h1

KEDUDUKAN SUNNAH DALAM ISLAM

Juni 3, 2008

Oleh Kholid Syamhudi.[1]

Manusia makhluk yang Allah muliakan, namun juga Allah uji dengan diberikan syahwat, tabiat, kebodohan dan hawa nafsu. Sehingga manusia itu dapat diibaratkan seorang yang sakit yang tidak mengetahui cara pengobatan dan solusi kecuali dengan seorang tabib yang pakar. Lalu diberikan obat dan terapi pengobatan yang tidak disukai oleh syahwat dan tabi’atnya. Apabila ia menuruti nasehat tabib tersebut maka ia akan selamat dan bila tidak maka ia menjerumuskan dirinya kedalam kehancuran. Demikian manusia membutuhkan seorang Rasul utusan Allah dan ajarannya melebihi kebutuhannya kepada tabib tersebut. Karena puncak bahaya yang meninpa seseorang apabila tidak menuruti tabib, akan menimpanya penyakit dibadannya. Sedangkan orang yang tidak mau menuruti Rasululloh dan ajarannya dan tidak menhidupkan hatinya dengan ajaran wahyu ilahi, maka akan tertimpa penyakit dan siksaan yang tiada tara dan tidak akan sembuh, sehingga hatinya mati dan setelah itu tidak diharapkan kehidupannya.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

“Dengan diutusnya Muhammad, jelaslah sudah kekafiran dari keimanan, keuntungan dari kerugian, petunjuk dari kesesatan, penyimpangan dari kelurusan, kekeliruan dari kebenaran, ahli syurga dari ahli neraka, orang yang bertakwa dari orang fajir dan mendahulukan jalan orang yang Allah karuniai nikmat dari kalangan para nabi, shidiqin, syuhada dan shalihin dari jalannya orang yang dimurkai Allah dan sesat.

Sehingga jiwa lebih butuh mengenal ajaran dan mengikuti Rasulullah, daripada kebutuhannya kepada makan dan minum. Karena, jika tidak memiliki makan minum hanya terjadi kematian. Sedangkan jika tidak memiliki petunjuk, akan mendapatkan adzab. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang menumpahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya untuk mengenal ajaran beliau dan mentaatinya. Inilah jalan keselamatan dari adzab yang pedih dan jalan kebahagiaan ke syurga. Caranya dengan mengambil riwayat dan penukilan (Al Qur’an dan As Sunnah). Karena tidak akan bisa mengenalnya, bila hanya mengandalkan akal. Sebagaimana cahaya mata, tidak dapat melihat kecuali dengan adanya cahaya yang di depannya. Demikian pula cahaya akal, tidak berfungsi kecuali jika ada cahaya terang risalah Allah. Oleh karena itu dakwah menyampaikan agama termasuk kewajiban Islam yang agung. Dan mengenal perintah Allah dan Rasulullah wajib atas seluruh manusia.”[2]

Melihat ini semua, sangat perlu kita mengenal sunnah Rasululloh dan kedudukannya dalam agama.

Pengertian Sunnah

Adapun pengertian sunnah secara bahasa adalah: sejarah perjalanan seseorang baik maupun buruk. Itulah yang di maksud dengan sabda Rasulullah,

Siapa yang memberi contoh yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang lain yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barang siapa yang memberi contoh jelek dalam islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang lain yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun [3]

Diantaranya juga pernyataan Kholid bin Zuhair al Huzali

َ

maka janganlah memutus perjalanan yang sedang anda jalani

karena yang pertama ridho pada perjalanan itu, yang menjalani

Di antara arti bahasanya adalah: Pemeliharaan dan pengurusan yang baik, seperti ungkapan seorang Arab: sanna ar-rajulu ibilahu bermakna jika baik dalam pemeliharaan dan pengurusannya.[4]

Dalam pengertian istilah, kata sunnah dipakai untuk beberapa pengertian sebagai berikut:

1. Sebagaimana kata Ibnu Manzhur: Sungguh telah berulang kali disebut kata sunnah dan perubahannya dalam hadits, makna asalnya adalah sejarah dan perjalanan, namun bila di sebutkan dalam syariat, maka artinya adalah: seluruh perintah, larangan dan anjuran Rasululloh baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tidak ada dalam al-Quran. Dari pengertian inilah muncul istilah fi adillati asy-Syari al-Kitab wa as-Sunnah, bermakna al-Quran dan al-Hadits.[5]

2. Imam as-Syathibi berkata, Kata sunnah sering juga di maksudkan dengan lawan bidah. Dikatakan: Fulan diatas sunnah maknanya bila melakukan sesuatu yang sesuai dengan contoh Nabi dan dikatakan: Fulan diatas bidah bermakna jika melakukan yang sebaliknya.[6]

Dia juga berkata, Kata sunnah dipakai juga untuk amalan para sahabat, baik dasarnya ada dalam al-Quran atau tidak ada, dengan pertimbangan bahwa mereka melakukan itu karena dasar sunnah Nabi yang ada, namun belum ternukil kepada kita, atau karena dasar ijtihad yang telah disepakati oleh mereka atau oleh khalifah mereka, sebagaimana sabda Nabi,

Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk..[7]

Setelah istilah-istilah dalam dispilin ilmu Islam menjadi baku, konsentrasi kajian Islam juga telah paten, maka istilah sunnah akhirnya memiliki pengertian dan istilah baru, di antaranya:

1. Sesuai yang disebutkan oleh ulama hadits dalam kitab-kitab mereka, Setiap yang berasal dari Nabi baik perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat.[8]

2. Sebagaimana yang disebutkan oleh ulama ushul fiqh dalam kitab-kitab mereka, Setiap yang berasal dari Nabi dari perkataan, perbuatan atau ketetapan yang memiliki kekuatan untuk di jadikan landasan hukum syari.[9]

3. Menurut Ulama Fiqh dalam kitab-kitab mereka, Apa yang bila di kerjakan mendapat pahala bila di tinggalkan mendapat cemoohan dan cercahan, namun tidak mendapat siksaan.[10] Atau: Sesuatu yang bentuk perintahnya tidak tegas.[11]

Adapun kata Tadwin as-Sunnah adalah termasuk bentuk penyandaran makna hakiki yang murni [al-idhafah al-maknawi al-haqiqi al-makhdha], hal itu disebabkan karena penyandaran (idhofah) disini mengandung makna al-lam dan idhofah ini mempengaruhi mudhaf (yang disandarkan) dari sisi bentuk marifah. Ketika di idhofahkan ke kata marifah, maka menjadi kata yang marifah dengan idhofah tersebut. Wallahu alam.

Sunnah Adalah Wahyu

Sunnah dengan pengertian setiap yang dinisbatkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan, adalah salah satu dari dua macam wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, sementara yang lainnya adalah wahyu al-Quran yang merupakan ucapan Allah yang diturunkan kepada Rasulullah, bukan makhluk berasal dari Allah dan kepada-Nya dikembalikan.

Nash-nash al-Quran dan sunnah serta ijma para ulama salaf telah menegaskan permasalah ini.

Dari al-Quran Di Antaranya:

Allah berfirman,

Dia (Muhammad) tidak sama sama sekali mengucapkan sesuatu sesuai dengan hawa nafsunya, apa yang dia ucapkan adalah sebuah wahyu yang diberikan kepadanya. (An-Najm: 3-4).

Dan:

Kami menurunkan kepadamu sebuah kitab [ad-dzikr]agar kamu menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diturunkan buat mereka dan agar mereka menjadi orang-orang yang berfikir. (An-Nahl: 44).

Serta:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)

Demikian juga firmanNya:

Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Dan firmanNya:

Demi Allah mereka tidak beriman hinga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara mereka, kemudian mereka menerima dengan tidak mendapatkan kesulitan sedikit pun dalam hati mereka. (An-Nisa: 65).

Serta firmanNya:

Berhati-hatilah mereka yang menyalahi aturan Rasul dengan sebuah malapetaka atau adzab yang pedih yang menimpah mereka. (An-Nur: 63).

Masih banyak ayat lain yang berisi anjuran mengikuti sunnah dan kewajiban berpegang teguh dengan serta larangan menyelisihinya, tidak cukup untuk dipaparkan semua disini.

Dari Sunnah Nabi Di Antaranya:

1. Dari Abu Rafi maula Rasulullah, Rasulullah bersabda

Seorang di antara kalian akan berbaring di atas pembaringannya kemudian datang kepadanya perintah atau larangan saya lalu dia berkata, saya tidak mau tahu, saya hanya mengikuti apa yang saya dapatkan dalam al-Quran.[12]

2. Dari al-Miqdam bin Madikarib bahwa Rasulullah bersabda,

أَلاَ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانَ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ، فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُ، أَلاَ وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا حَرَّمَ اللهُ.

Saya telah diberikan al-Quran dan yang semacamnya, bukankah suatu saat ada seorang yang perutnya kenyang diatas pembaringannya kemudian berkata, Hendaklah kalian mengambil apa yang berasal dari al-Quran, apa yang dihalalkan olehnya maka halalkanlah dan apa yang diharamkan olehnya maka haramkanlah, ketahuilah sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah sama derajatnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah.[13]

3. Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah bersabda,

لَعَلَ أَحَدَكُمْ يَأْتِيْهِ حَدِيْثٌ مِنْ حَدِيْثِيْ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيْكَتِهِ فَيَقُوْلُ دَعُوْنَا مِنْ هَذَا، مَا وَجَدْنَا فِيْ كِتَابِ اللهِ اِتَّبَعْنَاهُ.

Mungkin saja ada di antara kalian yang mendengar salah satu dari perkataan saya dalam keadaan berbaring kemudian berkata, jauhkan kami dari semua ini, kami hanya mengikuti apa yang berasal dari al-Quran.[14]

4. Dari al-Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah bersabda,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا باِلنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

Saya berwasiat atas kalian untuk senantiasa bertaqwa dan tunduk serta patu terhadap pimpinan walaupun dia berasal dari Budak habsyi, siapa yang diberi umur panjang di antara kalaian maka dia akan menemukan banyak perbedaan, maka berpegangteguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin, peganglah dia erat-erat dan gigitlah dia dengan rahang kalian, dan waspadalah terhadap masalah-masalah yang di buat-buat, karena semua yang di buat-buat adalah bidah dan setiap bid,ah adalah kesesatan.[15]

Nash-nash dari sunnah tentang anjuran untuk berpegang teguh dengannya dan perintah menyebarkan kepada orang lain sangat banyak, namun pada kesempatan ini saya cukupkan dengan yang telah disebutkan.

Perkataan Ulama Shalaf Di Antaranya Adalah:

1. Dari Hasan al-Bashri bahwasanya Imran bin al-Husain suatu ketika duduk bersama sahabat-sahabatnya, dan berkatalah salah satu dari masyarakat, Jangan kalian bercerita kepada kami kecuali dengan al-Quran saja, Imran bin Husain berkata, Kemarilah!, Maka orang itu mendekat, dia berkata, Bila kamu dan kawan-kawanmu hanya menerima dari al-Quran saja, apakah kamu mendapati dalam Al Quran sholat dzuhur empat rakaat, sholat ashar empat rakaat dan sholat maghrib tiga rakaat? Apa pendapatmu seandainya kamu dan kawan-kawanmu hanya menerima dari Al Quran saja, apakah kamu menemukan thowaf tujuh kali keliling dan thowaf di shofa dan marwa? Kemudian beliau berkata: Wahai kaum, ambillah dari kami, karena kalian demi Allah- jika tidak berbuat demikian tentu akan sesat.[16]

2. Dari Muhammad bin Katsir dari al-Auzai dari Hassan bin Athiyyah berkata, Jibril turun kepada Nabi membawa sunnah sebagaimana dia turun membawakan al-Quran.[17]

3. Dari Ayyub as-Sakhtiyani berkata, Seorang lelaki berkata kepada Mutharif bin Abdillah bin asy-Syakhir, Jangan sampaikan kepada kami kecuali yang berasal dari al-Quran! Mutharif berkata, Demi Allah kami tidak ingin mengganti al-Quran, namun tunjukkanlah kepada kami seorang yang lebih faham dari kami tentang al-Quran.[18]

4. Dari al-Auzai dari Ayyub as-Sakhtiyani berkata, Bila kamu sebutkan kepada seseorang sebuah hadits lalu orang itu berkata, Jauhkan dari kami perkataan itu dan sampaikanlah kepada kami dari al-Quran saja, maka yakinilah kalau ia seorang adala sesat dan menyesatkan.[19]

5. Al-Auzai, Makhul, Yahya bin Abi Katsir berkata, Al-Quran jauh lebih membutuhkan hadits dari pada kebutuhan hadits terhadap al-Quran, dan sunnah merupakan hakim terhadap al-Quran dan bukan sebaliknya.[20]

6. Al-Fadhal bin Ziyad berkata, Saya telah mendengar Ahmad bin Hanbal berkata tatkala ditanya tentang hadits yang menjadi hakim atas al-Quran, Ini merupakan perkara sensitif, sunnah menafsirkan al-Quran, menjelaskannya dan memperkenalkannya.[21]

7. Imam asy-Syafii tatkala mengomentari tentang ayat yang menyebutkan al-kitab dan al-hikmah, seperti firman Allah:

لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.[22]

Beliau berkata, Allah menyebut al-kitab dan yang dimaksud adalah al-Quran serta menyebut al-hikmah. Saya telah mendengarkan dari ulama yang paling saya ridhoi dalam al-Quran, dia berkata, Yang dimaksud dengan hikmah adalah sunnah Rasulullah, karena Allah menyebutkan al-Quran kemudian menyandingkannya dengan kata hikmah, kemudian Allah mengingatkan kita akan nimatnya yang telah mengajarkan kitab dan hikmah, dan tidak boleh hukumnya -wallahu alam- menerjemakan kata hikmah disini kecuali dengan sunnah, apalagi Allah mewajibkan untuk taat kepada Rasul, dan mewajibkan manusia mengikuti perintahnya. Tidak mungkin mengatakan masalah ini wajib hukumnya kecuali kitab Allah dan Sunnah Rasul.[23]

8. Al-Hafizh Abu Umar Ibin Abd al-Barr berkata, Penjelasan dari Nabi ada dua macam; Pertama: penjelasan hal-hal yang global dalam al-Quran seperti shalat fardhu tentang waktunya, cara sujud dan ruku, dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Juga seperti penjelasan beliau tentang zakat, batasannya, waktunya dan harta yang di keluarkan zakatnya dan penjelasan tentang manasik haji. Rasululloh bersabda:

خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَمُمْ

Ambillah dari ku manasik kalian.[24]

Kedua: Tambahan hukum yang belum terdapat dalam al-Quran, seperti; haramnya menikahi seorang wanita bersama tante (bibi) istri baik dari ibu atau dari bapak, haramnya daging al Humur Al Ahliyah (keledai jinak) dan haromnya setiap yang bergigi taring dari binatang, dan lain-lain.

Dan Allah telah memerintahkan untuk mentaati Rasul dan mengikutinya secara mutlak tanpa pembatasan pada hal tertentu sebagaimana memerintahkan kita mengikuti al-Quran, patut di garis bawahi perintah untuk taat tersebut bukan pada hal-hal yang sesuai dengan kitab Allah saja sebagaimana pengakuan orang-orang sesat.[25]

9. Ibnu Qayyim berkata, Imam Ahmad telah menulis sebuah kitab tentang wajibnya ketaatan kepada Rasulullah, dia membantah pandangan orang yang beragumen dengan zhahir al-Quran untuk menolak sunnah Nabi dan tidak mengakui kekuatan hukum hadits. Dia berkata di sela-sela khutbahnya, Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Suci nama-nama-Nya, telah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama kebenaran untuk memenangkannya atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyenanginya. Allah turunkan kepadanya sebuah kitab sebagai petunjuk bagi pengikutnya, Dia menugaskan Rasul-Nya untuk menjelaskan maksud al-Quran baik yang zhahir maupun yang bathin, yang umum atau yang khusus, yang dibatalkan atau yang membatalkan, dan setiap yang di maksud oleh al-Quran. Maka Rasulullah adalah orang yang mengungkapkan isi al-Quran, menunjukkan makna kandungannya, semua sahabat yang Allah pilih dan ridhai untuk menjadi pendamping Nabi-Nya telah bersaksi atas tugas tersebut, mereka menukil semua itu kepada umat Islam, sehingga merekalah orang yang paling tahu tentang rasul dan apa yang Allah kehendaki dari kitabNya dengan sebab mereka melihat langsung (turunnya Al Quran) dan apa yang dimaksudkan didalamnya. Sehingga mereka menjadi orang yang mengungkap hal itu setelah Rasululloh. Sahabat Jabir berkata, Tatkala Rasulullah berada di tengah-tengah kami, al-Quran diturunkan kepadanya. Beliau mengerti maksud dari ayat-ayat itu, dan setiap yang dia lakukan kami pun melakukannya.

Kemudian beliau memaparkan ayat-ayat yang menunjukkan perintah taat kepada Rasululloh.[26]

Hukum as-Sunnah Memiliki Kekuatan yang Sama Dengan Hukum al-Quran

Al Quran dan sunnah berada dalam satu tingkatan dari sisi Itibar dan hujjah dalam penetapan hokum syariat . Dr. Abdulghani Abdulkholiq dalam kitab Buhutsun Fi Sunnah Al Musyarafah yang merupakan ringkasan dari kitab Hujjiyatul Sunnah menyatakan: Sungguh sunnah berada satu tingkatan bersama Al Quran dari sisi Itibar dan kehujjahannya terhadap hokum-hukum syarI. Penjelasannya sebagai berikut: Sudah dimaklumi, tidak ada perselisihan bahwa Al Quran berbeda dengan sunnah dan lebih utama darinya, karena lafadznya turun langsung dari Allah, membacanya adalah ibadah dan manusia tidak akan mampu membuat sesuatu yang seperti Al Quran, berbeda dengan sunnah. Sunnah berada dibawahnya dalam keutamaan dari sisi ini. Namun hal itu tidak mengharuskan perbedaan keduanya dalam hujjah dengan menyatakan bahwa martabat sunnah dibawah martabat Al Quran, sehingga sunnah ditinggalkan dan hanya Al Quran saja yang diamalkan ketika sunnah menentang Al Quran. Hal itu karena kekuatan sunnah sebagai hujjah ada dari tinjauan sebagai wahyu dari Allah. Dengan demikian sunnah sama dengan Al Quran dari tinjauan ini, karena ia semisalnya, sehingga wajib menerimanya langsung dalam Itibar. Kemudian menyebut beberapa syubhat orang yang mengakhirkan sunnah dari Al Quran dalam Itibar yang berhubungan dengan hal ini dan membantahnya dengan bantahan yang baik.

Memang Sudah menjadi kesepakat dan tidak ada perselisih bahwa Al Qur`an memiliki keutamaan dari As Sunnah. Al Qur`an memliki keutamaan dari segi lafadznya, dia turun dari sisi Allah, mutaabadun bitilawatihi, dan merupakan mujizat, sedangkan As Sunnah berbedanya dengannya. Namun hal itu tidak mengharuskan pengakhiran As Sunnah dalam berhujah (Ihtijaaj). Sebagimana kita mengimani adanya perbedaan keutamaan diantara surat-surat dan ayat-ayat dalam Al Qur`an, tapi tidak menunjukan adanya perbedaan dalam derajat hujah.

Keduanya adalah merupakan hujah dalam aqidah dan hokum. Dalil-dalil yang menunjukan pada qoidah ini adalah banyak:

1. Dalil dari Al Qur`an.

Pertama : Allah telah memerintahkan untuk mengambil Al Qur`an sebagai dasar dalam Aqidah dan hukum.

Allah berfir

!t

Apa yang dibawa oleh Rasul kepadamu, ambillah dan apa yang kamu dilarang olehnya maka tinggalkanlah. (al-Hasyr : )

Ayat ini menunjukan wajibnya kita menerima apa yang disampaikan oleh Rasul, baik itu beru Al Qur`an atau As Sunnah yang merupakan hukum atau penjelas terhadap Al Qur`an.

Kedua : Allah telah menghabarkan akan menjaga keduanya.

Allah berfirman:

Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur`an dan sesungguhnya kami bener-bener memeliharanya.( All Hijr :9)

Penjagaan Allah terhadap Syariatnya mencakup Al Qur`an dan As Sunnah, walaupun kita mengartikan kalimat ( الذكر) adalah Al Qur`an, karena sesungguhnya Allah telah menurunkan Al Qur`an kepada Rasul-Nya agar Rasul-Nya menjelaskan kepada Umat-Nya. Maka penjelasan Rasul yang termuat dalam As sunnah berupa bayan (penjelasan) dari yang mujmal atau berupa takh-shish dari yang sifatnya umum merupakan sesuatu yang dijaga Allah, karena Rasul bertugas menjelaskan apa yang dimaksud oleh Allah. Juga merupakan alasan yang kuat bahwa Al Qur`an tidak berdiri sendiri untuk dijadikan hujah tanpa ada pejelasan dari Sunnah.

Al Imam Ibnu Hazm berkata: Maka tatkala menjelaskan kepada kita bahwa Al Qur`an merupakan pokok tempat kembali dalam Syariah, maka kita melihat kepadanya, lalu kita dapatkan didalamnya ada kewajiban mentaati Rasululloh dalam semua perintahnya kepada kita. Kita dapati didalam Al Qur`an bahwa Allah mensifati Rasululloh dengan berfirman:

ãƒ

Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS Al najm: 3-4)

Maka dengan itu jelaslah bahwa wahyu yang diwahyukan kepada Rasululloh ada dua:

- Wahyu yang dibacakan secara tilawah, disusun dalam talif dan mujizat dalam susunannya, maka itu adalah Al Qur`an.

- Wahyu yang diriwayatkan, dinukil tanpa ditalif, bukan mujizat dalam susunannya, tidak beribadah dengan lafadznya. Maka itu adalah khobar yang datang dari Rasululloh n . (Al Ihkam 87).

Maka Kalau begitu Al Qur`an dan As Sunnah berasal dari satu misykah (satu sumber). As Sunnah masuk dalam janji penjagaan Allah.

Cukuplah dalil yang nyata adanya para muhaditsin dalam setiap jaman, yang dikatagorikan sebagai para mujadid dan At Thoifatu Al Manshurah. Merekalah yang telah memisahkan hadits-hadits yang dhoif dan shohihnya, kemudian mereka menjelaskan maksudnya, dengan riwayat-riwayat yang mereka terima dari para pendahulu mereka ( As Slafus As Sholeh).

2. Dalil dari Sunnah.

Rasulullah bersabda:

تَرَكْتُكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بهِمَا كِتَابِ اللهِ وَ سُنَّتِيْ

Aku tinggalkan bagi kamu dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya : Al Qur`an dan sunnahku.

Dan sabda beliau:

لاَ أَلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَأْتِيْهِ أَمْرٌ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أوَْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُوْلُ لاَ أَدْرِيْ مَا وَجَدْنَا فِيْ كِتَابِ اللهِ اِتَّبَعْنَاهُ.

Aku tidak ingin menjumpai salah seorang di antara kamu bersandar ditempatnya, datang kepadanya suatu perintah atau larangan dariku, tapi dia berkata, akau tidak peduli itu, apa yang aku dapati dalam kitabullah,aku akan mengikutinya.

Berkata Imam SyafiI: Hadits ini menunjukan, bahwa hadits Rasululloh harus diambil, sekalipun nash yang sesuai dengan kandungannya tidak didapati dalam kitabullah.

3. Perkataan Para Ulama:

1. Berkata Al Imam Al AuzaI : berkata Ayub As Sikhtiyani : Apabila kamu menyampaikan hadits pada seseorang kemudian dia berkata tinggalkan ini dan sampaikan padaku Al Qur`an maka ketahuilah bahwa dia adalah sesat.

2. Al Imam Hasan Al bahsri: Imron bin Al Huhsain sedang duduk bersamanya maka berkatalah seseorang diantara kaum: Janganlah kalian bercerita kepada kami kecuali Al Qur`an! Maka berkata Imron kepadanya: Mendekatlah! Maka iapun mendekat, lalu berkata: Bagaimana pandanganmu seadainya engkau dan saudara-saudaramu menggantung hanya pada Al Qur`an, apakah kamu mendapatkan bahwa Sholat dluhur adalah empat rokaat, sholat ashar empat rokaat dan maghrib tiga rokaat, dan membaca surat pada dua rokaat pertama? Dan apakah kamu mendapatkan dalam Al Qur`an bahwa towaf itu tujuh putaran, dan towaf diantara shofs dan marwah (Sa’i)? Wahai kaum ambillah hadits dari kami, karena sesungguhnya demi Allah jika tidak mengambilnya, benar-benar kamu akan sesat.

