h1

Talbiyah dalam Haji

Oktober 2, 2007

Kupenuhi Panggilan Engkau……Wahai Allah.

Talbiyah antara makna dan hukum syar’i.

 

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد ونعمة لك والملك لا شريك لك

Labaik Allahumma Labaaik, labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulka La Syarikalah….

Talbiyah yang terus menggema dan mengguruh diseantera tanah haram Makkah dikumandangkan para jamaah haji yang beraneka ragam ras, suku dan bangsa. Sungguh satu pemandangan yang menyentuh hati, pemandangan yang mengharukan dan membanggakan. Bagaimana tidak!? Kaum muslimin yang biasanya berseteru dan berselisih serta berpecah belah dalam kesempatan itu mengumandangkan satu kalimat dan satu ucapan saja. Mereka berpakaian yang sama dan mengucapkan kalimat yang sama “Labaik Allahumma Labaaik, labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulka La Syarikalak. Berpakaian putih-putih bagi laki-lakinya dan berpakaian menutup aurat untuk perempuannya, tanpa membeda-bedakan kedudukan dan martabat dunia, bangsa dan suku, ulama dan awam, semuanya bersatu mengucapkan talbiyah menyambut seruan Allah dalam firmanNya:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamudengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Surat Al hajj :27)

Berkata Ibnu Abbas t dalam menafsirkan firman Allah U ini : “Ketika Allah U memerintahkan Ibrahim u untuk mengkhabarkan manusia agar berhajji, Ibrohim berkata:

يا أيها الناس إن ربكم اتحذ بيتًا و أمركم أن تحجوه فاستجاب له ما سمعه من حجر أو شجر أو أكمة أو تراب أو شيئ  فقالوا لبيك اللهم لبيك (رواه ابن جرير 17\106)

“Wahai manusia sesungguhnya Rabb kalian telah membangun satu rumah (ka’bah) dan memerintahkan kalian untuk berhaji kepadanya. Lalu menerima panggilan ini apa saja yang mendengarnya dari batu-batuan, pepohonan, bukit-bukit debu atau apasaja yang ada, lalu mereka berkata لبيك اللهم لبيك ……  (H.R Ibnu Jarir 17/106)[1]

Demikian juga imam Mujahid –salah seorang murid besar Ibnu Abbas- menafsirkan ayat ini dalam pernyataan beliau: Nabi Ibrohim menyeru manusia (dengan menyatakan): “Wahai sekalian manusia, penuhilah seruan Robb kalian”. Dalam riwayat lain dikatakan: “Sesungguhnya Ibrohim ketika diperintahkan untuk menyeru manusia berhaji, bangkit berdiri diatas maqam[2] dan berkata: “Wahai sekalian manusia, penuhilah seruan Rabb kalian”. Mererka menjawab: “Labaik Labaik”. Maka barang siapa berhaji sekarang ini, maka ia telah memenuhi seruan nabi Ibrohim ketika itu pada nenek moyang mereka. Ibnu Taimiyah berkata: “Kedua riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Ya’la AL Maushiliy dengan sanad yang shohih”[3]

Berkata Ibnu Hajar ; ” Berkata Ibnu Abdil Barr: ‘Telah berkata sejumlah  para Ulama': “Makna Talbiyah adalah jawaban panggilan Ibrahim u ketika memberitahukan manusia untuk berhaji””[4]

 

Makna Talbiyah

            Kata Talbiyah berasal dari bahasa Arab dari kata: ( أَلَبَّ بِالْمَكَانِ) jika mendiami dan tinggal ditempat tersebut. Sehingga makna talbiyah adalah senantiasa bersamanya dan bergantung kepadanya seperti orang yang tinggal dan menetap disatu tempat. Sedangkan talbiyah disini bermakna mengucapkan Labaika Allahumma Labaaik, labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulka La Syarikalaka

Talbiyah memiliki makna yang agung, karena memuat tauhid dan kebesaran Allah. Hal ini dapat dilihat dari makna kata-kata dalam talbiyah tersebut, sebagaimana berikut ini:

(اللهم)                  :Wahai Allah

(لبيك)                    :Adalah penegas yang memiliki ma’na baru (lebih‎‎), maka saya mengulang-ulang dan menegaskan bahwa saya menjawab atau menerima panggilan Rabb saya dan tetap dalam keta’atan kepada-Nya

(لا شريك لك)       :Berma’na tidak ada satupun yang menyekutukan Engkau (Allah) dalam segala sesuatu

(لبيك)                  :Sebagai penegas bahwa saya menerima panggilan haji tersebut karena Allah, bukan karena pujian, ingin terkenal, ingin harta, dan lain-lain, akan tetapi saya berhaji dan menerima panggilan tersebut karena Engkau saja

(إن الحمد و النعمة لك والملك)   :Sesungguhnya saya berikrar dan mengimani bahwa semua pujian dan nikmat itu hanyalah milik-Mu demikikan juga kekuasaan

(لا شريك لك)       :Yang semua itu tidak ada sekutu bagimu

Kalau kita mencermati ma’na kata-kata yang ada dalam talbiyah tersebut didapatkan adanya penetapan tauhid dan jenis-jenisnya, sebagaimana disampaikan  oleh Jabir berkata:

فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيْدِ

(Rasulullah r bertalbiyah dengan tauhid”)[5]

Hal ini tampak sekali bila kita mentelaah dan memahami makna kata-kata tersebut, lihatlah dalam kata-kata (لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك) meniadakan kesyirikan dalam ibadah, kemudian (والملك لا شريك لك) terdapat tauhid rububiyyah karena kita telah menetapkan kekuasaan yang mutlak hanya kepada Allah U semata. Hal ini juga menuntut seorang hamba untuk mengakui tauhid uluhiyyah, karena iman kepada tauhid rububiyyah mengharuskan iman kepada tauhid uluhiyyah, dan dalam kata (إن الحمد و النعمة لك) terdapat penetapan sifat-sifat terpuji pada zat Allah. Juga menetapkan semua perbuatan Allah U adalah hak. Ini semua merupakan tauhid asma’ dan sifat Allah U.

Kalau demikian, orang yang bertalbiyah dituntut selalu merasakan keagungan Allah dan selalu menyerahkan amal ibadahnya hanya kepada Allah semata, bukan hanya sekedar mengucapkannya tanpa dapat merasakan hakikat dari talbiyah tersebut.

 

Hukum-hukum seputar Talbiyah

            Talbiyah sebagai satu syiar haji memiliki hukum-hukum dan adab yang harus diperhatikan para jamaah haji, agar dapat sempurna dalam menunaikan dan melaksanakannya. Diantara hal-hal tersebut adalah:

 

1. Bacaan Talbiyah

Adapun bacaan talbiyah yang ma’tsur dalam hadits-hadits Rasulullah r adalah:

a.

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الجمد ونعمة لك والملك لا شريك لك [6]

b.

لبيك لبيك و سعديك و الخير بيدك و الرغباء إليك و العمل  [7]

c.

 لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الجمد ونعمة لك  [8]

d. Talbiyah yang nomor “a” ditambah kalimat:

لبيك ذا المعارج لبيك ذا الفواضل  [9]

 

2. Kapan memulai Talbiyyah

Talbiyah dimulai setelah berihram, tepatnya ketika akan melakukan perjalanan, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah r dalam hajinya, berkata Jabir t :

حتى إذا استوت به ناقته على البيداء أهل بالحج فأهل بالتوحيد لبيك اللهم لبيك ……

Rasulullah r mulai membaca talbiyah ketika telah tegak ontanya di al-Baida beliau ihlal (ihram) dengan haji lalu bertalbiyah dengan tauhid, labbaika allahumma labaik ……” [10]

 

3. Cara membacanya

Talbiyah ini dibaca dengan mengeraskan suara bagi kaum laki-laki sebagaimana perintah Rasulullah r  dalam hadits As Saaib bin Kholaad yang berbunyi:

أتنى جبريل فأمرنى أن آمر أصحابى أن يرفعوا أصواتهم بالإهلال أو التلبية

“Telah datang kepadaku jibril dan dia memerintaahkan aku untk memerintahkan sahabat-sahabatku agar mengangkat suara-suara mereka dalam bertalbiyah. [11]

oleh karena itu para sahabat Rasululloh mengeraskan suaranya dalam bertalbiyah, sebagaimana dikisahkan Abu Haazim:

كَانَ أَصْحَاب رسول الله إذا أحرموا لم يبلغوا الروحاء حتى تبح أصواتهم

Para sahabat rasululloh jika berihrom (bertalbiyah) belum sampai Rauha’ telah serak suara mereka[12]

Hal ini menunjukkan kerasnya mereka bertalbiyah sampai-sampai kehilangan sebagian suara mereka sebelum sampai di kota Makkah.

Namun demikian, tidak disyari’atkan bertalbiyah secara berjamaah, dipimpin seorang imam, sebagaimana tampak jelas dalam praktek sebagian kaum muslimin dimusim haji. Sebab hal ini merupakan kebid’ahan dalam bertalbiyah.[13] Akan tetapi apabila terjadi kebersamaan dalam talbiyah tanpa disengaja dan tidak dipimpin, maka tidak mengapa karena Rasulullah r para shahabatnya bertalbiyah dalam satu waktu, padahal jumlah mereka sangat banyak. Tentunya hal tersebut sangat memungkinan sekali terjadi talbiyah dengan suara yang berbarengan. Ada hal penting yang harus diperhatikan orang yang bertalbiyah dalam mengangkat suara talbiyahnya yaitu jangan sampai mengganggu dan menyakiti dirinya sendiri sehingga tidak dapat terus bertakbir.

Sedangkan untuk wanita tidak disunahkan mengangkat suara mereka bahkan mereka diharuskan untuk merendahkan suara mereka dalam bertalbiyah.

 

4. Kapan berhenti bertalbiyah.

Para ulama berbeda pendapat dalam penentuan waktu berhenti talbiyah bagi orang yang berumroh atau berhaji dengan tamatu’ menjadi beberapa pendapat :

  1. Ketika masuk haram,dan ini pendapat Ibnu Umar,Urwah dan Al Hasan serta mazdhab maliki.

mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan An Nasaai yang lafadznya;

كان ابن عمر إذا دخل ادني الحرم أمسك عن التلبية ثم يبيت بذي طى ويصلى به الصبح ويغتسل ويحدث ان النبي r كان يفعل ذلك

“Ibnu Umar ketika masuk pinggiran haram menghentikan talbiyah kemudian menginap dzi thuwa dan beliau sholat shubuh disana serta mandi dan beliau berkata bahwa Nabipun berbuat demikian”

  1. Ketika melihat rumah-rumah .penduduk makkah dan ini pendapat Said bin Al Musayyib
  2. Ketika sampai ke ka’bah dan memulai thowaf dengan menyentuh (Istilam) Hajar aswad. Ini pendapat Ibnu Abbas, Atha’, Amr bin Maimun, Thawus, An-Nakha’i, Ats-Tsaury, Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq serta mazdhab hanafi.berdalil dengan hadits Ibnu Abbas secara marfu':
كان يمسك عن التلبية في العمرة إذا اتلم الحجر

“Dia menghentikan talbiyah dalam umoh kalau telah menyentuh (istilam) hajar aswad”[14] dan juga hadits Amr bin Syu’aib dari bapaknya  dari kakeknya dengan lafazh:

اعتمر رسول الله r ثلاثًا عمر كلها في ذي القعدة فلم يزل يلبي حتى استلم الحجر

“Rasulullah r melakukan umrah tiga kali umrah selruhnya di bulan dzul qa’dah dan terus bertalbiyah sampai menyentuh (istilam) hajar aswad” [15]Dan mereka berkata : karena talbiyah adalah memenuhi panggilan untuk ibadah maka dihentikan ketika memulai ibadah yaitu thawaf. Dan ini pendapat yang dirajihkan oleh Syaikul Islam[16] dan Ibnu Qudamah [17] akan tetapi yang rajih adalah pendapat pertama karena penjelasan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah juga melakukan hal itu,dan itu menunjukkan bahwa Ibnu Umar berlaku demikian karena melihat Rasululloh telah melakukan.,dan ini yang dirajihkan oleh Ibnu Khuzaimah [18] .

Demikian juga para ulama berbeda pendapat dalam hal ini pada haji selain haji Tamatu’ menjadi beberapa pendapat;

 

1.  Menghentikannya ketika berada di Arafah setelah tergelincirnya matahari. Ini pendapat Aisyah, Sa’ad bin Abi Waqash, Ali, Al-Auza’i, Al Hasan Al Bashry dan madzhab malikiyah. Berdalil dengan hadits:

الحج عرفة

“Haji itu adalah wuquf di Arafah”

sehingga bila sampai Arafah berhenti bertalbiyah karena telah sampai kepada inti dan rukun pokok ibadah tersebut. Namun dalil ini sangat lemah karena bertentangan dengan riwayat bahwa Raululloh masih bertalbiyah setelah tanggal 9 Dzuljhijjah.

 

2   Menghentikannya ketika melempar jumroh aqobah dan ini pendapat jumhur. Namun merekapun masih berselisih menjadi dua pendapat;

a.  Menghentikan di awal batu yang di lempar dalam jumroh aqobah dan ini pendapat kebanyakan dari mereka, dengan dalil hadits Al fadl bin Al Abbas

كنت رديف النبي r من جمع إلى منى فلم يزل يلبي حتى رمى جمرة العقبة (رواه الحماعة)

”Aku membonceng nabi dari Arafah ke Mina dan teru meneru bertalbiyah sampi melempar jumroh Aqobah[19]

dan hadits Ibnu Mas’ud dengan lafadz:

خرجت مع رسول الله r فما ترك التلبية حتى رمى جمرة العقبة إلا أن يخلطها بتكبير أو تهليل.

“Aku berangkat bersama Rasulullah dan beliau tidak mmeninggalkan talbiyah sampai beliau melempar jumrah Aqobah agar tidak tercampu dengan thlil atau takbir”[20]

Pendapat ini dirajihkan oleh Syakhul Islam Inu Taimiyah dan beliau menyatakan: Dan secara ma’na, maka seorang yang telah sampar Arafah- walaupun telah ampai pada tempat wuquf ini- maka dia masih terpanggil setelahnya kepada tempat wukuf yang lainnya yaitu Muzdalifah dan kalau dia telah wukuf di Muzdalifah maka dia terpanggil untuk melempar jumrah, dan kalau telah mmemulai dalam melempar jumrah maka telah selesai panggilannya [21]

b   menghentikannya diakhir lemparan dalam jumroh Aqobah dan ini pendapat Ahmad dan sebagian pengikut Syafi’i serta dirojihkan oleh Ibnu Khuzaimah dengan dalil lafadz hadits Fadhl:

أفضت مع النبي r من عرفة فلم يزل يلبي حتى رمى جمرة العقبة يكبر مع كل حصاة ثم قطع التلبية مع آخر حصاة (رواه ابو خزيمة)

“Aku telah keluar bersama Nabi dari Arafah lalu beliau terus bertalbiyah ampai melempar jumroh Aqobah, Beliau bertakbir setiap lemparan batu, kemudian menghentikan talbiyah bersama akhir batu yang dilempar”[22].

Demikian sebagian hukum seputar talbiyah, mudah-mudahan dapat memberi sedikit tambahan pengetahuan kepada kita semua.




[1] DR. Sholih bin Muhammad Alihasan menyatakan dalam komentar beliau atas kitab Syarhul Umdah karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah 2/579 : “Ini dikeluarkan oleh Abdun bin Humaid, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Haatim dengan sanda-sanad periwayatan dalam tafsir mereka dari Ibnu Abas, Mujahid, ‘Atha’ , Ikrimah, Qatadah dan yang lainnya. Sanad-sanad periwayatan dari mereka ini cukup kuat”.

[2] batu tempat beliau berpijak dalam membangun ka’bah (penukil)

 

[3] Syarhul Umdah 2/579.

[4] Fathul Bari 3/406

[5] lihat Hajjatun Nabi karya Syeikh Muhammad Nashiruddin AL Albaniy hal  55.

[6] dari hadits Jabir dalam Muslim dan Ibnu Umar dalalm shahih Bukhari & Muslim

[7] (متفق عليه من تلبية ابن عمر)

[8] (عن عائشة رواه البخارى)

[9] Hadits Jabir yang diriwayatkan Imam Muslim

[10] (H.R Muslim)

[11] Hadits diriwayatkan oleh At Tirmidziy 2/163, Abu Daud 5/260 dan Ibnu Majah 2/991 dan dishohihkan Al Albaniy dalam Shohih At Tirmidzi .

[12] Diriwayatkan oleh Said bin Manshur sebagaimana disampaikan Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 7/94 dengan sanad yang baik. Lihat Al Wajiiz Fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz hal 242.

[13] Lihat Hajjatun Nabi karya Syeikh AL Albaniy hal 112.

[14] (HR Abu Daud,At Tirmidzy daan Al Baihaqy dan dilemahkan oleh Al Albany dalam Irwa’ 4/297

[15] (H.R Ahmad dan Baihaqi denan sanad yang lemah karena ada Hajaaj bin Abdullah bin Arthah dan dilemahkan oleh AL-Albanny dala Irwa’ 4/297)

15 Syarah Umdah 2/461

16 Al-Mughny 5/256

17 Shahih Ibnu Klhuzaimah 4/205-207

[19] HR jama’ah

[20]  (HR Thohawi dan Ahmad dan sanadnya dihasankan oleh Al Albani  dalam Irwa’, /2966).

[21] (Majmu’ Fatawa 26/173)

[22] (HR Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya dan beliau berkata :” ini hadit hahih yang menafsirkan apa yang belum jelas dalam riwayat- riwayat yang lain)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: