h1

Bina Keluarga Samara

Oktober 4, 2007

Membina Keluarga Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah (SaMaRa)

 

Banyak orang yang mendambakan kebahagiaan, mencari ketentraman dan ketenangan jiwa raga sebagaimana usaha menjauhkan diri dari sebab-sebab kesengsaraan, kegoncangan jiwa dan depresi khususnya dalam rumah dan keluarga.

Perlu diketahui hal itu tidak terrealisasikan kecuali dengan iman kepada Allah, tawakkal dan menyerahkan urusannya kepada Allah, tentunya dengan melaksanakan sebab-sebab yang telah menjadi sunatullah dan telah diajaran dalam syari’atNya.

 

Urgensi pembinaan rumah tangga islami.

Diantara hal yang terpenting yang mempengaruhi terwujudnya kebahagian pada individu dan masyarakat adalah pembinaan keluarga yang istiqamah diatas ajaran Rasululloh n . sebab Allah telah menjadikan rumah tangga dan keluarga sebagai tempat yang disiapkan untuk manusia merengkuh ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan sebagai anugerah terhadap hambaNya. Untuk itulah Allah berfirman:

{[1]).

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:217)

Hal ini diperparah keadaan kaum muslimin dewasa ini yang telah memberika perhatian terlalu besar kepada ilmu-ilmu dunia, namun lupa atau melupakan ilmu agama yang jelas lebih penting lagi. Ilmu yang menjadi benteng akhlak dan etika seorang muslim dalam hidup dan menggunakan kemampuannya dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang ujian dan fitnah ini. Mereka lupa membina dirinya, keluarganya dan anak-anaknya dengan ajaran syari’at islam yang telah membentuk para salaf kita terdahulu menjadi umat terbaik didunia ini.

Memang muncul satu fenomena bahwa urgensi dan tugas orang tua sekarang hampir-hampir menjadi sempit hanya sekedar mengurusi masalah pangan dan sandang saja. Ditambah lagi bapak sibuk dan ibupun tidak kalah sibuknya dalam memenuhi sandang pangan dan mencapai karier tertinggi. Akhirnya anak-ank terantar dan tidak jelas arah pembinaan dan pendidikannya.

Padahal orang tua memiliki pengaruh besar dalam pembentukan dan pembinaan pribadi anak. Lihatlah sabda Rasululloh n :

 ((…. فأبَواهُ يُهودانه أو يُمَجِسانه أو ينَصِرانه)) ([2])

Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau nashrani.

Karena itu diperlukan pembinaan keluarga SAMARA diatas ajaran dan bimbingan Rasululloh n dan contoh para salaf sholeh terdahulu.

 

Pilar Pembinaan Keluarga Islami

Pilar perbaikan dan pembinaan keluarga SAMARA banyak sekali, diantara yang terpenting adalah:

1.      Iman dan Takwa kepada Allah.

Hal ini diwujudkan dengan komitmen terhadap Al Qur’an dan Sunnah, iman kepada Allah dan hari Akhir, konsisten dalam takwa dan muraqabah dan jauh dari kedzoliman dan merasa berat dalam mencari kebenaran. Allah berfirman:

{[3]) .

Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu sholat dan membangunkan istrinya lalu iapun sholat. Apabila istrinya tidak mau maka ia memercikkan air diwajahnya dan semoga Allah merahmati wanita yang bangun malam lalu sholat dan membangunkan suaminya lalu suaminyapun sholat. Apabila suaminya enggan maka ia memercikkan air kewajahnya.

dengan demikian hubungan pasutri bukan sekedar hubungan materi keduniaan semata atau seksual namun ia juga hubungan rohani yang mulia. Ketika hubungan ini benar-benar terjadi dan sesuai syari’at maka ia akan berujung pada kehidupan akherat. Allah berfirman:

{2.      Baik dalam pergaulan (Mu’asyarah Bil Ma’ruf)

Diantara yang dapat menjaga hubungan baik pasutri adalah pergaulan yang baik. Hal ini tidak terealisasikan kecuali dengan pengetahuan pasutri tentang hak dan kewajibannya. Mencari kesempurnaan dalam rumah dan keluarga tidak mungkin dan bercita-cita menyempurnakan sifat-sifat keluarga juga perkara yang sangat jauh dan sulit. Namun bagaimana peran pasutri dalam menjaga keutuhan rumah tangganya?

 

2.1  Peran suami dalam menjaga keutuhan rumah tangga dan pergaulan yang baik.

Suami sebagai kepala rumah tangga dituntut untuk menahan diri bersabar lebih banyak dari wanita. Mesti mengetahui wanita itu lemah dalam pisik dan akhlaknya. Sehingga dalam meluruskannya diperlukan cara yang terbaik. Sebab memaksakannya dapat mengantar pada perceraian. Rasululloh n memberikan arahan dala sabdanya:

{[4])

berlemah lembutlah kepada wanita, karena mereka diciptakan dari tulang yang bengkok dan sungguh yang paling bengkok dari tulang tersebut adalah yang paling atasnya. Apabila kamu meluruskannya maka kamu telah mematahkannya dan bila kamu biarkan maka ia terus bengkok. Maka berlemah lembutlah kepada wanita.

karenanya suami harus ingat sisi baik istrinya bila mendapatkan kekurangan padanya. Sebagaimana diingatkan Rasululloh n :

{ [5])

Janganlah seorang mukmin membenci mukminah, apabila ia tidak menyukai satu prilakunya maka ridho dengan yang lainnya.

demikian juga dijelaskan Allah dalam firmanNya:

{[6]) .

sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya dan akulah yang terbaik dari kalian terhadap istriku.

2.2  Peran istri dalam menjaga keutuhan rumah tangga dan pergaulan yang baik.

Adapun wanita hendaknya mengetahui bahwa kebahagian, kasih dan sayang tidak sempurna kecuali ketika ia menjaga kehormatan dan agamanya. Mengetahui hak dan kewajibannya. Wajib baginya mentaati suami dan menjaga dirinya dan harta suaminya, melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan memperhatikan diri dan rumahnya, karena ia adalah istri yang sholihah, ibu yang penuh kasih sayang dan pemimpin yang bertanggung jawab pada rumah suaminya. Sehingga mengakui kebaikan suaminya dan tidak mengingkarinya. Rasululloh n bersabda:

{[7])

ditampakkan kepadaku neraka ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, mereka kufur. Ada yang bertanya: Apakah mereka kufur kepada Allah? Beliau menjawab: Tidak, mereka kufur terhadap suaminya, seandainya kamu telah berbuat baik kepada salah seorang mereka sepanjang waktu kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang jelek), ia berkta: saya tidak pernah melihat kebaikan darimu sedikitpun.

Kalau demikian harus ada saling memaafkan dan saling melupakan kelemahan masing-masing. Janganlah istri tidak berbuat baik kepada suaminya ketika ada disampingnya dan berkhianat apabila tidak ada disampingnya. Dengan ini akan terjadi saling ridho dan akan kekal hubungan pasutri yang dipenuhi kedekatan, kasih dan sayang. Rasululloh n menjanjikan syurga bagi wanita yang suaminya ridho dengan syurga dalam sabdanya:

{ [8]).

Wanita yang meninggal dan suaminya ridho dengannya maka akan masuk syurga.

 

Tiga