3. Imam Ahmad rahimahulloh berkata tentang hadits-hadits mengenai sifat Allah: Kita mengimani dan meyakininya dengan tidak menolak sedikitpun daripadanya, jika isnadnya shahih. Adapun tentang hadits ruyah ( melihat Allah Subhanahuwataala diakhirat ), Imam Ahmad rahimahullah berkata : Hadits-haditsnya yang shohih, kita mengimani dan menerimanya dan kita mengimaninya.

4. Imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah juga berkata tentang hadits-hadits mengenai ruyatullah (melihat Allah pada hari kiamat): Itu adalah haq, kami meriwayatkannya sesuai dengan apa yang kami dengar dari orang yang tsiqah ( bisa dipercaya ) dan yang kami ridhoi.

5. Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani rahimahullah pernah ditanya tentang hadits-hadits yang berkenaan dengan sifat Allah, maka ia menjawab: Hadits-hadits ini adalah benar, kami beriman dengannya dan kami tidak menta’wilnya.

6. Abu Ubaid berkata tentang sebagian hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat Allah : Hadits-hadits ini menurut kami adalah haq, diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqah ( terpercaya ) antara sebagian rawi dengan sebagian rawi.

Dengan demikian wajib memenandang sama antara Al Qur`an dan As Sunnah dalam itibar dan ihtijaj. Sunnah bagi mereka adalah penjelas, penafsir dan pengurai AlQuraan, baik dalam bidang Aqidah atau Syariah.

Kedudukan dan Peran Sunnah terhadap al-Qur`an

Apabila kedudukan Sunnah sama dengan al-Qur`an dalam ihtijaj, maka wajib bagi kita untuk memahami kedudukan As Sunnah dan wadhifah (tugas\pungsi ) As Sunnah terhadap Al Qur`an.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Wajib untuk diketahu bahwa Rasululloh menjelaskan kepada para shohabat makna-makna Al Qur`an sebagai mana Rasululloh menjelaskan kepada mereka lafadlnya, Allah berfirman : لتبين للناس ما نزل إليهم , ayat ini mencakup kepada keduanya. Telah berkata Abu Abdurahman As Sulami: Telah mncerikan kepada kami orang-orang yang telah membacakan Al Qur`an kepada kami, seperti Utsman binAfan, Abdulah bin Masud dan yang lainnya bahwasannya mereka apa bila belajar dari Rasululloh n sepuluh ayat mereka tidak menambahnya sehingga mempelajari kandungannya berupa ilmu dan amal. Mereka berkata: Kami mempelajari AlQuraan ;ilmu dan amal seluruhnya. Oleh karena itu mereka tinggal beberpa waktu dalam menghafal surat Al Qur`an. Anas berkata: Seorang bila telah hafal surat Al Baqarah dan Alimram, maka ia adalah orang besar dimata kami. Ibnu Umar menghafal Al Baqarah dalam beberapa tahun. Ada yang meriwayatkan lamanya delapan tahun. Hal ini dijelaskan imam Malik. ( Al Fatawa ,7:177).

Imam Ibnu Al Qoyim berkata: Hubungan As Sunnah dengan Al Qur`an ada tiga:

1. As sunnah sesuai dengan Al Qur`an dari berbagai segi, sehingga datang Al Qur`an dan As Sunnah pada satu hukum menunjukkan ada dan banyaknya dalil (semakin menguatkan).

2. As Sunnah sebagai penjelas maksud Al Qur`an dan penafsirnya.

3. As sunnah menentukan satu hokum wajib atau haran pada sesuatu yang Al Qur`an diamkan.

As Sunnah tidak akan keluar dari tiga kategori ini, sehingga As Sunnah tidak akan menentang Al Qur`an sama sekali. ( Ilam Muwaqiin 2:276).

Dalam hal ini Imam SyafiI berkata: Setiap apa saja yang datang dari Sunnah adalah penjelasan Kitabullah. Maka setiap orang yang menerima hal-hal yang Fardhu dari Allah yang terdapat dalam Al Qur`an, ia mesti menerima Sunnah-sunnah Rasul-Nya, karena Allah mewajibkan makhluk-Nya untuk mentaati Rasul-Nya dan mematuhi hukum-hukumnya. Juga orang-orang yang menerima apa yang datang dari Rasululloh, berarti ia menerima apa yang datang dari Allah, karena Allah telah mewajibkan kita untuk mentaati-Nya. ( Ar risalah:33).

Tugas As Sunnah terhadap Al Qur`an.

Syeikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani menyatakan: Kalian tahu bahwa Allah telah memilih Muhammad n sebagai Nabi dan rasulNya, lalu menurunkan kepadanya kitabNya Al Qur`an dan memerintahkannya untuk menjelaskan kepada manusia. Allah berfirman:

keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab.Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (QS. 16:44)

Saya memandang penjelasan yang tertera dalam ayat yang mulia ini mencakup dua jenis penjelasan:

1. Penjelasan lafadz dan susunannya. Ini adalah tabligh Al Qur`an, tidak menyembunyikan dan menyampaikannya kepada umat sebagaimana Allah menurunkannya ke hati Nabi n , inilah yang dimaksud firman Allah:

(

Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. (QS. 5:67)

‘Aisyah menjelaskan dalam satu haditsnya:

وَمَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ مُحَمَّدًا كَتَمَ شَيْئًا أُمِرَ بِتَبْلِيْغِهِ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى الله الْفِرْيَة . ثم تلت الآية المذكورة

Siapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan maka telah berdusta besar terhadap Allah. Kemudian beliau mebaca ayat tersebut (HR Syeikhon). Dalam riwayat imam Muslim lainnya:

لو كان رسول الله صلى الله عليه وسلم كاتما شيئا أمر بتبليغه لكتم قوله تعالى : (øŒÎ)ur ãAqà)s? ü“Ï%©#Ï9 zNyè÷Rr& ª!$# Ïmø‹n=tã |MôJyè÷Rr&ur Ïmø‹n=tã ô7Å¡øBr& y7ø‹n=tã y7y_÷ry— È,¨?$#ur ©!$# ’ÅøƒéBur ’Îû šÅ¡øÿtR $tB ª!$# ÏmƒÏ‰ö7ãB Óy´øƒrBur }¨$¨Z9$# ª!$#ur ‘,ymr& br& çm9t±øƒrB () [ الأحزاب : 37 ]

Seandainya Rasululloh menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan, tentulah beliau akan menyembunyikan firman Allah: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu Menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. (QS Al Ahzab :37).

2. Penjelasan pengertian lafadz atau kalimat atau ayat yang umat butuh penjelasannya. Terbanyak terjadi pada ayat-ayat yang mujmalah (global) atau umum atau mutlaq, lalu datanglah As Sunnah menjelaskan yang mujmal, mengkhususkan yang umum dan mentaqyied yang muthlaq. Hal itu dengan perkataan beliau n sebagaimana juga dengan perbuatan dan persetujuannya.

Contohnya:

a. Firman Allah:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)

Para sahabat telah memahami firman Allah diatas sesuai keumumannya yang mencakup seluruh kezholiman baik yang besar ataupun yang kecil. Oleh karena itu mereka bertanya tentang ayat tersebut dengan menyatakan:

يا رسول الله أينا لم يلبس أيمانه بظلم ؟ فقال صلى الله عليه وسلم : ” ليس بذلك إنما هو الشرك ألا تسمعوا إلى قول لقمان : ( إن الشرك لظلم عظيم ) [ لقمان : 13 ] ؟

Wahai Rasululloh! Siapakah diantara kami yang tidak mencampuri keimanannya dengan kezholiman? Maka beliau menjawab: Bukan demikian, ia itu adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan Luqmaan:

Sesungguhnya syirik adalah kezholiman yang besar. (QS Luqmaan: 13). (HR Syaikhon dan selainnya).

b. Firman Allah:

(#sŒÎ)ur ÷Läêö/uŽŸÑ ’Îû ÇÚö‘F{$# }§øŠn=sù ö/ä3ø‹n=tæ îy$uZã_ br& (#rçŽÝÇø)s? z`ÏB Ío4qn=¢Á9$# ÷bÎ) ÷LäêøÿÅz br& ãNä3uZÏFøÿtƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. 4) [ النساء : 101 ]

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqasar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. (QS. 4:101)

Zhohir ayat ini menunjukkan bahwa mengqashor sholat dalam safar disyaratkan adanya rasa takut, oleh karena itu sebagian sahabat bertanya kepada Rasululloh n :

ما بالنا نقصر وقد أمنا ؟ قال : ” صدقة تصدق الله بها عليكم فاقبلوا صدقته ” [ رواه مسلم ]

Mengapa kita mengqashor sholat padahal kita telah aman? Maka beliau menjawab: Itu adalah shodaqah yang Allah anugerahkan kepada kalian, maka ambillah shodaqahNya tersebut. (HR Muslim)

c. Firman Allah:

( حرمت عليكم الميتة والدم . . ) [ المائدة : 3 ]

Lalu Nabi menjelaskan bahwa bangkai belalang dan ikan halal dan darah liver dan limpa juga halal dalam sabdanya:

أحلت لنا ميتتان ودمان : الجراد والحوت والكبد والطحال [ أخرجه البيهقي وغيره مرفوعا وموقوفا وإسناد الموقوف صحيح وهو في حكم المرفوع لأنه لا يقال من قبل الرأي ]

Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah; belalang dan ikan, lever dan limpa (HR Al baihaqi dan selainnya secara marfu’ dan mauquf dan sanad mauqufnya shohih. ini masuk hokum marfu’ karena tidak disampaikan dari hasil pemikiran)

d. Firman Allah:

(ÇÊÍÍÈ @è% Hw ߉É`r& ’Îû !$tB zÓÇrré& ¥’n<Î) $·B§ptèC 4’n?tã 5OÏã$sÛ ÿ¼çmßJyèôÜtƒ HwÎ) br& šcqä3tƒ ºptGøŠtB ÷rr& $YByŠ %·nqàÿó¡¨B ÷rr& zNóss9 9ƒÍ”\Åz ¼çm¯RÎ*sù ê[ô_͑ ÷rr& $¸)ó¡Ïù ¨@Ïdé& ΎötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/ 4) [ الأنعام : 145 ]

Katakanlah:”Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang disembelih atas nama selain Allah. “. (QS. 6:145)

kemudian datang As Sunnah mengharamkan beberapa yang tidak disebutkan dalam ayat ini, seperti sabda beliau n :

كل ذي ناب من السباع وكل ذي مخلب من الطير حرام

Setiap yang memiliki taring dari hewan buas dan yang berkuku mencengkram dari burung adalah haram. Demikian juga sabda beliau pada hari peperangan Al Khaibar:

إن الله ورسوله ينهيانكم عن الحمر الإنسية فإنها رجس

Sesungguhnya Allah dan RasulNya melarang kalian memakan keledai karena ia najis. (HR Syeikhon).

e. firman Allah:

(ö@è% ô`tB tP§ym spoYƒÎ— «!$# ûÓÉL©9$# ylt÷zr& ¾Ínϊ$t7ÏèÏ9 ÏM»t6Íh‹©Ü9$#ur z`ÏB É-ø—Ìh9$# 4) [ الأعراف : 32 ]

Katakanlah:”Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik”. (QS. 7:32)

As Sunnah menjelaskan ada dari perhiasan yang diharamkan, sebagaimana dalam hadits dari Nabi n bahwa beliau keluar disatu hari menemui para sahabatnya dalam keadaan memegang sutera disalah satu tangannya dan emas ditangannya yang lain, lalu bersabda:

هذان حرام على ذكور أمتي حل لإناثهم [ أخرجه الحاكم وصححه ]

Keduanya ini diharamkan atas lelaki dari umatku dan halal bagi wanitanya. (HR Al Haakim)

Demikianlah sebagian pembahasan tentang kedudukan dan fungsi Sunnah dalam Syari’at, Mudah-mudahan memotivasi kita untuk lebih mengenal dan memahaminya sehingga diberikan taufiq dapat istiqamah diatas jalan yang lurus.


[1] Redaktur Majalah Sunnah, Solo dan Pengasuh Pon-Pes Ibnu Abas, Sragen.

[2] Ibid 1 /5-6.

[3] Muslim dalam Kitab al-Ilmu. No. 15.

[4] Lisan al-Arab, Ibnu Mandzur dan ash-shahhah, al-Jauhari. Kata سنن

[5] Lisan al-Arab.Idem.

[6] Al-Muwafaqat, asy-Syathibi, 4/3-4.

[7] Musnad Imam Ahmad, 4/126-127, Abu Daud, 5/13.no.4607, at-Tirmidzi, Kitab al-ilm, 5/44.no.2676, dia berkata, hadits Hasan Shahih, Ibnu Majah.no.96.43.

[8] Fath al-Mugits, as-sakhawi, 1/6.

[9] Ibnu najjar, Syarh al-Kaukibal-Munir,2/159-166. Mudzakkirah ushul fiqh, Syinqithi,h.95.

[10] Qasim al-Qunawi: Anis al-Fuqaha.h.106.

[11] Ibnu Najjar. Idem. Mudzakkirah ushul fiqh.Idem.h.16.

[12] Abu Daud, Luzum as-Sunnah, 5/12. h. 4605. Perawinya semuanya berkredibel [tsiqat] at-Tirmidzi, kitab al-ilmi, 5/37. h. 2663. Dia berkata, Hadits hasan shahih.

[13] Abu Daud, Bab luzum as-Sunnah, 5/10.h.4604.perawi haditsnya semuanya kredibel. At-Tirmidzi, Kitab al-ilmi, 5/38 h. 2664. Dia berkata, hadits hasan garib.

[14] Al-Khatib, al-Kifayah, 42, dari dua jalur. Jami al-Bayan, Ibnu Abd al-Bar, jami bayan al-ilmi wafadhlihi, 2/189.

[15] Abu Daud. Idem.5/13.h.4607. at-Tirmidzi. Idem.h.2676. dia berkata, hadits hasan shahih.

[16] Al-Baihaqi, Madkhal ad-Dalail, 1/25.

[17] Ad-Darami, 1/177. h. 549. Bab as-Sunnah qadhiyah ala Kitabillah. Al-Khathib, al-Kifayah. 48. al-Jami Inbu Abd al-Bar, 1/191. al-Baihaqi, Miftah al-jannah, suyuthi.10.

[18] Al-Baihaqi, Hujjiah as-Sunnah, 331. Ibnu Abd al-Bar, al-Jami. Idem.

[19] Al-Hakim, Marifah ulum al-Hadits.65. Baihaqi. idem. 332. al-Khatib, al-Kifayah, 49.

[20] Ad-Darami, 1/17.Bab as-Sunnah qadhiyah ala kitabillah.h.593.

[21] Al-Khatib, al-Kifayah.47. Ibnu Abd al-Bar, aljami, 2/191-192.

[22] Ali Imran: 164.

[23] Ar-Risalah: 76-77.

[24] Ini sebagian dari hadits Jaabir yang menjelaskan haji Rasululloh; lihat Shohih Muslim- kitab Al Hajj (2/943 no. 310.

[25] Jami bayan al-ilmi wafadhlihi, 2/190.

[26] I’laam Al Muwaqi’in ‘An Rabbi Al Alamin 2/290-291.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: