h1

Sholat sunah rawatib shubuh.

Oktober 23, 2007

Kholid Syamhudi

Sholat sunah rawatib shubuh.

Telah lalu dijelaskan tentang sholat Sunnah rawatib yang sangat dianjurkan sebagai pelengkap sholat fardhu lima waktu secara umum. Berikut perincian jenis-jenis sholat rawatib tersebut dimulai dengan sholat rawatib subuh.

1. Hukum sholat Rawatib Shubuh

Sholat Sunnah rawatib shubuh termasuk sholat Sunnah yang paling muakkad dan Rasululloh n senantiasa melakukannya dan tidak meninggalkannya baik dikala bepergian ataupun tidak.

Diantara dalil yang menunjukkan Rasululloh n melakukannya dikala bepergian (safar) adalah hadits Abu Maryam yang berbunyi:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَسْرَيْنَا لَيْلَةً فَلَمَّا كَانَ فِي وَجْهِ الصُّبْحِ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَامَ وَنَامَ النَّاسُ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا بِالشَّمْسِ قَدْ طَلَعَتْ عَلَيْنَا فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤَذِّنَ فَأَذَّنَ ثُمَّ صَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ

Kami dahulu pernah bersama Rasululloh n dalam satu perjalanan, lalu kami berjalan dimalam hari. Ketika menjelang waktu shubuh Rasululloh n berhenti dan tidur dan orang-orangpun ikut tidur. Beliau tidak bangun kecuali matahari telah terbit. Lalu Rasululloh n memerintahkan Muadzin (untuk beradzan) Lalu ia (Muadzin) mengumandangkan adzan kemudian beliau n sholat dua rakaat sebelum sholat shubuh kemudian memintahkan sang muadzin lalu beriqamah lalu beliau mengimami orang-orang (sholat shubuh). [1]

Demikian juga Imam al-Bukhori menyatakan, “

بَاب مَنْ تَطَوَّعَ فِي السَّفَرِ فِي غَيْرِ دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَقَبْلَهَا وَرَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي السَّفَرِ

(Bab orang yang melakukan sholat tathawu’ (Sunnah) dalam perjalanan pada selain waktu sesudah dan sebelum sholat fardhu (Rawatib) dan Nabi n melakukan sholat dua rakaat al-Fajr dalam safarnya (bepergiannya)).”[2]

Ibnu al-Qayyim menyatakan, “Diantara contoh petunjuk Rasululloh n dalam safarnya adalah mencukupkan dengan melaksanakan sholat yang fardhu dan tidak diketahui beliau n melakukan sholat Sunnah rawatib sebelum dan sesudahnya (sholat fardhu) kecuali sholat witir dan Sunnah rawatib shubuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan keduanya pada keadaan mukim ataupun bepergian”.[3] Juga pernyataan ‘Aisyah yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ أخرجه الشيخان

Dari A’isyah beliau berkata, “Nabi n tidak melakukan satupun sholat Sunnah yang melebihi kontinyuitasnya (kesinambungannya) melebihi dua rakaat (sholat rawatib) shubuh.[4]

Oleh karena itu ibnu al-Qayyim menyatakan, “Kesinambungan dan penjagaan beliau n terhadap sunah rawatib shubuh lebih dari seluruh sholat sunnah. Oleh karena itu beliau n tidak pernah meninggalkannya dan sholat witir dalam safar dan mukimnya. Beliau n dalam safarnya senantiasa disiplin melaksanakan sunah rawatib shubuh dan witir melebihi seluruh sholat-sholat Sunnah dan rawatib lainnya dan tidak dinukilkan dari beliau dalam safar melakukan sholat rawatib selain rawatib shubuh. Oleh karena itu Ibnu Umar dulu tidak menambah dari dua rakaat dan menyatakan, ‘Saya telah bepergian bersama Rasululloh n , Abu Bakar dan Umar, mereka seluruhnya dalam safar tidak melebihi dua rakaat’.”.[5]

Dengan demikian jelaslah hokum Sunnah rawatib shubuh adalah Sunnah muakkad dan termasuk rawatib yang paling dianjurkan.

2. Keutamaannya.

Keutamaan sholat Sunnah rawatib Shubuh ada dalam hadits-hadits umum tentang keutamaan sholat Sunnah rawatib, namun ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan sholat rawatib shubuh ini secara khusus. Diantaranya:

a. Hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. أخرجه مسلم.

Dari Nabi n beliau bersabda, “Dua rakaat fajar (Shubuh) lebih baik dari dunia dan seisinya”[6]

b. Hadits ‘Aisyah yang lainnya berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِأخرجه الشيخان

Dari A’isyah beliau berkata, “Nabi n tidak melakukan satupun sholat Sunnah yang melebihi kontinyuitasnya (kesinambungannya) melebihi dua rakaat (sholat rawatib) shubuh.[7]

Dalam dua hadits diatas ada pernyataan dan perbuatan Rasululloh n sekaligus yang menunjukkan keutamaan sholat rawatib ini.

c. Hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ أخرجه البخاري

Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi n dahulu tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh.[8]

3. Tata Caranya.

Sholat Sunnah rawatib shubuh dilakukan sebelum sholat fardhu shubuh dalam dua rakaat sebagaimana sholat dua rakaat lainnya dengan satu salam.

4. Meringankannya.

Diantara petunjuk dan contoh Rasululloh n dalam melakukan dua rakaat Sunnah rawatib shubuh adalah dengan meringatkannya dan tidak memanjangkan bacaannya dengan syarat tidak melanggar hal-hal yang wajib dalam sholat. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut ini:

a. Hadits Ummulmukminin Hafshoh yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ أخرجه الشيخان

Dari Ibnu Umar beliau berkata bahwasanya Hafshoh Ummulmukminin telah menceritakan kepadanya bahwa Rasululloh n dahulu bila muadzin selesai dari mengumandangkan adzan sholat shubuh dan tampak waktu shubuh maka beliau sholat dua rakaat yang ringan sebelum iqamat sholat.[9]

b. Hadits Ummulmukminin ‘Aisyah yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Dari ‘Aisyah beliau berkata: Dahulu Nabi n sholat dua rakaat ringan antara adzan dan iqamat dari sholat shubuh. [10]

Demikian juga beliau menjelaskan ringannya sholat Nabi n disini dengan menyatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟”. أخرجه الشيخان

Nabi n dahulu meringankan dua rakaat yang ada sebelum sholat fardhu shubuh hingga aku katakana, ‘Apakah beliau membaca al-Fatihah’.[11]

Hadits-hadits diatas menunjukkan sunnahnya memperingan sholat dua rakaat sebelum sholat fardhu shubuh.[12]

4. Bacaan setelah al-Fatihah dalam sholat rawatib ini

sebagian orang berdalih dengan riwayat ‘Aisyah diatas tentang tidak disunnahkannya membaca surat atau ayat setelah al-Fatihah. Ini tentunya tidak benar karena adanya beberapa riwayat yang menjelaskan bacaan surat atau ayat setelah membaca al-fatihah dalam sholat dua rakaat sebelum sholat fardhu shubuh ini. Diantaranya:

a. Hadits Abu Hurairoh z yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Dari Abu Hurairoh z bahwasanya Rasuluilloh n telah membaca dalam dua rakaat al-Fajr (dua rakaat rawatib shubuh) dua surat; Surat al-Kafirun dan al- Ikhlash.[13]

b. Hadits Ibnu Abas yang berbunyi:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي الْأُولَى مِنْهُمَا قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا الْآيَةَ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَفِي الْآخِرَةِ مِنْهُمَا آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Dari Sa’id bin Yasaar bahwasanya Ibnu Abas menceritakan kepadanya bahwa Rasululloh n dahulu membaca dalam dua rakaat al-Fajr pada rakaat pertama membaca ayat (قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا) yang ada dalam al-Baqorah (ayat 136) dan pada rakaat kedua (آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ) (Alimron 52). [14]

c. Hadits Ibnu Abas yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَالَّتِي فِي آلِ عِمْرَانَ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

Dari Ibnu Abas beliau berkata, “Dahulu Rasululloh n membaca dalam dua rakaat al-Fajr firman Allah:

(قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا) ( al-baqarah ayat 136) dan yang ada dalam Alimron (ayat 64):

(تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ).[15]

Syeikhul Islam ibnu Taimiyah t menyatakan, “Sunnah (rawatib) Shubuh diberlakukan sebagai awal perbuatan dan witir sebagai penutupnya. Oleh karena itu Nabi n melakukan sholat Sunnah (rawatib) Shubuh dan witir dengan membaca surat al-Kaafirun dan al-ikhlas, kedua surat ini mengandung tauhid al-Ilmi wa al-Amal (tauhid Rububiyah), tauhid al-Ma’rifah (Tauhid al-Asma wa ash-Shifat) dan tauhid al-I’tiqaad wa al-Qashdu (Tauhid al-Uluhiyah)”.[16]

5. Berbaring setelahnya

Diantara yang diriwayatkan dari Rasululloh n adalah beliau setelah sholat rawatib shubuh berbaring miring diatas bagian kanannya. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairoh z yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ رَكْعَتَي الْفَجْرِ، فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى شَقِّهِ الأَيْمَنِ. أخرجه الترمذي.

Dari Abu Hurairoh z Rasululloh n bersabda, “Apabila salah seorang kalian, maka berbaringlah miring diatas bagian kanannya”.[17]

Menanggapi permasalahan ini para ulama berbeda pendapat dalam enam pendapat:[18]

  1. berbaring ini disyari’atkan secara sunnah. Inilah pendapat Abu Musa al-Asy’ari, Raafi’ bin Khadiij, Anas bin Malik, Abu Hurairoh, Muhammad bin Siriin, Sa’id bin al-Musayyib, al-Qaasim bin Muhammad bin Abu Bakar, ‘Urwah bin al-Zubeir, Abu Bakar bin Abdurrahman bin ‘Auf, Khaarijah bin Zaid bin Tsabit, Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah, Sulaiman bin Yasaar dan madzhab Syafi’i dan Hambaliyah. Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairoh diatas dan membawanya kepada sunnah (istihbab) dengan hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى سُنَّةَ الْفَجْرِ ، فَإِنْ كُنْتُ مُسْتَيْقِظَةً ؛ حَدَّثَنِيْ ، وَ إِلاَّ ؛ اضْطَجَعَ حَتىَّ يُؤَذَّنَ بِالصَّلاَةِ. أخرجه البخاري

Sungguh Nabi n dahulu bila telah melakukan sholat Sunnah shubuh, apabila aku bangun maka ia mengajakku bicara dan bila tidak maka ia berbaring hingga sholat diiqamati.[19]

Tampak dalam hadits ini beliau tidak berbaring bila ‘Aisyah telah bangun, sehingga ini bisa memalingkan perintah dalam hadits Abu Hurairoh z kepada Sunnah. Demikian juga hadits ‘Aisyah ini menunjukkan beliau terkadang tidak berbaring setelah melakukan rawatib shubuh. Seandainya wajib tentulah beliau tidak akan meninggalkannya sama sekali.

  1. Wajib dan harus dilakukan bahkan menganggapnya sebagai syarat sah sholat shubuh. Inilah pendapat Abu Muhammad bin Hazm. Beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairoh diatas yang berisi perintah dan perintah menunjukkan kewajiban. Syeikhul Islam ibnu Taimiyah mengomentari pendapat Ibnu Hazm ini dengan menyatakan, “Ini termasuk pendapat beliau yang bersendirian menyelisihi umat”.[20]
  2. Makruh dan bid’ah. Ini pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dalam satu riwayat, al-Aswad bin Yazid dan Ibrohim al-Nakho’i. mereka berdalil bahwa hal ini tidak pernah dilakukan Rasululloh n di Masjid. Seandainya pernah dilakukan tentulah akan dinukil secara mutawatir.
  3. Menyelisihi yang lebih utama. Inilah yang diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri.
  4. Disunnahkan bagi yang telah melakukan sholat malam dihari tersebut agar dapat beristirahat dan tidak disyariatkan pada selainnya. Inilah yang dirojihkan Ibnu al-’Arabi dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah serta Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin. Syeikh al-Utsaimin menyatakan, “Pendapat yang rojih dalam masalah ini adalah yang dirojihkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu yang dirinci, sehingga menjadi Sunnah bagi orang yang menegakkan malamnya, karena ia butuh istirahat. Namun bila termasuk orang yang bila berbaring ditanah dapat tidur dan tidak bangun kecuali setelah waktu yang lama maka ini tidak disunnahkan baginya, karena ini dapat membuatnya meninggalkan kewajiban”.[21]
  5. Berbaring bukanlah inti yang dimaksud, namu yang dimaksud adalah memisahkan antara sholat rawatib dengan sholat Fardhu. Ini diriwayatkan dari pendapat as-Syafi’i. namun pendapat ini terlalu lemah sebab pemisahan waktu dapat dilakukan dengan selain berbaring.

Yang rojih menurut penulis adalah yang dirojihkan imam an-Nawawi ketika menyatakan, “Yang terpilih adalah Berbaring dengan dasar dzohir hadits Abu Hurairoh”.[22]

Demikian juga keumuman hadits ini mencakup umat islam, apalagi didukung dengan keabsahan hadits Abu Hurairoh sebagaimana dinilai Shohih oleh imam al-Syaukani dan Syeikh al-Albani.

6. Orang yang tidak sempat melakukannya pada waktunya.

Disyari’atkan bagi yang tidak sempat melakukan sholat rawatib qabliyah shubuh untuk melaksanakannya setelah selesai sholat fardhu shubuh atau setelah terbit matahari. Hal ini didasarkan kepada dalil berikut ini.

A. hadits Abu Hurairoh z yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :” مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ؛ فَلْيُصَلِّهُمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ”. أخرجه الترمذي.

Dari Abu Hurairoh z , Rasululloh n bersabda, “Siapa yang brlum sholat dua rakaat qabliyah shubuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari”.[23]

Perintah dalam hadits ini dipalingkan kepada makna istihbaab dengan hadits yang lainnya yang berbunyi:

عَنْ قَيْسِ بْنِ قَهْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ “. أخرجه الترمذي

Dari Qais bin Qah-th z bahwasanya ia sholat shubuh bersama Rasululloh n dan beluam melakukan sholat dua rakaat qabliyah shubuh. Ketika Rasululloh n telah salam maka iapun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan sholat dua rakaat qabiyah shubuh dan Rasululloh n melihatnya dan tidak mengingkarinya.[24]

Jelas hadits ini menunjukkan kebolehan mengqadha dua rakaat qabliyah shubuh setelah sholat fardhu.

Demikianlah beberapa hokum seputar sholat rawatin shubuh, Mudah-mudahan bermanfaat.

www.ustadzkholid.wordpress.com


[1] HR an-Nasaa’i kitab al-Mawaqif, Bab Kaifa Yaqdhi al-Faait Min ash-Sholat, no. 605, dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan an-Nasa’I, beliau menyatakan: “Shohih dengan hadits Abu Hurairoh berikutnya dan selainnya”.

[2] Shohih dalam kitab al-Jum’at

[3] Zad al-Ma’ad 1/456

[4] HR al-Bukhori dan Muslim.(akan datang takhrijnya)

[5] Zad al-Ma’ad 1/305

[6] HR Muslim , Kitab Sholat al-Musafirin Wa Qashruha, Bab Istihbaab Rak’atai Sunah al-Fajr Wa al-Hatsu ‘alaihima Wa Takhfiifuhuma ‘Alaihima Wa Bayaan Maa Yustahab ‘An Yaqra’a Fiihima, no. 725.

[7] HR al-Bukhori, kitab Tahajjud, Bab Ta’aahud Rak’atai al-Fajri Waman Sammaaha Tathowwu’an no. 1169 dan Muslim, kitab Sholat al-Musaafirin Wa Qashruha, Bab Istihbaab Rak’atai Sunah al-Fajr Wa al-Hatsu ‘alaihima Wa Takhfiifuhuma ‘Alaihima Wa Bayaan Maa Yustahab ‘An Yaqra’a Fiihima, no. 724

[8] HR al-Bukhori, Kitab al-Tahajjud, Bab ar-Rak’atain Qabla Dzuhur no. 1182

[9] HR al-Bukhori, kitab al-Adzan, Bab al-Adzan Ba’da al-Fajr no. 618 dan Muslim, kitab Sholat al-Musaafirin Wa Qashruha, Bab Istihbaab Rak’atai Su nah al-Fajr Wa al-Hatsu ‘alaihima Wa Takhfiifuhuma ‘Alaihima Wa Bayaan Maa Yustahab ‘An Yaqra’a Fiihima, no. 723

[10] Bukhori kitab al-adzan, Bab al-Adzan ba’da al-fajr no 584.

[11] HR al-Bukhori, kitab at-Tahajud, Bab Maa Yaqra’ Fi Rak’atai al-Fajr no. 1171 dan Muslim, kitab Sholat al-Musaafirin Wa Qashruha, Bab Istihbaab Rak’atai Su nah al-Fajr Wa al-Hatsu ‘alaihima Wa Takhfiifuhuma ‘Alaihima Wa Bayaan Maa Yustahab ‘An Yaqra’a Fiihima, no. 724 dan lafadznya lafadz al-Bukhori.

[12] Lihat Shohih Fiqh al-Sunnah 1/373.

[13] Muslim, kitab Sholat al-Musaafirin Wa Qashruha, Bab Istihbaab Rak’atai Su nah al-Fajr Wa al-Hatsu ‘alaihima Wa Takhfiifuhuma ‘Alaihima Wa Bayaan Maa Yustahab ‘An Yaqra’a Fiihima, no. 726

[14] Muslim, kitab Sholat al-Musaafirin Wa Qashruha, Bab Istihbaab Rak’atai Su nah al-Fajr Wa al-Hatsu ‘alaihima Wa Takhfiifuhuma ‘Alaihima Wa Bayaan Maa Yustahab ‘An Yaqra’a Fiihima, no. 727

[15] ibid no. 728.

[16] Dinukil murid beliau Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma’ad 1/306. kemudian Ibnu al-Qayyim menjelaskan hikmah-hikmah yang terkandung dalam dua surat tersebut.

[17] HR al-Tirmidzi, kitab al-Sholat, Bab Maa Ja’a Fi al-Idh-Thijaa’ Ba’da Rak’atai al-Fajri no. 420 dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan al-Tirmidzi dan Shohih sunan Abi Daud no. 1146.

[18] Pembahasan ini diambil dari beberapa referensi, diantaranya: Syarhu al-Mumti’ ‘Ala Zad al-Mustaqni’ karya Syeikh Ibnu Utsaimin, Nail al-Autar Syarh Muntaqa al-Akhbaar karya al-Syaukani, Zaad al-Ma’ad karya Ibnu al-Qayyim dan Shohih Fiqh al-Sunnah karya Abu Malik.

[19] HR al-Bukhori, kitab at-Tahajud, Bab Man Tahadatsa Ba’da ar-rak’atain Wa Lam Yadh-Thaji’ no. 1161

[20] Pernyataan ini dinukil langsung Ibnu al-Qayim dari beliau. Lihat Zad al Ma’ad 1/308

[21] Syarhul Mumti’ 4/100.

[22] Dinukil dari Nail al-Author 3/25.

[23] HR al-Tirmidzi kitab al-Sholat, Bab Maa Ja’a Fii I’aadatihima Ba’da Thulu’ as-Syamsi no. 424 dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan al-Tirmidzi 1/133.

[24] HR al-Tirmidzi kitab al-Sholah, Bab Maa Ja’a Fiiman Tafututhu ar-Rakaataan Qabla al-Fajr Yusholihuma ba’da sholat as-Shubhu no. 422 dan dishohihkan al-Albani dalam shohih sunan al-Tirmidzi 1/133.

About these ads

Satu komentar

  1. mau bertanya tatacara serta bacaan dalam melaksanakan sholat sunnah rawatib, mohon perjelasanya



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: