h1

Keutamaan Rajab dan Sya’ban?

Agustus 28, 2007

Assalaamu’alaikum warahmatullahi  wabarakaatuh

Afwan sebelumnya, langsung saja….

1.        Sebenarnya ada tidak dalam syariat tentang keutamaan bulan Rajab dan Sya’ban?

2.        Boleh tidak berpuasa sunnah pada bulan Rajab dan Sya’ban?

 

Atas jawabannya saya ucapkan jazaakumullahu khairan.

 

Akhwat –Solo

 

 

Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh

Allah l telah menciptakan waktu dalam setahun ada dua belas bulan, dan memilih empat bulan darinya sebagai bulan haram (bulan suci) yang diharamkan padanya berperang. Allah l berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلاَتَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”  (At Taubah: 36)

 

Empat bulan suci tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab, sebagaimana dijelaskan Rasulullah n dalam sabdanya,

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Zaman telah beredar seperti bentuknya pada hari Allah ciptakan langit dan bumi. Setahun dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan suci (haram); tiga berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta Rajab Mudhar yang ada antara Jumadal Tsani dan Sya’ban.” (Riwayat Al-Bukhari).

Bulan Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan suci (haram) yang diagungkan bangsa Arab terdahulu dan diharamkan berperang pada bulan tersebut. Bulan ini dinamakan Rajab karena diagungkan di zaman jahiliyah dengan tidak mengadakan peperangan.

Bulan ini memiliki 14 nama pada bangsa Arab; yaitu Rajab, Al-Asham, Al-Ashab, Rajm, Al-Harm, Al- Muqiem, Al-Mu’alaa, Manshalul Asinnah, Manshal Al-Aal, Al-Mubri’, Al-Muqasyqasy, Syahrul ‘Atierah dan Rajab Mudhar serta Syahrullah.

Namun tidak ada satu pun hadits yang shahih dan dapat dijadikan hujjah tentang keutamaan khusus untuk bulan ini dan juga pengkhususan puasa atau shalat padanya.

Ibnu Hajar menyatakan, “Tidak ada satu hadits shahih yang dapat dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, berpuasa di bulan tersebut dan pada hari tertentu pada bulan tersebut. Juga dalam menegakkan satu malam tertentu dengan shalat. Hal ini telah ditegaskan orang sebelumku yaitu imam Abu Isma’il Al Harawi Al-Hafidz.”[1]

Demikian juga bulan Sya’ban tidak ada satu keutamaan tertentu padanya, kecuali ada beberapa hadits yang menjelaskan Nabi n memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban melebihi bulan-bulan selain Ramadhan. Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

  1. Hadits Aisyah, beliau berkata,

 مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah n menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa (pada bulan selain Ramadhan) melebihi bulan Sya’ban.” (Riwayat Al-Bukhari)

  1. Hadits Aisyah lainnya, beliau berkata,

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَكَانَ يَقُولُ خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ

“Nabi n tidak pernah berpuasa pada satu bulan lebih banyak dari Sya’ban, karena beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh dan beliau menyatakan, ‘Beramallah sesuai kemampuan kalian.’” (Riwayat Al-Bukhari)

  1. Hadits Aisyah yang mengisahkan qadha puasa beliau,

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

“Dahulu aku memiliki utang puasa Ramadhan, lalu aku tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban.” (Riwayat Al-Bukhari)

  1. Hadits Aisyah, beliau berkata,

كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

“Bulan yang paling disukai Rasulullah n untuk berpuasa adalah Sya’ban kemudian menyambungnya dengan Ramadhan.” (Riwayat Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)

Dengan demikian diperbolehkan berpuasa pada bulan Rajab tanpa ada pengkhususan harus dilakukan pada bulan tersebut dan akan adanya keutamaan tertentu. Melakukan puasa khusus pada hari Kamis pertama kemudian disambung di malam harinya yaitu malam Jumat antara maghrib dan isya’ dengan shalat Raghaaib itu merupakan satu kebid’ahan yang tidak ada dasarnya dalam agama. Sedangkan berpuasa pada bulan Sya’ban itu baik karena Rasulullah n menyukainya dan berpuasa

padanya, sebagaimana tersebut dalam hadits-hadits di atas.(ustadz kholid syamhudi, Lc.)

 




[1] Tabyiin Al ‘Ujab Bima Warada Fi Fadhli Rajab hal 6.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: