h1

Syarah Aqidah Wasitiyah 2

September 11, 2007

kelanjutan syarah aqidah wasitiyah 2

Syeikhul Islam Ibnu taimiyah berkata

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Terjemah: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Syarah:

 

Kitab ini dibuka dengan basmalah sebagaimana kebanyakan kitab-kitab yang ada. Ini merupakan amalan para ulama baik terdahulu maupun yang sekarang untuk mencontoh Kitabullah dan mengikuti sunnah Nabi n .

Para ulama berselisih tentang Basmalah, apakah ia ayat dari setiap surat kecuali surat Taubah, ataukah ayat tersendiri yang diturunkan untuk memisahkan antara surat?

Syeikh Muhammad Kholil haraas merojihkan pendapat kedua, yaitu basmalah adalah ayat tersendiri yang diturunkan untuk memisahkan antar surat[1]. Ini adalah pendapat imam Malik, Al Auzaa’iy, Ibnu Jarir Ath Thobari dan Daud Adzdzohiriy. Sedangkan Syeikh Ahmad Muhammad Syakir merojihkan Basmalah termasuk ayat dalam surat selain Taubah dan ini pendapat imam Syafi’iy dan madzhab Syafi’iyah.[2]

Demikian pula mereka berselisih apakah Basmalah termasuk ayat dalam surat Al fatihah? Syeikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin merojihkan pendapat bahwa Basmalah tidak termasuk Al Fatihah dengan dasar sabda rasululloh n :

 

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل

Allah berfirman: “Aku membagi sholat antara Aku dan hamba-Ku separuh-separuh. Jika hamba-Ku berkata: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin’ maka Allah berkata: “Hamba-Ku telah memujiKu (dengan cinta dan pengagungan)”. Jika hambaKu menyatakan: ‘Arrahmanirrahim’ maka Allah menjawab: “Hambaku telah memujiKu (karena rahmatKu yang luas)”. Jika hambaKu menyatakan: ‘Malikiyaumiddin’  maka Allah menjawab: “HambaKu telah mengagungkanKu”. Jika hamba menyatakan: ‘Iyakana’budu wa iyaka nasta’in’  maka Allah menjawab: “ini tengah-tengah antara Aku dengan hambaKu dan hambaku memperoleh apa yang dimintanya”. Jika hamba menyatakan: ‘Ihdinash Shiratol mustaqim shirotal ladzina An’amta ‘alaihim ghoiril maghdhubi ‘alaihim waladh dhaaliin’ maka Allah menjawab: “ini untuk hambaKu dan hambaKu mendapatkan apa yang inginkan[3]   

Sehingga tiga ayat untuk Allah dan tiga ayat untuk hambanya serta satu ayat antara Allah dengan hambaNya.

Setelah membawakan dalil-dalil ini beliau menyatakan:

Yang benar lagi tidak diragukan lagi bahwa Basmalah bukan termasuk Al fatihah.[4]

Wallahu A’lam.

 

Huruf Ba’ (ب) dalam Basmalah untuk isti’anah (memohon pertolongan). Dan kata (بِسْمِ الله) berhubungan dengan fi’il (kata kerja) yang dihapus baik dikedepankan atau diakhirkan. Keduanya disebutkan Al Qur’an dalam firmanNya:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

dan  firmanNya:

بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَاوَمُرْسَاهَا

Namun yang kedua yaitu diakhirkan lebih baik, karena memiliki dua faedah :

  1. Bertabaruk (meminta barokah) dengan mendahulukan nama Allah.
  2. Mendapat makna Al hashr, karena mendahulukan yang seharuskan diakhirkan. Al Hashr adalah Pemberian hokum kepada yang disebut dan meniadakan selainnya. Jadi seakan akan kita menyatakan misalnya ketika menulis: “Saya tidak menulis dengan mencari barokah dan pertolongan dengan nama seorangpun kecuali nama Allah”.

(الله)  adalah nama Allah yang khusus untuknya. Nama ini merupakan pokok seluruh nama Allah sehingga nama-nama lain disebutkan setelahnya, seperti firman Allah:

 

اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمُُ لَّهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al Baqaroh2:255)

(الرَّحْمَان) bermakna yang Mahaluas rahmatNya. Sedangkan (الرَحِيْم) bermakna yang memberikan rahmatNya kepada hamba yang disukaiNya, yaitu para waliNya dari kalangan orang-orang beriman, sebagaimana firmanNya:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلاَئِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS.Al Ahzab33:43)

Dari kedua nama Allah ini Ahlus Sunnah menetapkan sifat rahmat bagi Allah ta’ala. Sekaligus membantah Ahlu Ta’thil yang menolaknya. Kedua nama ini menunjukkan Dzat Allah dan juga menunjukkan sifat rahmat bagi Allah, sebagaimana telah ada dalam kaedah nama dan sifat Allah yang telah disepakati ahli sunnah wal Jama’ah. Karena Nama-nama Allah, merupakan nama bila ditinjau dari penunjukannya kepada dzat dan menjadi sifat bila ditinjau dari kandungan maknanya.[5]

Apalagi kedua nama ini menunjukkan sifat yang membutuhkan obyek penderita (Transitife) maka wajib ditetapkan darinya dzat, sifat dan hukum sifat tersebut.[6]

 

Ibnu Taimiyah menyatakan:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَه بِالْهُدَى وَ دِيْنِ الْحَقِّ

Terjemahannya: Segala puji hanya untuk Allah yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar.

 

Syarah

 

Penulis yaitu Syeikhul Islam memulai kitabnya dengan hamdalah setelah mengucapkan Basmalah. Karena ia merupakan kunci pembuka semua perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana dinyatakan Syeikhul Islam sendiri dalam pernyataan beliau:

Al Hamdu adalah kunci pembuka seluruh perkara penting berupa munajat Rabb dan berbicara kepada hambaNya [7]

(الْحَمْدُ لِلهِ ), Al Hamdu adalah menyebutkan sifat-sifat sempurna bagi dzat yang terpuji dengan kecintaan kepadaNya.[8] Ibnul Qayyim menyatakan:

Al Hamdu adalah menyebutkan kesempurnaan yang terpuji disertai kecintaan, pengagungan dan penghormatan.[9]

Juga menyatakan:

Memberikan pujian sempurna kepada Allah menunjukkan adanya penetapan semua yang membuat-Nya terpuji, berupa sifat yang sempurna dan agung, karena dzat yang tidak memiliki sifat sempurna tentu tidak akan sama sekali dipuji. Mungkin dapat dipuji dari salah satu sisi saja, tidak bisa dipuji dari segala segi dan semua jenis pujian kecuali dzat yang memiliki seluruh sifat sempurna. Seandainya hilang satu sifat sempurna saja maka berkuranglah pujian sesuai dengan hilangnya sifat tersebut[10].

Jelaslah disini kata Al hamd yang disebutkan dengan tambahan huruf alif dan lam menunjukkan keumuman (Istighraq) sehingga maknanya seluruh pujian atau pujian yang menyeluruh. Syeikhul Islam sendiri menyatakan:

Kata Al Hamd disebutkan dengan tambahan huruf alif dan lam menunjukkan pengertian menyeluruh pada semua pujian. Hal ini menunjukkan pujian semata-mata milik Allah Ta’ala.[11]

(لِلَّهِ)  Huruf lam disini bermakna Ikhtishosh (kekhususan) dan istihqaaq (kepantasan). Allah Subhanahu wa ta’ala bila memuji dirinya dalam Al Qur’an, selalu menyebut namaNya yang maha indah, sifatNya yang maha sempurna dan perbuatanNya yang maha terpuji. Oleh karena itu penulis kitab (Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah) setelah memuji Allah menyebut salah satu perbuatan Allah, yaitu pengutusan Rasululloh n dengan membawa petunjuk dan agama yang benar.

Sedangkan rasul secara etimologi bahasa Arab bermakna orang yang diutus membawa risalah. Rasul dalam terminology syariat bermakna seorang manusia, laki-laki dan merdeka diberi wahyu syariat dan diperintahkan menyampaikannya.[12] Memang inilah definisi rasul yang masyhur dan terkenal, namun ini tampaknya kurang, karena Allah telah menjelaskan bahwa Dia juga mengutus para Nabi, sebagaimana firmanNya:

 

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلاَنَبِيٍّ إِلآ إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَتِهِ فَيَنسَخُ اللهُ مَايُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللهُ ءَايَاتِهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. Al hajj 22:52)

 

Tidak mungkin Allah memberikan wahyu kepada seorang lalu tidak memerintahkannya untuk menyampaikan. Padahal Rasululloh menyatakan dalam haditsnya:

 

عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ فَجَعَلَ النَّبِيُّ وَالنَّبِيَّانِ يَمُرُّونَ مَعَهُمْ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Dipaparkan padaku para umat. Lalu Nabi dan dua Nabi mulai lewat bersama sekelompok orang dan ada Nabi yang tidak seorangpun bersamanya.[13]

Syeikh Umar Sulaiman Al Asyqar merojihkan pendapat yang menyatakan perbedaan antara Nabi dan rasul adalah Rasul adalah orang yang mendapat wahyu dengan syariat baru sedangkan nabi diutus untuk meneguhkan dan melanjutkan syariat sebelumnya. Kebanyakan para nabi bani Israil untuk itu[14]. Ini tampaknya lebih dekat kepada kebenaran. Wallahu a’lam

Adapun Al Huda (الْهُدَى) secara etimologi bahasa Arab bermakna penjelasan dan penunjukkan, sebagaimana firman Allah:

 

وَأَمَّاثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk (jelaskan kepada mereka) tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Fushshilat 41:17)

Makna Al Huda (فَهَدَيْنَاهُمْ) disini adalah menjelaskan kepada mereka, juga dalan firmanNya:

 

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. Al Insaan 76:3)

Hidayah (الْهُدَى) dalam makna ini bersifat umum untuk semua manusia, sehingga Al Qur’an dikatakan demikian dalam firmanNya:

 

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا وَأَنَّ الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاْلأَخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (QS. Al Isra17:9)

Demikian juga Rasululloh, sebagaimana dalam firmanNya:

 

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syura 42:52)

Hidayah (الْهُدَى) juga dapat bermakna taufiq dan ilham, sehingga hidayah ini khusus bagi orang yang Allah kehendaki mendapatinya, sebagaimana firmanNya:

فَمَن يُرِدِ اللهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَآءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk(memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al An’am 6:125)

Syeikh Sholeh bin Abdillah bin Fauzaan Alifauzan menyatakan:

        Hidayah ada dua jenis:

1.        Hidayah dengan makna petunjuk dan penjelasan, seperti dalam firmanNya:

 

وَأَمَّاثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى

Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk (jelaskan kepada mereka) tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu. (QS. Fushshilat 41:17)

Inilah yang dilaksanakan para rasul, seperti dalam firmanNya:

 

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syura 42:52)

2.        Hidayah bermakna taufiq dan ilham. Inilah yang ditiadakan dari Rasululloh, tidak mampu memberinya kecuali Allah, sebaimana firmanNya:

إِنَّكَ لاَتَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al Qashash 28:56)[15]

Sedangkan yang dimaksud dengan hidayah dalam pernyataan syeikhul islam disini adalah seluruh ajaran rasulullah n berupa berita-berita kebenaran, iman yang shohih, ilmu yang manfaat dan amal sholih.[16]

Syeikh Zaid bin Abdilaziz bin Fayyaadh menyatakan:

Hidayah disini adalah seluruh ajaran Rasululloh berupa syariat yang lurus, agama yang sempurna dan isi kandungan Al Qur’an yang menjadi sumber kehidupan hati dan petunjuk makhluk. Ibnu Katsier berkata: “Hidayah adalah seluruh ajaran Rasululloh n berupa berita-berita kebenaran, iman yang benar, ilmu yang manfaat dan amal sholeh, karena Syariat meliputi dua hal yaitu ilmu dan amal. Ilmu Syar’I adalah benar, amalan syar’I diterima, beritanya benar dan perintah larangannya adil”.[17]

Kata Din (الدِّيْنُ) dalam etimologi bahasa Arab memberikan beberapa makna, diantaranya:

  1. Pembalasan, seperti dalam firman Allah:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang menguasai hari pembalasan. (QS. 1:4)

  1. Merendahkan diri dan patuh, seperti perkataan orang Arab: دَانَ لَهُ bermakna merendahkan diri dan patuh.

Yang dimaksud dengan Ad din disini adalah amal sholeh.[18]ini karena Ad Din adalah amal atau balasan amalan.[19] Sedangkan Al Hak adalah lawan kebatilan. Kebenaran yang mengandung maslahat dan menolak kemudharatan dalam hukum dan beritanya.[20]

Dengan demikian, makna hidayah (Al huda) adalah kesempurnaan ilmu dan agama yang benar (Dinul hak) adalah kesempurnaan amalan. Hal ini karena hidayah (Al Huda) mengandung makna ilmu yang manfaat dan agama yang benar mengandung pengertian amal sholeh.[21]

 

Perkataan Syeikhul Islam:

 

لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ

Terjemahan: Untuk memenangkannya atas seluruh agama.

 

Syarah:

 

Kata (لِيُظْهِرَهُ) berasal dari kata ظُهُوْر yang bermakna diatas dan menang, seperti firman Allah:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللهَ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَاتَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمَّى فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (QS. 35:45)

Kata (لِيُظْهِرَهُ) dalam pernyataan ini bermakna Allah memenangkannya atas seluruh agama.

Sedangkan kata ganti (َهُ) apakah menunjukkan kepada Rasul atau agama yang benar?

Tentang hal ini Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan:

Jika kata ganti ini kembali kepada din Al Hak (دِيْنِ الْحَقِّ), maka orang yang berperang membela agama ini akan mendapatkan kemenangan, karena Allah menyatakan لِيُظْهِرَهُ yaitu Allah menangkan agamaNya atas semua agama dan yang tidak memiliki agama, karena hal itu lebih pantas. Ini karena orang yang tidak memiliki agama lebih buruk dari yang beragama batil. Kalau demikian agama islam akan menang atas seluruh agama lain yang dianggap benar oleh pemeluknya. Apalagi yang tidak ada agamanya.

Jika kata ganti tersebut kembali kepada Rasululloh n ,maka maknanya Allah akan memenangkan rasulNya, karena membawa agama yang benar. Berdasarkan dua hal ini, maka orang yang berpegang teguh kepada agama islam tentu akan menang dan mulia. Barang siapa yang mencari kemulian pada selainnya maka akan mendapatkan kerendahan, karena tidak ada kemenangan, kemuliaan dan kejayaan tanpa membawa agama yang benar ini (Islam). Oleh karena itu saya mengajak kalian – Wahai saudara-saudara – untuk berpegang teguh kepada agama Allah ini secara lahir dan batin, baik dalam ibadah, perilaku, akhlak dan dakwah sehingga agama ini tegak dan umat ini istiqomah.[22]

Hal ini sudah menjadi kepastian yang tidak lagi disangsikan. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan:

Agama islam yang dibawa Rasululloh akan selalu menang[23],

karena Allah telah berjanji memenangkan agama islam ini atas seluruh agama  dengan ilmu, hujjah, dan jihad, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) pezunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walupun orang-orang musyrik tidak menyukainya”. (QS. 9:33)

Ibnul Qayim menyatakan:

Ayat ini menunjukkan Allah telah menyempurnakan dan memenangkan agama ini atas seluruh agama penduduk bumi. Hal ini menjadi penguat hati kaum mukminin, kabar gembira dan penguat mereka serta membuat mereka selalu percaya penuh terhadap janji Allah yang pasti terjadi. Sehingga tidak ada prasangka terhadap apa yang terjadi pada perjanjian hudaibiyah berupa penekanan dan sikap mengalah Rasul sebagai kemenangan musuh Allah dan tidak juga kekalahan Rasululloh dan agamaNya. Hal ini tidak mungkin karena Allah telah mengutus RasulNya dengan membawa agama yang benar dan berjanji akan memenangkannya atas seluruh agama yang ada[24].

Syeikh DR. Sholeh Al Fauzaan menyatakan:

Makna (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ) adalah dimenangkan atas seluruh agama dengan hujjah, keterangan jelas dan jihad sehingga mengalahkan semua yang menyelisihinya dari penduduk bumi, baik bangsa Arab atau non Arab,  baik yang beragama atau musyrikin. Kemenangan ini telah terjadi, karena kaum muslimin telah berjihad dengan benar dijalan Allah sampai wilayah negara islam meluas dan agama islam tersebar diseluruh dunia.[25].

Demikianlah agama islam ini akan kekal dan dimenangkan Allah, karena membawa kebenaran dengan hujjah dan jihadnya. Pantaslah bila Rasululloh bersabda:

لَا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

Senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang memenangkan kebenaran sampai hari kiamat dalam keadaan menang.[26] Ini semua tidak lepas karena kebenaran yang dibawanya. Padahal kebenaran pasti bermanfaat bagi manusia dan setiap yang bermanfaat bagi manusia pasti akan kekal didunia ini, seperti firmanNya:

أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَآءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءً وَأَمَّا مَايَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي اْلأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya,maka arus itu membawa buih yang mengembang.Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasaan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. 13:17).

 

 

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah:

وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا

Terjemahan: Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

 

Syarah:

 

Huruf Ba’ (ب) dalam perkataan beliau (وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا) dinamakan dalam istilah ahli bahasa Arab dengan Ba’ Zaaidah (tambahan). Ba’ Zaidah ini digunakan untuk memperindah kalimat dan menunjukkan ketegasan bahwa Allah benar-benar cukup dalam hal ini.[27]

Sedangkan kata (شَهِيْدًا) memiliki dua makna yaitu Syahadah (persaksian) dan hadir menyaksikan. Jadi maknanya adalah cukuplah Allah sebagai saksi yang mempersaksikan kebenaran RasulNya atau Dzat yang menyaksikan dan mengetahui kebenaran Rasul dan ajarannya.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan:

Hal itu karena persaksian Allah saja sudah cukup tanpa menunggu datangnya ayat mu’jizat, sebagaimana firmanNya:

قُلْ كَفَى بِاللهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِندَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

Katakanlah:”Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu dan an tara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab”. (QS. 13:43). Persaksian Allah akan kebenaran Al Qur’an dan Muhammad berupa firmanNya yang Alah turunkan kepada para nabi sebelumnya, sebagaimana firmanNya:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya”. (QS. 2:140) dan perbuatannya, yaitu ayat dan mu’jizat yang ada. Ayat dan mu’jizat ini menunjukkan kebenaran para rasulNya, karena Allah membenarkan mereka pada semua berita yang disampaikan para rasul dan bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang yang benar.[28]

Syeikh DR. Sholeh bin Fauzan menyatakan:

Makna (وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا) adalah bersaksi bahwa Muhammad adalah RasulNya, mengetahui semua perbuatannya dan memenangkannya dari seluruh musuhnya. Hal ini menunjukkan benarnya kerasulan beliau. Karena seandainya Muhamad berdusta maka Allah akan mempercepat hukumannya, sebagaimana firmanNya:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيلِ لأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami Niscaya benar-benar Kami menghukumnya dengan tangan kanan. (QS. 69:45).[29]

Persaksian Allah ini berwujud dalam firman, perbuatan dan pertolongan-Nya terhadap Rasulullah berupa kemenangan, mu’jizat dan bukti fakta yang beraneka ragam yang menunjukkan kebenaran ajaran RasulNya.

Kesesuaian perkataan Syeikhul Islam beliau dalam pengantar (muqadimah) tulisan ini (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ) dengan (وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا) tampak karena Nabi Muhammad menyeru manusia untuk taat kepada Allah dan RasulNya. Beliau memerangi siapa saja yang enggan mengucapkan kalimat syahadah sehingga beliau menghalalkan dan mengharamkan darah dan harta seseorang dengannya. Beliau bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mengatakan dua kalimat syahadat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Jika mereka melaksanakannya maka darah dan harta mereka terjaga kecuali dengan hak islam dan hisab mereka ditangan Allah.(Mutafaqun Alaihi)

Kemudian Allah memberikan kepada beliau kemenangan dan kejayaan, karena membawa petunjuk dan agama yang benar. Ini merupakan bukti kebenaran beliau dan agama yang dibawa, karena orang yang mengaku sebagai nabi secara dusta seperti Musailamah sinabi palsu, hanya mendapatkan kehinaan, kerendahan dan kekalahan. Sedangkan dakwahnya rasululloh sampai sekarang dan sampai Allah menghancurkan dunia ini tetap kekal dan ada. Ini merupakan persaksian Allah.

Demikianlah kesesuaian dari pernyataan beliau diatas setelah menyatakan pernyataannya: لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ. Wallahu a’lam.

 

Syeikhul Islam berkata:

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَ تَوْحِيْدًا

Terjemah: Dan Aku bersaksi Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu baginya dengan ikrar dan mentauhidkan Nya.

 

Syarah:

Persaksian (الشَّهَادَةُ) bermakna mengkhabarkan sesuatu yang telah diketahui dan diyakini kebenaran dan ketetapannya. Persaksian tidak cukup hanya dengan ungkapan lisan saja, namun harus disertai pembenaran, pengungkapan dan kesatuan hati dan lisan. Oleh karena itu Allah mendustakan perkataan orang munafiq dalam firmanNya:

 

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata:”Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (QS. 63:1). Padahal mereka menyatakannya secara lisan.

Makna pernyataan beliau (وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ) adalah saya bersaksi dengan persaksian yang berlandaskan ilmu dan yakin dan juga bersaksi untuk beramal dengan penunjukkan dan konsekwensi kalimat ini, berupa mentauhidkan Allah dalam ibadah.

Kalimat ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ) dinamakan kalimat tauhid yang menjadi tujuan dan tugas dakwah para rasul seluruhnya. Ia adalah inti dakwah dan risalah ajaran mereka, sehingga Allah menyatakan:

 

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. 21:25). Demikian pula Rasululloh menyatakan dalam haditsnya yang masyhur:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mengatakan dua kalimat syahadat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Jika mereka melaksanakannya maka darah dan harta mereka terjaga kecuali dengan hak islam dan hisab mereka ditangan Allah.(Mutafaqun Alaihi).

Demikian juga Al Qur’an seluruhnya berisi tauhid, karena Al Qur’an berisi :

1. Berita tentang Allah baik berupa nama, sifat dan perbuatannya

2. Perintah mengajak beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan peribadatan selainnya.

3. Perintah dan larangan serta keharusan menta’ati Allah

4. Berita tentang pemuliaan ahli tauhid dan balasan mereka didunia dan akherat.

5. Berita tentang ahli syirik dan balasan mereka didunia dan akherat dari adzab dan siksaan.[30]

Imam Ibnul Qayim menyatakan:

Umumnya surat Al Qur’an, bahkan seluruhnya berisis dua jenis tauhid. Bahkan kami nyatakan secara umum bahwa semua ayat Al Qur’an berisi tauhid, menjadi saksi dan menyeru kepadanya.[31]

Makna kalimat ini adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.

Kata (وَحْدَهُ) merupakan penegasan untuk itsbat (penetapan) yaitu kata إِلَّا اللَّهُ sedangkan لاَ شَرِيْكَ لَهُ merupakan penegas untuk nafii (penolakan) yaitu kata لَا إِلَهَ ُ. Ada juga yang menyatakan وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ merupakan dua penegas yang menunjukkan arti penting dan perhatian serius terhadap kedudukan tauhid. [32]

Kata إِقْرَارًا بِهِ وَ تَوْحِيْدًا  bermakna mengikrarkannya dengan lisan dan mengesakan Allah dalam peribadatan yang didasari dengan tauhid rububiyah dan tauhid asma dan sifat.

                Persaksian seperti ini disyariatkan dalam khuthbah atau muqadimah kitab, karena tauhid adalah pokok dasar iman dan kalimat pembeda antara ahli syurga dan neraka. Juga ia menjadi harga syurga yang tidak sah islam seseorang tanpa persaksian ini.[33] Sehingga Syeikhul Islam menyampaikannya sebagai pengingat terhadap pokok dan dasar pondasi agama ini.[34]

 

Syeikhul Islam berkata:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Terjemah: Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah

 

Syarah:

 

Syeikhul Islam mengisyaratkan keharusan mengucapkan syahadatain dengan menggandeng syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dengan مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ, sehingga tidak boleh hanya mengimani sebagian saja.

Dalam persaksian ini digabung dua sifat yaitu sifat risalah (kerasulan) dan ubudiyah(kehambaan), karena keduanya adalah sifat hamba yang paling tinggi. Sedangkan Ibadah merupakan tujuan penciptaan manusia, sebagaimana firmanNya:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)

Sehingga kesempurnaan makhluk berada pada perwujudannya terhadap peribadatan, semakin bertambah peribadatannya maka semakin sempurna dan semakin tinggi kedudukannya. Oleh karena itulah rasululloh menjadi sebaik-baiknya makhluk Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Abil Izzi Al Hanafiy memberikan pernyataan dalam masalah ini:

Ketahuilah kesempurnaan makhluk berada pada perwujudannya terhadap peribadatan kepada Allah. Semakin bertambah peribadatannya maka semakin sempurna dan tinggi kedudukannya (derajatnya). Siapa yang berprasangka bahwa makhluk boleh keluar dari peribadatan dari satu aspek saja dan meyakini bahwa keluar darinya lebih baik, maka ia seorang yang paling bodoh dan sesat. Allah berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ

Dan mereka berkata:”Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”,Maha Suci Allah. Sebenarnya(malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimulyakan, (QS. 21:26) dan yang lainnya dari ayat Al Qur’an.

Allah juga menyebut NabiNya dengan nama Abdu (hamba) di tempat yang paling terhormat. Allah berfirman menceritakan kisah Isra’:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya.(QS. 17:1) dan firmanNya:

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوهُ

Dan bahwasannya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat). (QS. 72:19) serta firmanNya:

فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَآأَوْحَى

Lalu dia menyampaikan kepada hambanya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. (QS. 53:10). Demikian juga firmanNya:

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad). (QS. 2:23). Dengan demikian beliau berhak menjadi orang terbaik didunia dan akherat. Oleh karena itu nabi Isa Al Masih pada hari kiamat ketika manusia memintanya untuk memberi syafa’at setelah para Nabi berkata:

اِذْهَبُوْا إِلَى مُحَمَّدٍ عَبْدٌ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

Pergilah kepada Muhammad, seorang hamba yang telah Allah Ampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang.[35]

Sehingga beliau mendapatkan martabat yang mulia ini dengan kesempurnaan peribadatannya kepada Allah.[36]

Pernyataan beliau : أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ

Dalam pernyataan beliau (عَبْدُهُ) terdapat bantahan kepada orang yang melampaui batas dalam mendudukkan kedudukan dan martabat Rasululloh, seperti sikap kaum shufiy. Padahal Rasululloh bersabda:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Janganlah kalian melampai batas dalam bersikap kepadaku sebagaimana kaum nashraniy terhadap Ibnu maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah hambaNya. Maka katakanlah: “Abdullah dan RasulNya”.[37]

Syahadat kedua ini (أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ) berisi pengakuan seorang hamba terhadap kesempurnaan peribadatan Rasululloh kepada Rabbnya dan kesempurnaan ajarannya serta pengakuan bahwa beliau mengalahkan seluruh manusia dalam sifat-sifat kesempurnaan. Hal ini tidak sempurna sampai seorang hamba membenarkan semua yang beliau beritakan, mentaati semua perintahnya dan meninggalkan seluruh larangannya[38] serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari’atnya.

Sedangkan pernyataan beliau: وَرَسُولُهُ . Para ulama berselisih dalam mendefinisikan Rasul dan nabi,[39] namun yang rojih dalam perbedaan antara Nabi dan Rasul dari pendapat mereka adalah Rasul seorang yang mendapatkan wahyu dengan membawa syari’at baru, sedangkan Nabi adalah seorang yang diberi wahyu untuk menetapkan syari’at sebelumnya.[40]

Kata وَرَسُولُهُ dalam pernyataan Ibnu Taimiyah ini adalah sifat yang tidak diberikan kepada seorangpun setelah beliau, karena beliau adalah penutup sekalian nabi.[41]

 

Syeikhul Islam berkata:

 صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصَْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدًا

Terjemah: Semoga Allah melimpahkan sholawat kepada beliau, keluarganya dan para sahabatnya dan melimpahkan salam yang lebih.

Syarah:

Sholawat dalam bahasa berarti do’a, sedangkan Bersholawat untuk nabi bermakna memohon kepada Allah untuk memuji RasulNya, meninggikan keutamaan dan kemuliaannya serta memuliakan dan menjadikannya dekat kepada Allah[42]. Sedangkan makna sholawat Allah untuk hamba-hambaNya terbagi dua:

1.        umum kepada hambaNya yang beriman, maka bermakna rahmat seperti firman Allah :

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلاَئِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. 33:43)   dan do’a Rasululloh kepada salah seorang kaum mukminin:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِيْ أَوْفَى

Ya Allah berikanlah sholawat (rahmat) kepada keluarga Abu Aufa[43]

2.        khusus kepada nabiNya, maka bermakna memujinya di langit dihadapan para malaikatNya,[44] sebagaimana tafsier Ibnu ‘Aaliyah yang diriwayatkan imam Al Bukhorie dalam Shohihnya dalam bab: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ.

                Adapun sholawat malaikat untuk hamba Allah adalah permohonan ampunan dari mereka kepada Allah, sebagaimana dalam hadits  yang berbunyi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

Sesunggguhnya Rasululloh bersabda: “para malaikat bersholawat untuk salah seorang kalian selama ia berada di tempat sholat yang dipakainya sholat selama belum berhadats. Para Malaikat berkata: “Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia”. (Muttafaqun ‘Alaihi).[45]

                Disyariatkan bersholawat kepada nabi pada hal-hal sebagai berikut[46]:

1.        Di akhir tasyahud. Sebagaimana disampaikan dalam hadits Abu Mas’ud Uqbah bin Amru Al Anshorie, beliau berkata:

أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي مَجْلِسِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَقَالَ لَهُ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ أَمَرَنَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَمَنَّيْنَا أَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْهُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَالسَّلَامُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ

Rasululloh menjumpai kami di dalam majlis Sa’ad bin Ubadah, Lalu Basyier bin Sa’ad berkata kepada beliau : Wahai Rasululloh, Allah telah memerintahkan kami untuk bersholawat kepadamu, bagaimana bersholawat kepadamu? Beliau menjawab: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Sedangkan salam telah kalian ketahui.[47]

2.        Dalam sholat jenazah setelah takbier kedua. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Umamah bin Sahl, bahwa beliau telah diberitahu seorang sahabat Rasululloh :

أَنَّ السُّنَّةَ فِيْ الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُوْلَى سِرًّا فِيْ نَفْسِهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِ

Sesungguhnya sunnah dalam sholat jenazah adalah imam bertakbir lalu membaca surat Al fatihah setelah takbier pertama secara siri dalam dirinya kemudian bersholawat kepada Nabi.[48]

3.        Dalam khutbah-khutbah, seperti khutbah jum’at, Ied dan lain-lainnya

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ أَبِي مِنْ شُرَطِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَانَ تَحْتَ الْمِنْبَرِ فَحَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَعْنِي عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَحَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَالثَّانِي عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ يَجْعَلُ اللَّهُ تَعَالَى الْخَيْرَ حَيْثُ أَحَبَّ

Dari ‘Aun bin Abi Juhaifah, beliau berkata: Bapaknya dulu adalah pengawal imam Ali, dan beliau berada dibawah member. Lalu bapakku menceritakan kepadaku bahwa imam Ali naik mimbar, lalu memuji Allah dan bersholawat kepada Nabi dan berkata: ‘Sebaik-baiknya umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan kedua adalah Umar’ dan berkata: ‘Allah menjadikan kebaikan dimana Ia cintai.[49]

4.        Setelah Adzan, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amru:

أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Beliau mendengar Rasululloh bersabda: “Jika kalian mendengar adzan Muadzin maka ucapkanlah apa yang ia ucapkan kemudian bersholawatlah kepadaku, karena siapa yang bersholawat kepadaku sekali maka Allah akan beersholawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mohonlah kepada Allah Al Wasilah untukku, karena ia adalah satu kedudukan di Syurga yang tidak patut kecuali untuk seorang hamba Allah dan aku berharap akulah ia. Maka siapa yang memohonkan untukku Al Wasilah maka ia akan mendapat syafaatku.[50]

5.        ketika berdo’a. sebagaimana dalam hadits Fadholah bin ‘Ubaid yang berbunyi:

سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلَ هَذَا ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Rasululloh mendengar seseorang berdo’a dalam sholatnya, lalu tidak bersholawat kepada Nabi. Maka Rasululloh bersabda: “orang ini tergesa-gesa”. Kemudian beliau memanggilnya dan bersabda kepadanya: “Jika salah seorang kalian sholat (berdo’a) maka hendaknya memulai dengan tahmid dan memuji Allah kemudian bersholawatlah kepada Nabi kemudian berdo’alah setelah itu sesukanya.[51]

6.        ketika keluar dan masuk masjid, sebagaimana hadits Abu Usaid yang berbunyi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ فَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Rasululloh bersabda: Jika salah seorang dari kalian masuk masjid maka beri salamlah kepada Nabi kemudian bacalah: ‘اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ’ . apabila keluar (dari masjid) maka bacalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ. [52]

Dan hadits Fathimah yang berbunyi:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

Rasululloh jika masuk masjid bersholawat dan salam kepada Muhammad dan berkata:

 رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ dan jika keluar bersholawat dan salam kepada Muhamad dan berkata: رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ [53]

7.        Diatas Shofa dan Marwa. Sebagaimana hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

كَانَ ابْنُ عُمَرَ يكَبِّرُ عَلَى الصَّفَا ثَلاَثًا يَقُوْلُ :لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ثُمَّ يُصَلِّيْ عَلَ النَبِي ثُمَّ يَدْعُو

Ibnu Umar dahulu bertakbir di Shofa tiga kali dan menyatakan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ kemudian bersholawat kepada Nabi lalu berdo’a.[54]

8.        Ketika berkumpul dan sebelum berpisah. Ini dijelaskan dalam hadits Abu Hurairoh beliau berkata bahwa Rasululloh bersabda:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ 

Tidaklah satu kaum duduk dimajlis yang tidak disebut nama Allah dan tidak ada sholawat kepada nabi mereka kecuali mereka mendapatkan kerugian, jika Allah ingin maka akan menyiksa mereka dan apabila ingin maka ia ampuni mereka[55]

9.        Ketika disampaikan nama Rasululloh, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairoh, beliau berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Rasululloh bersabda celakalah seorang yang disebutkan namaku padanya lalu tidak bersholawat kepadaku[56]

10.     Pada pagi dan sore hari, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Darda’, beliau berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشَرًا وَ حِيْنَ يُمْسِيْ عَشْرًا أَدرَكَتْهُ شَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Rasululloh bersabda barangsiapa yang bersholawat kepadaku sepuluh kali pada waktu pagi dan sepuluh kali pada waktu sore maka mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.[57]

11.     pada hari dan malam jum’at, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Aus bin Aus, beliau berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

Rasululloh bersabda: “Sungguh diantara hari yang terbaik adlah hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan dan pada hari itu juga terjadi peniupan sangkakala pertama dan kedua, maka perbanyaklah bersholawat kepadaku, karena sholawat kalian dipaparkan kepadaku”. Mereka bertanya: ‘Wahai Rasululloh bagaimana dipaparkan kepadamu padahal engkau telah menjadi debu’. Maka Rasululloh menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan tanah memakan jasad para nabi”.[58]

12.     Bersholawat disemua tempat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairoh, beliau berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ

Rasululloh bersabda: “janganlah kalian jadikan rumah kalian kuburan dan jangan jadikan kuburanku ‘ied dan bersholawat kepadaku, karena sholawat kalian dipaparkan sampai kepadaku dimanapun kalian berada”[59]

Demikianlah diantara tempat dan waktu yang disyari’atkan bersholawat padanya.

 

 Pernyataan Ibnu Taimiyah : آلِهِ وَ أَصَْحَابِهِ

Para ulama berselisih tentang asal kata “Al Aal”, ada yang menyatakan asalnya  dari kata Ahlu (أَهْل)   kemudian huruf ha’ berubah menjadi huruf hamzah (أَأْل) lalu dimudahkan menjadi (آل). Kata ini pada umumnya tidak dipakai kecuali pada hal-hal terhormat[60]. Sebagian ulama menyatakan asal katanya dari kata Aul (أَوْل)  yaitu dari (آل – يَؤُوْلُ) bermakna kembali. Sehingga makna pernyataan: ( آل الرَجُلِ)  adalah keluarga dan kerabatnya dan juga pengikutnya.

Dengan demikian maka makna pernyataan Ibnu Taimiyah : آله ini bermakna kerabat beliau atau pengikut beliau.

Syeikh Ibnu Al Utsaimin berkata: ‘Pernyataan Ibnu Taimiyah : آله ini bermakna pengikut beliau dalam agama. Ini bila kata الآل berdiri sendiri tanpa diikuti kata الصَحِب. Sehingga maknanya adalah seluruh pemeluk agamanya sejak beliau diutus sampai hari kiamat nanti. Kata الآل bermakna pemeluk agama ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat(Dikatakan kepada malaikat):”Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras”. (QS. 40:46)bermakna pemeluk agamanya. Sedangkan apabila digabung dengan kata الأتباع  maka الآل bermakna kaum mukminin dari ahli bait Rasululloh. Ibnu Taimiyah disini tidak menyebut kata الأتباع , hanya menyatakan: آلِهِ وَ أَصَْحَابِهِ  sehingga makna آلِهِ  adalah pemeluk agamanya dan أَصَْحَابِهِ adalah semua orang yang berkumpul dengan Nabi dalam keadaan mukmin dan mati dlam keadaan demikian juga’.[61]

Pernyataan Ibnu Taimiyah: وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدًا .  kata Salaam dalam bahasa Arab adalah masdar dari

سَلَّمَ تَسْلِيْمًا bermakna memohon keselamatan dari seluruh yang tidak disukai. Ia juga termasuk salah satu nama Allah Ta’ala. Maknanya adalah berlepas diri dan bersuci dari segala kekurangan dan aib atau dzat yang memberikan keselamatan kepada kaum mukminin di akherat.[62] Dalam pernyataan ini beliau menggabung antara permohonan kepada Allah untuk mewujudkan seluruh kebaikan kepada nabiNya –terkhusus lagi pujian terhadapnya di langit- dengan permohonan dihilangkan dari beliau segala pengganggu dan demikian juga untuk para pengikut beliau.[63]

 

 




[1] Lihat Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya beliau op.cit hal 45.

[2] Lihat komentar beliau dalam Al jaami’ Ash Shohih karya At Tirmidziy 2/16-25.

[3] Diriwayatkan imam Muslim dalam shohihnya, kitab Ash Sholat, Bab Wujub Qiraatil fatihah fi Kulli Rak’atin hadits no. 878

[4] Tafsir Al fatihah karya beliau diambil dari Internet.

[5] Lihat penjelasan kaedah ini dalam kaedah kedua dari kaedah memahami nama Allah dalam kitab Al Qawaa’id Al Mutsla Fi Shifaatillahi Wa Asmaihil Husna karya Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin Tahqieq Asyraf Abdulmaqshud, tanpa cetakan tahun 1416 H, Adhwa’ Al Salaf, Riyaadh hal 24-27.

[6] Lihat kaedah ketiga dari kaedah nama Allah dalam Al Qowaid Al Mutsa op.cit hal. 28 dan Taisir Karimurrahman karya Syeikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’diy, tahqieq Abdurrahman bin Mu’alla Al Luwaihieq, cetakan pertama tahun 1421 H, Muassasat Al Risalah, Baerut hal 39.

[7] Majmu’ Fatawa 22/398

[8] Lihat Majmu’ Fatawa 8/378, Jami’ Ar Rosa’il wal Masaail 2/57 dan Minhajus Sunnah 5/404.

[9] Badai’ Al fawaaid karya Ibnul Qayyim 2/93

[10] Madarijus Saalikin karya Ibnul Qayyim 1/64

[11] Majmu’ fatawa 1/89.

[12] Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Haraas op.cit hal 52.dan Ar Roudhatun Nadiyah Syarhul Aqidah Al Wasithiyah karya Zaid bin Abdulaziz bin Fayyaad op.cit hal 6

[13] Diriwayatkan oleh imam Bukhoriy hadits dalam shohihnya kitab Ath Thibb, Bab man Iktawa wa Kawaa wa fadhlu muktawin no. 5270

[14] lihat Ar Rosul War Risaalah karya Umar Sulaiman Al Asyqar, cetakan ketiga tahun 1405 H, maktabah Al Falaah , Kuwait hal 14

[15] syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Sholeh AliFauzaan, cetakan pertama tahun 1414H, maktabah Dar Al Salaam, Riyaadh. hal.6-7

[16] lihat syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Sholeh AliFauzaan op.cit hal.6-7, Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Kholil Haros op.cit hal.53 dan Raudatun nadiyah syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Zaid bin Abdilaziz op.cit hal 6.

[17] Raudatun nadiyah syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Zaid bin Abdilaziz op.cit hal 6.

[18] lihat syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Sholeh AliFauzaan op.cit hal.7, Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Ibnu Utsaimin, tahqieq Sa’ad bin Fawaaz Al Shomail, cetakan kedua tahun 1415 H. Dar Ibnu Al Jauzie, Al Dammaam. Hal.1/40 

[19] diambil dari perkataan Syeikh Ibnu Utsaimin dalam Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah op.cit hal1/40.

[20] Ibid

[21] Al Jawabush Shohih Liman Baddala Dinul Masih karya Ibnu Taimiyah 1/106. dinukil dari Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah karya Al Mushlih op.cit hal 10.

[22] Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah Ibnu Utsaimin op.cit 1/40-41.

[23] Bayan Talbisil jahmiyah 2/341 dinukil dari Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah karya Al Mushlih op.cit hal 10

[24] Zadul Ma’ad 2/129 dinukil dari Raudhatun Nadiyah Syarhu Al Aqidah Al Wasitiyah op.cit hal 6.

[25] Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya beliau op.cit hal 7.

[26] Diriwayatkan oleh Imam Bukhori

[27] lihat Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah karya Ibnu Utsaimin op.cit 1/41

[28] Al Jawaabush Shohih 5/407-408, dinukil dari Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah karya Al Mushlih op.cit hal 11.

[29] Syarah Al Wasitiyah karya beliau op.cit hal.7

[30] lihat keterangan pensyarah Aqidah Ath Thohawiyah hal. 42-43

[31] Madarijus salikin karya Ibnu Al Qayyim 3/450. dinukil dari Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah karya Al Mushlih op.cit hal 11.

[32] lihat Raudhatun Nadiyah Syarhu Al Aqidah Al Wasitiyah op.cit hal 7.

[33] Lihat pernyataan Ibnu Taimiyah dalam majmu’ Fatawa 24/235

[34] Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Al Mushlih op.cit hal.11

[35] Potongan hadits syafaat yang panjang, diriwayatkan dari hadits Anas bin Maalik oleh Al Bukhoriy No. 4476, 6565, 7410 dan 7516  dan Muslim No. 193 (322).

[36] Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah op.cit hal.139.

[37] Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Al Mushlih op.cit hal.11.

[38] dikutip dari penjelasan Syeikh Muhammad Kholil Haroos dalam Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah op.cit hal 58.

[39] Lihat lebih lengkap tulisan Ibnu Ahmad Al Lambunji berjudul iman Kepada Rasul Allah, dalam Majalah Assunnah edisi 12/tahunVI/ 1423H/2003M hal. 42-43.

[40] Tim Kurikulum Aqidah, Muqarror Al Tauhid LiShof Al Tsaani Al ‘Ali Fi Al Ma’ahid Al Islamiyah, tanpa tahun dan penerbit, hal 57.

[41] Lihat Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah Ibnu Utsaimin op.cit 1/45.

[42] Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Al Mushlih op.cit hal 11-12 menukil dari kitab Jala’ Al Afhaam karya ibnu Al Qayyim.

[43] Diriwayatkan oleh imam Al Bukhori dan Muslim no. 1078.

[44] Lihat Al Muntaqaa Min Jalaa’I Al Afhaam Fi Fadhli Al Sholat Wa Al Salaam ‘Ala Muhammadain Khoir Al Anaam, karya Muhammad bin Ahmad Sayied Ahmad tanpa cetakan dan tahun, Dar AL Wasielah, Jeddah, KSA hal87-89.

[45] lihat Syarhu Al Aqidah Al Wasitiyah al Haros op.cit 58-59.

[46] Diringkas dari Al Muntaqaa Min Jalaa’I Al Afhaam Fi Fadhli Al Sholat Wa Al Salaam ‘Ala Muhammadain Khoir Al Anaam, karya Muhammad bin Ahmad Sayied Ahmad op.cit hal. 41-55 dan kitab Fadhlu Al Sholat ‘Ala Al Nabi karya Isma’il binIshaaq Al Qadhie, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al Albanie., cetakan ketiga tahun1397, Al Maktab Al Islamie

[47] Diriwayatkan oleh Ahmad 5/274 dan Muslim no. 405

[48] diriwayatkan imam Syafi’ie dalam Al Um 1/239 dan 240 dan Al Haakim dalam Al Mustadrok 1/360 dan beliau berkata: ‘Ini hadits shohih sesuai syarat Al Syaikhon (Al Bukhori dan Muslim) dan keduanya tidak mengeluarkannya’ Hal ini disepakati Al Dzahabie.

[49] Diriwayatkan oleh imam Ahmad 1/106 dan berkata Ahmad Syakier: ‘Isnadnya Shohih’.

[50] Diriwayatkan oleh imam Muslim no.384.

[51] diriwayatkan oleh Abu Daud no. 1481, At Tirmidzie no. 3477 dan berkata: Hadits hasan shohih.

[52] Diriwayatkan oleh Abu Daud no 393, An Nasa’I no 721 dan Ibnu Majah no. 763

[53] diriwayatkan oleh Abu daud no. 465, At Tirmidzi no. 289 dan Ibnu Majah no. 771. At Tirmidzi berkata: “Hadits Fathimah hadits hasan dan sanadnya terputus”. Hadits ini dishohihkan dengan syahid penguatnya oleh Al Albani, lihat kitab Fadhlu Al Sholat ‘Ala Al Nabi karya Isma’il bin Ishaaq Al Qadhie, op.cit hal71-72.

[54] Diriwayatkan oleh Isma’il bin Ishaaq  Al Qaadhie dalam Fadhlu Sholaat ‘Ala An nabie op.cit hal 74 no. 87. Al Albanie berkata: Sanadnya Muttashil Shohih.

[55] Diriwayatkan oleh At Tirmidzie dan Abu Daud. Hadits ini dishohihkan Al Albanie dalam Shohih Al Jaami’ Al Shoghir no 5382.

[56] Diriwayatkan Oleh At Tirmidzi no 3539 dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jami’ 3504.

[57] Disohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jami’ no. 6233.

[58] Diriwayatkan Abu Daud no. 1047.

[59] Diriwayatkan Abu Daud no. 2042

[60] lihat Syarhu Al Aqidah Al Wasitiyah Al Haraas op.cit hal 59 dan pendapat ini dilemahkan Ibnu Al Qayyim sebagaimana dinukil dalam Al Muntaqa Min Jala Al Afhaam op.cit hal 107

[61] Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah Ibnu Utsaimin op.cit hal 1/47

[62] Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah Al haraas op.cit hal 61.

[63] Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah Ibnu Utsaimin op.cit 1/47-48.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: