h1

iman kepada Rasululloh

September 1, 2007

Iman Kepada Rasululloh n

Oleh Kholid Syamhudi

 

Diantara hak-hak Nabi n atas umatnya adalah beriman kepadanya. Iman ini merupakan konsekwensi dari persaksian (أشهد أن محمدا عبده و رسول الله). Oleh karena itu, sedah menjadi kewajiban setiap orang yang mengucapkannya untuk mengetahui hakekat hak ini dan komitmen dengannya baik secara keyakinan, perkataan maupun amalan perbuatan.

 

Pengertian iman kepada Rasululloh n.

Iman kepada Rasululloh n dapat disimpulkan dengan pernyataan syeikhul Islam yaitu: “Imam kepada Rasululloh n adalah membenarkannya dan mentaatinya serta mengikuti syari’atnya”.[1] Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa iman kepada Rasululloh n memiliki dua rukun asasi, yaitu:

☼ Perkataan beliau: “Tashdiq” (membenarkan Nabi) disini mencakup dua perkara agung yaitu:

1. Menetapkan kenabian dan kebenaran beliau dalam semua yang beliau sampaikan dari Allah.[2] Ini khusus bagi beliau, dan masuk didalamnya beberapa hal, diantaranya:

a. mengimani keumuman risalah beliau kepada seluruh manusia dan jin.

b. mengimani bahwa beliau adalah penutup para nabi dan risalahnya adalah penutup seluruh risalah ilahi.

c. Mengimani bahwa risalahnya menghapus syari’at-syari’at sebelumnya

d. Mengimani bahwa beliau telah menyampaikan risalah kerasuluannya dantelah menyempurnakannya serta menunaikan amanat yang diembannya dan juga telah menasehati umat sehingga meninggalkan mereka dalam keadaan terang benderang.

e. mengimani kemaksumannya.

f. mengimani hak-hak beliau yang lainnya seperti kecintaan dan pengagungan.

2. Membenarkan semua yang beliau bawa dan membenarkan bahwa semua ajaran beliau adalah kebenaran dari Allah yang wajib diikuti. Hal ini wajib bagi beliau dan umatnya.[3]

Sehingga wajib membenarkan Nabi n dalam semua beritanya dari Allah baik berkenaan dengan berita kejadian yang telah lalu atau yang akan dating, atau masalah halal dan haram dan meyakini bahwa itu semua dari Allah, sebab beliau dikatakan Allah dalam firmanNya:

dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (QS. An-Najm 53:3-4)

 

☼ Pernyataan beliau: “Menataatinya dan mengikuti syari’atnya” adalah rukun asasi kedua. Sehingga mereka yang beriman kepada Rasululloh harus bertekad untuk mengamalkan semua ajaran beliau. Pengertian rukun ini adalah ketundukan (inqiyaadh) kepada beliau n dengan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangannya dalam rangka mengamalkan firman Allah:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. Al-Hasyr 59:7)

Wajib bagi kita semua mengikuti syari’atnya dan komitmen dengan sunnahnya dengan keridhoan pada semua keputusannya dan berserah total padanya, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya:

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisaa 4:65)

Demikian juga wajib meyakini dengan pasti bahwa ketaatan kepada beliau adalah ketaatan kepada Allah dan memaksiati beliau sama dengan memaksiati Allah, karena beliau adlah perantara antara Allah dengan manusia dan jin dalam penyampaian risalah ilahi.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah v menyatakan: “Wajib bagi makhluk untuk membenarkan dan tunduk (Iqrar) kepada semua ajaran Nabi n baik yang dikandung al-Qur’an ataupun Sunnah yang telah dikenal. Wajib bagi makhluk membenarkan dan tunduk kepadanya secara global dan terperinci ketika mengetahui perinciannya. Sehingga seorang yidak menjadi mukmin hingga membenarkan dan tunduk kepada ajaran Nabi n Inilah realisasi dari Syahadatain. Siapa yang bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah maka bersaksi bahwa  beliau jujur dan benar dalam semua yang beliau beritakan dari Allah, karena ini adalah hakekat syahadat terhadap risalah (kerasulan Muhammad)”.[4]

 

Dasar kewajiban beriman kepada Nabi n

Kewajiban beriman kepada nabi Muhammad n merupakan perkara yang sangat jelas dan gambling karena ditunjukkan oleh ayat al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ kaum muslimin.

Dalil dari al-Qur’an

  1. Firman Allah:

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu.Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hadid 57:7-8)

 

  1. Firman Allah:

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan, Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Taghabuun 64:8)

 

  1. Firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa 4:136)

 

  1. Firman Allah:

supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya.Dan bertasbi kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. Al-fath 48:9)

 

  1. Firman Allah:

Katakanlah:”Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. 7:158)

  1. firman Allah:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. al-Hujuraat 49:15)

 

Dalil dari Sunnah Rasululloh n

Banyak hadits menunjukkan kewajiban beriman kepada beliau, diantaranya:

1. Hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasululloh n bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mengucapkan syahadatain, menegakkan sholat dan menunaikan zakat, apabila mereka kerjakan hal-hal itu maka mereka terpelihara dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak islam dan hisab mereka ditangan Allah. (Muttafaqun ‘Alaihi)

2. Hadits Abu Hurairoh yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasululloh n bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mengucapkan syahadat La ilaaha Illa Allah dan beriman kepadaku dan kepada seluruh ajaranku, apabila mereka kerjakan hal-hal itu maka mereka terpelihara dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak islam dan hisab mereka ditangan Allah. (HR Muslim)

 

3. Hadits Abu Hurairoh yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Dari Abu Hurairoh dari rasululloh n bahwasanya beliau telah bersabda: Demi Allah Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangannya, tidaklah seorangpun dari umat ini baik yahudi ataupun nashroni yang mendengar aku kemudian mati dan tidak beriman kepada ajaran yang aku diutus membawanya kecuali ia menjadi penghuni neraka. (HR Muslim).

 

4. hadits Mu’adz bin Jabal yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Dari Ibnu Abas bahwasanya Nabi n telah mengutus Mu’adz ke Yaman lalu beliau bersabda: Ajak mereka kepada syahadat La Ilaaha Illa Allah dan sesungguhnya aku adalah rasululloh. Apabila mereka mentaatimu dalam hal ini maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka melakukan sholat lima waktu dalam sehari semalam. Apabila mereka mentaatimy dalam hal itu maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada para fakir miskin mereka. (HR al-Bukhori).

            Hadits-hadit diatas menegaskan kewajiban beriman kepada Rasululloh n dan seluruh ajarannya. Demikian juga mentaatinya dan itu dengan menghalalkan yang beliau halalkan dan mengharamkan yang beliau haramkan, mewajibkan kewajiban yang beliau wajibkan dan memakruhkan apa yang beliau makruhkan.

 

Dalil dari Ijma’

            Umat islam telah berijma’ (consensus) atas kewajiban beriman kepada nabi r sebagaimana telah berijma’ bahwa semua orang yang telah ditegakkan hujjah dengan risalah Muhammad n dari manusia dan jin lalu tidak beriman maka berhak mendapatkan siksaaan seperti siksaan orang-orang kafir yang Rasululloh n diutus pada mereka dahulu. Ini merupakan pokok yang telah disepakati para sahabat, tabi’in, para imam kaum muslimin dan seluruh kelompok muslimin ahlu Sunnah wal jamaah dan selain mereka.[5]

 

Sudah demikian jelas kewajiban beriman kepada Nabi n dan berikutnya diperlukan penjelasan rinci atas perincian iman kepada Nabi Muhammad n.

Wabillahi at-Taufiq.




[1] Iqtidha’ ash-Shiratil Mustaqim hal. 92.

[2] Majmu’ Fatawa 15/91

[3] Majmu’ Fatawa 15/91

[4] Majmu’ Fatawa 5/154

[5]  Idhoh al-Dalalah Fi ‘Umum al-Risalah, Ibnu Taimiyah yang ada pada Majmu’at al-Rasaa’il al-Muniriyah 2/99.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: