h1

Fikih Jual Beli

Oktober 2, 2007


 Kholid Syamhudi

Jual Beli Menurut Pandangan Islam.

 

Urgensi Mengenal Konsep Syariat Islam Dalam Jual Beli.

Setiap orang mesti harus dan berusaha memenuhi kebutuhannya dengan segala kemampuan dan cara yang ada. Tidak ada orang yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa berinteraksi dan berhubungan dengan yang lain, sehinga diperlukan satu cara yang mengatur mereka dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, salah satunya adalah jual beli. Karena itulah Allah karunia hamba-hambaNya kemampuan dan naluri untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan dan menuntun hamba Nya tersebut dengan aturan dan arahan yang dapat menjauhkan mereka dari kemurkaanNya.

            Dizaman sekarang masalah jual beli dan bentuk-bentuknya berkembang pesat dan cukup pelik untuk dimengerti dari yang tradisional, konvensional sampai yang multi level. Hal ini menuntut setiap muslim untuk mengerti hokum syariat tentang hal itu, ditambah dewasa ini kaum muslimin sangat meremehkan dan tidak memperhatikan lagi masalah halal dan haram dalam usaha mereka. Padahal kehalalan satu usaha mencari nafkah merupakan masalah besar dan penting dalam pandangan para salaf sholeh. Mereka telah memberikan perhatian sangat besar dan serius dalam hal ini, sebab ini sangat mempengaruhi makanan dan minuman yang dimakan seseorang. Cukuplah bagi kita  hadits nabi yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik,tidak menerima kecuali yang baik,dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya,”Hai rasul-rasul,makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh .Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Mu’minun: 51). Dan Ia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman,makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”, (al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a: Ya Rabb,Ya Rabb, sedang makanannya haram,minumannya haram,pakaiannya haram,ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!”[1].

Ibnu Rajab RAH berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa amal tidak diterima dan tidak suci kecuali dengan makan makanan yang halal. Sedangkan makan makanan yang haram dapat merusak amal perbuatan dan membuatnya tidak diterima”2.

Demikian juga Prof. DR. Abdurrazaaq bin Abdulmuhsin Al ‘Abaad menjelaskan hadits ini dengan menyatakan: ‘Rasululloh memulai hadits ini dengan isyarat akan bahayanya makan barang harom dan hal itu termasuk pencegah dikabulkannya do’a. terfahami darinya bahwa memperbagus makanan (memakan makanan halal) menjadi salah satu sebab dikabulkannya do’a, sebagaimana dikatakan Wahb bin Munabbih: ‘Siapa yang ingin dikabulkan Allah do’anya maka hendaklah memperbagus makanannya’ dan ketika Sa’d bin Abi Waqqash ditanya mengenai sebab  dikabulkan do’anya diantara para sahabat Rasululloh; beliau berkata, “Aku tidak mengangkat sesuap makanan ke mulutku kecuali aku mengetahui dari mana datangnya dan dari mana ia keluar”.’[2].

Perhatikan juga sabda Rasulullah SAW ,

إِنَّهُ لاَ يَرْبُوْ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Sesungguhnya tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali Neraka yang lebih pantas baginya”. 3.

Jika kita heran dan bertanya-tanya, ”Mengapa bencana menimpa kita, kemakmuran sulit dicapai, ketenangan hidup dan kemenangan tak juga diraih? Mengapa do’a-do’a kita tidak terkabulkan?

Kemungkinan jawabannya adalah kelalaian kita dalam memenuhi kebutuhan primer dan sekunder yang baik dan ketidak pedulian kita tentang masalah halal dan haramnya. Hal ini telah disinyalir oleh Rasululloh dalam hadits diatas dan juga para ulama, diantranya Yusuf bin Asbath yang berkata, ”Telah sampai kepada kami bahwa do’a seorang hamba ditahan naik ke langit lantaran buruknya makanan (makanannya tidak halal)”5. Wajar saja bila Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab –meski masih banyak sahabat Rasulullah SAW- memukul orang dengan dirrah, lalu berkata, ”Janganlah berdagang di pasar kami kecuali orang faqih, [mengerti tentang jual beli], jika tidak maka dia makan riba”7. Demikian juga imam Ali bin Abi Tholib pernah berkata, ”Siapa yang berdagang sebelum mengerti fiqih, maka ia akan tercebur ke dalam riba, kemudian tercebur lagi dan kemudian akan tercebur lagi” artinya terjerumus ke dalamnya dan kebingungan8.

Ini dizaman Umar dan Ali yang masih banyak para ulama. Bagaimana dizaman sekarang yang sudah beraneka ragam corak dan bentuk perdagangan dan sedikitnya para ulama ?!!!

Tidak diragukan lagi bahwa makanan dan usaha yang halal menuntut setiap manusia agar sadar dan mengetahui dengan baik setiap mu’amalat yang dilakukannya, mana yang haram dan mana yang halal serta yang syubhat (tidak jelas).

Oleh karenanya, mengenal konsep islam dalam jual beli termasuk hal yang sangat urgen (penting) yang wajib diperhatikan, khususnya dewasa ini dimana kaum muslimin mulai mau kembali merujuk agamanya. Sehingga sudah menjadi tugas kita semua untuk memberikan pencerahan kepada umat ini seputar hukum jual beli, agar mereka dapat memperoleh makanan dan minuman yang halal. Kemudian mudah-mudahan dengan itu akan membantu mencapai kejayaan umat ini. Demikian juga mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat kita agar memiliki sandaran syariat dalam setiap transaksi jual beli mereka.

Hal ini lebih tampak urgensinya bila melihat sebagian besar transaksi perdagangan mereka terpengaruh (suasana) pasar yang ada, yang dalam banyak bentuknya tidak berdiri diatas syari’at dan aturan Allah.

 

Definisi  jual beli  (albai’u).

A. secara bahasa:

Jual beli dalam konsep islam juga dikenal dengan Bai’u. sehingga untuk mengetahui konsep Islam tentang jual beli diperlukan pengenalan kata bai’u menurut etimologi bahasa arab.

‘Kata Albai’u (menjual) anonim (lawan kata) dari kata asysyiro’ (membeli), tapi kata Albai’u juga bisa bermakna assyiro’. Kata ini termasuk kata yang punya dua makna yang berlawanan. Demikian menurut Al Azhari sambil menyenandungkan pernyataan Thorofah:

“Berita itu dibawa Orang yang tidak pernah kamu belikan

 sama sekali dan  tidak pernah kamu membuat waktu janji”

Ia menginginkan orang yang tidak pernah kamu belikan bekal untuknya’. [3]

Dalam kitab ‘Al Isysrof’ : kata al bai’u secara bahasa artinya mengambil sesuatu dengan menyerahkan sesuatu yang lain.2

Dalam kitab Al Maghrib : kata Albai’u termasuk kata yang punya dua makna yang berlawanan. Jadi Ba’a syaia (بَاعَ الشيء) bermakna menjual sesuatu atau membelinya. Kata ini menjadi kata kerja transitif untuk dua objek penderita secara langsung atau dengan preposisi (huruf jar) atau dengan keduanya. Engkau bisa mengatakan : ba’ahu Al ssyai’ (بَاعَهُ الشَّيْءَ)S atau baahu minhu (بَاعَهُ مِنْهُ).3

Dalam kitab al Ikhtiar ; kata al bai’u secara bahasa artinya segala bentuk penukaran (barter) dan begitu juga assyiro’, baik dalam bentuk harta ataupun selainnya.

Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah menukar  dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan surga yang diperuntukkan bagi mereka”. (At Taubah 111) dan juga berfirman : “…merekalah orang-orang yang menukar petunjuk dengan kesesatan, ampunan dengan siksa”.(Al Baqoroh: 175). 4

Dan dalam kitab Roddul Mukhtar: Al Bai’u adalah penukaran sesuatu dengan sesuatu baik bentuknya harta atau tidak. Seperti dalam firman Allah SWT : “….dan mereka menukarnya dengan harga murah”.(Yusuf:20).

Dan kata Al bai’u memang bentuk kata kerja transitif yang membutuhkan obyek penderita secara langsung atau dengan huruf  min (مِنْ), lam (ل) dan ‘ala (عَلَى). Engkau bisa mengatakan : Bi’tukassyaia (بِعْتُكَ الشَّيْءَ), bi’tu laka (بِعْتُ لَكَ), atau ba’a alahi alqodhi (بَاعَ عَلَيْهِ الْقَاضِي), artinya tanpa ridhonya).

Kata tersebut adalah pecahan (kata turunan) dari kata al Ba’u (lengan) karena penjual dan pembeli mengulurkan lengannya untuk mengambil dan memberi. Bisa juga karena mereka saling berjabat tangan ketika jual beli, oleh karena itu jual beli disebut juga  shofqoh (jabat tangan).

 

B. menurut Istilah Ahli Fiqh

1.             Menurut madhab Hanafi .

ú                     Pengarang kitab Addurul Mukhtar mendefinisikan : Al Bai’u adalah pertukaran sesuatu yang disukai dengan semisalnya sesuai  asas manfaat dan tata cara tertentu.

Kata-kata ‘yang disukai’ menunjukkan bahwa sesuatu yang tidak disukai tidak termasuk Al Bai’u seperti contohnya debu, bangkai dan darah.

Kata-kata ‘yang bermanfaat’ menunjukkan yang tidak manfaat tidak dikategorikan Al Bai’u, sehingga tidak sah jual beli dirham dan dirham yang senilai atau pertukaran antar bagian dua orang yang bersekutu dalam tempat tinggal atau pertukaran rumah sewa yang sama dan contoh-contoh sejenis lainnya.

Kata-kata ‘tata cara tertentu’  artinya : dengan ijab qabul atau tanpa ijab qabul, bukan berupa sumbangan dari masing-masing pihak atau hadiah yang bersyaratkan imbalan.1

ú                     Pengarang kitab ‘al Badai’’ mendefinisikan : Al Bai’u adalah pertukaran antara dua hal yang di sukai baik dengan perantara ucapan atau perbuatan .2

ú                      Pengarang kitab ‘syarhu fathi alqodir’ mendefinisikan : Al Bai’u adalah pertukaran antara dua harta atas dasar suka sama suka dengan cara usaha.3

Kesimpulannya : obyek jual beli menurut madzhab Hanafi apakah sesuatu yang disukai atau semua harta ?.

Adapun hakekat “pertukaran” tersebut menurut mereka, maka adalah pertukaran dengan cara tertentu menurut sebagian mereka dan sebagian lain mengatakan kepemilikan atau ada sebagian yang mengatakan penyerahan hak milik atas dasar suka sama suka. 4

 

2.             Menurut madzhab Maliki

Al Bai’u menurut madzhab Maliki memiliki dua pengertian: pengertian Umum dan pengertian khusus.

- Adapun jual beli dengan pengertian umum adalah akad (transaksi) tukar menukar yang tidak berdasarkan asas manfaat dan kesenangan.

Makna ini mencakup muqoyadhoh (pertukaran dua benda), shorf (pertukaran dua benda berharga yang tidak sejenis atau money changer), atau murotholah (pertukaran dua benda yang sejenis)5, salam (pemesanan dengan uang muka), hibah binatang ternak, dan Syirkah (persekutuan usaha). Tapi akad sewa tidak termasuk dalam pengertian umum ini, karena transaksi tukar menukar dalam jual beli tidak berdasarkan asas manfaat sedangkan akad sewa berdasarkan asas manfaat. Demikian juga pernikahan juga tidak termasuk dalam pengertian umum ini, karena pernikahan ada karena menikmati kesenangan, sedangkan jual beli tidak.

- Adapun jual beli dalam pengertian khusus adalah sebuah akad pertukaran yang tidak berdasarkan asas manfaat dan kesenangan dengan mukaayasah (jalan kelihaian), salah satu alat tukarnya bukan emas atau perak  dan dalam bentuk barang.

Kalimat “dengan mukaayasah (kelihaian)”, menunjukkan bahwa hibah pahala tidak termasuk didalamnya, karena didalamnya tidak ada tawar menawar dengan kelihaian.

Kalimat “salah satu alat tukarnya bukan emas atau perak” menunjukkan bahwa as Shorfu dan al Murothalah tidak termasuk didalamnya ( karena alat tukar dua transaksi ini adalah emas atau perak.(pent))

Kalimat “dalam bentuk barang “ menunjukan as salam (jual beli dengan pemesanan) tidak termasuk didalamnya, karena bukan dalam bentuk barang tapi pesanan .1

3.             Menurut Madzhab Syafi’i

ú                        Pengarang kitab mughni al muhtaj mendefinisikan: albai’u adalah pertukaran harta dengan harta dengan cara tertentu.2

ú                        Pengarang kitab al Majmu’ mendefinisikan: albai’u adalah pertukaran harta dengan harta atau semisalnya dengan penyerahan hak kepemilikan.3

ú                        Qolyubi mendefinisikan: albai’u adalah akad (transaksi) pertukaran harta yang berimplikasi pada status kepemilikan barang atau manfaat selama-lamanya dan bukan dalam rangka ketaatan.4

Ulama mazhab berkata :

-                      kata “Akad” menunjukkan transaksi jual beli Al Muathoh (jual beli tanpa ijab dan qabul ) tidak termasuk jual beli.

-                      kata “pertukaran” menunjukkan hadiah tidak termasuk dalam pengertian ini.

-                      kata “Harta” menunjukkan pernikahan diluar defines ini.

-                      kalimat “kepemilikan barang”  menunjukkan al Ijaroh (akad sewa) bukan jual beli.

-                      Kalimat “bukan dalam rangka ketaatan” menunjukkan utang piutang tidak termasuk dalam pengertian ini.

-                      Yang dimaksud “manfaat” seperti menjual hak tempat lewat.

-                      Dan maksud selama lamanya mengecualikan al Ijaroh (sewa menyewa) dari definisi.1      

4.             Menurut Madzhab Hanbali

ú                        Pengarang kitab syarhu muntaha al Iradat mendefinisikan: albai’u adalah segala pertukaran barang yang bernilai atau manfaat yang dibolehkan  dengan  salah satu keduanya atau dengan harta dalam tanggungan, dalam rangka  pemindahan kepemilikan selamanya, tanpa mengandung riba dan utang piutang.

-                            ungkapan (pertukaran barang yang bernilai) artinya: menyerahkan dan mengambil penggantinya. Hal itu hanya bisa dilakukan dua orang atau lebih. Dan barang tersebut  adalah barang yang boleh dimanfaatkan dan dimiliki secara mutlak. Sehingga tidak termasuk definisi ini seperti babi, arak (minuman keras), bangkai najis, serangga, anjing walaupun anjing buruan.

-                            Ungkapan (Segala manfaat yang dibolehkan) artinya tidak dikhususkan pada kondisi tertentu.

-                            Ungkapan (dengan harta dalam tanggungan) artinya: dengan pembayaran kontan atau yang lain.

-                            Ungkapan (dalam rangka pemindahan kepemilikan) artinya tidak dalam rangka tukar pinjam seperti baju dengan kuda.

-                            ungkapan (selamanya) agar tidak mencakup sewa menyewa.2

ú                        Ibnu qudamah mendefinisikannya dengan pertukaran harta dengan harta dengan pengubahan status kepemilikan. 2                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

ú                         Sebagian ulama madzhab Hambali mendefinisikan al Bai’u adalah ijab qobul (serah terima), kalau terkait dua benda untuk pemindahan hak kepemilikan.4

Ibnu Qudamah berkata : ini adalah definisi yang tidak lengkap, karena jual beli Mu’athoh (jual beli tanpa ijab qobul) tidak termasuk didalamnya, sementara justru masih mencakup akad-akad non jual beli.5

 

Kesimpulan :

Dari definisi yang beragam tersebut kami simpulkan bahwa albai’u dikalangan ahli fiqh adalah : (pertukaran harta dengan harta), dan kadang kadang ditambahkan sebagai penjelas (dalam rangka kepemilikan)  .

Dan pertukaran ini selesai dengan ijab dan qobul baik secara ucapan lisan, isyarat maupun tulisan atau dengan saling memberi. Sebagaimana pertukaran ini biasanya memerlukan kelihaian dan selesai dengan saling ridho .

Dengan ungkapan ‘Pertukaran’, maka sumbangan sukarela, pinjaman dan riba tidak termasuk dalam definisi ini. Karena sumbangan sukarela adalah lawan dari pertukaran. Sedangkan pinjaman ada unsur bantuan berupa manfaat sesuatu yang dipinjamkan dan riba adalah tambahan tanpa konpensasi.1           

 

Disyariatkan Jual-beli

Jual beli disyariatkan berdasarkan konsensus kaum muslimin. Karena kehidupan umat menusia tidak bisa tegak tanpa adanya jual beli. Allah berfirman:

“Dan Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba..” (Al-Baqarah : 275)

 

Bersambung… (Klasifikasi jenis Jual Beli) insya Allah………………………………….

 




[1] Dikeluarkan oleh Muslim dalam az-Zakaah no.1015 dan at-Tirmidzi dalam Tafsirul Qur’qn no.2989.

2 Jaami’ul’Uluum wal Hikam 1/260 dinukil dari Ba’i’ Al Taqsiith Ahkamuhu wa Adaabuhu, Hisyam bin  Muhammad bin Sa’id Alu Barghasy, cetakan pertama tahun 1419H, Faar Al Wathon, KSA hal 10.

[2] Fiqh Al Ad’iyah Wa Al Adzkaar, (bagian kedua), Prof.DR. Abdurrazaq bin Abdilmuhsin Al ‘Abaad, cetakan pertama tahun 1422H, Daar ibnu Affaan dan daar Ibnu Al Qayyim, KSA, hal 34.

3 Bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam sunannya  kitab Al Sholat bab Fadhlu Sholat no. 614 dari Ka’b bin ‘Ujrah pada sebahagian dari hadits panjang,. Abu ‘Isa Al Tirmidzi berkata, ”Hadits ini hasan Gharib. Dan dishahihkan oleh Ahmad Muhamamd Syakir dalam komentar beliau terhadap sunan Al Tirmidzi  hal 2/515 dan al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 501.    

5 Jaami’ul ‘Uluum wa al-Hikam 1/275. dinukil dari Bai’ Al Taqsiith, op.cit hal 11

7 Dinukildari Bai’ Al Taqsiith, op.cit hal 11

8 ibid

[3] Lhat : lisanul Arab karangan Ibnu mandzur hal 401 dengan gubahan

2 Anisul fuqoha’ hal 199

3 lihat objek penderita (maf’ul) pertama dan kedua tidak ada preposisinya dan disebut langsung. Objek penderita pertama adalah kata ganti orang ketiga ‘Hu (هـ)’ dan objek penderita kedua adalah kata (الشَّيْءَ)

3 idem hal 200

4 idem 200-201

1 Raddul Muhtar aladduril mukhtar Syarhu tanwiril abshor.

2 Badaiushonai’ 5/199

3 Syarhu Fathil Qodir : 6/246

4 dinukil dari fiqhul muamalat dengan gubahan hal 119

5 ashorfu adalah jual beli barang berharga yang berbeda jenisnya seperti emas dan perak.

Dan murotholah menurut madzhab Malik  : jual beli barang berharga yang sejenis seperti emas dengan emas (Fiqhul Muamalat hal 120)

1 lihat Hasyiatuddasuki ala ssyarhi kabir lidirdir 3/2,3 dan Hasyiatusshowi 3/13 dan mawahibul jalil 4/225 dan syarh manhil jalil mukhstasor alallamah kholil 2/460,461

2 Mughnil muhtaj ila makrifati maani alfadzilminhaj 3/3

3 al majmu’ 9/149

4 Qolyubi wa umairoh 2/152

1 idem 2/152

2 Syarhu muntahal Iradat 2/5 dengan sedikit gubahan

2 Al Mughni : 6/5

4 ini adalah definisi al Qodhi dan ibnu Zaghwani dan Assamiri mengganti “dua barang “menjadi “dua harta”. Lihatlah syarh azzarkasi ala mukhtashor alkhoroqi dalam fiqh yang bermadzhab Imam Ahmad bin Hanbal 3 /378-383.

5 Almughni : 5/6

1 fiqhul muamalat : 123

About these ads

Satu komentar

  1. Assalamu ‘alaykum pak ustadz…

    Ana mau tanya tentang jual beli istishna. Apakah dasar hukumnya ? Atau ini adalah fatwa kontemporer dalam permasalahan muamalah terkini. Mohon penjelasannya pak ustadz

    Jaazakallahu khoir wa baarakallahu fiik…



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: