h1

Sholat Rawatib

Oktober 23, 2007

Kholid Syamhudi.

Sholat Sunnah Rawatib.

Sholat merupakan amalan paling utama dalam Islam dan amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat. Rasululloh n bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Sungguh amalan hamba yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah sholatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari sholat wajibnya , maka Rabb Azza wa Jalla berfirman, ‘Lihatlah apakah hambaKu itu memiliki sholat tathawwu’ (sholat Sunnah). Lalu disempurnakan dengannya yang kurang dari sholat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian (HR Al Tirmidzi)

dengan demikian tampak urgensi sholat Sunnah dalam menutupi kekurang sepurnaan sholat wajib, apalagi harus diakui sangat sulit mendapatkan kesempurnaan tersebut, sehingga Rasululloh n bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Sungguh seseorang selesai sholat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh sholat, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya seperttiganya, setengahnya. (HR Abu Daud dan Ahmad).

Karena itu para ulama memberikan perhatian terhadap sholat-sholat Sunnah ini. Diantaranya adalah sholat Sunnah rawatib.

I. Definisi

Yang dimaksud dengan sholat Sunnah rawatib adalah sholat-sholat yang dilakukan Rasululloh n atau anjurkan bersama sholat wajib baik sebelum atau sesudahnya. Ada yang mendefinisikannya dengan sholat Sunnah yang ikut sholat wajib.[1]

Syeikh Muhammad bin sholih al-Utsaimin mendefinisikannya dengan sholat yang terus dilakukan secara kontinyu yang mendampingi sholat fardhu.[2]

II. Keutamaannya

Ada beberapa hadits Nabi n yang menjelaskan keutamaan sholat Sunnah rawatib secara umum dan ada juga yang khusus pada satu sholat Sunnah rawatib secara khusus seperti keutamaan sholat Sunnah sebelum sholat subuh.

Diantara hadits yang menunjukkan keutamaan sholat sunah rawatib secara umum adalah:

  1. Hadits Ummu Habibah yang berbunyi:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Tidaklah seorang muslim sholat karena Alah setiap hari dua belas rakaat sholat Sunnah bukan wajib kecuali akan Allah bangun baginya sebuah rumah di syurga (HR Muslim kitab Sholat al-Musaafir Wa Qashruha bab Fadhl al-Sunan al-Raatibah Qobla al Faraa`id Wa ba’daha no. 1199)

Jumlah rakaat ini ditafsirkan dalam riwayat al-Tirmidzi dan al-Nasa’I dari hadits Ummu Habibah sendiri, yang berbunyi:

قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

Ummu Habibah berkata, ‘Rasululloh n besabda, “Siapa yang sholat dua belas rakaat maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di Syurga; empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setalh maghrib, dua rakaat sesudah Isya’ dan dua rakaat sebelum sholat subuh.

Dalam riwayat lain dengan lafadz:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Siapa yang terus menerus melakukan sholat dua belas rakaat maka Allah bangunkan baginya sebuah rumah disyurga. (HR al-Nasaa’i).

Riwayat ini menunjukkan sunnahnya membiasakan dan merutinkan sholat dua belas rakaat tersebut setiap hari. Sehingga semua yang membiasakan diri melakukan sunah-sunah rawatib ini masuk dalam keutamaan tersebut.

Ini dikuatkan dengan perbuatan Rasululloh n sebagaimana dalam hadits ibnu Umar berikut ini.

B. Hadits Ibnu Umar z yang berbunyi:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَكَانَتْ سَاعَةً لَا يُدْخَلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَطَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Aku hafal dari Nabi n sepuluh rakaat; dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah ‘Isya dan dua rakaat sebelum sholat subuh. Dan ada waktu tidak napat menemui Nabi n . Hafshoh menceritakan kepadaku bahwa beliau bila Muadzinberadzan dan terbit fajar beliau sholat dua rakaat. (HR Al Bukhori kitab Tahajjud, Bab al-Rakatain Qabla dzuhur no.1180 dan Muslim kitab sholat al-Musafirin wa Qashruha bab Fadhlu al-Sunan al-Raatibah 729.).

Dalam riwayat al-Bukhori dan Muslim ada tambahan lafadz:

وَسَجْدَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَأَمَّا الْمَغْرِبُ وَالْعِشَاءُ فَفِي بَيْتِهِ

Dan dua rakaat setelah jum’at, adapun (sholat Sunnah rawatib) maghrib dan ‘Isya dilakukan dirumahnya (HR al-Bukhaari kitab Jum’at bab Tathawwu’ Ba’da al-Maktubah 1120 dan Muslim kitab sholat al-Musaafir wa Qashruha bab Fadhlu al-sunan ar-Raatibah no. 1200) dalam riwayat Muslim berbunyi:

فَأَمَّا الْمَغْرِبُ وَالْعِشَاءُ وَالْجُمُعَةُ فَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ

Adapun (sholat sunah rawatib) maghrib, Isya dan jum’at aku lakukan bersama Nabi n dirumahnya. (HR Muslim kitab Sholat al-Musaafirin wa qashruha bab Fadhlu al-sunan ar-Raatibah n0. 1200).

III. Jumlah Rakaatnya

Para ulama berselisih tentang jumlah rakaat sholat Sunnah rawatib ini dalam dua pendapat karena perbedaan dua hadits diatas.

Pertama menyatakan bahwa jumlahnya ada sepuluh rakaat dengan dasar hadits Ibnu Umar z diatas, inilah pendapat madzhab Hambaliyah dan Syafi’iyah[3]

Kedua menyatakan bahwa jumlahnya dua belas rakaat berdasarkan hadits Ummu Habibah diatas, inilah pendapat madzhab Hanafiyah dan Ibnu Taimiyah[4]

Ketiga menyatakan tidak ada batasan jumlah rakaat, bahkan cukup dengan melakukan dua rakaat dalam setiap waktu untuk mendapatkan keutamaan sholat sunah rawatib, inilah pendapat madzhab Malikiyah.

Keempat menyatakan jumlahnya delapan belas rakaat, ini pendapat imam al-Syairozi dan disetujui imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab. Pendapat ini berdalil dengan hadits Ummu Habibah diatas dan hadits ummu Habibah lainnya yang berbunyi:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Aku mendengar Rasululloh n bersabda, Siapa yang menjaga empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat setelahnya maka Allah mengharamkannya dari neraka. (HR al-Titmidzi kitab al-Sholat, no. 428, Ibnu Majah kitab al-Sholat no. 428 , Abu Daud kitab al-Sholat Bab al-Arba’ Qabla al-Zhuhri Wa Ba’daha no. 1269 dan Ibnu Majah kitab al-Sholat wa as-Sunnah Fiha Bab Maa Jaa`a Fiman Sholla Qabla al-Zhuhri `Arba’an Wa Ba’daha `Arba’an no1160, dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan Ibnu Majah 1/191) dan hadits yang berbunyi:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Dari Ibnu Umar z dsari Nabi n beliau bersabda, Semoga Allah merahmati seorang yang sholat sebelum ‘Ashar empat rakaat. (HR Ahmad dalam Musnadnya 4/203, al-Tirmidzi dalam kitab Sholat bab Ma Jaa`a Fi al-Arba’ Qabla al-‘Ashr no. 430, Abu Daud dalam kitab Sholat bab al-Sholat Qabla al-‘Ashr no. 1271 dan dinilai hasan oleh Syeikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Daud 1/237.)

Imam Nawawi menyatakan, “Yang paling sempurna dalam rawatib yang mendampingi sholat fardhu selain witir adalah delapan belas rakaat sebagaimana dijelaskan penulis (al-Syairozi) dan yang paling sedikit adalah sepuluh sebagaimana beliau sebutkan. Diantara ulama ada yang berpendapat delapan rakaat dengan dihapus Sunnah Isya’ ini pendapat al-Khudari dan ada yang menyatakan bahwa jumlahnya dua belas dengan menambah dua rakaat lain sebelum zhuhur dan ada yang menambah dua rakaat sebelum sholat ashar. Semua ini Sunnah namun perbedaan pendapat ada pada yang Muakkad darinya.”[5]

Yang rojih – Wallahu A’lam – adalah mengembalikan definisi sholat sunnah rawatib sebagai sholat Sunnah pendamping sholat fardhu yang dilakukan sebelum atau sesudah dan ada anjuran dari Rasululloh n maka yang lengkap adalah delapan belas rakaat sebagaimana disampaikan imam al-Nawawi diatas. Namun mana yang Sunnah muakkad dari itu semua, maka yang rojih adalah pendapat syeikh Ibnu Utsaimin[6] yaitu duabelas rakaat dengan perincian; dua rakaat sebelum subuh, empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib dan dua rakaat setelah isya’ sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ummu Habibah. Hal ini dikuatkan dengan hadits A’isyah yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ

Sungguh Nabi n dahulu tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum zhuhur. (HR al-Bukhoori dalam kitab al-Jum’at bab al-Rak’atain Qabla al-Zhuhri no. 1110)

Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Umar z yang menerangkan bahwa beliau z hafal dari Nabi sepuluh rakaat. Ibnu al-Qayyim menjelaskan hal itu dalam pernyataan beliau, “Nabi dahulu selalu menjaga sepuluh rakaat dalam masa mukim, inilah yang disampaikan Ibnu Umar . . . dan beliau kadang sholat empat rakaat sebelum zhuhur sebagaimana dijelaskan dalam shohihain dari A’isyah bahwa beliau tidak pernah meninggalkan emapat rakaat sebelum zhuhur . . .hal ini dapat dinyatakan bahwa Nabi n bila sholat dirumah maka sholat empat rakaat dan bila sholat dimasjid maka sholat dua rakaat dan inilah yang lebih rojih. Bisa jadi juga dikatakan bahwa beliau pernah berbuat demikian dan berbuat begitu, lalu setiap dari A’isyah dan Ibnu Umar menyampaikan apa yang disaksikannya.”[7]

Sedangkan syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basaam memberikan sisi kompromi hadits-hadits ini dengan menyatakan, “Prnyataan “empat rakaat sebelum zhuhur” tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Umar yang ada pernyataan, “Dua rakaat sebelum zhuhur”. Sisi komprominya adalah beliau n kadang sholat dua rakaat dan kadang empat, lalu setiap dari keduanya (Ibnu Umar dan A’isyah) menceritakan salah satu dari kedua amalan tersebut. Hal ini ada pada banyak ibadah-ibadah dan dzikir-dzikir Sunnah.”[8]

IV. Faedah Sholat Sunnah Rawatib.

Tentang faedah sholat Sunnah rawatib ini syeikh Ibnu Utsaimin pernah berkata, “Faidah rawatib ini adalah Menutupi kekurangan yang terjadi pada sholat fardhu”.[9]

Sedangkan Syeikh Abdullah al-Basaam menyatakan, “Sholat Sunnah rawatib memiliki faedah agung dan keuntungan besar berupa tambahan kebaikan, penghapus kejelekan, ketinggian derajat, menutupi kekurangan dalam sholat fardhu. Oleh karena itu sudah seharusnya diperhatikan dan dijaga kesinambungannya.”[10]

IV. Tata Cara dan Hokum-hukumnya.

Tata cara dan hukum-hukumnya akan dijelaskan sesuai dengan waktu-waktunya dan setiap sholat wajib dibahas ada atau tidak adanya sholat sunnah rawatib padanya, sehingga akan dibahas dalam lima sub bahasan, yaitu:

  1. Sholat sunah rawatib shubuh
  2. Sholat sunah rawatib dzuhur
  3. Sholat sunah rawatib Ashar
  4. Sholat sunah rawatib Maghrib
  5. Sholat sunah rawatib ‘Isya.

(bersambung)

www.ustadzkholid.wordpress.com


[1] Shohih Fiqh al Sunnah, Abu Malik Kamaal bin al-Sayyid Saalim, tanpa cetakan dan tahun, al-Maktabah al-Taufiqiyah, Mesir, 1/372.

[2] Lihat Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaad Al Mustaqni’, Syeikh Ibnu Utsaimin, tahqiq DR. Kholid Al Musyaiqih dan Sulaimin Abu Khoil, cetakan kedua tahun 1414 H, Muassasatu Aasaam, 3/93

 

[3] lihat Syarhul Mumti’ 3/93 dan Shohih Fiqh al-Sunnah 1/372

[4] ibid

[5] al- Majmu’ Syarh al-Muhadzab, imam Nawawi dengan penyempurnaan Muhamma Najieb al-Muthi’I, cetakan tahun 1419H, Dar Ihyaa Al TUrats Al ‘Arabi, Beirut.3/502.

[6] Lihat Syarhu al-Mumti’ 4/96

[7] Zad al-Ma’aad, Ibnu al Qayyim, Tahqiq Syu’aib al-Arna`uth, cetakan kedua tahun 1418H, Muassasah ar-Risalah1/298

[8] Taudhih al-Ahkaam Min Bulugh al-Maram, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basaam, cetakan kelima tahun 1423H, Maktabah al-Asadi, Makkah, 2/382-383

[9] Syarhu al-Mumti’ 4/96.

[10] Taudhih al-Ahkam 2/383-384.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: