukku sebagai imam dan aku pada waktu itu berusia enam atau tujuh tahun.[6]

 

Kapan dikatakan mendapati sholat berjama’ah?

Gambaran permasalahan ini adalah seorang datang kemasjid untuk sholat berjama’ah. Kemudian mendapati imam bertasyahud akhir, lalu bertakbiratul ihrom. Apakah masbuq tersebut dikatakan mendapatkan pahala berjama’ah bersama imam ataukah dianggap sebagai sholat sendirian (munfarid)?.

Dalam permasalahan ini para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:

Pertama: Sholat jama’ah didapatkan dengan takbir sebelum imam salam.

Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan syafiiyah.

Berdalil dengan hadits Abu Hurairoh z dari Rasululloh n beliau bersabda:

إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ عَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Jika sholat telah diiqamati, maka janganlahmendatanginya denga nberlari, datangilah dengan berjalan. Kalian harus tenang. Apa yang kalian dapati maka sholatlah dan yang terlewatkan sempurnakanlah.[7]

Dalam hadits ini dinyatakan orang yang mendapatkan imam dalam keadaan sujud atau duduk tasyahud akhir sebagai orang yang mendapatkan, lalu menyempurnakan yang terlewatkan, sehingga orang yang bertakbir ihrom sebelum imam salam dikatakan mendapati sholat jama’ah.

Kedua : Membedakan antara jum’at dan jama’ah. Jika sholat jum’at melihat kepada raka’at dan jama’ah melihat kepada takbir.

Bermakna dalam sholat jum’at seseorang dikatakan mendapati sholat jum’at bersama imam bila mendapati satu raka’at bersama imam. Dikatakan mendapatkan jama’ah bila bertakbir sebelum imam mengucapkan salam. Ini pendapat yang masyhur dari madzhab syafi’i.[8]

Ketiga : Dikatakan mendapati sholat berjama’ah bila mendapati satu rakaat bersama imam.

Ini pendapat madzhab Malikiyah, Imam Ghazaaliy dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Muhammad bin Abdilwahab dan Abdurrahman bin Naashir Assa’diy telah merojihkannya.[9]

Berdalil dengan hadits Abu Hurairoh z dari Rasululloh n beliau berkata:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

Siapa yang mendapatkan raka’at dari sholat maka telah mendapatkan sholat.[10]dan hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ أَوْ غَيْرِهَا فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

Rasululloh bersabda: “Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari sholat jum’at atau selainnya maka telah mendapatkan sholat”.[11]

Sedangkan rakaat dilihat dari ruku’nya sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairoh yang marfu’ :

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

Jika kalian berangkat sholat dan menemukan kami sedang sujud maka bersujudlah dan jangan dihitung sebagai rakaat. Barang siapa yang mendapatkan raka’at maka telah mendapatkan sholat.[12]

Mereka menyatakan: “orang yang mendapatkan satu rakaat dari sholat jum’at atau selainnya maka mendapatkan sholat. Demikian juga Sholat jama’ah tidak dianggap mendapatinya kecuali dengan mendapat satu raka’at”.[13]

Pendapat ini dirojihkan Syeikhul Islam dalam pernyataan beliau: “Yang benar adalah pendapat ini, karena hal berikut:

1.        Menurut syari’at, dalam hal ini takbir tidaklah berkaitan dengan hukum apapun, tidak berkaitan dengan waktu dan tidak pula dengan jum’at atau jama’ah atau yang lainnya. Takbir disini adalah sifat yang tidak terkait dengan hukum apapun (washfun Mulghoo) dalam tinjauan syari’at. Maka dari itu tidak boleh menggunakannya sebagai hujjah.

2.        Syari’at hanya mengaitkan status dapat tidaknya sholat berjama’ah dengan mendapati raka’at. Pengaitannya dengan takbir akan meniadakannya….

3.        Nabi n mengaitkan dapatnya sholat berjama’ah bersama imam dengan raka’at. Ini adalah nash permasalahan.

4.        Jum’at tidak didapati seseorang kecuali mendapati raka’at, demikianlah fatwa sahabat Nabi n diantaranya; Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Anas dan yang lainnya. Tidak diketahui ada sahabat yang menyelisihi meeka dalam hal ini. Bahkan sebagian ulama menyatakan hal ini merupakan ijma’ sahabat. Pemisahan hukum jum’at dengan jama’ah disini tidak benar. Oleh karena itu Abu Hanifah meninggalkan ushulnya dan membedakan keduanya. Tapi hadits dan atsar sahabat membatalkan pendapat beliau.

5.        Bila tidak mendapati satu raka’atpun bersama imam, maka tidaklah dianggap mendapati jama’ah. Karena ia menyelesaikan seluruh bagian sholatnya dengan sendirian. Ia tidak terhitung mendapati satupun bagian sholat bersama imam, seluruh bagian sholat dia kerjakan sendirian.[14]

Pendapat ini adalah pendapat yang rojih, Wallahu a’lam bish Showaab.

 

Hukum Berjama’ah Dalam Sholat Nafilah.[15]

Sholat nafilah (sholat tathawu’) sangat penting bagi seorang muslim, bahkan ia merupakan pelengkap dan penyempurna sholat fardhu. Melihat pentingnya permasalahan ini perlu diketahui secara jelas hukum seputar jama’ah dalam sholat nafilah.

Nafilah bila ditinjau dari pensyari’atan jama’ah padanya terbagi menjadi dua;

  1. Sholat nafilah yang disyari’atkan padanya jama’ah

Sholat nafilah yang disunnahkan berjama’ah adalah:

    1. Sholat Kusuf (sholat gerhana matahari).

Sholat ini disunnahkan berjama’ah dengan kesepakatan para fuqaaha’. Sedangkan sholat gerhana bulan terdapat perselisihan para ulama padanya. Imam Abu Hanifah dan Malik menyatakan tidak disunnahkan, sedangkan imam Syafi’I dan Ahmad menyatakan sunnahnya.

    1. sholat Istisqa’.

Disunnahkan berjamaah menurut madzhab Malikiyah, Syafiiyah, Hambaliyah dan dua murid Abu Hanifah yaitu Abu Yusuf dan Muhamamd bin Hasan. Sedangkan Abu hanifah berpendapat tidak disunnahkannya berjama’ah.

    1. Sholat Ied.

Disunnahkan berjamaah secara ijma’ kaum muslimin.

    1. Sholat Tarawih.
  1. Sholat nafilah yang tidak disyari’atkan berjama’ah.

Sholat yang disyariatkan melakukannya sendirian tidak berjama’ah sangat banyak sekali, diantaranya sholat rawatib, sholat sunnah mutlaqoh dan yang disunnahkan di setiap malam dan siang.

Tentang hokum melakukan sholat-sholat tersebut berjama’ah terjadi peselisihan diantara para ulama. Madzhab Syafiiyah dan Hambaliyah memperbolehkan berjama’ah, Madzhab Hanafiyah memakruhkannya dan madzhab Malikiyah membolehkan berjama’ah kecuali sunnah rawatib sebelum subuh. Mereka nyatakan hal itu menyelisihi yang lebih utama, selebihnya boleh dengan syarat jama’ahnya tidak banyak dan tidak ditempat yang terkenal, karena takut terjadi riya’ dan munculnya anggapan bahwa hak itu wajib.

Akan tetapi yang benar dari Rasululloh n , beliau pernah melakukan kedua-duanya. Pernah meklakukan sholat sunnah tersebut dengan berjama’ah dan sendirian. Sebagaimana riwayat berikut ini:

a.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ قُومُوا فَأُصَلِّيَ لَكُمْ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْتُ أَنَا وَالْيَتِيمُ وَرَاءَهُ وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ

Dari Anas bin Malik z beliau menyatakan bahwa neneknya yang bernama Mualikah mengundang Rasululloh makan-makan yang dibuatnya. Lalu Rasululloh memakannya dan berkata: “bangkitlah kalian, aku akan sholat berjama’ah bersama kalian”. Anas berkata: aku mengambil tikarkami yang telah berwarna hitam karena lamanya pemakaian dan rasululloh n bangkit. Aku dan seorang anak yatim membuat shof dibelakang beliau, sedang orang-orang tua wanita berdiri dibelakang kami. Rasululloh sholat dua raka’at kemudian pergi.[16]

b.

عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ فِي مَنْزِلِهِ فَقَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ لَكَ مِنْ بَيْتِكَ قَالَ فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى مَكَانٍ فَكَبَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْنَا خَلْفَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Dari Utbaan bin Maalik bahwa Nabi n mendatanginya di rumahnya, lalu berkata: “Dimana dari rumahmu ini yang kamu suka aku sholat untuk mu”. Lalu aku tunjukkan satu tempat. Kemudian beliau bertakbir dan kami membuat shof dibelakangnya. Beliau sholat dua raka’at.[17]

Demikian juag syeikh Shopleh As Sadlaan merojihkan pendapat kebolehannya dengan syarat, sebagaimana pernyataan beliau : “Yang benar dari yang telah kami sampaikan, nafilah boleh dilakukan dengan berjama’ah. Baik nafilahnya adalah sunnah rawatib atau sunnah mustahabbah atau tathawu’ mutlaq. Tapi dengan syarat tidak menjadikannya satu kebiasaan, tidak ditampakkan secara terang-terangan dan dilakukan karena satu sebab seperti diminta tuan rumah atau kerena berbarengan dalam menunaikan sunah, seperti tamu ketika bertamu, seandainya dia dan tuan rumahnya sholat witir berjama’ah, dengan syarat tidak timbul kebid’ahan atau perkara yang tidak dibolehkan oleh Syari’at. Jika terjadi satu dari yang telah disebutkan maka tidak disyari’atkan berjama’ah”.[18]

Kesimpulannya dibolehkan melaksanakan sholat sunnah berjama’ah selama tidak menimbulkan kebid’ahan atau pelanggaran syari’at dan dibutuhkan untuk itu. Wallahu a’lam.

Udzur Yang Memperbolehkan tidak menghadiri Sholat Jama’ah

Diperbolehkan tidak menghadiri sholat berjama’ah dengan sebab-sebab tertentu. Diantara sebab-sebab tersebut:

  1. Dingin dan hujan.

Berdasarkan hadits dari Nafi’, beliau berkata:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ ثُمَّ قَالَ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ ذَاتُ بَرْدٍ وَمَطَرٍ يَقُولُ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ

Sesungguhnya Ibnu Umar beradzan untuk sholat pada malam yang dingin dan berangin kencang, kemudian berkata: “Ala Shollu Fi Rihaalikum (Sholatlah kalian di rumah kalian)”. Lalu beliau berkata: “Sesuangguhnya Raasululloh memerintahkan muadzin jika malam dingin dan berhujan mengatakan: “Ala Shollu Firihaal”.(Mutafaqun Alaihi).

  1. Sakit yang memberatkan penderitanya menghadiri jama’ah.

Berdasarkan firman Allah l :

وَمَاجَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu  (Al Hajj 78) dan Sabda beliau n ketika sakit dan tidak bisa mengimami sholat beberapa hari:

مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ

“Perintahkanlah Abu Bakr agar mengimami manusia”[19]

Ibnu Hazm berkata: “ini tidak diperselisihkan”[20]

  1. Kondisi tidak aman yang dapat membahayakan diri, harta dan kehormatannya.

Berdasarkan firman Allah l :

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. )Al baqoroh 286.(

dan sabda Rasululloh n :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada sholat baginya kecuali karena udzur.[21] Dalam riwayat Al baihaaqiy ada tambahan tafsir udzur disini dengan sakit atau rasa takut (situasi tidak aman). [22]

  1. Saat makanan telah dihidangkan dan menahan hajat kecil atau besar.

Berdasarkan hadits Nabi n :

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

Tidak boleh sholat saat makanan dihidangkan dan tidak pula ketika menahan buang hajat kecil dan besar.[23].

  1. Ketiduran.

Berdasarkan sabda Rasululloh n :

إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةِ الْأُخْرَى فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا

Bukanlah ketiduran tafrith (tercela), akan tetapi tafrith hanya pada orang yang tidak sholat sampai datang waktu sholat yang lainnya. Barang siapa yang berbuat demikian maka hendaklah sholat ketika sadar. [24]

Demikianlah sebagian perkara yang penting yang berhubungan dengan sholat jama’ah. Semoga bermanfaat.




[1] Al Mughni 3/7.

[2] Al Ifshooh An Ma’aanish Shihaah 1/155, dinukil dari Sholatul Jam’ah karya Prof. DR. Shoolih bin Ghaanim Assadlaan hal 47. lihat juga pernyataan kesepakatan ini dalam Raudhatn Nadiyah karya Shidiq Hasan Khon 1/308.

[3] Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shohihnya, kitab Al Jum’ah, Bab Ma Ja’a fil Witri, no 937

[4] diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohinya kitab Al masaajid wa Mawaadhi’ Sholat, bab Jawaazu Al Jama’ah fin Nafilah wash Sholat Ala Hashiir Wa Khomroh. No. 1056.

[5] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya, kitab Ash Sholat bab Fi Fadhli Sholatul Jama’ah no.467, An Nasaa’I dalam sunannya kitab Al Imamah bab Al jama’ah idza kaana Itsnaini no.834, Ahmad dalam musnadnya no.20312 dan Al Haakim dalam mustadroknya 3/269. hadits ini dishohihkan Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya 2/366-367 No. 1477.

[6] Diriwayatkan oleh imam Bukhori dalam shohihnya, kitab Al Maghaaziy no. 3963.

[7] Diriwayatkan oleh imam Bukhori dalam shohihnya

[8] lihat Majmu’ Fatawa 23/331.

[9] Lihat Sholatul Jama’ah hal 50. tentang tarjih mereka ini dapat dilihat dalam kitab Adaab Al Masyi Ila Sholat hal 29 dan Al Mukhtaraat Al jaliyah Fil Masaail Al Fiqhiyah (dalam Al majmu’ah Al Kaamilah Li Mualafat Syeikh Abdurrahman bin Naashir Assa’diy 2/109.

[10] Diriwayatkan oleh Imam Bukhoriy dalam shohihnya kitab Mawaaqitus Sholat bab. Man Adraka minas Sholat rakaat no. 546 dan Muslim dalam shohihnya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Sholat, Bab Man Adraka Minas Sholat rakaat faqad Adraaka sholat no. 954

[11] diriwayatkan oleh An Nasaa’I dalam sunannya kitab Al Mawaaqit bab Man adraka rak’atan minas Sholat no. 554, Ibnu Maajah dalam sunannya, kitab Iqamatush Sholat was Sunnah fiha, bab Ma Ja’a Fiman Adraka Minal Jum’at Rak’atan no.1113 dan Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya 3/173.

[12] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya kitab Ashsholat bab Fi rajuli yudrikul imam sajidan kaifa yasna’ No. 759

[13] lihat Sholatul Jama’ah hal 51.

[14] Majmu’ Fatawa 23/331-332 dengan sedikit pemotongan.

[15] Diringkas dari sholatul jama’ah karya syeikh Sholeh As Sadlaan hal 74-78 dengan beberapa perubahan.

[16] Diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shohihnya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Sholat bab Jawaazu Al Jama’ah Fin Nafilah was Sholat Ala Hashiir wa Khomrah no. 1053

[17] diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya kitab Ash Sholat bab. Idza dahola baitan haitsu Syaa no. 406.

[18] Sholatul jama’ah hal 77-78.

[19] Diriwayatkan oleh imam Bukhori dalam shohihnya

[20] Muhalla 4/351.

[21] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya, kitab Al Masaajid wal Jama’ah, bab Attaghlidz fi Attakhalluf ‘Anil Jama’ah no. 785. hadits ini dishohihkan AL Albaniy dalam Shohih sunan Ibnu Maajah no. 631.

[22] Dibawakan oleh penulis kitab sholat jama’ah hal 199 dan dinisbatkan kepada sunan kubro baiohaqiy 1/185.

[23] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi Sholat bab Karohatus sholat bi hadhratith tho’aam no. 869.

[24] Diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shohihnya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi Sholat, bab Qadha’ sholat fawaait. No. 1099.

2 komentar

  1. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

    Salam silaturahim dan ta’aruf ustad ana ikut ngaji online ya ustad , biasanya dengarkan CD MP3 ceramah ustad waktu dijakarta,alhamdulillah sekarang bisa membaca tulisan dan berinteraksi lewat internet.

    Ana tunggu tulisan berikutnya.
    Barokallohufiikum.

    Alfakir ilm’ Abu Amin
    http://abuamincepu.wordpress.com/


  2. Assalamu’alaikum
    artikel yang bagus banget..moga bermanfaat bagi kaum muslimin…
    ustadz sampaikan salam buat ust. Hadid, ust. Arif Budiman,ust Faiz, ust M. Taufiq (Mahad Imam Bukhori) dan Ust. Abdurrahman (mahad Ukhuwah) dari ana Amir “Gemolong” @ Unpad Bandung…
    Barokallahu fiikum…



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: