h1

Syarah Aqidah Wasitiyah 1

September 11, 2007

Pendahuluan

 

ِ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا فَمَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصَْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا

Amma Ba’du:

Tidak disangsikan lagi, kesempurnaan agama ini adalah nikmat Allah yang paling besar bagi umat ini. Agama Islam yang ditinggalkan Rasululloh dalam keadaan lengkap, sempurna dan menyeluruh, sehingga terang benderang tidak ada kesamaran sama sekali pada ajarannya. Binasalah orang yang menyimpang darinya dan tidak mau berjalan diatas manhaj rabbaniy, manhaj Rasululloh dan para sahabatnya.

Demikianlah Rasululloh telah menjelaskan kepada kita, seluruh kebaikan yang dapat mendekatkan kesyurga dan telah memperingatkan seluruh kejelekan yang menjauhkan diri kita dari syurga. Semua ini agar binasalah orang yang binasa diatas hujjah dan hiduplah orang yang mengikutinya diatas hujjah juga.

Mengenal aqidah yang benar merupakan satu keharusan bagi setiap muslim. Apalagi dimasa seperti ini, masa yang penuh dengan usaha penyesatan dan pemurtadan baik melalui kebidahan yang samar sampai kepada kekufuran yang paling jelas. Semuanya berkembang dan tumbuh subur dengan pemeliharaan para musuh Allah dari kalangan syeiton manusia dan jin. Ditambah dengan cara yang mereka tempuh untuk mensukseskan program mereka ini. Sungguh mengerikan dan membuat seorang muslim mengelus dada dan mengerenyutkan dahinya, khawatir dipagi hari jadi seorang muslim dan disore harinya menjadi kafir. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan ada didepan mata kita semua. Lalu bila menengok keadaan kaum muslimin secara khusus, didapatkan mereka dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Perselisihan, perpecahan dan permusuhan terus tumbuh berkembang dengan suburnya. Mereka tidak ingat akan peringatan Allah dalam Al Qur’an:

وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmt dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:46)

Juga tidak ingat akan perintah Allah untuk mengembalikan perselisihan dan perbedaan pendapatnya kepada Al Qur’an dan sunnah, sebagaimana firmanNya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Demikianlah seharusnya, sebagaimana telah jelas dalam manhaj para sahabat dan tabiin serta orang yang mengikuti jejak mereka dalam berislam.

Apalagi dalam permasalahan aqidah, permasalahan yang sangat besar bagi seorang muslim. Tentunya harus mendapatkan perhatian serius jangan sampai menyelisihi ajaran Rasululloh dan para sahabatnya.

 

 

Arti Penting Aqidah Salaf.

Sudah sepantasnya seorang yang ingin memperjari aqidah salaf mengetahui arti penting (urgensi) aqidah tersebut. Semua ini untuk memberikan gambaran kedudukan aqidah tersebut dan dapat dapat mendorong untuk lebih semangat mempelajarinya. Terlebih-lebih pada masa sekarang ini; dimana banyak kaum muslimin yang melalaikan hal ini dan tenggelam dalam lautan syahwat dan syubhat.

Arti penting mempelajari aqidah salaf terlahir dari arti penting aqidah itu sendiri. Juga kepada kewajiban bersungguh-sungguh bekerja untuk mengembalikan manusia kepada aqidah tersebut. Hal ini karena beberapa hal:

  1. belajar aqidah salaf termasuk mempelajari ilmu termulia, teragung dan terpenting, karena kemuliaan satu ilmu tergantung dengan dzat yang dipelajari (Al maklum) dan Allah adalah Dzat yang maha agung dan maha mulia. Mengenal Allah merupakan dasar terpenting semua ilmu. Oleh karena itu imam Abu hanifah menamakan ilmu aqidah ini sebagai Fiqhul Akbar.
  2. Aqidah salaf adalah wasilah terpenting mencapai keridhoan Allah.
  3. Barisan kaum muslimin dan para da’inya hanya dapat bersatu diatas aqidah ini. Demikian juga kekuatan mereka, tanpa aqidah ini mereka akan berpecah belah. Hal ini dikarenakan aqidah salaf adalah aqidah Al Quran dan sunah serta aqidah generasi pertama umat ini dari kalangan para sahabat. Sehingga seluruh kesatuan dan persatuan yang tidak berlandaskan aqidah ini hasilnya hanyalah kegagalan dan perpecahan.
  4. Aqidah salaf membuat seorang muslim mengagungkan nas Al Qur’an dan Sunnah dan melindunginya dari penolakan makna atau bermain-main dalam menafsirkannya sesuai hawa nafsu dan keinginannya.
  5. Aqidah salaf mengikat seorang muslim kepada para salaf dari kalangan sahabat dan yang mengikuti mereka, sehingga menambah kemuliaan, iman dan kehormatannya. Hal ini karena para salaf tersebut adalah para wali Allah dan imam-imam yang bertaqwa. Hal ini seperti disampaikan oleh Ibnu Mas’ud:

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوب الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

Sesungguhnya Allah telah melihat hati para hamba-Nya, dan mendapatkan hati Muhammad sebaik-baiknya hati mereka, lalu memilihnya dan mengutusnya membawa risalah. Kemudian melihat kepada hati para hamba setelah hati Muhammad dan mendapatkan hati para sahabat sebaik-baiknya hati para hamba, lalu menjadikan mereka sebagai pendamping nabi-Nya. Mereka berperang membela agama-Nya, sehingga apa yang dipandang kaum muslimin sebaagi kebaikan maka ia baik disisi Allah dan apa yang dipandang mereka sebagai kejelakan maka ia adlah kejelekan disisi Allah.[1]

  1. Aqidah salaf memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya, yaitu kejelasannya. Aqidah salaf menjadikan Al Qur’an dan sunnah sebagai sumber gambaran dan pemahamannya, jauh dari ta’wil, ta’thil dan tasybih. Demikian juga aqidah ini dapat menyelamatkan orang yang berpegang teguh (komitmen) kepadanya dari kerancuan pembicaraan tentang dzat Allah, menemtang nas Al Qur’an dan sunnah nabi-Nya. Dari sana aqidah salaf memberikan pemiliknya sikap ridho dan tenang menerima taqdir Allah dan mengagungkan keagungan Allah serta tidak membebani akal untuk berfikir tentang sesuatu diluar kemampuannya, seperti masalah-masalah ghaib. Maka aqidah salaf sangat mudah sekali dan jauh dari kerancuan dan ketidak mampuan memahaminya.[2]

 

Keistimewaan dan Karakteristik Aqidah salaf

Diantara kekhususan dan keistimewaan aqidah salaf, adalah:

  1. Aqidah salaf bersumber kepada sumber yang asli dan suci yaitu Al Qur’an dan sunnah dan jauh dari hawa nafsu dan syubhat.
  2. Aqidah salaf memberikan ketenangan dan kemantapan jiwa dan menjauhkan pemiliknya dari keraguan dan kerancuan.
  3. Aqidah salaf menjadikan sikap seorang muslim selalu mengagungkan nas-nas Al Qur’an dan sunnah, karena ia mengetahui kebenaran dan hak hanya ada padanya. Inilah keselamatan dan keistimewaan yang penting.
  4. aqidah salaf dapat mewujudkan sifat yang Allah ridhoi dalam firmanNya:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Surat Annisaa’ :65)

  1. Aqidah salaf mengikat seseorang dengan para salaf sholeh.
  2. Aqidah salaf menyatukan barisan kaum muslimin dan persatuannya, karena ini merupakan perwujudan firman Allah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Surat Alimran:103)

  1. Aqidah salaf menjadikan orang yang berpegang teguh (komitmen) dengannya selamat dan masuk dalam janji Rasululloh mendapatkan pertolongan dan kemenangan disunia dan keselamatan diakherat.
  2. Berpegang teguh kepadanya merupakan sebab terpenting keistiqomahan agama seseorang.
  3. Aqidah salaf memiliki pengaruh besar dalam perbaikan suluk dan akhlak orang yang berpegang teguh (komitmen) dengannya.
  4. Berpegang teguh dan mengamalkan aqidah salaf termasuk sebab terpenting yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keridhoannya[3]
  5. Aqidah salaf adalah aqidah yang konsisten tidak berubah dengan tempat dan zaman.
  6. Aqidah salaf adalah aqidah yang jelas dan mudah, karena diambil dari sumber yang suci jauh dari noda syubhat dan hawa nafsu dan bersih dari ta’wil-ta’wil.

Arti Penting Kitab Al ‘Aqidah Al Wasitiyah Dalam Mempelajari Aqidah Salaf.

Kitab ini telah mendapatkan pujian dan penerimaan dari para ulama dan penuntut ilmu baik terdahulu maupun sekarang. Kitab yang dikarang Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah ini sudah tidak asing lagi bagi mereka, karena kedudukan dan arti pentingnya dalam menjelaskan aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Diantra arti pentingnya adalah:

  1. Kitab ini telah diakui sangat bermanfaat dalam menjelaskan aqidah salaf walaupun dengan lafadz yang ringkas dan ibarat yang mudah.
  2. Kandungan aqidah wasitiyah ini seluruhnya bersandarkan kepada Al Qur’an, sunnah dan ijma’ salaf umat ini dan para imamnya. Ini ada pada lafadz dan maknanya. Hal ini dijelaskan beliau dalam pernyataannya dalam dialog yang terjadi dalam aqidah ini:

Saya dalam aqidah ini sangat memperhatikan petunjuk Al Quran dan sunnah[4]

Dan menyatakan:

Semua lafadz yang saya sebutkan (dalam aqidah ini), mesti saya sebutkan juga dengannya ayat atau hadits atau ijma’ salaf[5]

3. Isi kandungan kitab ini adalah hasil riset penelitian syeikhul islam terhadap perkataan dan pendapat para salaf dalam pembahasan nama dan sifat Allah, hari akhir, iman, takdir, sahabat dan lain-lainnya dari permasalahan ushul dan I’tikad. Ini tampak dalam pernyataan beliau:

Tidaklah saya masukkan dalam kitab ini kecuali aqidah seluruh salaf sholeh[6]

  1. Pengarang kitab ini (Syeikhul Islam) telah mengerahkan kemampuan dan kesempatannya untuk menjelaskan sejelas-jelasnya jalan firqatun najiyah dalam aqidah, sehingga beliau berkata:

Saya telah teliti secara perlahan seluruh orang yang menyelisihi saya pada satu hal dari aqidah ini selama tiga tahun. Jika ada satu huruf dari seorang yang termasuk tiga generasi mulia yang menyelisihi apa yang telah saya sampaikan, maka saya akan rujuk dari hal itu.[7]

  1. Kitab aqidah ini walaupun sangat ringkas tapi telah mencakup hampir semua permasalahan I’tikad dan ushul iman.[8]

Demikian, kitab ini telah meraih penerimaan para ulama, sehingga Al Imam Adz Dzahabi menyatakan:

Telah disepakati kitab ini merupakan I’tikad salafiy yang bagus[9]

Juga Ibnu Rajab menyatakan:

Telah disepakati, inilah I’tikad sunni salafiy[10]

Demikian juga syeikh Abdurrahman Assa’diy menyatakan:

Kitab ini dengan ringkas dan jelasnya telah mencakup seluruh I’tikad yang wajib diyakini dalam ushul iman dan aqidah yang shohihah[11]

Syeikh Zaid bin Abdilaziz bin Fayyaadh menyatakan:

Sesungguhnya kitab Al Aqidah Al Wasitiyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah walaupun kecil dan ringkas namun sangat bermanfaat dan besar faedahnya. Beliau dalam kitab ini telah menjelaskan madzhab salaf dalam aqidah yang selamat dari noda-noda kebidahan dan pemikiran ahli kalam yang sesat.[12]

Oleh karena itulah para ulama dan penuntut ilmu memberikan perhatian serius terhadap kitab ini baik dalam pengajaran atau karya tulis mereka. Mereka menulis syarah dan ta’liq (komentar penjelas) terhadap kitab ini.

Diantara hasil karya mereka yang berkenaan dengan kitab Al Aqidah Al Wasitiyah adalah sebagai berikut:

  1. At Tambihatul Lathifah Fimaa Ihtawat ‘Alaihi Al Wasithiyah Minal Mabaahits Al Munifah karya Syeikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’diy. Kitab ini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Syarah Aqidah Al Wasitiyah oleh Ustadz Yazid bin Abdulqadir Jawaz diterbitkan oleh Darulhaq, Jakarta.
  2. Al Aqidah Al Wasithiyah yang dita’liq oleh Syeikh Muhammad bin Abdilaziz bin Maani’, ini merupakan komentar singkat beliau, diterbitkan di percetakan Saad Ar Rasyiid di Riyadh.
  3. Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Muhammad Kholil Haraas, kitab ini di tahqiq oleh Alwiy bin Abdilqadir As Saqqaaf, diterbitkan oleh penerbit Darul Hijroh, Riyadh, KSA. Sebelum beliau kitab ini telah diteliti oleh Syeikh Abdurrazaaq ‘Afifiy dan dicetak oleh Al Jami’ah Al Islamiyah (universitas Islam madinah) dalam 176 halaman. Kemudian dicetak lagi dengan pembenahan dan komentar Syeikh Isma’il Al Anshoriy, dicetak di Riasah Al Amaah Liidaratil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’ wad Dakwah wal Irsyaad dalam 187 halaman pada tahun 1403 H.

Syarah ini memiliki keistimewaan dalam syarah yang tidak terlalu panjang, namun hampir semua ibarat Syeikhil islam telah tersyarah kata perkata.

  1. At Tambihatus Sunniyah ‘Alal Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Abdulaziz bin naashir Ar Rosiid. Ini adalah syarah yang cukup panjang lebar dalam 388 halaman dan diterbitkan Dar Ar Rasyid.
  2. Al Kawaasyif Al jaliyah ‘An Ma’aaniy Al Wasithiyah karya Syeikh Abdulaziz bin Muhammad Alisalman. Dicetak beberapa kali dan dibagikan Cuma-Cuma. Akhir cetakan adalah cetakan ke-17 tahun 1410 dalam 807 halaman.
  3. Al Asilah wal Ajwibah Al Ushuliyah ‘Alal Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Abdulaziz Alisalman. Berisi 340 halaman dan dibagikan Cuma-Cuma.
  4. Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Shoolih bin Fauzaan Alifauzan. Beliau salah seorang anggota majlis ulama besar Saudi Arabia. Ini adalah syarah ringkas dan mudah dalam 222 halaman. Beliau banyak bersandar dalam syarah ini kepada kitab At Tambihatus Sunniyah ‘Alal Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Abdulaziz bin naashir Ar Rosiid dan Ar Roudhatun Nadiyah Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Zaid bin Abdilaziz bin Fayyaadh.
  5. At Ta’liqatul Mufidah ‘Alal Aqidah Al Wasithiyah karya Abdullah bin Abdurrohman bin Ali Asy Syariif.
  6. Al Aqidah Al Wasithiyah Wa Majlis Al Munadzaroh Fiha Baina Syeikhil Islam Ibnu Taimiyah wa ‘Ulama Ashrihiditahqiq oleh Zuhair Asy Syaawiisy.
  7. Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Sa’id bin Ali bin Wahb Al Qohthoniy.
  8. Ar Roudhatun Nadiyah Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah karya Zaid bin Abdilaziz bin Fayyaadh. Kitab yang menjelaskan Aqidah Al Wasithiyah dengan panjang lebar sepanjang 516 halaman.
  9. Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin. Ini adalah syarah yang sangat bagus dan indah, sepantasnya dimiliki oleh setiap tholibil ilmu. Dicetak dalam 2 jilid sebanyak 414 halaman di Dar Ibnil Jauziy.
  10. Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah min Kalami Syeikhil Islam karya Syeikh Kholid bin Abdillah Al Mushlih. Dalam syarah ini beliau mengambil penukilan pernyataan syeikhul islam dalam karya-karya tulisnya ditambah sedikit dari pernyataan Ibnul Qayim dalam melengkapi syarahnya. Dicetak dalam 216 halaman di Dar Ibnil Jauziy tahun 1421 H

Sebab Penamaan Al Aqidah Al Wasitiyah

Kitab Al Aqidah Al Wasitiyah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah ditulis beliau dengan satu sebab yaitu permintaan Syeikh Radhiuddin Al Waasithiy. Beliau diminta menulis satu tulisan mengenai aqidah salaf ahli sunnah wal jama’ah karena banyaknya penyimpangan dan kebodohan kaum muslimin terhadap aqidah yang benar. Hal ini beliau jelaskan dalam pernyataannya:

Seorang qadhi dari wilayah Waasith[13] bernama Radhiuddin Al Waasithiy yang bermadzhab Syafi’iy datang kepada kami sambil pergi haji. Beliau seorang yang sholeh dan berilmu. Kedatangan beliau kepada kami mengadukan keadaan manusia dinegeri tersebut dan di negeri tatar (dibawah kekuasan bangsa Tatar (Mongol)). Mereka dalam keadaan sangat bodoh dan dzolim sampai-sampai mereka kehilangan agama dan ilmu. Beliau meminta saya menulis aqidah yang dapat dijadikan sandaran (pedoman) dia dan keluarganya. Lalu saya merasa sungkan memenuhinya. Maka saya katakana padanya: “Sudah banyak para ulama telah menulis kitab aqidah yang beragam, ambilah darinya aqidah para imam sunnah”. Namun beliau terus meminta kepada saya dan berkata: “Saya hanya menginginkan aqidah yang engkau tulis”. Kemudian saya menuliskan untuknya aqidah ini dalam keadaan duduk setelah ashar. Akhirnya tulisan aqidah ini banyak tersebar di kota Mesir, Iraq dan lainnya.[14]

Karena itulah aqidah ini dinamakan Al Aqidah Al Wasithiyah. Demikian juga aqidah ini merupakan aqidah yang tengah-tengah yang adil sebagaimana ahlus sunnah tengah-tengah diantara kelompok islam yang ada. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan:

Bahkan mereka –yaitu Ahlus sunnah wal Jama’ah- wasath (tengah-tengah) diantara kelompok (firqoh) umat islam, sebagaimana umat islam adalah umat tengah-tengah diantara umat yang ada. Mereka (ahlu sunnah) bersikap adil (tengah-tengah) dalam pembahasan sifat Allah diantara ahlu ta’thil[15] Jahmiyah[16] dan ahlu Tasybih[17] Al Musyabihah[18]. Demikian juga bersikap adil (tengah-tengah) dalam masalah perbuatan Allah diantara Al Jabariyah dan Al Qadariyah[19]

Sehingga benar-benar wasithiyah yang wasath (yang adil tengah-tengah).


[1] Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya 1/379 dan dishohihkan sanadnya oleh Syeikh Ahmad Syaakir no. 3600. Syeikh Abu Usamah Saliim bin ‘ied Al Hilaliy: “Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya 3/179, Ath Thoyaalisiy dalam musnadnya hal 23 dan Al Khothib Al baghdadiy dalam Al Faqiih wal Mutafaqqih 1/166 secara mauquf dengan sanad hasan”. (diambil dari kitab Limadza Ikhtartu Al manhaj As Salafiy (edisi Bahasa Arab) karya Saalim bin I’ed Al Hilalie, cetakan Markaz Al Albani hal 88.

[2] Dari kata pengantar Syeikh ‘Alwi Abdil Qadiir As Saqaf pada kitab Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah karya Muhammad Kholil Al Haras, Tahqieq ‘Alwi Abdil Qadiir As Saqaf, cetakan ketiga, tahun 1415H, Dar Al Hijroh, Riyaadh. hal 6-7 dengan pengurangan.

[3] Keistimewaan ini teringkas dalam Mudzakirot “Manhaj As Salaf” hasil ceramah Syeikh Abdullah Al Ubailaan. Hal 5-6.

[4] Majmu’ fatawa 3/165

[5] ibid 3/189

[6] ibid 3/169

[7] ibid

[8] hal ini diambil dari Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah yang disusun Syeikh Kholid bin Abdillah Al Mushlih, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar Ibnu Al Jauzie, Al Dammaam, hal 5-6.

[9] Al ‘Uqud Ad Duriyah hal 212

[10] Adz Dzail ‘ala Thobaqatul Hanabilah 2/396

[11] At tambihat Al Lathifah hal 6

[12] Ar Roudhatun Nadiyah Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah karya Zaid bin Abdulaziz Al Fayaadh, cetakan ketiga tahun 1414 H. Dar Al Wathon, Riyaadh. hal 3.

[13] Waasith adalah satu wilayah yang dibangun Al Hajjaaj bin Yusuf Ats Tsaqafiy seorang panglima kholifah Abdilmalik bin Marwan. Wilayah ini terletak dibagian selatan negeri Iraq diantara kota Kufah dan Bashroh. Wilayah ini menjadi tengah-tengah diantara dua kota ini. Karena inilah dinamakan Waasith. Lihat kitab Tarikh Waasith karya Bahsyal hal 22.

[14] Majmu’ fatawa 3/164.

[15] Akan datang penjelasannya.

[16] Jahmiyah adalah sekte (firqoh) yang berkembang pada akhir daulah bani Umayah dan muncul pertama kali di daerah Turmudz. Mereka adalah pengikut Jahm bin Sofwan At Turmudziy yang dibunuh Salam bin Ahwaz Al Maaziniy di Marw. Sekte ini memiliki kesamaan dengan Mu’tazilah dalam meniadakan sifat-sifat Allah, menolak aqidah ahlu Syurga melihat Allah di Syurga (Ru’yatullah) dan meyakini Al Qur’an adalah makhluk. Namun ini lebih parah dari Mu’tazilah karena memiliki ajaran lain yang berbahaya, diantaranya:

Tidak boleh mensifatkan Allah dengan sifat yang dipakai mensifati makhluknya, karena hal itu menunjukkan adanya tasybih (penyerupaan) Allah kepada makhluknya.

Manusia itu majbur (terjajah) dalam amal perbuatannya, ia tidak memiliki kemampuan dan kehendak sedikitpun.

Neraka dan Syurga tidak kekal

Iman hanyalah mengenal Allah dan tidak bertingkat-tingkat

Lihat kitab Al Milal Wan Nihal karya Asy Syahrostaniy 1/86-88 dan kitab Maqalaat Islamiyin karya Abul Hasan Al Asy’ariy 1/15 dan catatan kaki pentahqiq kitab Aqidatus Salaf Ashhabil Hadits hal 162 serta catatan kaki pentahqiq Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Muhammad Kholil Haraas op.cit hal 185.

[17] Akan datang penjelasannya

[18] Al Musyabihah atau Mujassimah adalah lawannya Jahmiyah dalam penetapan nama dan sifat Allah. Mereka menyatakan: “Allah memiliki tangan seperti tangan makhluk-Nya, memiliki pendengaran seperti pendengaran makhluk-Nya dan memiliki penglihatan seperti penglihatan makhluknya”. Mereka inilah kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Lihat catatan kaki pentahqiqi Syarh Al Aqidah Al Wasitiyah karya Haraas op.cit hal 185.

[19] Syarah Aqidah Al Wasithiyah karya Syeikh Kholid Al Mushlih op.cit hal 94-96

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: